AISYAH

AISYAH
(89) AISYAH


__ADS_3

Happy Reading Semuanya!


Jangan lupa kasih tanda like diceritaku ini ya.


Support juga.


--


“Lesya, sayangnya ummi, baba.. adik Lian jangan diganggu dong, kasihan baru terlelap masa iya sudah dibangunkan.”


“Ummi, kapan adik Lian bisa belmain dengan lesya? Lesya bosan terus seperti ini.” Ujarnya dengan cemberut. Aisyah tersenyum lalu mengelus rambut tebal milik putrinya, “kalau begitu, mau tidak Lesya ikut dengan ummi ketempat kerjanya ummi?”


“MAUUU!!”


“Tapi ada dua syarat, jika Lesya mau ikut dengan ummi.”


“Apa?”


“Minta izin terlebih dahulu ke Baba, lalu syarat berikutnya, Lesya harus diam, ditemani oleh om Azzam mau kan?”


“Memangnya, ummi kemana?”


“Umm ikan kerja sayang, namun ummi tetap kok ada disatu lokasi denganmu.” Ujar Aisyah dengan lembut berakhir dengan colekkan diujung hidung mancung putrinya itu. “Oke, kalau Lesya dibolehin sama baba, lesya akan diam hanya menatap ummi dan yang lainnya yang selius bekelja ya mi.”


“Hem, oh tuh dengar, baba sudah pulang ayo kita sambut.” Ujar Aisyah mengajak Lesya turun dari lantai atas dan melangkah mendekat arah pintu belakang yang sudah menjadi tempat keluar masuk para keluarga.


“Selamat datang baba Tala!” pekik Lesya yang langsung disenyumi oleh babanya yang tadi terlihat lelah sekarang terlihat lebih bersemangat. “Baba pulang putriku.” Dikecupnya putri kecilnya ini dengan gemas, “anak baba udah mandi kok masih asyem?” endus Tala membuat putrinya langsung mengerucutkan mulutnya sampai beberapa senti, tak lama kedua matanya memerah ingin menangis, dan itu membuat Tala panik seketika awalnya ingin mengerjai putrinya malah dia yang terkena batunya.


“HUAAAA UMMIIIIIII!!! BABA JAHAT KE LESYAAAAA!!!”


“Astaghfirullah, cucu oma kenapa ini? Kok babanya di pukul gitu, kasihan atuh.” Ujar oma Maura membuatnya minta digendong oleh sang oma, “oma hikss.. baba jahat.. hiks…”


“Memang baba jahat kenapa sayang?”


“Lesya dibilang bau asyem. Masa badan Lesya bau asyem. Kan Lesya dah mandi tadi..” sesegukkannya membuat Tala menyesal akan perbuatannya, sedangkan dua Kha-ka menatap babanya dengan kesal. “Lesya wangi kok, baba hanya bercanda saja dengan kamu sayang.”


“Ada apa ini? Kok Lesya menangis seperti itu?” tanya Aisyah yang tadi meninggalkan putrinya sebentar menuju dapur namun mendengar teriakan putrinya langsung mematikan kompornya.

__ADS_1


“Tanyakan suamimu lah syah, dia yang iseng banget masa baru pulang udah jahilin putrinya.” Aisyah langsung menatap suaminya datar, kemudian mendekati putri kecilnya lalu mengelus kepala serta memeluknya erat. “Lesya wangi kok, yang bau asem itu baba, karena baba kan baru pulang kerja.”


“Jadi Lesya gak bau kan ummi?” Aisyah mengangguk, “tentu putri cantik ummi selalu wangi, dan hemm.. aroma bayi masih lekat dengan mu nak. Wangi strawberry. Selalu.”


“Gih main sama oma dulu. Untuk abang Kha-ka, kalian sudah mandi? Belum kan? Mandi dulu gih abis itu makan siang terlebih dahulu, udah belom? Baba juga baru pulang bukannya langsung mandi malah jahilin putrinya.” tanya Aisyah kepada tiga pria yang berbeda usia itu.


“Iya, ini mau mandi. Sini dong baba mau cium ummi dulu.” Ujar Tala dengan merentangkan kedua tangannya namun ditolak oleh ummi, “baba bau, udah gih sana mandi dulu baru minta sun ke Ummi.” Ujar Aisyah dan melangkah menuju dapur meninggalkan sang suami dengan anak kembarnya.


Tala yang ditinggal dan ditolak oleh wanita tercintanya hanya bisa lesu, tanpa sadar ada suara kekehan dari arah belakang, ia melupakan kehadiran anak sulung kembarnya ini. “Oh, udah berani menertawakan baba ya? Sini kalian.” Ujar Tala membuat Khalid dan Kazeem berlarian kesana kemari dan mengarah kelantai dua sampai masuk kedalam kamar keduanya segera menutup pintunya dengan rapat, sedangkan Tala yang mengejar mereka tidak sampai hanya bisa menggelengkan kepala.


“Loh, mas? Kok belum ke kamar juga? Udah gih mandi dulu, makanan siangnya hampir selesai.”


“Sayang kamu beneran mau kerja lagi?”


“Masa cuti aku udah selesai mas, dan harus kembali kedunia itu sampai aku memberitahukan bahwa aku berhenti. Dan itu kemungkinan saat keempat anak kita sudah remaja dan dewasa.”


“Kenapa tidak saat saat ini saja?”


“Em, karena aku merasa sedikit sepia palagi nanti ketika Lesya sudah masuk sekolah taman kanak-kanak, lalu diikuti oleh Lian dua tahun kemudian.”


“Kamu yakin bisa mengatur waktunya?” aisyah mengangguk, “insya allah bisa mas. Doakan saja. Ah iya nanti kemungkinan Lesya bakal minta izin ikut kepada mas. Padahal Lesya ingin memberitahukan kepada mas tadi, sepertinya anak itu melupakanya.”


“Mas ini dari dulu sampai sekarang jahil sekali. Udah gih mandi sana. Bau gosong tercium.” Ujar Aisyah mendorong suaminya masuk kedalam kamar mandi, dibalas tawa renyah oleh Tala. Setelah melihat suaminya menghilang dibalik pintu ia langsung menyiapkan pakaian santai dan tidur untuk sang suami setelah itu ia keluar dari kamarnya menuju kamar Kha-ka, ia melihat keduanya saling membantu satu sama lain saat memakaikan pakaian dan mengeringkan kedua rambutnya.


Aisyah tersenyum senang, kemudian ia melangkah menuju dapur melanjutkan memasaknya yang tadi terhenti.


“Alhamdulillah ya Allah, kau memberikanku keluarga yang sangat menyayangiku, melindungiku sampai memberikan kepercayaan untuk mendapatkan anugerah yang sangat menggemaskan dan meramaikan suasana rumah kami.” Gumam Aisyah seperti ia berdoa untuk seluruh keluarga kecilnya itu.


“Ummi, makanannya udah siap?” tanya pelan suara putra keduanya, Kazeem. Bocah kecil itu berdiri disamping Aisyah dengan mata bulatnya. “udah sayang, kazeem tunggu dimeja makan saja ya?” mendengar itu Kazeem menggeleng pelan, “Kazy mau bantu ummi aja. Bolehkan?”


Aisyah tersenyum. “tentu saja, tapi bawanya pelan pelan ya.”


“Khalid juga mau bantu ummi.”


“Lesya juga… Huaaa! Baba! Lesya telbang ummi!” Aisyah menggelengkan kepala, “Lesya sama baba aja ya..”


“Iya, tangan Lesya masih kecil belum kuat ngangkat mangkok isi kuah. Bahaya dikamu juga.” Ujar baba membuat putri kecilnya kembali menekuk wajahnya. “Udah jangan ngambek, ayo kita makan.” Ujar baba Tala membuat kedua mata bulat Lesya berbinar. “Yey, makan.”

__ADS_1


“Lesya seperti belum makan saja, padahal sudah makan bubur.”


“Hehe, lesya lapar lagi mi.” kekeh kecilnya dengan gemasnya menutup mulutnya dengan tangan kirinya.



“Sudah mari kita makan, doa dulu sebelum makan.” Ujar Tala kepada semua anggota kecilnya, sedangkan oma ikutan makan. Menunggu ayah Syah menjemput bunda Maura.


Hari sudah sore, bunda Maura atau oma Maura sudah pulang dijemput oleh ayah Syah atau opa syah. Saat ini Aisyah sedang berada didalam ruangan kamar bayi milik Lian ditemani oleh kedua anaknya. Sedangkan Lesya sedang berdua bersama babanya di ruang kerja Tala.


“Baba.. Lesya mau ngomong sesuatu boleh?”


“Ngomong apa sayang?” tanya Tala sembari mengecup pucuk kepala putrinya yang berada dipangkuannya, “lesya boleh tak ikut ummi kelja. Lesya juga ingin melihat ummi kelja seperti apa, apa seperti baba saat ini atau belbeda?”


Tala menahan senyumannya mendengarkan cara bicara putrinya yang cadel R, diganti menjadi L. “Untuk apa, lesya ikut dengan ummi? Nanti ngeganggu lagi.”


“Tidak, lesya kan anak baik, dan nurut.”


“masa sih? Biasanya Lesya tidak bisa diam.”


“Lesya janji akan diam, dan patuh kepada ummi, jadi bolehkan ba? Lesya ikut kali ini.”


“Yakin kali ini doang? Gak akan keterusan?”


“Gak tau liat nanti, tapi kalo Lesya suka bakal ikut lagi hehe.” Ujarnya dengan lucu. Tala yang tidak bisa menolak langsung mengangguk, “Boleh, lesya boleh ikut tapi jangan ganggu orang yang lagi kerja ya?”


“Siap baba! Yey! Ikut Ummi kelja.”


--


Next...


Vote, Comment, Like, and Favorite!


Don't forget to like this story.


See you! Thank you! Bye!

__ADS_1


Love Rora~


__ADS_2