AISYAH

AISYAH
(35) AISYAH


__ADS_3

Happy Reading!


Diruang makan rumah milik keluarga Abdullah mungkin kecil namun mereka semua lebih memilih lesehan, sedangkan para orang tua duduk di atas sofa. Aisyah duduk disamping ka Mara dan disamping ka Bina.


Didepannya ada bang Fariz, bang Izak dan bang Bima yang duduk tepat didepan Aisyah. Sejak tadi ia menatap adik sepupunya yang bungsu ini dan melahap makanannya, begitupun dengan dua abangnya yang menatap ragu adik kecilnya. Sedangkan bang Imran, fokus menyuapi putranya disamping teteh yang juga menyuapi suaminya.


“Kalian kenapa natap Ica terus sih?” tanya ka Bina yang heran menatap tiga pria didepannya. “Gapapa,”


“Ga ada apa apa.”


“Tenang kok isyah diam.” Ujarnya membuat yang lain ikut penasaran. Kemudian gadis itu melanjutkan suapan terakhirnya dan berlalu kebelakang ingin mengambil dessert pudding mangga bikinan bundanya.


Sepeninggalan Aisyah, diikuti oleh mba Mila yang ikut berdiri menuju dapur, tak lama ka Mara dan ka Bina. Aisyah duduk disalah satu tempat duduk di minibar kemudian tersenyum kepada mba Mila walaupun hanya dibalas dengan senyuman tipis.


“Mba ada masalah ya sama bang Bima?” tanya ka Mara yang sangat peka terhadap suatu hal membuat Aisyah dan mba Mila menoleh menatap wajah Mara.


“Gak ada, kok kamu nanyanya begitu?”


“Jujur aja sih, raut wajah mba tuh setiap ketemu sama bang Bima selalu gak enak. Dan seperti ada yang mba sembunyikan dari kami sebagai saudara suami mba.”


Aisyah diam mengunyah pudding mangganya begitupula dengan ka Bina yang ikutan duduk disamping Aisyah. “itu urusan kami, kamu gak usah ikut campur.”


“Gimana kita gak ikut campur kalau raut wajah mba gak enak dilihat.” Saut Aisyah yang tidak mengerem mulutnya niatnya ingin diam malah seperti ini. “Cerita aja sih kalau kalian ada masalah, siapa tau kita bisa membantu.”

__ADS_1


“Kak Bina gak perlu bantu kami kok, cukup doa aja. Agar masalah kami cepat selesai.”


“Didunia pernikahan memang banyak selisih paham, kalau bisa diselesaikan dengan kepala dingin agar tidak menyesal dikemudian harinya.” Celetuk teteh yang membawa piring kotor para lelaki. Kemudian Aisyah menghampiri tetehnya dan mengambil piring kotor itu dan mencucinya. Sedangkan teteh hanya duduk ditempat Aisyah duduk tadi.


“Gimana mau kelar kalau dua-duanya terdiam dengan emosinya?” batin seseorang yang mendengarkan pembicaraan para wanita didalam sana. Kemudian sosok itu kembali bergabung bersama yang lain didepan rumah.


“Ayo jajan, kita jalan jalan keluar rumah nyari tempat foto bagus.” Ajak Ka Bina yang malas mengikuti urusan rumah tangga lain. Aisyah yang baru selesai menyuci piring langsung semangat. “Ayo ka Bina! Aku udah selesai nyuci piring kita jajan!”


“Ayo! Ra mau ikut gak?”


“Ikut deh. Bete dirumah.”


“tamu aja bete gimana ica.” Ketiga gadis remaja meranjak dewasa itu melangkah keluar rumah Aisyah tak lupa mengenakan masker agar mereka terlindungi dari banyaknya bakteri dan virus yang bertebaran.


Sesampai di minimarket, Aisyah berjalan menuju ciki dan minuman, sedangkan ka Bina menuju rak mie instan serta ka Mara menuju ke lemari pendingin es krim. Dengan tiga keranjang belanjaan dipenuhi dengan jajanan mereka pun langsung melangkah menuju kasir.


“Digabung ya mba!” ujar ketiganya serempak yang langsung diiyakan oleh mba kasir tak lama Aisyah mengeluarkan uangnya dan memberinya kepada ka Mara begitupun dengan ka Bina yang memberinya uang yang


cukup banyak hampir sama dengan Aisyah berikan.


“Hitung aja, nanti kalau ada sisa kita beli jajanan pinggir jalan.”


“Iya tuh cimol kentang enak deh. Atau telur gulung? Uhh kangen.” Bayangan Aisyah yang langsung mengecap ngiler.  “sempol ayam juga enak.” Sambung ka Bina lalu keduanya melangkah keluar meninggalkan ka Mara yang masih membayar jajanan mereka dengan kepala menggeleng, kemudian tatapannya beralih ke televisi yang

__ADS_1


ada di minimarket ini kemudian melihat iklan Aisyah, adik sepupunya itu memang cantik dan terlihat manis natural didepan kamera maupun dibelakang kamera.


“Cantik ya mba? Apa jangan bilang mba juga penggemar Aisyah?” tanya mba kasir kepada ka Mara, ia membalas dengan anggukan, “iya cantik natural.”


“Aku denger mba, Aisyah ini tinggalnya disekitaran sini. Tapi kita semua sebagai penggemar gak tau dimana rumahnya karena dijaga banget sama semua orang yang tak lain tetangganya. Pada bungkam ketika kita bertanya.”


“Mungkin Aisyah butuh privasi mba, gak semua artis mau tentang keluarganya dijadikan konsumsi public.”


“Iya juga ya, ya udah gak ada yang mau ditambah lagi mba?”


“Gak itu aja.”


“Baik totalnya menjadi 392.790 ribu,” ujarnya kemudian ka Mara mengeluarkan kartunya dan ternyata jika ia hitung kembali uang yang diberikan adik sepupu dan kakaknya itu masih tersisa banyak, ia hitung tersisa 300 ribu.


“Makasih mba.”


“Terima kasih kembali, silahkan datang kembali.”


--


Next..


Vote, Comment, Like, and Favorite!

__ADS_1


__ADS_2