AISYAH

AISYAH
(52) AISYAH


__ADS_3

Happy Reading Semuanya!


Jangan lupa support ceritaku ya.


Terima kasih!


--


Aisyah yang sedang duduk bersama kedua orang tuanya sembari menonton tv mendengar suara ketukkan pintu dan itu membuatnya segera melangkah lebar dan mengintip siapa yang datang dan ternyata para keluarga sepupunya. “Bunda ada uwa laki dan keluarga! Isyab pakai jilbab dulu ya bun.” Ujarnya tanpa membuka pintu terlebih dahulu karena ia masih menggunakan pakaian minim.


“Oke, biar ayah saja, bunda pakai jaket dan jilbab ke kamar gih.”


“Baik ayah,” Ayah melangkah mendekati pintu rumah dan tersenyum, “wah ada apa ini, mengapa kalian tiba-tiba datang seperti ini?”


“Halo paman, kami semua diundang oleh putra kedua paman untuk datang kemari karena akan ada acara lamaran bukan?” ujar Bima dengan menggendong putrinya bernama Nikamy Putri Bima.


“Ya sudah mari masuk kalian, kasian cucu opa udah kepanasan ya? Lalu Fitri tidak datang?”


“Lagi on the way om, kan dia tinggalnya di kota B beda sama kita yang tinggal di kota J.” balas Bima. Yang diangguki oleh ayah kemudian mereka disambut dengan kedatangan bunda dan Aisyah yang sudah menyajikan minuman dan cemilan.


“Kok gak ngabarin kalau mau kemari? Tumben.” Ujar Aisyah yang sudah meletakan beberapa toples kue dan langsung didorong kedalam pelukan oleh kedua kakak sepupunya dengan ceria. “Huaaa akhirnya kamu sold out juga.”


Hahaha.

__ADS_1


Tawa ka bina menggelegar. Aisyah sedikit meronta karena sesak, “ka! Udah dong sesek nih gak bisa napas.”


“Bin udah bin, kasian icanya.” Ujar uwa laki melerai mereka. Pelukan bina pun terlepas dan ica yang langsung mengambil udara sebanyak-banyaknya, “ka bina mau ngebunuh ica ya?!” kesalnya dibalas cengiran konyol oleh sepupunya.


“Ka mara, katanya juga udah dapet jodoh ya?” tanya polos Aisyah yang membuat Mara dan Bina yang sudah merahasiakan dari keluarga bocor sudah. Mara langsung melotot kearah Aisyah membuat gadis itu menutup mulutnya dengan satu tangan. “Ups, sorry. I’m forgot.”


“Tuh kan mar, gua kata apa dia tuh pasti keceplosan.” Saut Bina membuat aisyah semakin tidak enak, “maaf, kan ka Mara orangnya pemaaf, gak marah kan sama Ica?”


“Gak kok, gak tau nanti.”


“Ih kok gitu, ka Mara…”


“Iya dimaapin.”


“Bang Reza? Bang Rio? Bang Wildan? Atau bang Bumi?”


“AISYAH!” Sentak Bina dengan tatapan melotot ketika mendengar nama nama calon suaminya disebutkan secara bertahap.


“Eh?” Aisyah langsung menyembunyikan dirinya dibalik tubuh ayahnya. “Jangan semuanya disebut aduhhh! Tolong!! Ada yang bisa basmi gadis polos ini gak sih?” frustasi Bina sedangkan yang lain tertawa melihat interaksi tiga gadis yang selalu bersatu ini.


“Ka bina jangan marah dong, nanti cepet keriputan loh, masa kalah sama bunda yang udah punya tiga anak masih belum punya keriputan sama sekali, udah yuk kita ke kamar ica aja. Ka Mara yuk ke atas.” Ajak gadis itu dengan menggandeng tangan ka bina yang dibalas cubitan ke hidung mancung nan mungilnya itu membuat Mara menggelengkan kepala dengan tingkah keduanya. Begitupun dengan yang lain, “mereka ada ada saja.”


Bunda duduk di sofa yang tadi ditempati oleh Mara, keponakan alimnya itu. Lalu menatap keponakan lakinya yang asik menyuapi cemilan kemulut putrinya. “istrimu mana bim? Kok tidak ikut?”

__ADS_1


“Em ada reunian tan, jadi dia gak bisa ikut lagi pula kemari juga mendadak.” Ujarnya dengan menyembunyikan masalahnya dari keluarga besar kedua orang tuanya saja belum mengetahui masalah rumah tangganya hanya baru beberapa saudaranya yang tau topik permasalahannya. Tak lain para sepupunya dan Bina, kakak perempuannya


nomor dua.


“Tumben, walaupun kalian datang mendadak pasti dia gak akan lepas dari putrinya bukan? Apa ada masalah?”


“Tidak tan, jika ada pun bima masih bisa menyelesaikannya.”


“Bagus, selesaikan dengan kepala dingin ya, kalau kepalanya panas ademin aja sama air es.”


“Uni ada ada saja perkataannya.” Ujar kakak iparnya yang umurnya yang dibawahnya lumayan jauh. Tapi walaupun dia kakak ipar, ia selalu tau bahwa dirinya tidak sopan. Kakak bunda, uwa laki berusia 60 tahun sedangkan istrinya, uwa perempuan berusia 48. Bunda sudah pernah berkata untuk panggil dirinya nama saja namun tetap kekeh ia akan memanggilnya uni sebagai kakak perempuan. Karena dia anak bungsu dari beberapa saudara laki lakinya.


“Kan tidak baik jika bertengkar dengan kepala panas, untuk batin seorang anak. Jika dia melihatnya tertekan lah fisik dan mentalnya.”


Bima mengangguk paham, “iya tan, bima paham.”


--


Next..


Vote, Comment, Like, and Favorite.


SEE U!

__ADS_1


__ADS_2