
Happy Reading Semuanya!
Jangan lupa beri tanda untuk ceritaku ya.
--
Sudah sebulan, perjalanan rumah tangga Aisyah dan Gentala, sudah sebulan juga mereka tinggal di rumah yang sudah disiapkan oleh Tala. Untuk keluarga kecilnya. Hari ini keduanya sedang rapih-rapih untuk berangkat kerja, tala ke kantor, dan Aisyah menuju lokasi acara syuting karena dia telah diundang ke acara rumor no secret.
“Hari ini kamu pulang jam berapa?”
“Sore paling sebelum ashar bi, habibi jam berapa?”
“Aku pulang habis maghrib sepertinya soalnya hari ini ada temuan dengan klien dari Surabaya. Jadi habib diundang untuk makan siang bersamanya.”
Aisyah mengangguk, kemudian ia meraih dasi berwarna navy polos. Menyimpulnya rapih dan pas. Kemudian ia meraih cincin pernikahannya dari atas nakas. “Pakai cincinnya ya, biar banyak yang tau habibi udah ada yang punya.”
Cup!
Tala mengecup kening Aisyah singkat, “iya, habib nurut saja sama My Queen Heart!”
“Dasar gombal. Udah yuk sarapan, aku udah buat sarapan tadi sebelum mandi.”
“Hem, kamu dijemputkan sama sopir?” Aisyah mengangguk, “iya dijemput, kenapa gitu?”
“Hati -hati ya Zawjatii.. Habibi ingin kamu jaga diri.”
“Baik habibi, akan Zawjati ingat didalam otak ini.” Ujarnya menunjuk kepalanya. “Baiklah, ayo kita keluar bersamaan, mereka sudah sampai menjemput kita di gerbang belakang.”
“Oh iya, isyah mau tanya kenapa habibi bisa kepikiran untuk buka kafe didepan rumah kita? Apa alasannya?”
“Hem, biar jika kamu tidak lagi bekerja didunia hiburan, kamu bisa mengurus kafe yang sudah kuhadiahkan itu, dan lagi alasan aku buka kafe dibelakangnya rumah agar anak anak kita kelak tidak akan tertinggal hanya karena kita sibuk. Apalagi kita punya halaman belakang yang cukup luas dan lebar ini. Gerbang belakang khusus penjemputan agar tidak dilihat banyak orang. Sedangkan gerbang depan itu digunakan pelanggan masuk, tapi bisa sih kita masuk atau keluar lewat pintu samping.”
“Lalu ngomong anak, habibi ingin punya anak berapa?”
“Sekuat kamu dan sedikasih oleh Allah, aku gak akan mau ngeberatin kamu. Karena kamu bukan mesin buat anak yang dibikin langsung jadi lalu keluar gitu saja. Aku ingin kamu tidak stress atau depresi memikirkan soal anak, kita dapet alhamdulillah belum dapat ya disyukuri saja.”
“Baiklah, bismillah kita dapat anugerah ya bi.”
__ADS_1
“amin dan aku ingin kalau udah punya anak, kita ubah lagi panggilan.” Ujar Tala sembari mengelus perut datang Aisyah, “apa?”
“Em mas ingin dipanggil Baba dan Ummi, bagaimana?”
“Boleh, hihi isyah suka kalau ada yang manggil ummi aisyah atau baba tala? Hehe gemes geli-geli gimana gitu.”
“Yaudah kalau gitu sejak sekarang aja kita ubah kembali biar kebiasaan.” Aisyah mengangguk, kemudian keduanya sudah sampai didepan dua mobil hitam yang sudah menunggu keduanya. “Aisyah pamit dulu ya ba, Baba hati-hati, jangan lupa sholat dan jangan deket-deket sama wanita lain.” Ujarnya lalu mengecup punggung tangan kanan sang suami dengan lembut, dibalas kecupan kening dari Tala. “Tenang saja baba akan selalu setia denganmu, dan baba juga minta kamu jangan dekat dengan pria lain. Kecuali izin kepadaku, kamu boleh dekat deh sama pria diluar tapi jangan terlalu lengket.”
“Aisyah insya allah bisa mengikuti amanah dari baba. Oh iya aisyah mau minta izin ada teman pria yang ngajak untuk makan bersama disiang hari. Apa boleh? Tenang saja aisyah juga bakalan ajak ka Azzam atau kakak yang lain.”
Tala sedikit berpikir apalagi ia pernah tak sengaja melihat pesan dari ponsel istrinya ini yang tak lain ‘Aldi’, ia pun mengangguk, “boleh, baba izinkan tapi ajak yang lain jangan berduaan saja.”
“Iya, kalau begitu isyah berangkat sekarang ya ba, Assalamualaikum!”
“Wa’alaikumsalam, hati hati pak Dali! Ka Azzam.”
“Ya, kami berangkat terlebih dahulu. Assalamualaikum!”
“Waalaikumsalam.”
Dua mobil hitam, berpisah dengan jalur jalan. Mobil yang dinaiki Tala belok kanan sedangkan mobil yang dinaiki Aisyah lurus terus karena ia bertujuan menuju gedung channel tv bernama Traner tv.
“Ke gedung RAR group, kita di kontrak disana, dan kamu diminta untuk menerima permintaan mereka untuk dijadikan artis dan model buat mereka.” Ujar Azzam membuat Aisyah termangu, “model? Model apa?”
“Tenang saja, mereka masih dibawah Batasan kok, lagi pula ada seseorang yang ingin bertemu denganmu. Dia termasuk fans mu.”
“Oh begitu, apa suamiku udah tau?”
“Dia sudah tau semua jadwalmu, syah. Jadi jangan khawatir oke?”
“Baiklah.”
Mobil yang membawa Aisyah telah sampai disebuah gedung RAR group, gedung itu cukup tinggi dan elegan, ia sempat berfikir, apa benar abangnya bekerja disini? Saat ia masuk kedalam mengikuti Langkah ka Azzam yang menuju resepsionis tapi ada sekumpulan orang berjas membuat dirinya mengalihkan pandangan dan memfokuskan.
Dua mata sedikit menyipit sampai ia melebarkan kedua matanya saat melihat sosok yang ia sayangi itu sedang penuh dihormati oleh beberapa karyawan di gedung ini.
“Selamat sore tuan Rai.”
__ADS_1
“Selamat sore tuan CEO.”
“Selamat sore tuan Raiz.”
Dan masih banyak lagi, sampai aisyah tidak memikirkan kelanjutannya dan ia melangkah mendekati pria itu dan berdiri dihadapannya, sampai pria itu mengeluarkan aura gelapnya. “Abang ngapain disini?” tanya Aisyah yang langsung membuat pria itu terkejut dan menyembunyikan aura gelapnya.
“Isyah?”
Aisyah bersedekap dengan mata menyipit. “Apa yang harus abang jelaskan kepadaku? Apa bunda dan ayah sudah mengetahuinya? Apa mas Tala dan abang Fariz juga sudah tau pekerjaan abang dan bang bima juga disini? Wahh, hebat.”
Raizak, biasa dipanggil izak hanya bisa menelan ludahnya lalu mengajak Aisyah untuk keruangannya, yang sebenarnya ia ingin keluar menemui klien tapi tidak jadi. “Kamu, tolong gantikan ketemuannya bersama klien dari jepang ya.”
“Baik tuan, kalau begitu saya permisi.”
“Hem, dan aisyah, ayo ikut abang ke ruangan jangan ngambek gitu dong. Sini peluk abang.”
“Gak mau, lagi ngambek juga.” Ujarnya dan berlalu melewati abangnya yang sedang menghela nafas. Kemudian melonggarkan tali dasinya. Kemudian meninggalkan lobby yang sedari tadi percakapan mereka.
“Jangan bilang itu tadi adiknya? Yang artis itu?”
“Yap sepertinya begitu.”
“Tadi kau dengar tidak, bahwa gadis itu tidak tau memiliki abang yang bekerja sebagai pemilik gedung besar ini?”
“Ya, aku mendengarnya.”
“Lucu juga melihat pertengkaran dua adik kakak itu, tidak seperti kita yang selalu bertengkar dan tidak ada yang mau mengalah.”
“Dan tuan Rai selalu mengalah kepada adiknya. Pantas saja Aisyah terlihat manja sekali apalagi di drama ini, kau sudah menontonnya?”
“Em, aku baru saja sampai episode 5, apa sudah update kembali?” dan masih banyak lagi pembicaraan mereka yang berakhir dengan membicarakan sebuah drama.
--
Next...
Vote, Comment, Like, and Favorite!
__ADS_1
See you! Thank you! Bye!
LOVE Rora~