AISYAH

AISYAH
KSPI 07


__ADS_3

Happy Reading Semuanya!


Jangan lupa untuk memberi like kesetiap ceritaku.


Support juga ya.


--


Khalid, pria berusia dua puluh keatas itu masih menatap ponselnya, tanpa dia sadar ada seseorang yang mendekatinya.


"Hei kal? Sedang apa kamu disini?" Tanya orang itu membuat khalid menolehnya dan kembali menatap ponselnya dengan mengacuhkan orang disampingnya. "Tidak lihat?"


"Oh em, kamu masih memikirkan gadis itu?"


"Tentu saja, kalian kan tau kalau dia adalah cinta dan hidupku."


Devina, teman perempuan yang selalu berusaha mendekati dan merayu Khalid. Namun selalu gagal.


"Lalu apa kau menemukannya?"


"Ya." Ujarnya, khalid tersenyum saat menstalker teman kerja atau teman curhat gadis itu. Difoto itu ada lokasi yang tak lain adalah rumah gadisnya.


Dari akun bernama Arsyifa. Ada sebuah postingan kedua gadis itu berfoto ria didepan rumah Nadhira dengan caption.



"Akhirnya bisa datang ke rumah atasan juga. Udah baik bisa jadi teman pula. Eits asal jangan memanfaatkannya ya teman¡ Hahahaha!"


Dan masih banyak lagi foto foto Nadhira bersama akun tersebut.


“Kenapa tidak mendatanginya?”


“Dia tidak ingin ditemui lebih dulu. Dia yang memintanya.”


Devina hanya bisa menghela nafas. Sudah dua tahun berlalu, awalnya jika gadis itu masih tinggal ditempat Khalid ia ingin mengancamnya atau mengusirnya namun tanpa tau gadis itu sudah lebih dahulu pergi dari sisi pria yang ia sukai.


Namun ternyata itu cukup sulit, karena pria yang ia sukai ataupun ia cintai telah berpatok hati kepada gadis tersebut. Nadhira, gadis yang berusia lebih muda darinya cukup hebat bisa membuat pria kaku disampingnya menjadi lembut.


“Kamu tidak akan membuka hati untuk yang lain kal?” tanya spontan devi membuat pria itu menoleh menatapnya, “kau mencintaiku?”


‘Ya’ itulah yang ingin ia katakan namun kepalanya menggeleng, “tidak. Aku hanya bertanya kepadamu. Bagaimana jika ada gadis lain menyukaimu apa tidak ada kesempatan?”


“Tidak, aku bukan pria murahan yang sekali jatuh cinta tiba tiba mengatakan cinta kepada gadis lain. Itu bukan gayaku kau tau bukan?”


Devina mengangguk, “ya, aku paham. Semangat semoga gadis itu masih dalam status single.”


“Dia masih single kok. Doakan saja dia masih dalam kesendiriannya.”


“Jika tidak? Apa yang akan kamu lakukan?”

__ADS_1


“Aku? Merebutnya, karena dari awal dia hanya milikku. Hanya milikku.” Ujarnya membungkam Devina, angin semilir menghampiri keduanya, dengan perasaan berbeda, mereka menikmati angin tersebut. Khalid menikmatinya dengan perasaan hangat karena akhirnya ia mengetahui dimana gadis itu berada, sedangkan Devina merasakan hal yang menusuk yang tak lain hawa dingin masuk kerelung hatinya. Secara tak langsung dirinya ditolak oleh pria yang ia cintai selama empat tahun belakang ini.


“Aku masuk dulu ya. Selamat malam.”


“Hem, selamat malam juga.” Ujarnya dengan masih duduk dibalkon tanpa menoleh kearah Devina. Sedangkan gadis itu hanya bisa menahan tangisannya sebelum masuk kedalam kamar ia menoleh kembali menatap punggung lebar pria itu dengan sendu.


“Selamat tinggal pria pujaanku.” Gumamnya lalu masuk kedalam kamarnya.


Saat ini Khalid sedang berlibur bersama para sahabatnya, termasuk Devina. Ia juga mengajak kembarannya namun Kazeem lagi lagi berhalangan tidak hadir dikarenakan ia ada jam malam dirumah sakit.


Sedangkan untuk adik bungsunya Aulian dia sibuk dengan waktu kerja dan kuliahnya. Adiknya berumur 22 tahun saat ini, yang ia habiskan waktunya adalah bermain, mengerjakan tugas dan kerja paruh waktu untuk mengisi waktu luangnya.


“Hey bro! Sedang apa kau dimari?” tanya Steven, lalu duduk dibangku yang tadi duduki oleh Devina. “Aku sudah menemukan dimana dia berada.”


“Dia? Dia siapa? Ah maksudmu gadis yang kau cintai itu?” tebak steven yang langsung diangguki oleh Khalid. “ya, dia gadis yang kumaksud.”


“Lalu dimana ia berada?”


“Bogor.”


--


“Apa?! Kau dimana ka wen? Ah baiklah aku akan segera kesana.” Ujar Nadhira yang tengah malam terbangun akibat panggilan telepon dari Wendy, kakak yang sudah ia anggap sebagai saudara dan ia juga seorang manager disebuah bidang usaha restorannya.


Nadhira menginjak gas dengan kecepatan tinggi ia bertujuan ketempat dimana ka Wendy berada. Sesampai di rumah sakit yang ia tuju. Langsung saja berlarian menghampiri resepsionis namun tak sengaja ia menabrak seseorang yang sedang membawa berkas ditangannya.


Bruk


“Tidak apa apa, tapi lain kali berhati hatilah ini didalam rumah sakit banyak pasien kemungkinan kamu akan menjadi pasien jika berlari secepat itu.” Ujar sosok yang ia tabrak.


Mendengar suara yang tidak asing, Nadhira mendongak lalu melototi pria itu. “Ka khalid? Kau kah itu?”


“Ah kau siapa?”


“Hah?”


“Apa kau beberapa mantan yang ditinggal oleh Khalid?”


“Ah bukan aku hanya.. tapi bukankah kau Khalid?”


“Tidak, bukan aku adalah Kazeem, lihatlah name tag dijas putihku.” Nadhira menatap bet name yang berada dijas putih pria itu disebelah kiri. “Ah maafkan aku salah orang.”


“Tidak apa, aku memang memiliki kembaran bernama Khalid. Apa yang kau maksud adalah kembaranku?”


“Khalid Maliq?”


“Ya, itu nama kembaranku. Kalau boleh tau kau siapanya?”


“Aku hanya orang yang sudah dibantu olehnya untuk beberapa saat.” Ujarnya membuat Kazeem berpikir, mengulang kembali ingatan yang berada didalam otaknya. “tunggu jangan bilang kau..”

__ADS_1


“Nadhira! Kenapa kamu lama sekali? Aku sudah menunggumu aku kira kamu nyasar ternyata kamu sedang berbicara dengan dokter ganteng ini. Selamat malam dok. Ah apa ini sudah pagi? Jam berapa saat ini?”


“Ah, maafkan aku ka Wendy. Aku lupa dengan tujuanku. Kalau begitu ayo kita ke kamar rawatmu.”


“ya ayo!”


“kami permisi dulu dokter ganteng, selamat malam menjelang pagi.” Ujar ka Wendy kepada Kazeem. Begitu pula dengan Nadhira yang mengangguk sopan kepada pria yang tak lain kembaran Khalid.


Kazeem hanya menatap punggung mungil gadis itu dengan senyuman ah bukan seringai licik dibibirnya membuat ketampanannya berkali kali lipat.


"Sepertinya ada yang saling merindu namun gadis itu sangat gengsi. Apa aku harus memberi tahu kepada Khalid? Ah sepertinya tidak perlu agar dia memiliki usaha sendiri mencari gadisnya sendiri."


HAHAHA.


"Jadi? Pria tadi maksudku dokter Kazeem adalah kembaran dari pria yang menolongmu?"


Nadhira mengangguk, "ya semacam itu. Dan kau tau ka, dia tadi mengomentari postinganku dan mungkin ia sudah tau dimana aku berada saat ini."


"Lalu kenapa? Apa yang membuatmu kesal?"


"Kesal karena tidak bisa mengejutkannya."


"Kejutkan saja dengan datang menghampirinya."


"Hem begitukah?"


"Tapi jujur deh kepada kakak. Apa kamu telah jatuh cinta kepada pria itu? Maksudku Khalid Maliq itu?"


Nadhira mengangguk tanpa ragu. "Sejak awal aku telah jatuh hati kepada pria itu apalagi pria itu dengan baik hatinya mengajakku tinggal dirumahnya sampai aku bisa punya tempat tinggal sendiri. Berat sekali saat aku meninggalkan rumahnya."


"Kau tau ka? Dia adalah pria yang sangat idaman bagi perempuan, mungkin jika kakak tinggal dengannya kau akan melihat bagaimana dan caranya ia memperlakukan dirimu bagaikan ratu. Dan dia Khalid sang pria idaman. Aku menyukainya dipandangan pertama."


Ujar Nadhira dengan membayangkan bagaimana dia bertemu dengan Khalid. Wendy melihatnya langsung tersenyum manis, "kau sangat mencintainya. Apa benar dia adalah pria pertama dihidupmu?"


"Ya, dia adalah pria pertama didalam hidupku selain mendiang ayahku. Aku mengakuinya. Dia cinta pertamaku."


Wendy menggigit ujung bantal dengan kencang. "AKU IRIIIIII!! Manis banget sih kamu nak.. Uhh lanjutkan. Jika kamu bertemu dengannya katakan sejujurnya jika kamu mencintainya dan tidak ingin ia pergi dari pandanganmu kau mengerti?" Nadhira mengangguk semangat. "Aku mengerti ka. Terima kasih sudah mendengarkan ceritaku."


"Sama sama, malah kakak senang mendengarkan dongeng sebelum tidur."


"Baiklah, selamat malam ka. Tidur nyenyak."


"Kamu juga. Selamat malam, mimpi indah."


--


Next...


See you! Thank you! Bye!

__ADS_1


Jangan lupa support ceritaku ya semuanya!


Love Rora~


__ADS_2