
Happy Reading All!
Happy Happy Virus..
--
Sebuah taman Bima berhenti disana dengan duduk dengan kepala mengadah ke langit pandangannya sedikit kosong dan rapuh. Ciara, gadis itu duduk disampingnya dalam diam, “menangislah jika ingin menangis. Berteriak lah jika ingin berteriak, banyak cara untuk melampiaskannya. Jangan dipendam itu akan membuatmu semakin tersakiti.” Ujar gadis itu membuat Bima menoleh.
“Kau belum pulang?”
“Belum, karena aku takut ada yang bunuh diri karena putus asa akan patah hatinya.” Asal Ciara membuat Bima sedikit terhibur. “Tidak mungkin aku bunuh diri meninggalkan putri kecilku dan membiarkan wanita itu merebutnya?”
“Aku hanya tidak menyangka, dulu dia adalah gadis yang sangat lembut dan polos tapi berubah menjadi wanita yang egois dan pemarah. Aku tidak tau apa yang membuatnya berubah tapi aku hanya penasaran dari jawaban yang membuatnya berubah, sejauh ini aku mencari tidak mendapatkan apapun selain dirinya berselingkuh dan menginap disebuah hotel bersama pria itu. Kenyataan yang menyakitkan.”
“Jika kau butuh pendamping, aku siap jadi yang kedua.”
“Kau ingin?”
“Ya, tentu saja ku ingin, karena aku sudah jatuh cinta pandangan pertama kali aku melihatmu memperlakukan putrimu sebagai tuan putri, jadi aku membayangkan bagaimana diriku menjadi istrimu dan diperlakukan bak ratu olehmu.”
“Ck. Kau tidak tau sifatku seperti apa, mungkin juga karena sikapku dulu kepadanya, ia berubah seperti itu.”
“memangnya sikapmu dulu seperti apa?” tanya cia sembari menoleh menatap wajah pria tampan disampingnya, “dulu diriku sangat cuek, acuh dan dingin.”
__ADS_1
“Sepertinya bukan dari sikap maupun sifatmu deh, istrimu saja yang tidak kuat dengan sikapmu. Jika dia kuat dia akan berusaha semampunya untuk mencairkan sikap dan sifatmu agar bucin kepadanya bukan?”
“Hem ya, tapi kau dan dia berbeda, jadi jangan samakan denganmu.”
“Aku tidak menyamakan diriku dengannya hanya saja aku berpikir dia sudah mendapatkan suami tampan, mapan, dan daddyable tapi mengapa dia lebih berjalan kearah lain? Apa dia tidak tau jalan yang ia tuju akan semakin membuatnya tersesat.”
“Aku tidak peduli itu, yang sekarang aku pedulikan putriku setelah kami berpisah mungkin dia akan terus bertanya dimana mama?”
“Maka dari itu kamu harus menerima tawaranku dan mengajakku menjadi yang kedua, aku siap kok.”
“Kau sangat pantang menyerah ya?”
“Tentu itu sudah mendarah daging.” Bima tertawa lalu mengangkat tangan kanannya dan mengacak rambut gadis itu dengan gemas. “Dasar.”
Deg!
“Mari kita pulang, aku takut Nika mencariku.”
“Em, tapi sebelum itu… bolehkan aku meminta nomer ponselmu?” pinta Ciara dengan to the point yang langsung diminta ponselnya, “baiklah mana ponselmu?”
Gadis itu segera mengeluarkan ponselnya dan Bima mengetik nomor ponselnya dan menyimpannya dengan namanya. “aku sudah menyimpan dengan namaku dan aku sengaja memberi nama anakku disampingnya karena di kontakmu ada bima lain.” Jelasnya yang diangguki oleh Ciara kemudian ia melangkah pelan diikuti gadis itu yang berdebar debar.
“Cepatlah, hari sudah semakin gelap.” Ujar Bima membuat Ciara langsung berlari mendekat dan berjalan disamping Bima. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing sampai ada sebuah mobil yang mengarah kearah mereka lebih tepatnya kearah Ciara dan dengan sigap Bima langsung menarik pinggang gadis itu kedalam ke pelukannya.
__ADS_1
“WOY! HATI HATI!” teriaknya kepada mobil yang berlalu begitu saja. “Kamu tidak apa?” Ciara terlihat syok. Kemudian menatap mata pria itu dan mengangguk. “i-iya, aku hahh.. huhh..”
“Duduklah lebih dulu, aku belikan minuman terlebih dahulu. Tunggu disitu.” Ujarnya setelah itu ia berlari menuju warung didekatnya tak lama ia datang dengan membawa sebungkus roti dan sebotol air dingin.
“Ini minum dulu, setelah itu makan rotinya biar ada tenaganya.” Dilihat tangan gadis itu gemetar dan bima menggenggamnya menguatkan agar gadis itu dengan cepat lekas sembuh dan kembali seperti tadi ceria.
5 menit bima menunggu dan gadis itu sudah kembali seperti semula. “sudah bisa berjalan kembali?”
Ciara mengangguk, “makasih Bima. Aku lemas kali tadi tuh. Ayo kita pulang takutnya yang lain khawatir.”
“Hem, ayo kita pulang.”
Sesampai rumah Aisyah mereka ternyata sedang ditunggu didepan karena keluarga Tala akan pergi. “Kalian dari mana? Mengapa wajahmu sangat pucat sayang?” tanya ayahnya membuat bima membalas pertanyaan keluarga gadis itu. “Tadi ada sedikit kecelakaan, Ciara hampir tertabrak oleh mobil yang mengebut dijalanan. Dan Ciara berdiri sedikit meminggir tapi entah kenapa mobil itu seperti ingin menyerempetnya.”
“Ya allah, kamu baik baik saja nak? Ayo kita pulang, kau butuh istirahat. Terima kasih nak Bima.”
“Sama-sama om. Hati hati dijalan.”
“Bang bima!! Kemana aja sih? Ini Nika nyariin papa-nya tau..” ujar Aisyah membuat Bima segera berlari masuk kedalam rumah setelah berpamitan dengan yang lain. Gadis itu hanya diam menatap punggung pria yang sudah masuk kedalam hatinya, “semoga kamu adalah takdirku.”
--
Next..
__ADS_1
Vote, Comment, Like, and Favorite!
SEE U! BYE! GOMAWOYO NAE CHINGUDEUL!!