AMARAH CINTA (Bukan Salah Tuhan)

AMARAH CINTA (Bukan Salah Tuhan)
Bab 99 Yang sudah pergi, biarlah pergi.


__ADS_3

Waktu mengalir begitu saja, tampa sadari pernikahan Panji dan Sky sudah menginjak tiga minggu. Tetapi sikap mereka masih terasa canggung jika berdua, dan tentunya Ais akan kembali menjadi dingin dan datar jika berbicara dengan Panji.


Tetapi Ais akan kembali bersikap hangat ketika di depan Laila atau kedua orang tuannya yang sesekali berkunjung kediaman Al-fatih atau Sky yang berkunjung kerumah kedua orang tuanya.


Perubahan sikap Sky sungguh membuat tanda tanya besar di kepala Panji, terkadang Panji merasa senang jika Sky berbicara lembut padanya, apalagi panggilan Mas terselip kebahagian mendengarnya, tetapi Sky akan kembali bersikap dingin ketika mereka berdua, membuat Panji bingung harus bersikap apa.


Bahkan kelakuan Sky yang membangunkan Panji dengan cara membanting buku atau menyalakan alarm sudah menjadi kebiasaan, dan tentu Panji tidak merasa kesal lagi karena sudah terbiasa.


Tidurpun mereka berdua masih tidak satu ranjang, walau satu kamar, tetapi Panji akan selalu tidur di atas shopa dan Sky tidur di atas ranjang.


Begitulah kehidupan mereka berdua yang belum nampak perubahan, apa lagi akhir-akhir ini Panji di sibukan dengan pekerjaan kantor yang sudah lama Panji tinggalkan, walau sebagian Rafli yang mengerjakan tetapi berkas penting-penting harus Panji sendiri yang mengurusnya. Membangkitkan dan mengembangkan kembali perusahaan yang sempat diambang kehancuran. Belum lagi Panji harus bulak balik kekantor kepolisian mengurus kasus bik Marni dan Bimo, dimana Panji harus memberikan beberapa keterangan dan menjawab apa yang pihak kepolisian tanyakan.


Panji bisa saja menyerahkan kasus ini sepenuhnya pada Rafli, tetapi Panji tidak melakukannya, sudah banyak pekerjaan yang harus Rafli urus, Panji tidak mau terlalu menambah beban Rafli lagi.


Dua perusahaan yang harus Rafli hendel ketika Panji mengurus urusan lain, apalagi Sarah belum sepenuhnya pulih, tidak mungkin Rafli membebankan Sarah.


Sedangkan Farhan, mengurus perusahaan Smart Grup kembali, dimana paman Sandi menyerahkan semua nya pada Farhan.


Apalagi vonis hukuman mati Bimo, minggu depan di tetapkan. Sedangkan masalah bik Marni hakim sudah mengetuk palu, hukuman seumur hidup.


Masalah itu tentu menbuat hubungan Panji dan Sky semakin renggang, Sky bertemu Panji ketika sarapan dan bangun tidur, karena Panji sealalu saja pulang malam membuat Sky lagi-lagi harus ketiduran menunggu Panji datang dengan kekecewaan yang mendalam.


Mampuhkan Sky terus bertahan di situasi yang rumit, sedangkan Sky harus berjuang sendiri.


Hidup Sky begitu berubah 180 derajat celsius, dimana di setiap hari Sky harus bergelut dengan pekerjaan dan pekerjaan tetapi sekarang Sky harus di sibukan menata hatinya yang mulai rapuh.


Buat apa harus mempertahankan ikatan yang masih terdiam, enggan untuk berjalan menata masa depan. Bagimana Sky harus berada di situasi seperti itu! sungguh, jika bukan karena sang ummah dan sang baba yang menasehatinya tetap bertahan di sisi Panji, sudah dari kemaren-kemaren Sky sudah mundur.


Jika Panji sulit untuk membuka hatinya, untuk apa menyuruh Sky bertahan dan membelenggu Sky dalam ikatan yang suci, tetapi penuh kehambaran.


Mau sampai kapan Panji harus seperti itu, tidak memberikan kesempatan pada dirinya sendiri untuk membuka hatinya untuk Sky. Bagaimana mungkin Sky bisa masuk kalau Panji sendiri masih menguncinya.


Bahkan Panji jarang sekali berbicara pada Sky, kecuali kalau ada hal penting. Begitupun dengan Sky sendiri, entah pernikahan apa yang mereka jalani.

__ADS_1


Huh...


Panji menghembuskan nafas kasar sambil menyenderkan punggungnya di senderan kursi kebesarannya.


Begitu banyak berkas yang harus Panji tanda tangan, kerjakan dan memeriksa kembali laporan. Tetapi pikiran Panji begitu tidak pokus, akhir-akhir ini Panji memikirkan sikap Sky yang semakin dingin padanya.


Panji tahu, sikap dingin Sky karena dirinya terus menghindar, membuat Panji sungguh tidak nyaman dalam situasi seperti ini.


Rafli menatap sendu Panji yang melamun, bahkan Rafli sudah masukpun Panji tidak menyadarinya.


Rafli tau, dilema apa yang sedang Panji alami. Panji bukan orang yang mudah untuk jatuh cinta, sangat sulit bagi Panji membuka hatinya untuk perempuan, dan kehadiran Amira bisa merubah segalanya. Tetapi Amira sudah pergi, apa lagi yang harus Panji pikirkan, harusnya Panji sudah bisa membuka lembaran baru lagi bersama Sky, tetapi nyatanya Panji sangat sulit.


"Yang pergi, biarlah pergi ....,"


Deg...


Panji terlonjak kaget mendengar suara Rafli, yang entah sejak kapan sudah duduk dihadapannya. Panji menatap tajam Rafli yang acuh saja, tidak peduli dengan tatapan membunuh Panji, karena bagi Rafli itu sudah hal biasa.


Ketus Panji, sedangkan Rafli tampak acuh saja tidak peduli dengan ocehan Panji.


"Ada masalah apa lagi, dari kemaren aku perhatikan kamu tidak pokus terus? "


"Entahlah ...,"


"Ikhlaskan yang sudah pergi, cobalah membuka hatimu untuk Sky! "


"Aku selalu mencoba, tetapi sangat sulit! "


"Kamu bukan sulit, tetapi kamu mencoba menutup hati kamu rapat-rapat, bahkan kamu tidak memberikan celah sedikitpun bagi Sky, "


"Aku pusing, "


"Berdamailah ..., jangan sampai tante Ani tahu, kalau kamu menyakiti keponakannya. Aku yakin tante Ani pasti kecewa pada kamu, dan tante Ani pasti akan merasa bersalah karena sudah menyakiti keponakan tercintanya, dengan apa yang kamu lakukan. Ingat! Amira Mahardika sudah pergi, dan kamu sudah menikah dengan EMIRA Halime Sky Mahmued."

__ADS_1


Ucap Rafli kesal dengan apa yang Panji lakukan, Rafli sengaja menekan kata Emira supaya Panji sadar bahwa Sky istri Panji yang sudah Panji terlantarkan.


"Aku yakin! di alam sanah, Amira pasti kecewa padamu. Satu lagi, ini berkas kang kemaren kamu pinta. "


Ucap Rafli lagi dingin sambil meletakan sebuah berkas di depan Panji, lalu Rafli bergegas pergi meninggalkan Panji yang begitu sulit di kasih tahu.


Panji termenung mendengar apa yang Rafli katakan.


Yang sudah pergi, biarlah pergi...,


"Kamu benar, Amira sudah pergi, tetapi kenapa aku sulit membuka hatiku, jika aku menerima Sky, aku takut Amira akan marah. "


Monolog Panji sambil mengingat ucapan Rafli yang begitu menohok hatinya. Sungguh, Panji benar-benar dilema menghadapi situasi seperti ini, Panji seperti orang ketakutan, jika membuka hatinya, sama saja Panji sudah menyakiti Amira.


Panji begitu menjaga perasaan Amira, tetapi Panji lupa! bahwa Amira tidak akan pernah merasa sakit hati dengan apa yang Panji lakukan. Amira sudah di alam berbeda, bagaimana mungkin orang yang sudah mati masih bisa merasakan rasa sakit, sedangkan rasa kehidupanpun dia tidak lagi rasakan.


Ting...


Satu pesan masuk menarik lamunan Panji, Panji mengambil ponselnya melihat siapa yang mengirimnya pesan.


"Assalamualaikum ..., Mas, aku izin keluar, apa mas mengizinkan atau tidak! aku mau berkunjung ke rumah nenek dan kakek."


Panji menatap nanar, pesan dari Sky yang meminta izin datinya.


Panji faham kata rumah yang Sky maksud adalah Makam kakek neneknya yang berarti, Sky pasti berjiarah juga kemakam Amira.


"Boleh, tetapi di antar sama Laila. "


Balas Panji lalu memasukan kembali ponselnya kedalam saku jasnya.


"Sepertinya aku harus bertemu Tante, "


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2