AISYAH

AISYAH
(82) AISYAH


__ADS_3

Happy Reading Semuanya!


Jangan lupa beri tanda diceritaku ya.


Support aku ya.


--


Prang!


Brak!


“Apa maksud dari ucapanmu?”


“Tuan muda Wildan Austin telah dipenjara tuan.” Tunduk bawahannya yang takut menatap wajah seram atasannya.


Tak!


Tak!


Tak!


Suara ketukan jari atasannya membuat suasana sunyi dan menegangkan. “Kita rubah rencana awal kita. Dasar anak tidak sabaran, memang apa yang dia lakukan terhadap korban itu?”


“Ditusuk, ditampar, lalu ditonjok, dan ada yang diperkosa dan dibunuh, tuan.”


Hahaha.


“Pintar juga dia, tapi sayangnya dia terlalu gegabah bukan begitu?”


“Ya tuan.”


“Lakukan perubahan rencana, beri tahu yang lain jangan ada yang bergerak terlebih dahulu.”


“Baik tuan, saya permisi.”


Fuhhhh…


Asap rokok keluar dari mulut milik tuan tersebut lalu tertawa sendiri sambil membayangkan wajah musuhnya yang mungkin akan menarik perhatiannya. “Lihat saja Damian, aku akan melakukan dendam melalui cucu menantumu atau salah satu cucumu itu? Heh, aku tidak sabar menatap wajahmu yang menyebalkan itu.”


Prang!


Segelas pecah digenggaman tuan tersebut, dan darahpun mengalir deras dari telapak tangannya.


“Apa yang pria tua itu lakukan setelah tau putranya masuk ke rumah tahanan?”


“Beliau akan merubah rencananya melalui cucu menantu anda atau cucu anda yang lain. Dan mereka tidak akan melakukan apapun selain menunggu rencananya lancar seperti yang ia inginkan tuan.”


Heh..


“Dia pasti ingin melihat diriku memohon seperti dulu bukan? Tidak akan ku biarkan beri pengawal atau penjaga untuk cucu menantuku dan semua cucuku. Cucu dari Abdullah kalau bisa dijaga juga, yang jauh jangan lupa untuk dijangkau. Karena kemungkinan keluarga Abdullah juga akan diincar.”


“Baik tuan, akan saya segera lakukan.”

__ADS_1


“Bagus, lakukanlah sekarang. Tapi panggil Gentala untuk datang kerumahku, ada yang harus ku bicarakan padanya.”


“Baik tuan, saya permisi.”


“Ya.” Kakek Damian menyandarkan tubuhnya disandaran kursi, lalu kepalanya ia gelengi tanda tak percaya. “Yang salah siapa yang dendam siapa, kenapa harus aku yang pusing dasar.”


“Assalamualaikum, anak jagoan baba hari ini udah pada wangi ya?” ujar Tala yang langsung duduk disamping kedua bayi kembarnya dengan sesekali ia mengecup kening Khalid dan Kazeem.


“Loh mas? Udah pulang?” tanya Aisyah yang baru keluar dari kamar mandi dengan handuk yang masih menempel di atas kepalanya. “Iya, baru aja sampai.”


“Ya udah mandi dulu gih baru nyolek-nyolek baby. Jangan beri kuman kepada putra kita ba.”


“Baik ummi, nurut aja baba mah.” Ujar Tala namun sebelum masuk kedalam kamar mandi ia mencuri ciuman tepat dibibir istrinya lalu berlari masuk. “BABA K!” Aisyah menggeleng kepala lalu mengelus babynya dengan lembut, “baba kalian nackal.”


“Nyam.. nyam.. nyam..” gumam Kazeem saat bangun tidur diikuti oleh abangnya. “Lapa rya sayang? Ini ummi udah bawa susu buat kalian. Silahkan dinikmati selagi hangat kesayangannya ummi dan baba.”


Cup!


Cup!


Dikecupnya kedua pipi tembam Khalid dan Kazeem oleh Aisyah. Tak lama Tala keluar dari kamar mandi sudah menggunakan pakaian santainya kaos putih serta celana hitam selutut. “Handuknya langsung dijemur mas, jangan dibiarin diatas Kasur lembab nanti.”


“Iya.”


“Jangan lup keringin rambut mas dulu baru deketin baby.”


“Iya.”


“Iya sayang, mas inget.”


“Ya udah, buruan lakuin, aku mau masak dulu buat kita makan.”


“Kan ada bi inem yang.” Aisyah menggeleng, “mas pasti lupa ya? Bi inem kan pulang kampung karena menantunya melahirkan.”


“Oh iya, ya udah tunggu sebentar, bentar lagi kering kok.”


Setelah selesai, giliran Tala yang menjaga kedua anaknya sedangkan Aisyah turun menuju dapur memasak makan malam untuk mereka berdua.


“Aduh anak baba udah cakep-cakep nih..  Kalian besar nanti mau jadi apa? Kalau baba masukkin kalian ke sekolah islam terpadu mau gak ya? Biar kalian besarnya lurus tidak belok kayak masa lalu baba, bagaimana? Mau tidak? Ayo dong jawab, pasti mau ya? Kalian kan anak ummi dan baba yang paling pintar dan nurut hehe.”


“Mas, mau makan sekarang apa nanti?”


“Nanti aja yang, tunggu mereka tidur baru kita makan gimana?”


“Baiklah, aku tutup dulu makanannya ya.” Hem.. Tala masih fokus memainkan kedua pipi putranya yang kalem meminum susunya. Sampai nada dering ponselnya terdengar ia pun langsung meraih ponsel dan mengernyit nomer tak dikenal?


“Siapa ya? Ah nanti aja, kirim dulu ke Fris deh biar dia bisa cari tau.”


To Frisky


Hey, lagi sibuk tak? Ttolong cari tau nomer siapa itu dan dimana keberadaannya, sedari tadi dia miss call mulu ke ponselku. Tolong ya Fris. Send.


To Kevin.

__ADS_1


Hey, bantu cari tau nomer siapa ini, jika kau tidak sibuk. Send.


Setelah meminta bantuan kepada sahabat dan sepupunya ia menyilent-kan ponselnya agar tidak ada yang mengganggunya. Namun tetap dengan getaran jika ada pesan masuk. Tala menunggu sembari bermain dengan kedua anaknya.


Tak lama ponselnya benar-benar bergetar dan tampilan nama Kevin dan Frisky memenuhi layarnya. Ia membaca nomer orang tersebut yang tak lain Chelsea, “ada apa dengan wanita itu?”


“Wanita siapa?” tanya Aisyah yang baru saja masuk kedalam kamar membawa hot chocolate dua cangkir dan beberapa potong kue diatas piring. “Ini yang, ada yang nelpon mas dengan nomer tak dikenal, karena waspada aku minta tolong ke Kevin dan Frisky dan ternyata nomer milik Chelsea yang pernah kamu temui waktu pernikahan kita itu loh.”


Aisyah mengangguk, “oh yang itu, ya udah kalau dia ngehubungin mas lagi kasih ke aku aja, biar isyah yang ngomong sama dia. Sekalian di rekam aja siapa tau ada yang penting.”


“Oke deh, ini kue kamu bikin?”


Aisyah menggangguk, “iya, iseng-iseng dirumah sendiri gak ada bi Inem apalagi kembar tidur siang aku gabut deh. Tara jadi deh kue iseng ala Isyah hehe.”


“Enak, walaupun iseng.”


“Enak ya? Hehe gak pake takaran itu langsung plong dari luar kepala.”


Tala mengelus kepala istrinya sesekali ia mengecup pelipis dan bibir ranumnya itu. “Pintarnya istriku ini. Makasih ya sayang.”


“Hem sama-sama, mas.”


Sedangkan dilain tempat, seorang wanita sedang duduk di sebuah Bar menggeram kesal karena orang yang ia hubungi tidak mengangkatnya. “Ah rese banget sih. Kok gak diangkat? Padahal udah sengaja aku ganti nomer biar gak ada yang tau apalagi si Gen tapi kenapa dia gak angkat sih, ya seengaknya istrinya lah yang angkat biar gue panasin dia sekalian.”


“Ihh.. kenapa gak bisa sih? Masa iya nomer gue pulsanya gak ada, gak mungkin banget.”


“Ada apa? Kau tidak bisa menggodanya? Kenapa tidak datang saja kerumahnya? Pura-pura saja menjadi pelayan dirumahnya.”


“Memangnya dia masih tinggal dirumah yang sama seperti orang tuanya?”


“Ya kau cari tau lah, kau ingin Gen jatuh kedalam pelukanmu bukan? Ayolah kau harus pikir dengan otakmu, buat apa punya otak tapi tidak bisa berpikir bodoh.” Saut pria disampingnya membuat wanita itu mengepalkan kedua tangannya dengan kesal, “aku tidak bodoh, kau saja yang terlalu licik, sudah tua masih saja tampan.”


“Heh, kau mengakui? Bagaimana jika mala mini kita bersenang-senang saja hem?”


“Lalu aku hamil dan anaknya ku akui sebagai anak Gen?”


“Heh, jika kau hamil, Gen pasti tidak akan percaya. Kau tidak tau, nomer barumu itu sudah tersebar diseluruh keluarganya, jadi kau tidak bisa lagi menghubunginya jika kau mau menggunakan data pribadi orang lain.”


“Sial! Sia- sia dong aku.”


“Maka dari itu kau bodoh.” Chelsea mendelik kepada pria disampingnya itu, “sialan kau Geryano Wilsonrich. Awas saja nanti akan kubalas kau.”


“Dasar wanita bodoh, untung kau bodoh jadi bisa dijadikan umpan olehku haha.”


--


Next...


Vote, Comment, Like, and Favorite.


See you! Thank you! Bye!


Love Rora~

__ADS_1


__ADS_2