
Happy Happy yap yap!
Happy virus is here!
Setelah turun dari pelaminan gadis itu menatap sekitar, “mana bunda dan ayah kok ngilang gitu aja.” Dumelnya. Kemudian ia melangkah menuju stan spaghetti baru saja ia mengambil piring ternyata ada tangan besar yang juga ingin mengambil. Tak sengaja tangan mereka tersentuh, dan keduanya langsung menarik dan mengucapkan istighfar.
“Astaghfirullah, maaf, silahkan lebih dulu.” Ujar pria itu. Aisyah mengangguk. “Ah iya terima kasih.”
“Sama-sama.” Ujar pria itu. Selesai mengambil makanan Aisyah langsung pergi dan memakannya di pojokkan agar tidak ada yang heboh melihat kedatangannya. Ia melepaskan maskernya kemudian menyendokkan spaghetti itu kedalam mulutnya.
Ternyata pria yang tadi ia temui berdiri disampingnya dan tersenyum manis, “ternyata gadisku. Sudah lama aku tidak mendengar kabarnya.” Batinnya dan sesekali ia melirik kearah gadis itu sampai makanannya habis dan langsung meminum air gelas.
Aisyah mengenakan maskernya kembali dan melangkah menuju stan makanan yang lain, dan sekarang tujuannya ke zuppa soup, makanan kesukaannya setelah pasta. “Aku boleh minta yang baru keluar dari oven?” tanyanya sopan kepada pelayan yang berjaga, “boleh tunggu sebentar ya ka.”
Aisyah sudah membayangkan betapa enaknya memakan kesukaannya itu di siang hari. Seharusnya acara pernikahannya ini di malam hari kan cocok makan soup hangat di malam hari yang dingin. Ah sayang sekali bayangannya musnah seketika.
“Ini ka zuppa soupnya, hati hati panas.” Peringat pelayan itu yang langsung diangguki oleh Aisyah, “terima kasih sudah mengingatkanku.” Ujarnya setelah itu ia melangkah menuju meja pojokkannya yang tadi.
Kemudian ia membuka maskernya lagi setelah merasa roti dari soupnya ia campurkan. Ia tidak menyadari bahwa ada sepasang mata yang sedari tadi menatapnya dengan gemas. Selesai makan aisyah mengedarkan pandangannya dan terdiam menatap pria yang sedang menatapnya juga. “Kamu siapa?”
“Aku pengagummu, tapi kau tenang saja aku akan diam.”
“Tentu, kaukan pria pasti tidak akan selebay wanita.” Ujarnya santai kemudian mengenakan maskernya dan berdiri disamping pria itu agar memudahkan pembicaraannya. “Kau, ah bukan abang yang waktu itu minta foto sama temanku bukan di mall?” tanya Aisyah sembari menatap mata yang asing dimatanya.
Pria itu tersenyum manis dibalik masker, lalu mengangguk, “kau masih ingat ternyata.”
__ADS_1
“Tentu karena aku masih muda, daya ingatanku masih kuat.” Jelasnya. Lalu mengeluarkan ponselnya dan menyodorkannya ke pria itu, “untuk apa?”
“Boleh tidak aku minta nomor abang lalu kirimkan foto yang saat itu.” Ujarnya dengan nada manja, tidak sadar Aisyah mengeluarkan sifat manjanya kepada pria lain selain kedua abangnya dan ayahnya.
Pria itu mengangguk kemudian meraih ponsel gadis itu, “apa kau tidak takut jika aku orang jahat?”
“Apa abang memang orang jahat? Tunggu bentar suara abang seperti ku kenal tapi dimana ya?” ujar Aisyah sembari memikirkan dimana ia dengar suara pria ini?
Sedangkan pria itu sedikit menundukkan wajahnya dan berbisik, “Permisi pak, mau tanya bapak satpam kan? Itu kamu kan?” ucap pria itu membuat Aisyah kaget dan langsung menoleh hampir saja hidungnya tersentuh dengan bibir pria itu walaupun keduanya menggunakan masker tapi sama saja.
“Jadi?”
“Ya, saya orang yang kau anggap satpam.” Kedua mata Aisyah membulat kemudian ia mengerjapkan matanya tanda tak percaya. “Dan ingat namaku Genta, Gentala Pratama Alexander.”
Aisyah mengangguk kemudian, “salam kenal bang Gen, aku Aisyah Putri Nada.” Ujarnya.
“Mengapa tidak Isyah saja? Atau Ica?” Pria itu menggelengkan kepala, “aku hanya ingin panggilan berbeda dari yang lain dan kamu cukup panggil aku Tala tanpa embel-embel abang, apa bisa?”
“Apa tidak apa?”
“Tentu, kan aku yang minta.” Aisyah mengangguk, “baiklah. Salam kenal Tala.”
“Salam kenal juga Ais.”
Keduanya pun lanjut mengobrolnya sampai tidak menyadari bahwa keduanya sudah dekat satu sama lain, Genta, pria itu cukup senang akhirnya bisa mendekati gadis pujaannya dengan sedikit demi sedikit. Ia sangat ingin menjadikan gadis ini sebagai teman hidupnya dan impiannya hanya satu memiliki keluarga kecil bersama gadis pujaannya ini.
__ADS_1
Pembicaraan mereka terus berlanjut sampai ponsel Aisyah berbunyi dan menampilkan bunda dilayar. “Halo assalamualaikum, bun?”
“Kamu dimana nak?”
“Aku masih didalam, di dekat stan es krim, bunda dimana?”
“Bunda udah diluar, kita pulang sekarang soalnya abangmu sudah pulang kasian nunggu diluar.”
“Oh yaudah isyah kesana sekarang.” Setelah itu ia menutup sambungannya dan menatap genta dengan tak enak, “aku pulang dulu ya, udah ditunggu bunda.”
Genta mengangguk, “ya, hati-hati, semoga kita bertemu kembali. Jika kita bertemu untuk ketiga kalinya mungkin kita sudah ditakdirkan untuk bersama.” Ujarnya membuat wajah Aisyah memerah untung saja ketutupan dengan maskernya. “doakan saja. Kalau begitu aku pamit dulu, assalamualaikum, Tala.”
“Waalaikumsalam Ais, calon humairahku.” Ujarnya yang diakhir kata dalam hati.
Punggung mungil gadis itu sudah menghilang dibalik kerumunan, membuatnya pergi dari tempat ia berdiri dan menghampiri teman-temannya yang sudah menatapnya dengan tatapan godaan dan ledekkan.
Sedangkan Aisyah sudah menggandeng lengan bunda dan ayahnya yang melangkah masuk kedalam mobilnya. Aisyah langsung merebahkan tubuhnya karena mengantuk, “abang Izak yang pulang bun?”
“Bang Fariz, bang Izak tidak bisa pulang karena banyak yang harus diselesaikan.” Jelas bunda yang fokus dengan ponselnya mengabari kepada putra sulungnya yang masih menunggu didepan rumah.
--
Next..
Vote, Comment, Like, and Favorite.
__ADS_1
Happy happy yap yap!