
Happy Reading!
Aisyah melangkah ringan masuk kedalam rumah dan ternyata didalam sudah dipenuhi dengan beberapa sanak saudara keluarga bundanya, “assalamualaikum.”
“Wa’alaikumsalam, hei sini artis yang banyak disayangi.” Ujar teteh sepupunya yang sedang menggendong putranya. “Apa kabar teh?”
“Baik dong, alhamdulillah, gimana kabar kamu, ica?” (Panggilan Ica dari para kakak sepupunya.)
“Alhamdulillah baik teh, uhhh si gendut mana abangnya teh?” tanya Aisyah setelah mengecup dan menyubit keponakan gemesnya. Teteh menunjuknya dengan dagunya karena dua tangannya sedang penuh dengan cemilan bayi serta bayi yang digendongannya. “Itu lagi sama akinya.”
“Ya ampun lengket banget sama akinya.”
“Hai ka? Sibuk banget motongnya gak lagi nangis kan?” saut Aisyah setelah menghampiri kakak sepupunya yang lain sedang memotong bawang Bombay dan bawang putih bersama adiknya yang juga kakak sepupu Aisyah.
“Dari mana? Pulang kok telat? Bantuin nih.” Aisyah menggeleng, “capek, mau mandi dan makan dulu, semangat ya ka Bina.”
“Dasar, ica.” Gerutu ka Bina melihat Aisyah menjauh darinya dan menuju ke kamarnya. Betapa terkejutnya Aisyah saat masuk kedalam kamarnya, “eh kaget ternyata ada mba Mila sama dek Nika?”
“Eh onty Ica udah pulang, numpang ya katanya bunda gapapa pakai kamar Ica dulu soalnya kamar tamu belum dirapihin.” AIsyah mengangguk, “iya gapapa pakai aja, tapi ka Bima gak masuk kan kemari?”
“Tenang kok, sepupu kamu itu gak akan masuk kekamar cewe selain kamar mba.” Aisyah mengernyit dengan nada suara mba Mila yang sedikit berbeda biasanya ia akan mengatakan, ‘tenang dong, mas Bima gak akan seperti itu.’ Atau ‘Mas Bima baik kok orangnya kalian gak tau aja sifatnya.’
“Syukur deh, soalnya ica mau mandi, gerah.”
“Silahkan, pantes ada bau matahari,” ledek mba Mila. “Maksud mba gosong gitu?”
Hahaha.
“pikasebelen.” Dumel Aisyah lalu masuk kedalam kamar mandi setelah mengambil baju gaun Panjang dan handuk serta **********. Selesai membersihkan diri, ia keluar namun tidak melihat siapapun didalam kamarnya? “Mba Mila kemana?”
“Kok ini si dek Nika ditinggal gini sih apalagi gak ada guling dipinggirannya.” Ujarnya sambil geleng-geleng kepala. Baru ia duduk di depan meja rias pintu kamarnya sudah diketuk, “siapa?”
__ADS_1
“Ini bang Bima!” teriaknya. “Oh tunggu bentar bang, kemana mba Mila nya?”
“Dia lagi didapur, abang mau ngambil Nika.” Balas bang bima dengan suara keras. “Tunggu bentar bang, aku pakai jilbab dulu.”
“Ya.”
Ceklek.
Aisyah membuka pintu kamarnya lalu ia mempersilahkan bang Bima untuk masuk karena dia tidak mungkin menggendong keponakannya dan akan berakibat bersentuhan dengan sepupunya yang non muhrim walaupun bundanya adik dari ayah bang Bima tapi tetap saja beda darah dengan ayahnya.
“Maaf ganggu ya.”
“Iya, oh iya tolong bilangin mungkin mba Mila lupa, tadi hampir aja dek Nika jatuh karena gak ada guling dipinggirannya.” Bang Bima seperti mengetatkan rahangnya dan mengangguk, “iya jazakallahu khoiroh. Udah ngasih tau.”
“Amin bang.”
Setelah itu bang Bima keluar kamar dengan menggendong putrinya, Aisyah kembali menutup pintunya dengan pelan tak lupa dikunci kembali. “Sepertinya keluarga kecil bang Bima dan mba Mila lagi ada masalah ya? Ah sudahlah bukan urusanku, urusanku mendoakan kedua kakakku.”
Selesai berdandan, ia langsung mengantongkan ponselnya dan dompetnya jika ia ingin jalan keluar bersama para saudaranya. “Hey ho. Apa isyah terlambat bunda?” tanyanya yang di sauti oleh ka Bina, “telat banget sih ca. Udah jadikan makanannya.”
“Ck, dasar bungsu.”
“Hehe. Oh iya bun, bang Fariz dan bang Izak kemana?”
“Mereka didepan gak tau ngapain. Panggil gih buat makan bareng. Gak usah nunggu jam 8 segala kita bukan orang kaya yang punya jadwal makan malam.” Ujar bunda yang diangguki oleh Aisyah, “betul, lagi pula perut isyah udah bunyi banget,”
“Cacingnya kelaparan ya dek.” Ujar ka Mara.
“Tau aja, sendirinya juga begitu ya?”
Hahha. “iya. Udah sana panggil,”
__ADS_1
“Iya bawel.”
Aisyah melangkah menuju halaman depan namun ternyata kosong tidak ada siapapun, kemudian ia melangkah menuju kamar abang Fariz dan benar ketiga orang itu berada didalam sini ah tidak empat orang termasuk suaminya teteh.
Ingin mengetuk namun ragu saat ia mendengar, “serius? Istri lo selingkuh?”
“Sssttt diam, udah tau kamar lo gak kedap suara. Kalau kedengaran gimana?”
“Tenang pada sibuk dilantai bawah.” Ujar bang Izak.
Tok! Tok! Tok!
Pintu kamar bang Fariz diketuk oleh Aisyah karena ia tidak ingin mendengarkan pembicaraan hal sensitive tentang masalah rumah tangga abang sepupunya dengan istrinya. “Bang Fariz! Bang Izak! Bang Bima! Bang Imran!”
Aisyah berteriak lagi lalu mengetuk pintu kembali, klik. “ada apa?”
“Makan malam dah kelar, isyah disuruh panggil kalian semua, dicariin didepan gak ada eh ternyata pada disini semua?”
“Udah iya, nanti abang nyusul.”
“Buruan bang perut isyah dah bunyi.”
“Iya adik cantik abang, tunggu dibawah aja.”
“Iyah. Dan buat bang Izak, kalau ngomong jangan keras-keras bukannya rahasia lagi nanti ceritanya.” Ujarnya kemudian ia berlari membuat keempat pria itu membeku. Sedangkan Izak merasa bersalah kepada sepupunya, “bim, sorry.”
“Huhh.. semoga aja Ica gak lemes.”
“tenang aja dia paling pintar menyembunyikan masalah hal sensitive.” Bang bima mengangguk dengan perasaan gundah gelisah.
--
__ADS_1
Next..
Vote, Comment, Like, and Favorite!