AISYAH

AISYAH
(12) AISYAH


__ADS_3

Hening.


Windi dan Vani masih belum bisa mengerti dengan situasi saat ini.


"Mey, Mau itu... aban beliin mey itu" Pinta mey melihat ke arah nampan yg berisikan makanan khusus anak anak itu.


"Mbak!"


Dengan sigap Aisyah memanggil Pramusaji lalu meminta mey memilih menu apa yg di inginkan balita cantik di sebelah nya itu.


"Mbak saya mau animal Pao nya sama Cookies shot nya yah.. bang iqbal ngak sekalian mesen minum atau apa?" tawar Aisyah


"Espressoo nya satu"


"saya ulangi Animal pao dengan Cookies shot minumnya Coffe Espressoo satu. baiklah pesanannya akan segera kami antar. Permisi" Ucap sang pramusaji lalu pergi meninggalkan meja no 7 itu.


"Oke. Ada yang bisa jelaskan.?" Jiwa ke kepoan Windi tidak bisa di bandung lagi dan sepertinya teman serta senior nya itu lupa untuk mengkonfirmasi situasi yg cukup membingungkan saat ini.


"Oh ya sorry...


Tadi aku ngak sengaja ketemu Bang Iqbal di tempat antrian ice cream tadi karna bang iqbal dan mey cuman berdua jadi aku ajak gabung aja sama kita. Windi sama Vani ngak keberatan kan..." Aisyah memperlambat intonasi berbicarany. Kemudian mereka ber'o'ria. lalu pesanan mereka pun tiba.


"ini Roti jhon, super long fries, Egg chese tart dan Martabak mozarellanya, silahkan di nikmati." Tutur pramusaji itu. Tak lama kemudian pesanan Mey datang dia tersenyum mengembang melihat animal Pao yg sangat lucu di dalam piring.


mey pun berjalan ke mendekati iqbal lalu duduk di dekatnya. Vani dan Windi terlihat sangat gemas melihat Senior yg terbilang dingin di waktu mos itu ternyata sangat manis saat bersama adiknya.


"Mau dong jadi mey..." Gumam Vani. Windi Dan Aisyah melihat Vani terkejut. "Aku juga" Sambung Windi. Aisyah terdiam tak tau harus bereaksi seperti apa. Iqbal terkekeh pelan saat mendengar perkataan dua junior nya itu terlebih lagi melihat Aisyah yg sangat polos.


Mereka berbincang hingga sore datang menjemput.


"Balik yuk!" Ajak Aisyah.


"Hm, dah sore ya..."


"Kakak Tantikkk... ica, Pulang ke rumah mey yuk" lontar mey berjalan ke pelukan aisyah. Windi Dan Vani saling senggol senggolan mereka mengatupkan bibirnya menahan untuk mengecengi temannya itu.


"Mey .. kak Aisyah nya harus pulang."


"Ngak mau... Mey mau sama kakak ica...." ucap mey memanyunkan bibirnya.


"Ikut aja aisyah.. kasian mey nya.." Vani.


"Kalau kak ica ngak mau, sama kak Windi juga boleh mey..." Windi.


"Kakak yuk pulang." Mey menarik tangan Aisyah.


"Mey..."


"Aban... Mey mau kakak ica," cemberut.


"Tapi, kakak ica harus pulang sayang... "


Mey cemberut lalu mulai menangis.


"Ia. ia... kak Aisyah ikut mey pulang yah.. Mey jangan nangis"


"Bener???" Aisyah tersenyum.


"Yeee kak ica baikkk... Bang iban jahat. Mey ngak mau teman ban iban" Aisyah tersenyum gemes


"Mey ngak boleh gitu ya.. liat tu bang iban nya sedih..."


"Bialin..., Yuk tak ica kita pulang. dua Kakak Tantikk bye bye... Mey pulang dulu...." Vani dan Windi berteriak histeris melihat Mey yg sangat menggemaskan dan begitu pintar di usia yg masih menginjak 2 tahun.


Mey tak mau lepas dari pangkuan Aisyah. Iqbal pun bergegas membukakan pintu untuk Aisyah.


"Makasih."

__ADS_1


"Aban.. Mami..."


"Mami..., Mey mau nelfon mami??"


"Ia." Iqbal mengambilkan Tab nya lalu Melalukan panggilan Video pada Mamanya itu. Dengan capet panggilan itu di jawab.


"Hai... sayang.."


"Hai mom, mami lagi di mana??"


"ini lagi belanja sama tante nora. Mey mana??"


"Mamii... Mey ada kakak tantiikkk" Aisyah tersipu malu. Iqbal memberikan tab itu pada Mey dan terlihat wajah aisyah sangat jelas di sana.


"hallo mey ....."


"Mamii...," Aisyah tersenyum maminya Iqbal membalas senyuman Aisyah.


"Mami... Ini kakak tantikk Ica. tadi dia suapin ica ice cream."


"Benarkah... Baik sekali.. makasih ya kak ica."


Aisyah hanya tersenyum dia tidak tau harus bereaksi seperti apa.


"Mey.. mami mau ngomong sama abang bentar."


Iqbal mengambil tab itu. Mami Iqbal tersenyum penuh tanda tanya.


"Katanya cuman pergi berdua sama Mey.... ternyata ada yg cantik di sebelah."


"Mi... Iqbal pulang dulu ya.. Nanti telfon lagi."


"eh eh jelasin dulu."


"Bye miii .. Love u" Iqbal mematikan panggilan itu lalu mengemudi menuju rumahnya. Aisyah diam dia melihat Mey yg memainkan jarinya seperti nya sudah sangat mengantuk. Tak lama Mey pun tertidur.


"Aisyah...Mey tidur ya..pindahin kebelakang aja.."


"Ngak usah bang. Nanti bangun, kasian."


"Kamu pasti capek meluk mey lama."


"Enggak kok."


Iqbal pun terus mengemudi. Aisyah tersenyum melihat Mey yg sangat pintar itu.


"Kamu punya adek ya ca, maksud ku Aisyah."


"Ngak bang."


"Anak bungsu..."


"Iya. Bang Iqbal berapa bersaudara?"


"Hanya kami. Itu pun jarak kami sangat jauh"


"Ia. Aisyah juga ngak nyangka kalau Bang Iqbal akrab sama Mey."


" emang tampang aku meragukan ya"


"Ia." tutur Aisyah pelan. Iqbal terkekeh kemudian mereka pun tiba di kediaman keluarga Iqbal.


Dengan sigap Iqbal membuka kan pintu.


Dia saat Igbal hendak mengambil Mey.


"Aisyah bisa kok bang."

__ADS_1


"Kamu pasti sangat capek."


"Kita ngak boleh bersentuhan. Maaf. Jadi biarkan Aisyah yg membawa nya masuk." Iqbal membuka sejenak lalu membiarkan Aisyah mengantarkan mey masuk ke dalam kamar nya.


"Alhamdulillah" Gumam Aisyah lega karna dia berhasil menggendong mey tanpa membangunkan balita kecil itu.


Iqbal pun menjejerkan bantal di setiap sudut Mey takut mey akan terjatuh saat tertidur.


Dengan segera Aisyah keluar dari dalam kamar itu lalu menunggu Iqbal di luar.


"maaf ya soal tadi." tutur Iqbal merasa bersalah


"Ngak papa kok bang. Aku senang kok di dekat mey."


"Kamu duduk dulu aku bikinin minum."


"Ngak usah bang. aku harus pulang udah mau magrib"


"Yaudah aku antar ya..."


"Trus mey gimana?? Ngak usah bang aku bisa pulang sendiri kok lagian rumah aku ngak jauh dari sini"


"Di rumah ada mbak sama bibi.. jadi bisa jagain mey..dan ini udah kewajiban aku buat antar kamu"


Aisyah tersenyum."yuk" ajak Iqbal.


Aisyah pun menerima tawaran itu. Tak ada perbincangan antara mereka suasana diam dan itu terasa sedikit canggung.


"Aisyah... Kamu di rumah pakai hijab juga??"


"Jika di rumah cuman ada kami sekeluarga aku ngak pake bang."


"Apa cuman mereka yg boleh melihat aurat kamu?"


"Ia. dan suami ku kelak."


Iqbal mengangguk.


"Kamu pernah pacaran??"


"Di agama ku pacaran itu di haram kan bang."


"Lantas bagaimana caranya kamu bisa yakin kalau si pria ini baik untuk jadi imam mu?"


"Melalui Ta'aruf. Kita harus kenali dulu orangnya melalui CV asli mereka dan tahapan tahapan mendalam lainnya dan itu di tuntun untuk jujur."


"melalui CV pun kita ngak akan bisa tau orang ini seperti apa kepribadiannya. "


"Melalui teman dekatnya. Kita harus benar benar mengenal nya dan harus yakin dengan pilihan itu jika tidak kita bisa menolak karna itu hak kita."


Iqbal mengangguk mengerti dan itu sedikit rumit baginya.


Tak lama mereka pun tiba di rumah Aisyah.


"Makasih ya bang."


"Aisyah...seperti nya aku ingin mengenal islam lebih dalam lagi. kamu bisa membantu ku kan?" Aisyah tersenyum senang. "Tentu..."


"Di saat sekolah di mulai nanti. aku mau bertanya banyak hal." Ucap Iqbal tidak sabar.


"Baiklah...Aku masuk dulu. Bang Iqbal hati hati di jalan"


.


.


#TBC

__ADS_1


JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK


LIKE AND COMMENT♥️👍


__ADS_2