AISYAH

AISYAH
(60) AISYAH


__ADS_3

Happy Reading Semuanya!


Jangan lupa kasih tanda cinta untuk ceritaku ini.


Terima kasih!


--


“Setelah ini apa yang akan kau lakukan?” tanya Renata peran Natalie kepada Aisyah yang sedang bersiap-siap untuk pulang dengan merapihkan barang berharganya kedalam tas selempangnya. Gadis itu menoleh dan menatap kakak senior dengan tatapan bingung. “Pulang?”


“Bagaimana jika kita bersantai ria lebih dulu, di kafe depan?”


“Em, boleh.”


“Oke, kalau begitu ayo, kamu sudah tidak ada yang tertinggalkan?” tanya Renata diangguki oleh Aisyah lalu gadis itu melangkah mendekati manager dan asistennya lebih dulu, “ka Azzam, aku dan ka Renata ingin singgah di kafe depan lebih dulu. Bolehkan?”


“Silahkan, tapi sebelum jam 10 sudah selesai ya?”


“Oke. Ayo ka, mumpung masih ada waktu sejam setengah.” Ajak Aisyah kepada Renata yang langsung diangguki oleh gadis itu.


Sesampai di kafe depan kedua gadis ini diikuti oleh empat pria yang tak lain manager dan asisten kedua gadis itu sampai dudukpun masih harus dijaga. “Kalian duduk disini ya, biar aku dan Aisyah duduk disini.”


“Baiklah, bersenang-senanglah kalian, jangan khawatir ada penggemar kami sudah membersihkannya.”


“Ck, sampah kali dibersihkan, mereka manusia ka. Berilah perilaku layak untuk mereka juga.” Ujar Aisyah kepada manager ka Renata bernama Idam. Pria itu langsung mengangguk dan menunduk, “baik nona.”


“Jangan panggil aku nona, langsung namaku saja, aisyah.”


“Baik aisyah,”


“Eh kepanjangan panggil aku isyah.”


“Baik isyah, saya mengerti. Kalau begitu saya permisi.” Sepeninggalan idam isyah langsung menatap ka Renata yang sedari tadi fokus menatap punggung lebar pria itu, “kakak suka ya sama ka Idam?” tercetuslah pertanyaannya membuat Renata menatapnya dengan kaget.


“Tidak tuh.. biasa saja.”

__ADS_1


“Jangan mengelak, sudah kelihatan dari cara tatapan kakak seperti menyukainya namun sulit diraih. Apa ka Idam sudah memiliki pasangan?” ka Renata mengangguk lemas. “Ya dan lebih nasibnya adalah dia kekasih dari sahabatku. Aku tidak mungkin menusuknya dari belakang.”


“Semoga saja takdir berkata lain ka, bisa saja kalian berjodoh, tidak ada yang tau kedepannya bagaimana.” Renata mengangguk dan tersenyum, “ya takdir masa depan tidak ada yang tau. Kamu boleh memanggilku ka Nata, ketika kau memanggilku aku merasa seperti memiliki sosok adik lagi.”


“Benarkah? Memangnya dimana adikmu berada?”


Tatapan sendu ka Renata terlihat dengan kedua tangannya mengelilingi cangkir hot chocolatenya dengan digerakkan pelan, “dia meninggal sejak umur 10 tahun karena penyakit dideritanya.”


“Ah maaf kalau begitu, aku tidak enak kepadamu ka.” Renata tersenyum lalu menggeleng pelan, “tidak apa-apa, memang ini sudah takdirnya ia pergi dengan sangat cepat.” Uajrnya dengan mata berlinang. Isakkan mulai terdengar, membuat Aisyah berdiri lalu duduk disamping ka renata dengan memeluknya erat.


“Aku merindukannya, sepanjang saat. Aku mengingatnya, ia tersenyum manis sembari memanggilku dengan ‘ka Nata kemarilah!’ itu membuatku semakin merindukannya.”


“Berdoalah, mendoakan orang yang kita sayang telah tiada satu-satu jalannya adalah berdoa. Doalah untuknya agar dia merasa sehat dan bahagia. Tidak sakit dan tidak merasa tersiksa.”


Renata mengangguk, “iya, aku memang harus berdoa lebih keras jika merindukannya. Makasih sudah menghiburku. Kau memang adikku yang pergi.” Ujarnya dengan memeluk aisyah dengan erat membuat gadis itu merengek untuk diminta dilepaskan. “Kakak, lepaskan aku sesak nafas.”


“Ah hahaha maafkan aku.” Ujar Renata tanpa mengetahui bahwa ada seseorang yang menatapnya dengan tatapan yang berbeda. Satu dengan tatapan cinta dan satu dengan tatapan kesal.


*‘dia hanya milikku, kau tidak bisa memilikinya Renata.’ *Batin orang itu dan berlalu begitu saja karena tidak ingin ada seseorang yang mendapatinya dikafe tersebut. Sedangan orang satu lagi sedang menatapnya dengan cinta, sendu, dan senang?


‘aku bahagia jika kau bisa mulai tertawa berkat gadis itu. Ku harap kau terus bisa bahagia.’


“Sampai jumpa dihari berikutnya, dek ica!”


“Sampai jumpa kembali ka Nata! Hati-hati dijalan jangan ngebut-ngebut ya pak!”


“Baik non, permisi. Assamualaikum!”


“Waalaikumsalam.”


Setelah melihat mobil Van ka Nata dah menghilang ia langsung masuk kedalam mobilnya yang sudah dibawa oleh bapak sopirnya (yang lupa namanya.) “Ayo kita pulang, huh lelahnya.” Gumam Aisyah dan duduk dikursinya dengan nyaman, begitu pula ka Azzam yang duduk disampingnya sembari menggenggam tablet di tangannya, “kalian bersantai saja sudah diberitakan. Lihatlah.”


“PEMAIN UTAMA WANITA SEDANG BERSANTAI RIA BERSAMA PEMAIN YANG BERPERAN SEBAGAI ADIK, TERLIHAT SEPERTI KELUARGA SUNGGUHAN!”


“RENATA DAN AISYAH MENJADI KAKAK ADIK!”

__ADS_1


“CHEMISTRY DARI SEPASANG ADIK KAKAK DALAM DRAMA SEMAKIN MELEKAT DIHATI PARA PENGGEMAR! SAKSIKAN DRAMANYA YA SOBAT!”


“Dan masih banyak lagi, kalian memang cocok satu sama lain.”


“Hem, dan aku merasa seperti memiliki kakak perempuan, tapi ka.. sepertinya aku tau siapa yang cocok menjadi pendamping bang Fariz untuk hidupnya.”


“Siapa? Jangan bilang Renata?” aisyah menggelengkan kepala, “tentu tidak, aku ingin mendekati ka Mela kepada bang Fariz. Kau tau ka, ka Mela ini pegawai butik tante Ratna teman mom Aluna dan bunda Maura.”


“Sepertinya cocok hihi.”


Azzam hanya menggelengkan kepala, tingkah laku menggemaskan dari Aisyah, gadis tersayang para keluarga dan seluruh dunia. Gadis ini dengan bakat dan sifatnya membuat semua orang luluh dengan ketulusannya. Semakin tidak tega untuk orang menyakitinya.


“Memangnya bang fariz mau?”


“Tentu saja mau, memang abang bisa menolak permintaan adik kesayangannya.” Ujarnya dengan percaya diri tanpa tau balasan sesungguhnya. Sesampai dirumah, permintaan gadis itu langsung ditolak mentah oleh abangnya.


“Tidak, abang belom mau nikah dek.”


“Tapi bang, aku punya calon kakak ipar yang menurutku pas.” Bang Fariz tetap kekeh dengan prinsipnya yang ingin membeli rumah, mobil, kemudian membeli tiket mekkah untuk kedua orang tuanya. “Tidak isyah, abang belom kepikiran untuk menikah abang masih ingin mengumpulkan duit membeli rumah sendiri, kendaraan sendiri dan tiket mekkah untuk bunda dan ayah.” Jelasnya membuat sang adik merebahkan tubuhnya dengan kasar diatas Kasur empuknya.


“Huh, tapi ketemu dulu lah sama calon kakak iparku ini, eh gak usah deh nanti pas aku nikah aku kenalin abang ke dia. Ku doakan abang dan dia memang jodoh yang sudah ditakdirkan. Tunggu, jangan bilang abang belum move on dari Dede a itu?”


“Udah move on kok tenang saja. Dan terserah kamu mau kenalin dia keabang, hanya kenalan loh.”


“Iya kenalan doang, tapi gak tau nanti terserah abang mau dilanjut atau tidak yang penting aku sudah mencari calon yang pas untuk abang.”


“Ya ya ya dah gih kembali kekamar kamu, abang mau rebahan.”


“Iya, selamat malam bang.”


“Selamat malam juga dek,” bang Fariz menggelengkan kepala melihat tingkah sang adik kemudian ia membuka ponselnya dan menatap foto yang ia dapati kemarin tak lupa dengan senyumannya. “manisnya, ah kenapa dengan jantungku, uhh dia sangat manis jika tersenyum.”


--


Next..

__ADS_1


Vote, Comment, Like, and Favorite!


See youu! Bye! And Thank uu!


__ADS_2