AISYAH

AISYAH
KSPI 08


__ADS_3

Happy Reading Semuanya!


Jangan lupa untuk memberi like kesetiap ceritaku.


Support juga ya.


--


Pagi hari dering ponsel Nadhira berbunyi dan terpampang sempurna nama Mario dilayarnya. “Halo?” sapanya dengan suara serak. “Kamu dimana? Dirumah kok tidak ada? Kamu tidak lupa bukan jika kita ingin membeli bahan bahan makanan untuk besok?”


“Iya ka, iya, aku saat ini sedang bersama ka Wendy, sudah dulu ya aku ingin berberes terlebih dahulu.”  Ujarnya yang langsung mematikan sambungan ponselnya. Sedangkan Wendy sudah bangun dari tidurnya. “Siapa? Pasti Mario ya?”


“Iya, kakak mau sampai kapan memberi tahu kepada mereka tentang ini?”


“Mungkin lusa. Karena waktu aku hidup,..”


“Cukup jangan dilanjutin, aku yakin kakak bisa. Jangan pernah bilang kalau hidup kakak hanya sebentar lagi. Diam


saja, aku bakal marah.” Ujar nadhira dengan nada dingin dan datar kepada Wendy yang langsung menutup mulutnya.


“Maaf.”


“Udah gak ada yang perlu dimaafkan, sekarang ayo kita check apa dokter memperbolehkan kakak untuk pulang seperti kemarin atau tidak.”


“Baiklah ayo, tapi sepertinya bisa. Aku kan disini hanya semalam saja.”


Nadhira mengangguk, “ya sudah ayo ganti baju.” Kedua gadis itu berganti baju, ah tidak lebih tepatnya Nadhira yang berganti baju sedangkan Wendy hanya meraih sweaternya untuk melapisi baju pasien dan celana pasien di tutupi oleh rok plisketnya berwarna hitam.


Tok! Tok! Tok!


“Permisi dokter, selamat pagi. Maaf mengganggu, saya ingin bertanya pemeriksaan kepada saya kapan? Apa saya bisa pulang?” tanya Wendy yang ternyata diruangan itu bukan hanya dokter Gibran, melainkan dokter Kazeem dan dokter wanita juga berada disini.


“Ah ya, silahkan masuk terlebih dahulu Wen. Kamu sama siapa?”


“Aku sama teman aku, eh kemana dia?” tanya Wendy yang kembali berjalan keluar dan melihat nadhira sedang menerima teleponnya, dan melangkah mendekatinya, “udah?”


“Belum, baru masuk masa udah selesai aja.”


“Kali aja begitu.” Ujarnya yang masih menatap layar ponselnya. “balas pesan siapa sih sibuk banget?” tanya Wendy yang nada bicaranya ketus seakan Nadhira adalah kekasihnya. “Kerjaan, tiba tiba harus datang ke perusahaan ada rapat mendadak soalnya.”


“Huh.. gak jadi belanja bahan makanan dong?”

__ADS_1


“Jadi, tapi aku nyusul. Udah yuk masuk waktu sia sia nih.”


“Iya deh nona super sibuk.” Gerutunya lalu masuk kedalam ruangan dan duduk didepan meja dokter Gibran sedangkan dokter lainnya duduk di sofa karena masih ada yang harus dibahas. Di rumah sakit ini pasien yang utama bukan kerjaan mereka.


“Apa ada yang sakit, kepala? Dada? Atau perut?”


“Tidak ada dokterku, gak ada yang sakit kok. Semua baik baik saja dok,-“


“Bohong, dia semalam meringis kesakitan dibagian pinggang dok, lalu ia juga suka sesekali ngurut dadanya.” Jelas Nadhira yang baru saja masuk kedalam, awalnya ia ingin menunggu didepan ruangan namun karena sepi dan sendirian ia lebih memilih masuk kedalam.


Wendy mendelik kearah Nadhira yang hanya menatapnya dengan datar. “Ish.. nyebelin.” Dokter Gibran tertawa melihat pasiennya yang ingin menyembunyikan rasa sakitnya. “baiklah pasien bohong satu, mari kita periksa di lab ya.. kemungkinan ini penyakitmu atau bisa penyakit lainnya.”


“Apa bisa disembuhkan dok?”


“Untuk penyakitnya pasti bisa, namun untuk yang lainnya saya belum mengetahuinya.”


“Jika dia dirawat di rumah sakit lainnya yang berada diluar negeri apa bisa?” tanya Nadhira dengan serius. “Nad! Udahlah..”


“KA! Dengerin aku sekali ini. Kakak pasti sembuh, aku gak mau kakak mati ngerti. Ayo dok.”


Dokter Gibran mengangguk, begitu pula dengan ka Wendy yang hanya diam menuruti permintaan gadis yang sudah dia anggap sebagai keluarga terakhirnya. Sedangkan dokter Kazeem menatap gadis pujaan kembarannya dengan diam, tanpa Nadhira tau pun pria itu diam diam mencuri foto lalu mengirimnya kepada kembarannya.


Kazeem mengulum senyuman saat mendapatkan jawaban pesan dari Khalid. Pria itu membombardir dirinya melalui ponsel, kadang kala dia menelpon namun hanya ditatap dan acuh oleh Kazeem. “Haha satu kosong.” Gumamnya.


“Saya keluar dulu, dok.” ujarnya sembari mengangkat ponselnya ketelinga kanannya.


“Eh? Iya silahkan.” Kazeem keluar dengan senyuman setelah menerima sambungan telpon dari kembarannya itu. Sedangkan Dokter wanita yang ditinggalkan oleh Kazeem gerutu kesal karena waktu berduanya diganggu oleh orang yang menghubungi pria itu. “ish kesel, udah tau ini kesempatan malah ada yang ganggu, siapa sih? Pengen gue bejek jadi ayam geprek.”


“Halo kenapa?”


“Kau dimana Kaz?”


“Dimana lagi jika bukan di rumah sakit?”


“Iya tau, rumah sakit mana? Lalu apa reaksinya menatap dirimu?”


“Kau pasti tau apa jawabannya jangan sok tidak tahu. Oh ya, ternyata dia sangat manis namun terlihat agak dewasa bukan? Dia sangat anggun menurutku dan dia cocok sekali dengan tipe idealku.” Goda Kazeem kepada Khalid. Membuat pria itu memanas. “Awas saja jika kau mendekatinya, aku akan mengatakan kepada greysia karena kau ingin menduakannya.”


“katakan saja, kami berdua sudah tidak lagi berhubungan.” Santainya membuat Khalid mengernyit, “tapi kemarin dia datang bertanya tentang mu. Kau yakin sudah selesai bukan karena salah paham?”


“Tidak, itu benar, kami sudah selesai.”

__ADS_1


Tak lama nadhira menghampiri Kazeem yang sedang menelepon dengan menepuk bahu pria itu langsung menoleh kearah belakang, “maaf jika mengganggu, anda dipanggil oleh dokter Gibran.” Ujarnya dengan nada lembut membuat Kazeem ah tidak membuat Khalid yang berada diponsel mendengar suara lembut yang sudah lama ia rindukan.


“Ah ya, baik saya akan kesana. Terima kasih.”


“Sama sama, ah satu lagi ini untuk anda dari ka Wendy. Kemungkinan gadis itu menyukai anda. Dokter Kazeem.” Godanya dengan nada tertawa. Membuat Kazeem ikutan tertawa. “Hahaha, terima kasih.”


“Ah kalau begitu saya permisi terlebih dahulu, assalamualaikum?”


“Waalaikumsalam, ah tunggu, apa kau tidak merindukan dengan Khalid?”


“Em, untuk itu. Aku tidak bisa mengatakannya permisi.”


Kazeem menghela nafas lalu, kembali menaruh ponselnya ditelinga kanannya. “Kau dengar? Suaranya sangat lembut.”


“Diamlah kau! Secepatnya pulang, banyak yang merindukanmu, tak lain ummi dan adik kecil kita Lesya.”


“Baiklah baik.” Setelah itu sambungan ponsel terputus. Kazeem mengantongi ponselnya sembari menentengkan sebuah tas yang berisi hadiah serta makanan cemilan untuknya.


“kamu sudah memberikannya?” tanya Wendy yang langsung diangguki oleh nadhira, “sudah, memang apa isinya?”


“Surat cinta.” Bisik Wendy membuat Nadhira melotot lalu tertawa, “serius?” Wendy mengangguk, “dua rius. Aku akan mentraktirmu jika berhasil bersamanya.”


Nadhira mengangguk, “baiklah, asal kau sembuh terlebih dahulu, hempaskan penyakit itu.”


“Baik kakak.”


Hahahaha.


Keduanya tertawa mengisi kekosongan diperjalanan. Nadhira membawa mobilnya dengan santai sedangkan Wendy asik bernyanyi ria mendengarkan lagu dari radio mobil milik Nadhira. “Entah kenapa lagu yang dimobilmu ini menjadi kesukaanku. Apalagi lagu Lovu feat Yimgah – shu. Ini sangat enak ditelingaku.”


“Download atau instal aplikasi music.”


--


Next...


Vote, Comment, Like, and Favorite!


See you! Thank you! Bye!


Love Rora~

__ADS_1


__ADS_2