
"Sial,,,,,siapa orang yang mencoba melindungi keluarga Al-fatih,kenapa sekarang semakin sulit untuk menembusnya. Apa wanita sialan itu orang yang sama menyelamatkan Andre! dan sekarang wanita itu ingin melindungi keluarga Al-fatih. Dan sialnya wanita sialan itu susah sekali di tembus ah... ah... "
Prang....
Seseorang mengamuk dan mengupat, sekarang keadaannya mulai berbalik menyerang dirinya. Satu langkah lagi sudah bisa menguasai dan menghancurkan Al-fatih tapi kembali berantakan lagi.
"Tidak apa-apa sekarang keberuntungan berpihak pada kau Panji tapi akan ku pastikan kau menderita melihat adik kesayanganmu menjadi pemuas nafsu para hidung belang ha.. ha... "
Tawa itu begitu mengerikan dengan penuh ambisi dan dendam entah apa yang akan orang itu rencanakan.
Tidak puaskah membuat Panji menderita dengan mengambil kedua orang tuanya dan menculik adik kesayangan Panji ! sungguh orang itu seperti iblis berwujud manusia yang tak pernah puas akan kehancuran orang lain.
Orang itu tersenyum seringai penuh dengan rencana langsung menelepon seseorang.
"Awasi terus Sandi jangan sampai dia menemukan adiknya Farhan sebelum orang-orang kita. Jika kita kecolongan habisi dia karna adik Farhan kunci semuanya! "
"..................."
"Bagus, jangan lupa hancurkan M.A Grup dan habisi Farhan malam ini semakin ingatannya kembali semakin dia bisa membahayakan keberadaan kita! "
".................."
"Saya tunggu keberhasilan kalain, Ingat ! jangan sampai gagal. "
Tut...
Orang itu langsung mematikan teleponnya dengan senyum seringai, kedua matanya menatap kedepan ada kesakitan yang mendalam dari sorot mata itu.
Entah apa yang terjadi membuat orang itu begitu membenci keluarga Al-fatih,sampai harus banyak nyawa yang melayang.
Orang itu mengetik pesan pada seseorang entah apa isi pesannya hanya orang itu sendiri dan Tuhan yang tau.
Melihat dari raut wajahnya saja sudah terlihat bahwa itu rencana besar.Sudah selesai mengirim pesan pada seseorang orang itu langsung menyimpan ponselnya diatas meja.
Tangannya membuka sebuah kotak dimana didalamnya terdapat sebuah poto.
"Kakak akan membuat mereka menerima apa yang kamu rasakan, sudah bertahun-tahun mereka bahagia diatas penderitaanmu dan sekarang mereka sudah kakak hancurkan hanya tinggal satu orang saja maka semuanya selesai.. "
Monolog orang itu sambil menatap sendu potho seorang gadis yang sedang mengenakan baju renang tersenyum indah di bibirnya.
...---...
Sedangkan Rafli langsung pergi dari rumah Panji setelah mengambil apa yang dia butuhkan.
Wajah Rafli begitu terlihat kesal dengan bibir yang terus mengupat membuat bi Marni hanya menggeleng saja.
Sudah hampir dua bulan Rafli selalu dibuat marah, jengkel dan kesal ketika bertemu dengan Panji membuat bi Marni hanya diam bingung harus berbuat apa.
Rambut acak-acakan, baju kusut sungguh membuat penampilan Rafli tidak dikatakan baik-baik saja.
Bi Marni tidak terlalu memperdulikan dirinya langsung beranjak ke dapur,sayuran,daging dan bahan-bahan lainnya bi Marni siapkan untuk di pasak. Seketika bi Marni ingat kalau Santi akan membantunya, bi Marni mencuci tangannya hendak pergi menuju kamar Santi tapi mengurungkan niatnya ketika melihat Santi berjalan kearahnya.
__ADS_1
"Hari ini masak apa Bi, apa yang harus Danti lakukan? "
Ucap Santi bertanya ,bi Marni langsung saja menyuruh Santi untuk mencuci sayuran yang sudah bi Marni iris-iris lalu memotong daging dan menyaipkan wadah. Selebihnya bi Marni yang masak, dua wanita berbeda generasi itu sibuk dengan tugasnya masing-masing hingga satu jam setengah dua wanita itu sudah selesai memasak dan menyajikannya di meja.
Tig...
Sebuah pesan masuk membuat bi Marni langsung melihat posel jadulnya.
"Santi tolong antarkan makanan untuk den Panji yang sudah siapkan diatas nampan itu,Bibi angkat telepon dulu.. "
"Emmz.... Bi, apa Tuan tidak.. "
"Tidak apa ! dan pastikan Tuan makan hari ini dari kemaren Tuan tidak makan pagi pun sama. "
"Baiklah Bi.. "
Ucap Santi terpaksa walau hatinya sudah tidak tenang mengingat kejadian tadi. Perlahan Santi berjalan menuju kamar Panji.
Tok... tok....
"Masuk.... "
Teriak Panji dari dalam duduk di atas shofa dengan mata terpejam.
Cklek....
Santi perlahan masuk dengan alis yang menyatu, bingung melihat kamar yang gelap, Santi teringat teriakan bik Marni tadi jika keadaan kamarnya gelap maka Santi nyalakan saja lampunya dan simpan nampan itu diatas meja.
Santi meraba dingding hingga tangannya menemukan sakral lampu.
Deg....
Santi melebarkan tupilnya melihat keadaan kamar Tuannya yang seperti gudang sampah, berantakan sekali.
Ini seperti bukan kamar melainkan tempat pembuangan sampah, melihatnya saja membuat Santi pusing.Santi melebarkan penglihatannya hingga matanya menatap sosok yang sedang duduk sambil membelakanginya.
Panji tidak tau kalau yang masuk kedalam kamarnya adalah pembantu barunya, bukan bi Marni.
Santi perlahan meletakan nampan itu diatas meja sebelum meletakan nampannya Santi terlebih dahulu menbersihkan meja itu ,sudah bersih lalu menyimpan nampannya.
Santi terdiam apakah dia harus membereskan atau langsung pergi, Kalau bibi yang bereskan kasihan, Pikir Santi.
Tampa pikir Panjang Santi membereskan kamar itu dari mulai buku-buku dan majalah menyimpannya di lemari yang memang dikamar Panji ada lemari khusus buku-buku, Santi bisa melihatnya karna di lemari itu ada sisa buku yang tergeletak.
Panji membuka kedua matanya yang tadi sempat terpejam karna tidak mendengar suara bi Marni, hanya ada suara langkah kaki yang kesana kemari seperti sedang membereskan sesuatu.
"Bibi, biarkan saja jangan di bereskan biar Panji saja, Nanti. "
Ucap Panji tampa menoleh membuat Santi langsung terdiam bingung harus menjawab apa, kalau dia membuka suara pasti Tuannya akan tau kalau dirinya bukan bik Marni.
Tapi Santi tak peduli, dia melanjutkan pekerjaannya menarik selimut, untuk diganti begitu juga dengan bantal-bantalnya yang sudah koyak.
__ADS_1
Panji diam karna bi Marni tidak menuruti perkata'annya membuat Panji menghela nafas tidak biasanya bi Marni keras kepala.
"Bibi sudah Pan.... hacim.... hacim... "
Bruk....
Panji tidak bisa melanjutkan ucapannya karna bersin ketika Santi mengoyangkan selimut hingga debu dan bulu-bulu berterbangan.
Hacim.. hacim...
Panji terus saja bersin dengan mata tak bisa melihat jelas bi Marni karna debu yang masuk kedalam matanya.
"Hacimmm... aduh bibi.. "
Kesal Panji sambil mengucek mata dan hidungnya yang gatal, Santi yang melihat Tuannya bersin-bersin merasa bersalah.
Entah dorongan dari mana Santi menarik lengan Panji menuju kamar mandi " Tuan cepat cuci muka " Panji yang belum sadar menurut saja karna matanya mulai perih membasuh mukanya, sudah merasa baik Panji mengambil handuk kecil yang Santi sodorkan.
"Terimak... Ah..... "
Grep...
Teriak Panji terkejut melihat siapa yang ada dihadapannya membuat Panji langsung mundur tapi kaki Panji menginjak lantai yang basah membuatnya terjatuh, tapi dengan cepat Santi meraih tangan Panji hingga Panji tidak jadi....
"Ada apa Den.. "
Bruk...
"Awwsss... "
Ringis Panji kepalanya terbentur dingding karna Santi melepaskan pegangannya.
Santi terdiam karna terkejut mendengar suara bi Marni yang tiba-tiba membuatnya dengan spontan melepaskan genggamannya hingga Tuannya terjatuh.
"Apa yang kau lakukan gadis bodoh... "
Bentak Panji menggelegar membuat Santi terkejut langsung mundur dengan tangan tak sengaja memutar kran.
Brurrrrr...
Air sower keluar menyiram Panji membuat Panji kelabakan, belum reda denyutan dikepanya kini air dingin menyiramnya membuat Panji semakin kesal.
Santi yang melihat itu dengan panik berusaha mematikan kran tapi bukannya mematikan kran itu malah patah membuat air menyembur pada tubuh Santi sendiri.
Bi Marni yang melihat itu terkejut berlari keluar mencari sesuatu, dengan kesal Panji membawa handuk kecil dan menggeser tubuh Santi dengan repleks Santi memegang lengan Panji dengan tangan kiri Panji menyumpak kran dengan handuk supaya airnya tidak nyembur.
Panji memalingkan wajahnya kesamping dimana lengannya kanannya sedang dicengkram.
Deg...
Mata mereka bertabrakan membuat mereka saling diam menatap dalam pada bola mata masing-masing.
__ADS_1
"Den in.. "
Bersambung....