
Happy Reading Semuanya!
Jangan lupa beri tanda liike ya.
Support juga ya.
--
“Jadi kau akan nikah kapan?” tanya Illyas kepada Mario yang masih sibuk kasmaran dengan Arsyi. Pria itu menoleh lalu, “bulan depan kami akan melaksanakan pernikahannya. Kalian datang ya.”
“So pasti itu.”
“Jadi, katanya kau akan bertemu dengan pria yang bernama Khalid itu?” tanya ka Wendy yang langsung membuat
semua menatap kearah Nadhira. “Khalid? Apa maksudmu Khalid Maliq Gentala Alexander itu?” tanya Mario penasaran kearah Dhira. Yang langsung diangguki gadis itu. “Bagaimana kau mengetahui nama Panjang pria itu?”
“Aku bertemu dengannya tadi, ia ikut rapat saham.”
“Benarkah?”
“Namanya Panjang sekali.” Gumam Arsyi yang langsung dicubit pipi chubbynya oleh Mario.
“Begitulah orang kaya dari lahir. Pasti akan diberi nama Panjang oleh orang tuanya, begitu pula dengan Nadhira Kanza Aulia ini.”
“Ah.. seperti itu orang kaya, ribet. Kasihan jika ujian di Try out jika masih memakai kertas.” Gumam Arsyi yang langsung digelengi oleh yang lain. “Dasar bocah belum waktunya dewasa.”
“Ada ada saja, jaman sekarang mah udah pakai computer bukan? Jaman Dhira juga sudah menggunakan computer tidak perlu menulis diatas kertas lagi.”
“Oh syukurlah, tapi bagaimana dengan priamu ka?”
“Dia sekolahnya diluar negeri jadi pake computer langsung.” Sok tau Nadhira namun Arsyi percaya saja dengannya.
“Kenapa topiknya membicarakan tentangku? Kau ceritakan bagaimana dengan persiapan kalian menikah nanti apa ada bridesmaid?”
“Tentu saja ada, jadi para kakak datanglah dengan pasangannya ya, jangan lupa bawakan amplop sebanyak mungkin oke?”
“Dasar mata duit.”
“Didunia ini tidak ada yang geratis wahai para kakakku.” Jawab Arsyi membuat Nadhira dan Wendy mendengus kesal. “Kau bisa saja menjawabnya.”
__ADS_1
“Tentu, aku sudah diajarkan oleh ka Mario, mas suami.”
“Cih.”
“Huek!”
--
Jumat, hari yang ditunggu tunggu oleh dua orang berlawan jenis itu dengan segera keduanya bangun awal untuk menyiapkan keperluannya. Dari pakaian, wangian, serta keseluruhan atas sampai bawah.
Dikamar Dhira, gadis itu bingung ingin mengenakan pakaian apa untuk pertemuan tersebut. “Apa yang harus aku pakai, gaun? Celana? Atau Rok? Lalu kemeja atau kaos dan cardigan atau sweater? Sepertinya pakai kaos aja kali ya? Kaos bunga? Ah aku tidak memilikinya.”
Gadis itu mengacak rambutnya sampai berantakan dan, “Ahh! Aku harus pakai apa!!!”
“Sepertinya aku akan mengenakannya.” Nadhira menganggukkan kepalanya lalu tersenyum setelah mendapatkan outfit yang sangat cocok menurutnya.
Setelah itu ia langsung mandi dan menyiapkan dirinya untuk mengatakan perasaannya untuk hari ini, “Semangat Nadhira!”
Sesampai di kafe, ia mencari dimana pria itu sampai ada yang menepuk bahunya, saat ia berbalik ada sebuket bunga warna ungu, dan muncullah pria yang tak lain Khalid dengan senyuman manisnya. “Hai cantik, ini bunga tercantik secantik penerimanya.” Gombal pria itu membuat Nadhira tersenyum lebar, “terima kasih tukang gombal.”
“Tunggu sebelum masuk aku ingin memoto dirimu terlebih dahulu.” Ucapnya lalu mengarahkan kameranya kearah Nadhira yang langsung reflek menutup wajahnya dengan sebuket bunga tersebut.
“Ah, kau benar, ayo kita masuk mine.” Ajaknya tanpa bisa melihat wajah pria itu karena mukanya serasa terbakar karena malu.
“Mine? Kamu memanggilku seperti itu, dear? Oh come on! Don’t be shy dear. I miss you.”
“Uhh.. ayo buruan, kau membuatku setengah malu ka.”
“Malu kenapa? Kau mengenakan pakaian.”
“Ish.” Kesal Dhira yang langsung dibalas tawaan oleh pria tersebut tanpa menyadari jika banyak pasang mata yang menatap kedua orang tersebut dengan iri dan kesemsem.
“Irinya.”
Keduanya sudah duduk dimeja yang dipesankan oleh Nadhira dengan melalui Mario. Sang asisten sekaligus kakaknya itu. “Kamu apa kabar? Sepertinya kamu terlihat bahagia.”
“Tentu saja, aku terlihat bahagia karena akan bertemu denganmu, ka. Kau apa kabar?”
“Tentu saja buruk setelah kepergianmu, namun aku berusaha untuk tidak terlalu dalam sampai dimana kamu mengabariku.”
__ADS_1
“Kakak tau tidak alasanku mengajak bertemu disini karena apa?”
“Apa?” tanya khalid yang berusaha menahan dirinya agar tidak melewati batas, ia mungkin berpikir gadisnya ini memiliki pria lain yang bernama Mario dan ingin mengatakan untuk tidak bertemu lagi dengannya. Kumohon jangan seperti itu.
Nadhira mengernyitkan keningnya saat melihat Khalid menggelengkan kepalanya tanda ia sedang memikirkan sesuatu. “Aku mencintaimu ka.” Ujarnya tiba tiba membuat lamunan Khalid buyar dan menatap gadis itu dengan melongo tanda tidak percaya.
“A-apa? Kamu mengatakan apa?”
“Aku mencintaimu, sejak dulu aku memiliki perasaan itu sampai kakak perhatian kepadaku dan itu membuatku semakin semakin jatuh kedalam hati kakak. Kau selalu ada dibayanganku, mau tidur, mau kerja, maupun saat sarapan. Kau memenuhi pikiranku sampai aku tidak bisa melupakanmu tapi aku takut disaat aku mencintaimu kau tidak mencintaiku. Aku takut kau menemukan gadis lain.”
“Maka dari itu aku pergi, saat melihat kakak sangat ramah dan santai kepada teman kakak yang perempuan itu apalagi perempuan itu menatap kakak dengan tatapan cinta. Aku kira kakak memang bukan buat aku. Maka dari itu hari ini aku memantapkan diri aku untuk menyatakan cinta kepada kaka.”
“Aku ikhlas jika kakak mencintai gadis lain. Maka dari itu aku sudah pasrah akan jawaban kakak kepadaku.”
Jelasnya membuat Khalid, pria itu menatap diam kepada gadis didepannya entah ia harus melakukan apa, karena saat ini ia merasakan hal yang sama kepada gadis itu. Ia ingin berbicara namun otaknya seketika plong, hilang seketika kata kata yang sudah ia siapkan.
“Kakak? Kenapa bengong?”
“Kamu membuatku gila, dear. Aku tidak tau harus melakukan apa.” Ujarnya jujur, ia mengusap wajahnya dan
menghela nafas lalu menatap gadis itu yang juga menatapnya dengan bingung ia menunggu jawaban dari pria itu.
Khalid mengeluarkan sebuah kotak dari balik jaznya. Dan memberikannya kehadapan gadis itu yang bengong menatap kosong kotak bludru broken white tersebut. “Bukalah, itu jawabanku.”
Nadhira meraihnya dan membukanya dengan tatapan tak percaya. “Ka, ini beneran?”
Khalid mengangguk, “ya, itu jawabanku. Will you marry me? Be my wife and our children's mom?” tanya Khalid membuat Nadhira menutup mulutnya dengan tangan kiri ia tidak percaya dengan apa yang pria itu berikan.
Nadhira menatap cincin yang sangat indah itu lalu menatap mata pria itu dengan menganggukkan kepalanya, “Yes I will. Thank you to propose me today. I love you, you are mine.”
“Yes I’am yours and you're mine, dear.”
Keduanya tersenyum lebar lalu Khalid meraih jemari tangan kanan Nadhira dan mengenakannya di jari manisnya.
Dan itu pas. Tidak kendor atau kesempitan. Sangat pas untuk dijari manis milik Nadhira.
“Kita akan segera menikah dibulan ini, dear.” Ujarnya kemudian mengecup punggung tangan Nadhira, gadis yang akan segera menjadi istrinya. Mulai sekarang mereka adalah sepasang kekasih yang akan menikah dan tidak akan terpisahkan kecuali akhirat yang memisahkannya.
--
__ADS_1