
Happy Reading Semuanya!
Semoga kalian suka dengan ceritaku. Terima Kasih!
--
Sesampai dirumah, aisyah langsung menaruh jajanannya diatas meja makan, kemudian ia melangkah menuju kamarnya berniat membersihkan tubuhnya karena hari ini hari minggu dan libur untuk semua orang termasuk dirinya yang memang libur sebelum menjalankan syuting drama.
Aisyah sudah siap dengan baju rumahnya dan berlalu keluar kamar menuju dapur dimana sang bunda berada dan ternyata semua anggota keluarga sedang duduk bersama di ruang keluarga, ia pun langsung duduk disamping ayah dan merangkul lengan beliau dengan manja.
Sejenak ia berdiam diri untuk memikirkan ucapan yang harus ia ungkapkan. “ayah.”
“Kenapa nak?”
“Nanti akan ada yang datang. Tapi gak tau kapan datangnya.”
“Oh, siapa yang akan datang?” tanya ayah sambil berpikir sesuatu dibenaknya, ‘jangan bilang..’ ucapannya terhenti dan menatap kedua putranya yang juga ikut menatap dirinya. Aisyah melepaskan rangkulan sang ayah dan menatap ayah dengan serius. “Ayah, isyah mau nanya.”
“tanya apa?”
“Apa yang akan ayah lakukan jika aisyah dilamar?”
“Hah?!” kejut ayah begitupun dengan dua abangnya. “jangan bercanda dek, siapa? Jangan bilang pria yang kamu temui tadi?’
“Ngga, isyah gak harap pria itu hanya ingin tau apa yang akan ayah datang kepada keluarga calon besan atau calon mertua isyah mungkin?”
__ADS_1
Ayah mengambil nafas lalu menatap putrinya yang sedang menatap kedua abangnya, “ayah..” gadis itu menatap ayahnya langsung, “ayah tau putri ayah sudah dewasa umurmu juga sudah menginjak 22 tahun dan tahun ini akan 23 tahun benar?” aisyah mengangguk membenarkan usianya.
“Jika kamu sudah siap dilamar oleh seorang pria, ayah bisa apa? Hanya satu yang ayah inginkan dari calon suamimu itu, jaga, hormati, hargai, sayangi dan cintai seperti apa yang ayah lakukan terhadapmu sejak lahir, bayi, dan sebesar ini. Tanggung jawab ayah akan digantikan oleh calonmu.” Ujar ayah dengan mata berkaca-kaca membuat aisyah tersenyum dengan hidung merah serta air mata yang sudah mengalir dipipinya.
Tangan besar ayah mengusap pipi aisyah dengan pelan, “putri ayah sudah dewasa, sudah mengerti banyak hal. Padahal baru saja kemarin ayah main kejar-kejaran denganmu. Jika kamu siap dengan lamaran laki-laki diluar sana ayah hanya ingin kamu menjawabnya dengan yakin tidak ada kata terpaksa atau hanya ingin orang tua bahagia, tidak ada seperti itu. Ini dunia nyata bukan dunia novel.”
Aisyah mengangguk lalu mengusap air matanya dan memeluk erat tubuh sang ayah, “makasih ayah, sudah menjadi sosok pahlawan dihidupku. Aku, beruntung menjadi putri ayah dan bunda.” Ujarnya dengan air mata bahagia. Ayahpun membalasnya dengan pelukan yang erat. “ayah yang beruntung mendapatkan tuan putri sepertimu nak, dan ayah sangat sayang denganmu, melebihi segalanya.”
“Uhh, bunda juga mau dipeluk dong..” manja bunda yang langsung memeluk ayah dan putrinya dari belakang diikuti oleh dua abangnya yang ikutan senang karena mereka satu keluarga diberikan waktu menjadi keluarga harmonis dan sehat walafiat.
Tring!
Suara pesan masuk dari ponsel aisyah membuat yang lain melepaskan pelukannya dan menatap ponsel Aisyah yang sudah menyalakan layarnya dan membaca pesan. “siapa?”
“Pria yang ingin datang bersama keluarganya, aisyah juga gak tau niatnya untuk apa tapi aisyah merasa ia datang kemari bukan sekedar untuk silahturahmi.”
“Ayah ikhlas, jika putri ayah bahagia. Selalu tersenyum tanpa mengeluarkan setetes air mata kesedihan.” Aisyah semakin terharu menatap ayah dan memeluknya kembali. “Baik ayah, aisyah paham apa yang harus aisyah lakukan sekarang.”
“Apa?”
“Sholat istikhoroh. Karena hanya Allah yang tau jawabannya.” Ayah mengangguk lalu mengelus rambut putrinya, “ah ayah tidak tau harus bagaimana jika putri ayah benar benar di persunting oleh laki laki itu.”
“Doakan yang terbaik saja ayah.” Ujar bunda sembari mengelus punggung suaminya yang lemas dan mencoba kuat didepan putri kecil mereka.
“Katanya dia akan datang lusa bersama keluarganya.”
__ADS_1
Ayah mengangguk, “baiklah bunda siapkan makanan sebanyak mungkin untuk tamu kita atau calon besan kita? Dan aisyah tenang saja ayah dan kedua abangmu akan membantu untuk mempersiapkan semua segala hal rupa-rupi untuk lusa.”
“Alhamdulillah jazakallahukhorioh ayah! I Love you, PAPA!” ujarnya lalu ia pamit untuk masuk kedalam kamar sebelum ia mengambil piring isi jajanannya yang sudah disalin oleh bunda.
Aisyah kembali kekamarnya dan duduk didekat jendela yang berpemandangan jalanan luar. Dari sini ia bisa melihat beberapa gedung tinggi yang lumayan dekat dengan perumahan rumahnya yang tidak dihalangi oleh beberapa rumah mungil dalam kompleknya.
“Jadi apa kamu sudah tidak ada jadwal?”
“Em nanti malam, aku harus memastikan jadwalku, apalagi minggu depan bulan Ramadhan.” Ujar aisyah yang langsung diangguki oleh ayah. “Soal jadwal biar abang yang urus kamu bantu bunda dan ayah saja mempersiapkan kedatangan tamu.” Kemudian bang izak bangun dari duduknya dan salim tangan kedua orang tuanya, “abang pulang terlambat bun, tiba-tiba ada kerjaan mendadak.”
“Hati hati bang, bawa kunci rumah jangan lupa.”
“Iya, assalamualaikum!”
“Waalaikumsalam.”
“Abang sebenarnya kerja apaan si yah? Dari kemarin misterius banget. Pakai jas formal dengan tataan rambut yang sangat rapih seperti pria CEO dalam perusahaan saja.” Celetuk Aisyah membuat ayah dan bunda yang sudah mengetahui pekerjaan anak tengahnya hanya saling melirik satu sama lain.
“Ayah gak tau, isyah tanya saja sendiri dengan bang Izak. Kalau bisa ikutin saja dia.” Saran ayah yang mendapatkan delikkan mata sang istri.
--
Next..
Vote, Comment, Like, and Favorite!
__ADS_1
Seeyou!