AMARAH CINTA (Bukan Salah Tuhan)

AMARAH CINTA (Bukan Salah Tuhan)
Bab 85 Ungkapan Hati


__ADS_3

Pergi...


Bak sembilah pisau yang mengoyak hati Akbar mendengar liliran kata itu, hati yang baru terbang mencapai kebahagian bisa melihat orang yang begitu Akbar rindukan ada di depan matanya.


Akbar bak orang kesyetanan mencari dan terus mencari keberadaan Laila, hingga Akbar sampai menyibukan dirinya karna tidak mau terlalu berharap lebih.


Takdir Allah membawa Akbar terbang kenegara Sakura dimana Akbar akan menghadiri acara seminar Seniman yang di hadiri oleh berbagai Seniman dunia.


Allah mempertemukan Akbar dengan gadis yang dikasihinya tapi gadis itu malah membuat hati Akbar melambung tinggi dan sesaat di jatuhkan kedasar lembah kekecewaan.


Pergi...


Satu kata membuat Akbar sukses mematung dengan mata mengembun menahan segala gejolak yang ada, benarkah itu gadisnya! tidak menginginkan kehadirannya, kenapa? pikir Akbar terus bermonolog pada dirinya sendiri.


"K... kay.. "


"Pergi... "


Deg...


Satu kali lagi Akbar di hempaskan akan penolakan Laila, tidak tahukah Laila kalau Akbar begitu merindukannya. Ingin sekali Akbar langsung membawa Laila dalam pelukannya tapi nyatanya gadisnya malah mengusirnya.


Panji yang sendari tadi hanya diam melihat tatapan mata Akbar yang memancarkan kerinduan, kesedihan dan kekecewaan. Tatapan itu Panji memahaminya karena Panji pernah di posisi seperti itu.


Berbagai pertanyaan berputar di benak Panji tapi Panji mengurungkan niatnya, merasa Laila semakin mengeratkan pelukannya.


"Dek.. "


Panggil Panji berusaha melepas pelukan sang adik tapi nyatanya Laila malah mempereratnya.


Sungguh, bukan Laila tidak mau bertemu dengan Akbar. Laila ingin sekali berlari berhambur dalam pelukan ketenangan yang selalu Akbar berikan, tapi! sekarang berbeda. Laila merasa kotor dan hina, dia tidak pantas mendapatkan laki-laki sebaik Akbar.


"Ada apa? kenapa menyuruh Akbar pergi?"


"Akbar sudah pergi.."


Ucap Panji lembut sambil mengelus kepala sang adik, hati Panji sangat sakit melihat keadaan sang adik.


"Kenapa?"


"A.. adek malu, Kak. Adek sudah kotor dan hina hiks.. ad.. hiks.. "


Jerit Laila memukul kembali dirinya sendiri dengan cepat Panji menarik sang adik dalam pelukannya.

__ADS_1


Sungguh, hati kakak mana yang tidak sakit melihat keadaan sang adik seperti ini. Hal nya yang dirasakan Panji, hatinya seperti teriris-iris mendengar ungkapan kepiluan sang adik.


Begitu sakit dan takutkah kamu Dek, katakan kakak harus bagaimana! kakak tidak kuat jika harus melihat kamu seperti ini.


Deg....


Panji terkesiap ketika mengingat sebuah bayangan terlintas di kepalanya.


A.. apa Trauma itu juga sama menyiksa kamu, tapi bagaimana kamu kuat selama ini. Kamu terlihat begitu baik-baik saja hinga akhirnya aku melihat sisi lemah mu, kau ...tiba-tiba datang ketika aku tersesat dan terikat ketika kau lemah. Takdir macam apa ini, seolah kau tidak boleh jauh dariku begitupun a.. aku. Apa ini memang takdir! atau sebuah kebetulan. Bagaimana kabar mu! apa kamu sudah baik-baik saja?


Monolog Panji membatin, hati dan pikirannya entah kenapa mencemaskan istri dadakannya, ada kesakitan di hati Panji mengingat bagaimana lemahnya Sky.


Perasaan macam apa ini?


Teriak batin Panji sambil melepaskan pelukan sang adik yang mulai tenang hingga terlelap di pelukannya.


Dengan sayang, Panji menidurkan sang adik hati-hati takut membuat sang adik terganggu.


"Kemarilah, Laila sudah tidur... "


Akbar yang sendari tadi berdiri di balik tembok langsung berjalan mendekat, sungguh, Akbar dari tadi mendengar apa yang Laila ucapkan, membuat hati Akbar sakit dan sesak mendengar tangis kepiluan yang menyayat-nyayat hatinya.


Panji keluar memberi ruang buat Akbar, sesaat Panji menatap Akbar dengan tatapan sulit di artikan.


Dengan langkah pelan Akbar duduk di kursi sebelah brankar, perlahan tangannya terulur memegang tangan kurus Laila. Hati Akbar begitu sakit melihat keadaan gadisnya yang berbaring lemah.


Gumam Akbar gemetar, setetes cairan bening lolos begitu saja membasahi pipi Akbar.


"Kenapa kau menyakitiku.. padahal aku begitu merindukanmu. Sudah enam bulan kau menghilang, tidak taukah kamu bahwa aku cemas dan rindu. Tetapi kenapa kau menyakitiku... "


Monolog Akbar sambil mengelus pipi tirus Laila yang seolah diam dengan apa yang Akbar lakukan.


"A.. apa yang sebenarnya terjadi, kenapa kau menyuruhku pergi di saat aku seperti orang tampa arah mencarimu. T.. tolong jangan katakan pergi.. sungguh itu menyakitkan."


Lilir Akbar sambil mendekatkan tangan Laila ke dekat bibirnya, berkali-kali Akbar mencium tangan Laila dengan lembut penuh kasih seakan takut Laila terganggu akan apa yang dia lakukan.


...---...


Mansion Mahmued...


Semua keluarga sedang berkumpul di gazebo belakang Mansion sambil menikmati suasana sore yang begitu menenangkan.


Canda tawa menghiasi obrolan santai keluarga Mahmued dan Qolayuby, apa lagi tinggkah menggemaskan Andrian di padu dengan kebar-baran Rara membuat suasana nampak berwarna.

__ADS_1


Andrian yang baru genap berusia 7 bulan itu sudah mulai bisa merangkak, dengan Rara yang begitu siap siaga memerhatikan tingkah sang putra yang takut salah makan.


Tingkah posesif Rara membuat semua keluarga tertawa pasal nya Rara bukannya menenangkan sang putra malah membuat Andrian menangis karna di larang ini itu, membuat bocah kecil itu cemberut seakan marah pada Mamahnya.


"Rara, biarkan saja Andrian makan coklat..."


Tegur Mamah Mona melihat putrinya menjauhkan semua makanan berbau coklat dan keju pada cucunya.


"Ih... Mamah nanti gimana kalau Andrian sakit gigi. "


"Gak bakalan lah.. gigi Andrian kan baru tumbuh empat, dua bawah dua lagi atas.. "


Seloroh Ayah Air membuat Rara malah memberenggut.


"Pokonya tidak boleh!"


"Sudah-sudah jangan di perdepatkan,sini Andrian sama Auntie saja.. "


Seloroh Sky sambil menggendong Andrian yang senang hati merentangkan tangan merangkak kegendongan Sky.


Sky berjalan menbawa Andrian menyelusuri taman bunga.


Semua orang langsung terdiam dan melihat kepergian Sky dengan tatapan berbeda-beda, begitupun Ummah Ais menatap sendu putrinya.


Hati ibu mana yang tidak akan sakit melihat putrinya selalu murung semenjak kejadian tujuh hari lalu. Ada rasa penyesalan di hati Ummah Ais karena menyetujui usul sang suami menikahkan putrinya dengan laki-laki yang sang putri tolong.


Baba Aiman yang melihat wajah sang istri murung langsung menarik sang istri dalam pelukannya.


"Yakinlah, Panji laki-laki tanggung jawab. Hubby yakin putri kita bisa melewati semuanya. "


"Kenapa Hubby bisa seyakin itu! "


"Hubby tidak mungkin melepaskan putri kita pada orang yang salah, percayalah.. "


Ummah Ais mengangguk mencoba percaya dengan apa yang sang suami katakan.


Walau di lubuk hati ummah Ais tetap ada sara takut melihat sang putri selalu berusaha tersenyum dihadapan orang lain padahal Sky hanya menutupi rasa kecewa dan sedihnya.


Ummah Ais tau setiap malam sang putri terus menangis mengadukan takdir yang Sky jalani, mungkin jika ummah Ais ada di posisi seperti itu, ummah Ais tidak akan kuat.


Siapa tidak kecewa jika harus menikah mendadak dan ditinggal pula tampa pamit, walau mudah bagi Sky mencari tahu dimana keberadaan Panji, tapi Sky enggan melakukannya.


Senyum Sky tepancar bersama Andrian yang merentangkan tangan di atas tangan Sky seolah menyuruh kupu-kupu untuk singgah.

__ADS_1


Tolong jangan tersenyum, Nak. Jika itu hanya kepalsuan...


Bersambung.....


__ADS_2