
Happy Reading Semuanya!
Jangan lupa beri tanda like disetiap ceritaku.
Support aku juga!
Sesampai dirumah, Nadhira dan Wendy bisa melihat siapa saja yang menunggu mereka didepan pintu rumahnya. Arsyifa menolak pinggang, Mario bersedekap kedua tangannya, serta Ilyas hanya bersandar disamping mobilnya.
“Dari mana kalian sepagi itu pergi?”
“Tau, kalian patut dicurigai, sejak dua bulan yang lalu selalu berpergian tanpaku.” Merajuk Arsyifa. Sedangkan Ilyas hanya diam keempat orang sedang bertingkah. “Kenapa kalian menatap kami seperti itu, ini, aku sengaja membeli kue redvelvet, rainbow, dan black forest buat kita makan hari ini..”
“Ah iya, aku ingin mandi, habis itu aku harus kekantor karena ada rapat mendadak, nanti aku menyusul jika tidak mungkin aku bakal bantu membuat makanan buat kalian.”
“Ah tidak seru. Apa tidak bisa ditunda ka?” rengek Arsyi dibalas gelengan oleh Nadhira, “tidak bisa sayangku, udah yuk kita masuk.”
Nadhira membuka pintu rumahnya dengan kunci yang selalu menjadi kalungnya. Setelah itu menyuruh para tamunya untuk masuk dan duduk didalam rumahnya sembari membicarakan hal untuk acara party dibesok hari.
“Lebih baik kita merayakan ulang tahun ka Nad dimalam hari saja. Biar kita bisa bbq-an.”
“Betultuh, kan pagi sampai siang hari kita sibuk dengan urusan masing-masing, lebih baik malam hari melepas stress kerja.”
“Ya, itu kedengaran sangat bagus.”
“Apa yang akan kita beli? Kalian harus mencatatnya agar tidak ada yang tertinggal.” Ujar Nadhira yang langsung
disiapkan selembar kertas dan pulpen oleh Illyas. “Ini, tulis apa saja yang dibutuhkan.” Ujarnya memberikan kertas itu kearah Nadhira yang langsung melotot.
“Kok aku, harusnya kasih ke Arsyi. Pokoknya, daging, ikan, udang, serta sosis harus dibeli karena itu bahan utama.
Catat Ar, aku ingin pergi ke kamar dulu.”
“Aku ikut.” Ujar Wendy yang langsung ditolak tegas. “No! Kakak harus ikut mencatat bahan makanan karena kakak juga harus tau apa saja yang akan dibeli. Ingatann kakakkan sangat tajam.”
“Oke, bye!”
“NADHIRAA!! MENYEBALKAN!” Wendy menghentakkan kedua kakinya dan kembali duduk disamping ilyas yang langsung mengangkat bantal dan kembali menaruhnya diatas paha gadis itu. “Duduklah dengan diam.”
Wendy hanya membalas dengan mencebik kesal entah kenapa ia ingin selalu berada disamping Nadhira, gadis yang sudah ia anggap sebagai adik kecilnya namun posisi mereka seperti terbalik. Nadhiralah yang seperti kakak bagi Wendy, sedangkan Wendy seperti adik untuk Nadhira. Dan sikap dia kepada Nadhira seperti..
“Adik yang menyebalkan?” gumamnya yang membuat pria disampingnya mengernyit karena mendengar gumaman gadis disampingnya. “Apa yang kamu bicarakan?”
“Tidak ada. Ah apa kalian sudah menulis apa yang akan kita belanjakan?” Arsyi dan Mario mengangguk, “Sebagian, kau mau melihatnya?” Wendy mengangguk, “lalu membacanya dengan seksama sampai ia menyodorkan kembali kearah Mario. “Mentega, kalian tidak akan membelinya?”
“Ah iya, kau benar ka. Aku akan menulisnya, lalu apa lagi?”
“Telur? Daun selada? Tomat? Kentang? Jagung? Kalian tidak membelinya? Jagung kita akan kita jadikan sebagai dessert bagaimana? Lalu kalau kentang, kita bisa memotongnya dan menggorengnya cocolannya saus tomat, saos sambal, serta mayonnaise keju?”
__ADS_1
Arsyi mengangguk dengan tangan kanannya yang bergerak cepat diatas kertas putih yang sudah penuh dengan bahan bahan makanan yang akan mereka beli. “Tomat dan seladanya akan menjadi pelengkapnya si daging panggan. Ah apa kita butuh membeli saus bbq?”
Klik!
“Beli saja.” Ujar Nadhira yang sudah keluar dari kamarnya dengan menggunakan baju formal berwarna pink pastel
dengan jilbab berwarna nude. Gadis itu menggunakan rok mengembang yang dihiasi dengan ikat pinggang berbunga indah melekat dipinggang langsingnya. Kemudian ia berdandan dengan riasan natural, seperti menggunakan foundation, concelar, blush on, eyeliner, eyeshadow, serta lipstick.
“Woah! Ka Nadhira hari ini penampilannya sangat menakjubkan, aku ragu kakak pergi untuk rapat atau berkencan dengan pria lain?”
“Hush! Udah buruan belanjanya, nanti aku pulang kalian belum pulang lagi. Oh iya belanjanya di bigmarket ya, disana walaupun mahal tapi lengkap. Cek kembali apa yang ketinggalan.”
“Baik bu bos! Kalau begitu Arsyi numpang mandi dan ganti baju ya?”
“Hem, gih. Tapi sebelum itu aku pamit pergi sekarang ya!” ujarnya kepada gadis tomboy yang langsung diangguki olehnya. Kemudian Nadhira menatap kearah ketiga orang yang masih terpana oleh pesonanya.
“Hei! Aku tau aku cantik tapi bisakah kalian tidak menatapku seperti itu? Sangat risih rasanya.” Lamunan ketiga orang itu buyar, Wendy memiringkan kepalanya, “kamuy akin pergi rapat dengan dandanan seperti itu?”
“Memangnya ada yang salah dengan dandanannku?”
“Tidak, hanya saja kamu terlihat sangat cantik seperti ingin berkencan dengan pria. Dan firasatku seperti mengatakan benar.”
“Tidak, kau salah ka. Aku beneran harus pergi rapat mendadak ini karena klien yang ingin bertemu denganku ini harus mempercepat pertemuannya karena harus pergi keluar negeri mengunjungi pekerjaan lainnya. Kalau begitu aku pamit, jangan lupa kunci pintu ya para bodyguard ku! Bye! Assalamualaikum!”
“Wa’alaikumsalam, hati hati princess.”
“Sip!”
--
Sampai CEO datang kedua pria yang sedang duduk manis disofa berdiri dan melangkah mendekati pintu lobby dimana CEO itu muncul. Nadhira muncul dengan Langkah anggunnya ia tidak melihat sekumpulan pria itu. Dia hanya melangkah menuju lift khusus keruangannya.
Sedangkan salah satu dari pria itu terdiam, sesekali mengucek mata kananya. Dan bertanya. “Apakah dia Nadhira? Gadis yang sedang dicari oleh putraku?”
“Ya, sepertinya begitu tuan.”
“Hah, ternyata calon menantuku seorang CEO?”
“Sepertinya iya tuan.”
“Saya senang melihat perempuan mandiri, yang bisa menghidupkan hidupnya sendiri tanpa berpegangan tangan kepada pria.”
“Seperti nyonya muda tuan?”
“Ya, seperti istriku, mari kita naik.”
“Baik tuan, silahkan jalan lebih dulu.”
__ADS_1
Nadhira duduk dikursi kebesarannya setelah sampai diruangannya, diikuti oleh asisten Hena dan sekertaris Dami. “Apa yang harus aku kerjakan? Kenapa mejaku kosong tidak ada berkas?”
“Kami sudah menyelesaikannya nona, dan tugas nona hanya bertemu dengan klien penting setelah rapat mendadak ini selesai.”
Nadhira mengangguk, “Baiklah, jam berapa rapat itu dimulai?”
“Setengah jam lagi nona.”
“Oke mengerti, disiapkan saja data datanya, agar tidak panik.”
“Kami sudah menyiapkannya nona.”
“Dicek lagi dong.”
“Baik nona, kalau begitu kami permisi.”
Nadhira mengangguk, lalu menatap seluruh ruangannya yang sudah lama ia tinggalkan. “Sudah lama tidak duduk dikursi besar ku.” Gumamnya yang membuatnya ingin tertidur terlebih dahulu. “Tidur dulu ah.”
Tok! Tok! Tok!
Klek!
"Permisi nona? Nona? Nona?"
"Hah? Oh kau? Apa sudah waktunya?"
Sekertaris Dami mengangguk sopan, "sudah nona. Dan Asisten Hena juga sudah berada diruangan, dia menunggu anda."
"Baiklah, aku cuci muka terlebih dahulu."
"Baik. Saya tunggu diluar nona."
"Hem."
Nadhira sudah memperbaiki diri dan keluar dari ruangannya tidak lupa memakai kembali blazernya. Ia berjalan anggun diikuti oleh Sekertarisnya, Dami. "Apa semuanya sudah datang?"
"Sudah nona. Semua pemegang saham sudah datang semua."
"Bagus, mari kita beraksi ka Dami." ujarnya dengan senyuman manis.
"Ya mari nona." ujarnya dengan senyuman tak kalah manis dari atasannya.
--
Nextt...
Vote, Comment, Like and Favorite.
__ADS_1
Don't forget to support me.
Love RORA~