
Sarah terdiam mengingat beberapa menit lalu apa yang tuan Panji katakan, walau sejujurnya Sarah begitu kecewa dan marah pada Ayah dan Neneknya tapi jauh di lubuk hati Sarah kalau Sarah sangat menyayangi mereka berdua.
Tidak bisa di pungkiri kalau Sarah tidak tega jika sang Ayah di hukum mati tapi Sarah tidak bisa berbuat apa-apa karna memang sang Ayah bersalah. Apalagi kejahatannya tidak bisa di toleransi lagi.
Sarah memejamkan kedua matanya menahan semua gejolak yang menyesakan di dadanya, jika saja ayah dan neneknya mau mendengarkan perkataan Sarah waktu itu pasti hukum itu tidak akan pernah terjadi tapi sekarang nasi sudah jadi bubur bahkan berusaha di ulangpun tetap tidak bisa.
Sarah pun tidak berani untuk meminta keringanan pada tuan Panji karna Sarah tau kesalahan Ayahnya begitu sangat besar. Sarah cukup bsrsyukur ternyata tuan Panji yang terbilang cukup arogan itu tidak melibatkan Sarah atas kesalahan Ayah dan neneknya.
Bulir bening keluar begitu saja di pelupuk mata Sarah yang terpejam ,tangan meremas dadanya erat seakan berusaha mencabut kesesakan yang membelenggu hati Sarah.
Jika Sarah tenggelam dalam tangisannya berbeda dengan seseorang yang berada di dalam ruangan ujung sana.
Farhan hanya diam tidak banyak bicara pikirannya entah kemana walau Serra ada di sampingnya.
Serra menghela nafas pelan dari kemaren sang kakak hanya melamun entah apa yang ada dalam pikirannya.
"Kak.. "
"Emm.. Iya.. "
Jawab Farhan sedikit terkejut ketika sang adik memegang tangannya seakan menarik Farhan dalam lamunannya.
"Dari kemaren Serra perhatikan Kakak melamun terus, ada apa? "
Tanya Serra serius menatap intens sang kakak, membuat Farhan sedikit salah tingkah di perhatikan seperti itu.
Serra memang meminta izin pada sang kakak agar nama panggilannya tidak di ganti menjadi nama waktu kecilnya, walau nama Fatimah menjadi namanya tapi Serra meminta sang kakak memanggilnya Serra karna nama Serra nama yang diberikan oleh kedua orang tua Sky, nama itu begitu berarti bagi Serra .
"Tidak apa-apa Dek ! "
"Jangan bohong ! Serra tau kakak menyembunyikan sesuatu ! "
Desak Serra semakin menggengam erat tangan besar sang kakak, membuat Farhan menghela nafas pelan ternyata adiknya dari dulu tidak penah berubah selalu saja memaksa.
"Coba ceritakan bagaimana kehidupan Adek di Turki ? Adek belum menceritakannya pada kakak. "
Serra memonyongkan bibirnya kesal karna sang kakak malah mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"Jangan mengalihkan pembicaraan ! apa kakak sedang memikirkan kak Sarah ! "
Deg...
Farhan terkesiap mendengar ucapan sang adik yang begitu menohok hatinya bak panah menancap tepat sasaran.
Tidak bisa di pungkiri memang sejak kemaren pikiran Farhan tidak lepas dari Sarah, ada rasa kecewa yang membelenggu Farhan ternyata wanita yang akhir-akhir ini mengisi hatinya adalah anak dari pembunuh kedua orang tuanya. Tapi ada rasa lain yang terus bergelut di hati Farhan, Farhan sendiri bingung harus bagaimana.
Cemas,kewatir, kecewa, marah dan sedih bercampur jadi satu membuat Farhan bingung tapi ego kekecewaan itu begitu besar membelenggu Farhan membuat Farhan enggan untuk menanyakan bagaimana keadaan wanita yang sudah menyelamatkan nyawanya.
" Kak.. "
"Assalamualaikum... "
"Waalaikumsalam.. "
Jawab Farhan cepat sambil menghela nafas bisa selamat dari desakan sang adik karna kedatangan Panji.
"Bagaimana kabar kamu? "
"Alhamdulillah ba.. baik.. "
Jawab Farhan gugup karna sesikit terkejut kalau Panji menjenguknya, Farhan pikir Panji masih marah dan enggan menemuinya tapi dugaan Farhan salah ketika tau selama ini Panji mengutus anak buahnya untuk menjaga dirinya.Apa yang Panji lakukan justru membuat Farhan semakin merasa bersalah apa lagi Laila sampai saat ini belum di temukan.
Serra yang melihat kedatangan Panji menunduk karna tidak tau harus berbuat apa, rasanya masih canggung bagi Serra memulai pembicaraan walau Serra tau Panji adalah adik sepupuhnya.
"Aku memang masih marah, tapi aku tidak sejahat itu jika harus memutus tali persaudaraan, walau bagaimanapun aku dan kalian mengalir darah yang sama. "
Deg...
Lagi-lagi Farhan dibuat terkejut dengan apa yang Panji katakan, ternyata Panji tidak sekejam dan sesombong di luar sana, ada sisi lembut penuh kasih sayang yang mengalir darah Al-fatih.
"Tapi ingat ! jangan berharap lebih kalau aku memaafkan semua perbuatan yang pernah kamu lakukan, sebelum kau membawa adikku kembali. "
Glek...
Farhan menelan ludahnya kasar ketika sikap arogan Panji keluar, sedangkan Serra hanya diam bingung harus memulai percakapan dari mana.
__ADS_1
"Serra sembuhkan kakak mu, jika tidak aku akan memisahkan kalian seperti kakak mu membuat aku kehilangan adikku. "
Tekan Panji membuat Farhan bungkam,Farhan sadar atas kesalahannya yang terlalu besar mungkin kata Maaf tidak cukup mengubah segalanya, tapi Farhan bahagia setidaknya Panji masih menganggapnya saudara.
" Hemmz... "
Serra hanya bergumam atas jawaban ucapan Panji membuat Panji tersenyum tipis, Serra begitu mirip dengan bibik Melati wanita dingin dan cuek walau itu pada sudaranya sendiri tapi Serra akan menjelma menjadi pecicilan jika bersama dengan orang yang memang menurut dirinya nyaman tapi yakinlah sikap kasih sayang tidak akan pernah lepas dari keluarga Al-fatih.
"Dan satu lagi...kau tidak akan lepas dari jerat hukum. "
Duarr...
Farhan membelalakan matanya mendengar akhir kalimat yang Panji ucapkan, membuat Farhan mengepalkan tangannya menatap tajam punggung Panji yang sudah menghilang di balik pintu.
Farhan pikir Panji tidak akan melaporkan dirinya tapi nyatanya Panji melaporkannya, satu yang Farhan tidak sadar Panji tidak sedikitpun melaporkan Farhan hanya saja Farhan terseret dalam kasus Bimo dalam rencana pembunuhan mamah dan calon istri Panji.
Apa Farhan tidak sadar akan hal itu! pantaskah Farhan tidak terima dengan apa yang Panji katakan ! sungguh manusia memang selalu serakah, seakan lupa akan kesalahannya. Memang mudah untuk minta maaf dan memaafkan tapi satu yang sering kita lupakan walau kata memaafkan terucap tapi belum tentu bisa menyembuhkan luka yang mengaga di hati Panji, walaupun sembuh kukankah masih ada bekasnya! itulah yang dirasakan Panji.
" Serra setuju dengan apa yang kak Panji ucapkan! "
"Hah.. "
Pekik Farhan menganga mendengar ucapan sang adik dengan ketus, tidak ada kelembutan dalam nada itu.
Farhan menghela nafas kasar berkali-kali mengontrol amarah yang bergejolak di dadanya.
"Kenapa Adek malah mendukung Panji ! Kakak adek kan bukan Panji tapi Aku. "
Ucap Farhan tah kalah ketus sambil menunjuk dirinya sendiri. Serra menghela nafas pelan bukan bermaksud membela Panji melainkan Serra hanya ingin menegakan kebenaran walau itu menyakiti saudaranya sendiri.
"Serra bukan membela kak Panji, tapi disini Kakak yang salah, mana mungkin Adek mendukung kesalahan halnya apa yang dilakukan Kak Sarah pada Ayah dan Neneknya, kenapa tidak dengan SERRA. "
Ucap Serra melembut dan menekan kata dirinya sendiri kalau Serra Bukan orang yang melindungi kesalahan orang lain walau itu kakak nya sendiri.
Bagai bogeman keras menohok dada Farhan, sesak dan perih itulah yang disarakan Farhan mendengar apa yang sang adik ucapkan.
Bersambung....
__ADS_1