AMARAH CINTA (Bukan Salah Tuhan)

AMARAH CINTA (Bukan Salah Tuhan)
Bab 103 Yakin dengan hatiku...


__ADS_3

Mata tajam itu mulai membukan kelopak matanya, kepalanya masih terasa berdenyut. Tetapi ada rasa nyaman menyelimuti lerung hatinya, seakan ada kekuatan bagi Sky untuk melawan rasa taumanya.


Tubuh Sky terasa kaku, sulit untuk di gerakan. Seakan badannya terhempit oleh batu berat, apa lagi pinggangnya terasa di belit oleh sesuatu yang keras.


Sky memegang benda keras yang membelit pinggangnya, dan berusaha terlentang.


Deg...


Tupil Sky membulat melihat tangan yang memeluknya dan yang membuat Sky semakin terkejut tangan itu milik Panji yang sedang tidur di sampingnya dengan posisi menyamping menghadap Sky.


Sky seakan tidak percaya dengan apa yang dia lihat, Panji tidur dengannya dengan posisi memeluk Sky dari belakang.


Bukan memeluk Sky dari belakang, tetapi Sky tidak sadar waktu tidur kalau dirinya berbalik memunggungi Panji membuat Panji memeluk dirinya dari belakang.


Sky masih menatap wajah damai Panji yang sedang tertidur, dengan bulu mata yang mengerjap-ngerjap lucu, Sky seakan memastikan bahwa yang dia lihat itu bukan mimpi. Perlahan Sky menyamping menghadap Panji hingga Sky bisa melihat dengan jelas wajah tampan Panji dari jarak begitu dekat.


"Emmz ..., "


Panji bergumam dengan tangan menarik Sky merapat pada tubuhnya, hingga kening Sky tepat menempel di bibir Panji. Seketika Sky memejamkan matanya terkejut dengan apa yang Panji lakukan.


Sky berusaha tenang tidak bergerak dan menutup matanya kembali di saat merasa Panji benar-benar bangun bukan mengigau.


Perlahan Panji membuka kedua matanya sambil melihat jam yang ada di pergelangan tangan kirinya.


"Sudah sore, "


Gumam Panji pelan, kemudian Panji dengan hati-hati mengangkat kepala Sky dari tangannya dan memindahkannya ke atas bantal.


"Alhamdulillah, panasnya sudah turun,"


Ucap Panji sambil meletakan punggung tangannya keatas kening Sky. Panji tersenyum ketika melihat wajah Sky yang tidak terlalu pucat seperti tadi siang, rona wajahnya kembali walau terlihat masih sedikit pucat.


"Kamu ada, kenapa aku tidak merasa kehadiranmu. Tetapi, sekarang aku tahu akan satu hal dan itu aku baru menyadarinya. Kamu benar, aku memang bodoh seperti apa yang kamu katakan."


Cup...


"Maaf ...,"


Panji langsung beranjak dari ranjang menuju kamar mandi, karena sebentar lagi waktu asar tiba.


Gemercik air terdengar membuat Sky perlahan membuka kedua matanya dengan dada bergemuruh, mata Sky memanas menahan air mata yang sendari tadi Sky tahan.


Ada kehangatan ketika mendengar apa yang Panji ucapkan, seakan Sky mempunyai semangat baru. Kata-kata sederhana tetapi mampuh menghangatkan hati Sky dan Sky faham kemana arah bicara Panji.


Sky duduk sambil menyandarkan kepalanya di sandaran ranjang, karena masih sedikit pusing, tetapi Sky baru sadar akan sesutu hal.


Apa tadi saat aku tidur kembali tidak terkendali! tetapi aku tidak merasa apa-apa seperti biasanya. Apa karena Panji cepat bisa menenangkan aku!


Batin Sky sedikit bingung karena merasa dadanya tidak berdebar dan kepalanya tidak terlalu pusing, hanya sedikit.


Sky memegang dadanya, seakan memastikan sesuatu dengan alis yang menyatu berpikir keras.


"Ada apa? apa dada dan kepalanya masih sakit? "

__ADS_1


Deg...


Sky terlonjat kaget mendengar nada cemas Panji, yang entah sejak kapan sudah duduk di sisi ranjang.


"Hey..., kenapa diam, apa dada dan kepala kamu masih sakit? "


Ulang Panji memegang pipi Sky, membuat Sky tersentak akan sentuhan tangan dingin Panji.


"Aku... aku tidak apa-apa,"


Ucap Sky gugup akan perlakuan manis Panji yang tiba-tiba. Panji menghela nafas lega mendengar jawaban Sky.


"Yasudah, mau aku antar ke kamar mandi, sebentar lagi akan adzan, "


"Tidak! "


Jawab Sky cepat dengan mata yang berusaha melihat obyek lain, rasanya pipi Sky memanas melihat pemandangan di depannya.


"Kenapa? biar ak.. "


"Tidak! aku bisa sendiri...,"


Potong Sky cepat sambil turun dari ranjang dan berlari kearah kamar mandi.


Panji mengerutkan keningnya bingung melihat tingkah aneh Sky, seketika bibir Panji tersenyum mendengar teriakan Sky yang membuat Panji langsung mengerti.


"Mas..., jangan lupa pakai bajunya ...,"


"Dasar..., "


Panji dengan cepat langsung memakai baju koko dan sarung tidak lupa memakai peci.


Entah kenapa ada kehangatan di hati Panji, melihat tingkah Sky yang gugup, biasanya gadis itu akan bersikap dingin dan cuek.


Suara klakson mobil membuyarkan lamunan Panji, membuat Panji berjalan menuju balkon melihat mobil siapa yang masuk ke halaman rumahnya.


Panji menyerngit bingung karena tidak mengenali mobil yang masuk ke kediamannya. Karena penasaran Panji masuk kembali guna melihat siapa yang datang.


"Mas, "


Deg...


Panji mematung mendengar suara panggilan itu, panggilan yang begitu Panji sukai walau Panji jarang mendengarnya. Panji seakan mimpi Sky memanggil panggilan itu ketika mereka berdua, biasanya Sky selalu memanggil panggilan itu jika di hadapan keluarganya atau orang lain.


"Mas..., "


"Iya, "


Sahut Panji cepat ketika Sky memanggilnya lagi, Panji melupakan tentang mobil tadi dan berjalan kearah kamar mandi dimana Sky memanggil.


"Ada apa? "


Tanya Panji kewatir berdiri di depan pintu kamar mandi.

__ADS_1


"Boleh minta tolong..., "


"Iya..., "


"Tolong ambilkan handuk Sky?"


"Ah..., tunggu sebentar"


Gugup Panji mendengar nada bicara Sky yang berbeda apalagi menyebutkan namanya sendiri tidak dengan kata 'Aku'.


Dengan cepat Panji mengambil handuk Sky yang tergantung di tempat gantungan handuk dan kembali berdiri di depan kamar mandi.


"Ini handuknya, "


"Sebentar, "


Cklek....


Sky perlahan memutar knop pintu,tangannya muncul setengah seakan mengisyaratkan meminta handuknya. Panji langsung menyerahkan handuk itu ke tangan Sky, dengan cepat Sky langsung menarik kembali tangannya.


"Terimakasih, Mas, "


Ucap Sky tulus sambil menutup kembali pintu kamar mandi, dengan cepat Sky membelitkan handuknya dan


Deg...


Sky tertegun melihat Panji masih ada di depan pintu kamar mandi, dengan pakaian rapihnya membuat Panji semakin gagah dengan baju koko yang dia kenakan.


Wajah tampannya terlihat damai tidak terlalu kaku seperti biasanya. Begitupun Panji yang tertegun melihat pemandangan di depannya, walaupun Sky sering memakai handuk di hadapan Panji tetapi Panji berusaha cuek, tapi kali ini rasanya berbeda.


Panji melihat jelas wajah cantik sang istri dimana rambut basanya di sanggul ke atas memperlihatkan leher mulusnya, hingga mata Panji turun


"Mas, tutup matanya! "


Pekik Sky sambil merentangkan tangannya menghalangi mata sang suami, membuat Panji seketika terdiam dan spontan menutup matanya.


Deg...


Tubuh Sky menegang tetkala Panji memegang tangannya, dan menurunkan tangan Sky.


Mata Panji terbuka tepat menatap kedalam bola mata Sky yang terlihat berbeda.


Sekarang aku yakin dengan hatiku...


Batin Panji sambil menarik tangan Sky, membuat tubuh Sky merapat.


"Maaf, atas semua sikap ku. Maukah kamu memberikan suamimu kesempatan kedua! "


"Jangankan kesempatan kedua, setiap hari Sky selalu memberi kesempatan pada, Mas."


"Terimakasih banyak, dan maafkan suami bodohmu ini, "


"Baru sadar! "

__ADS_1


He.. he...


Bersambung....


__ADS_2