AISYAH

AISYAH
KSPI 05


__ADS_3

Happy Reading Semuanya!


Jangan lupa kasih tanda like untuk ceritaku ya.


Support aku juga.


“Hei, sedang apa kamu?”


“Gak liat apa aku lagi nonton drakor? Kakak ngapain? Kok tumben gak pulang kerumah ummi kakak.”


“Ummi lagi gak dirumah, lagi pula rumah juga kosong pada pergi semua.” Nadhira mengangguk dan menatap khalid. “ah iya. Aku ingin mencapaikan sesuatu mumpung kakak dirumah.”


“Apa?”


“Dua minggu dari ini, aku akan pindah.”


“Tiba-tiba?”


“Tidak tiba-tiba, ini sudah ku rencanakan tapi baru sekarang aku mengatakannya karena kakak baru ada dirumah.”


“Kan bisa mengatakannya di ponsel.”


“Aku lupa, dan lagi pula mengatakan hal ini lebih enak langsung.”


“Dimana kamu tinggal nanti.”


“Em, itu masih dirahasiakan. Aku tidak mau ada yang tau dulu.”


“Kenapa begitu?”


“Entah aku ingin sukses dulu. Baru aku datang kembali kepada kakak.”


“Kau membuatku sedih.”


“Maaf. Dan terima kasih sudah membantuku serta menolongiku.”


“Tidak perlu begitu, kau berkata seperti itu seakan kita tidak akan pernah bertemu kembali.”


“Em, haha.. apa kakak lapar?”


“Ya,”


“Baik, aku akan membuat sesuatu untuk kita.”


“Semoga enak.”


“Akan selalu enak makananku ka.” Ujarnya lalu beranjak menuju dapur yang kemungkinan akan selalu ia rindukan setelah ini.


Didalam kamar Nadhira, gadis itu baru keluar dari kamar mandi setelah menyingkirkan aroma makanan dari tubuhnya. “ah segarnya… waktu waktu seperti ini aku akan merindukannya. Apalagi wajah tampan ka khalid?”


“Eh, aduh kamu pasti sudah gila. Mari kita buat rumah baru menjadi aktifitasmu yang baru dhira. Kamu pasti bisa, pasti akan bisa.”

__ADS_1


“Ayo kita tidur, mari kita istirahat.” Baru saja ia ingin memejamkan kedua mata namun ponselnya bergetar, membuatnya terduduk kembali dan mengangkat ponsel tersebut.


“Halo? Assalamualaikum, selamat malam dengan siapa dimana?”


“Halo, selamat malam, maaf saya menganggu anda. Apa benar anda nona Nadhira?”


“Ya benar saya sendiri, dengan siapa maaf?”


“Saya Pak Adiman yang membantu anda untuk mencari rumah minimalis bertujuan untuk membuka sebuah resto atau café?”


“Ah, iya, selamat malam pak. Bagaimana apa anda sudah mendapatkanya?”


“Ya, saya dan semua rekan saya sudah mendapatkan tempat strategis untuk dibuat menjadi café atau resto seperti


yang anda inginkan nona. Dan kemungkinan lusa anda bisa datang kemari untuk melihat apa anda suka atau tidak, kami sudah mencari dua rumah yang masuk dengan kriteria anda nona.”


“Baik lusa saya akan datang kesana, ah iya pak. Apa anda bisa jam 12-an setelah ba’da dzuhur?”


“Tentu, saya akan menunggu anda nona.”


“Baik, kalau begitu terima kasih dan maaf jika saya merepotkan anda pak.”


“Ah, bukan apa apa ini memang pekerjaan kami membantu dan mencari apa yang diminta oleh klien kami bukan? Malah saya yang seharusnya minta maaf kepada anda, maaf mengganggu anda dimalam hari


ini. Pasti anda juga sudah ingin beristirahat bukan?”


“Tidak, saya masih melek kok, kalau sudah apa bisa saya tutup teleponnya?”


“Ya, waalaikumsalam, tidak apa pak. Terima kasih.” Sambungan ponsel terputus dan Nadhira langsung membaringkan tubuhnya kembali dengan membuka gallery diponselnya seraya untuk melihat foto rumah barunya.


“Tidak sabar untuk tinggal disana. Semoga aku nyaman ditempat baru ya.”


“Ahh… iya..”


Gadis itu kembali beranjak dari kasurnya kemudian mengambil satu buku tulis serta satu pulpen. Ia memulai menulis sesuatu yang kemungkinan akan sangat diperlukan untuk waktu kedepan.


“Apa lagi ya? Hem, sepertinya segitu dulu deh. Akh sudah jam 11 malam aku harus segera tidur. Jika tidak subuh akan terlambat.”


Ujarnya setelah itu ia menutup buku catatannya dan menaruhnya diatas meja samping kasurnya ia langsung menarik selimut menutupnya sampai lehernya dan memejamkan kedua matanya lalu terlelap.


Kebesokkan harinya, Nadhira tidak pergi kemana mana, selain mendekam didalam rumah Khalid. Sedangkan sang tuan rumah, sedang olahraga pagi, tak sengaja ia bertemu dengan teman temannya dan banyak yang ingin bermain dirumah pria itu.


Nadhira, gadis yang seharusnya pergi lusa, untuk melihat rumah yang akan menjadi restonya diundur menjadi dua bulan mendatang. Dan hari ini ia memajukan jadwal kepindahannya karena rumah barunya telah selesai diperbarui apa yang dia inginkan.


“Semua sudah selesai, tapi tidak mungkin aku membawa semua barang ini?”


Tok! Tok! Tok!


“Masuk!”


Khalid datang dan berdiri bersandar disamping pintu, “sedang apa kamu? Kenapa berberes?

__ADS_1


“Ah, mumpung kakak sudah pulang, aku hanya ingin mengatakan bahwa aku akan pulang kerumah baruku hari ini.”


“Mengapa mendadak?” tanya Khalid yang merasa detak jantungnya berdegup kencang dari biasanya. Belum gadis itu membalas, suara klakson berbunyi. “Ah, sepertinya mobil baruku telah tiba. Tunggu sebentar ya ka.”


Khalid yang baru saja ingin mencegahnya tidak bisa karena Nadhira lebih cepat geraknya dibandingkan tangan kanannya.


“Mobil siapa itu? Keren sekali.” Celetuk salah satu teman Khalid yang masih berdiri didepan rumahnya. Tak lama Nadhira keluar dengan senyuman manisnya, ia menatap pria yang tak lain adalah dealer mobil yang sudah bekerja sama dengannya. “Mau berangkat sekarang nona kecil?”


“Ya, untung saja kamu datang lebih cepat. Aku akan membawa semua barangku. Kau tinggal masukkan kedalam ya.”


“Baik.”


Nadhira berbalik dan menatap kaku kepada pemilik tuan rumah yang ternyata juga menatapnya dengan tatapan tak biasa. Sedih, gelisah, suram, dan masam. “Ka.. maaf aku mendadak. Karena ternyata rumah itu sudah bisa ditempati mulai dari kemarin apalagi semuanya sudah tuntas. Maka dari itu tidak ada lagi yang harus aku lakukan selain cepat pergi dari rumah ini.”


“Kenapa?” tanyanya dengan suara serak. Nadhira tersenyum, “karena aku ingin sukses. Mungkin setahun dua tahun atau tahun keberikutnya kita tidak akan bertemu kembali. Namun siapa yang akan tau jika masa depan akan menemukan kita berdua.”


“Apa tidak bisa..”


“Tidak! Aku tidak bisa tinggal disini. Karena kita bukan mahramnya, aku kemarin datang kepengajian yang ternyata itu sangat menggangguku. Kita berdua hanya orang asing, kita berdua tinggal bersama dan itu menganggu mereka para tetangga, serta keluarga dan teman teman kakak. Ya walaupun kita tidak melakukan apapun. Tapi apa yang ada dipikiran mereka sangat berbeda.”


Perkataan gadis itu berdengung begitu saja dikedua telinga dan pikirannya. Dan itu membuatnya semakin pusing, sudah dua hari sejak Nadhira pergi dari rumahnya dan tidak mengatakan dimana ia akan tinggal.


Khalid mengacak rambutnya yang tertata rapih menjadi berantakan. Ia kesal. Kesal kepada dirinya sendiri.


Bagaimana bisa ia menjadi sebodoh ini? “aku mencintainya pada pandangan pertama bagaimana bisa aku tidak mengatakan perasaanku kepadanya? Bagaimana jika gadis itu bertemu pria lain dan meninggalkannya?”


“Bodoh kau khalid.”


“Ya kau memang bodoh.”


Celetuk seorang yang baru saja datang memasuki ruang kerjanya diperusahaannya. “bagaimana apa kau sudah merasakannya ditinggal sebelum berusaha?”


“Apa seperti ini rasa diri kau ditinggal oleh gebetanmu dan pergi dengan pria lain tanpa mau berkata apapun lagi?” tanyanya yang langsung diangguki oleh pria yang sudah duduk santai disofa. “ya, tapi kau masih bisa berusaha mendapatkanya. Lagi pula apa yang ku ketahui pria yang pergi dengannya tak lain dealer yang akan bekerja dengannya.”


“Bagaimana kau tau?”


“Apa kau lupa aku yang membantunya\ mencari rumah dan mobil untuknya.”


“Ah iya, lalu dimana ia berada saat ini?”


“Aku tidak tau, sepertinya dia sudah bertemu dengan seseorang yang pintar menyembunyikan data dirinya.” Ujarnya. “Kau bisa mencarinya lagi bukan Az?” tanya Khalid kepada sepupunya Azkara.


--


Next..


Vote, Comment, LIke, and Favorite!


See you! Thank you! Bye!


Love Rora

__ADS_1


__ADS_2