
Terlihat jelas raut wajah cemas di wajah Andre yang dari tadi sudah tidak sabar untuk sampai di mesion. Bibirnya terus berdoa semoga tidak terjadi apa-apa pada anak-anaknya.
"Tenanglah Paman! "
Andre berusaha tersenyum mendengar suara lembut gadis yang ada disampingnya.
"Semua akan baik-baik saja! "
Ucap Sky meyakinkah membuat paman Andre lagi-lagi tersenyum tak membalas ucapan Sky, gadis yang menolongnya.
Hingga tiga mobol Feripari berhenti didepan mesion yang cukup besar dibanding mesion Sky yang ada di Turki.
Sky membantu paman Andre keluar dari mobil menggunakan tongkat.
"Terimakasih, Nak. "
Ucap tulus paman Andre membuat Sky tersenyum tipis.
Jam 15:30 paman Andre sampai di Bandara dan meminta Sky langsung pergi kerumahnya.
Dan sekarang paman Andre sudah berdiri didepan mesionnya yang hampir setahun dia tinggalkan.
Cklek...
Bi Marni membuka pintu karna penasaran ada tiga mobil terparkir di depan mesion majikannya. Alangkah terkejutnya bi Marni melihat siapa yang datang.
"Tu.. tuan.. "
Lilir bi Marni gemetar seakan tak percaya dengan apa yang dia lihat, ada rasa senang dan sedih melihat kedatangan Tuan besarnya.
"Apa kabar Bibi, apa Sky dan Kayla ada dirumah ? "
Deg...
Bi Marni tersadar dalam lamunannya ternyata memang benar tuan besarnya sudah kembali itu bukan hantu! .
"An.. anu..anu Tu.. tuan.. "
"Ada apa Bi, cepat katakan! "
Ucap Andre panik takut apa yang selama ini dia takutkan terjadi.
"Den Pan.. panji menyiksa nona Kayla. "
Jderr..
Bagai disambar petir disiang bolong membuat Andre mundur kebelakang,dengan sigap Sky langsung menahannya agar tidak terjatuh.
"Diman Bi! "
"Gudang! "
__ADS_1
Entah ada kekuatan dari mana Andre berjalan cepat masuk kedalam, Sky mengikutinya dari belakang karna cemas terjadi sesuatu.
Sedangkan beberapa bodyguard berjaga di luar dan sisanya masuk kedalam mengikuti Sky.
Dada Andre turun naik menahan sesak takut terjadi apa-apa pada anak-anaknya. Andre tak memperdulikan kaki kanannya yang sakit saat ini tujuannya hanya anak-anaknya.
Seketika tupil Andre melebar melihat pemandangan didepan matanya begitupun Sky. Mata Andre sudah berkaca-kaca dengan tangan mencengkram erat tongkatnya.
"Sky, apa yang kau lakukan! "
Duarr...
Dunia seakan berhenti berputar mendengar suara yang begitu Panji rindukan. Seketika Panji melepaskan cekikannya sambil mundur beberapa langkah.
Tangannya bergetar dengan Kayla langsung ambruk kelantai, tak henti-hentinya Kayla berbatuk lalu menghirup udara sebanyak-banyaknya. Kayla pikir dia akan mati hari ini juga ditangan Panji,tapi nyatanya Allah menyelamatkannya.
Kedua mata Panji sudah berkaca-kaca melihat sang Papah ada didepan matanya, rasa bahagia menyelimuti hati Panji berjalan menghampiri sang Papah.
Deg...
Hati Panji tercubit ketika sang Papah malah melewatinya. Andre berjongkok dengan bulir bening yang terjatuh membasahi kedua pipinya.
Tangan Andre terulur gemetar memegang wajah Kayla yang pucat dengan bibir mulai membiru.
Mata itu kenapa Andre baru menyadarinya! kalau mata itu sama persis seperti mata sang istri.
Kayla menatap sendu laki-laki paru baya dihadapannya dengan penyesalan yang begitu besar.
Jderr...
Panji langsung terjatuh tak bisa menahan berat tubuhnya mendengar ucapan yang sang Papah katakan. Dadanya begitu sesak mendengar nama sang adik yang sudah lima belas tahun meninggal akibat sebuah kecelakaan.
"Laila Anggraeni Al-fatih,kau putriku... putriku.... Maafkan Papah, Nak. Maaf Papah terlambat hiks.. hiks.. "
Ucap Andre gemetar sambil menarik Kayla kedalam pelukannya. Andre memeluk erat putri kecilnya yang dia anggap meninggal waktu kecelakaan itu! .
Kayla hanya diam dengan apa yang diucapkan Papah angkatnya, mendengar Papah Andre memanggilnya Laila ! nama itu seperti tidak asing ditelinga Kayla. Penglihatan Kayla mulai kabur dengan denyutan hebat dikepalanya, perlahan mata Kayla mulai terpejam dengan suara panggilan seorang ibu.
*Laila sayang jangan lari, Nak. Nanti kamu jatuh.
Laila...
Laila sini sayang Mamah punya kejutan lo..
Tadaa... kita akan liburan kesini*..
"Nak,bangun ..Lailaa..sayang..hey... Lailaa... "
Pekik Andre terkejut melihat Kayla menutup kedua matanya.
"Laila bangun sayang jangan tinggalkan Papah Lailaa... "
__ADS_1
"Sky..cepat bawa adikmu, Sky... "
Bentak Andre menyala menatap tajam sang putra. Sedangkan Panji yang dipanggil tak bergeming sama sekali, jiwa Panji seakan melayang entah kemana.
Sky yang dari tadi terdiam melihat drama keluarga Al-fatih terkejut, ternyata Laila yang paman Andre maksud adalah Kayla Kania Al-fatih anak yang mereka besarkan sendiri yang mereka anggap anak adopsi.
Dengan sebuah isyarat bodyguard Sky maju langsung membawa Kayla diikuti Andre dari belakang dengan kaki yang tertatih, Andre melangkah begitu saja seakan lupa kalau ada anaknya yang lain. Dalam pikiran Andre, Andre hanya tertuju pada Kayla. Takut terjadi sesuatu pada sang putri, maka Andre orang pertama yang harus disalahkan.
Langkah kaki Sky tertahan saat menyadari Panji tak bergeming. Panji seakan mati ditempat tak bergerak sama sekali.
Panji benar-benar sok dengan apa yang terjadi hingga rasanya tubuhnya sulit digerakan bahkan mulutnya juga terkunci rapat seolah bisu.
Puk.. puk...
Dua tepukan keras di punggung cukup menyadarkan lamunan Panji ,membuat Panji langsung menatap orang yang ada dihadapannya dengan tatapan bingung.
"Ayo.. "
Ucap Sky sambil menarik tangan besar Panji membuat Panji langsung berdiri. Panji seakan terhipnotis oleh gadis yang menarik tangannya.
Bibir Panji masih tertutup rapat tenggorokannya seakan tercekik terus mengikuti langkah kaki Sky.
"Masuklah.. "
Hingga sampai Sky menyuruh Panji masuk, Panji masih tak buka suara. Panji menurut saja masuk kedalam mobil hingga mobil feripari hitam melaju mengikuti dua mobil yang lain.
Tak henti-hentinya Sky menelepon sang abang tapi tak kunjung diangkat membuat Sky mendengus kesal. Tak biasanya sang Abang mengabaikan teleponnya bahkan pesanpun tak satupun ada yang dibalas.
Dengan kesal Sky memasukan ponselnya kedalam tas kecil yang selalu ia bawa kemanapun pergi.
Sky hanya mengabari kedua orang tuanya lewat pesan kalau dirinya sudah mendarat.
Sky sesekali melirik kearah samping dimana ada Panji yang duduk dengan tatapan kosongnya menatap kedepan, membuat Sky menyerngit heran. Dari tadi Panji tak bergeming sama sekali.
"Hidup itu tempat ujian, jangan penah menyalahkan Takdir. Allah tidak pernah dzolim pada hamba-hambanya dia maha pengasih maha penyayang terkadang kita yang salah mengartikan takdir itu. Percayalah semua akan baik-baik saja! "
Ucap Sky tampa melihat lawan bicaranya, tidak ada kelembutan dalam suara itu, tapi kata yang diucapkan Sky mampuh membuat dunia Panji kembali.
Sky bukan orang yang lembut berkata tapi setiap perkataannya mampuh melembutkan yang keras mencairkan yang beku.
"Berpikirlah sebelum bertindak, jangan jadikan kebodohan nafsu membelenggu jiwamu yang sedang rapuh, jika kau cukup pintar! ."
Lagi-lagi kata-kata pedas Sky menjadi belati merobek hatinya sangat sakit dan perih. Panji terus saja bungkam seakan tak bisa membalas apa yang keluar dari bibir merah ceri itu.
Hingga mobil yang membawa Sky dan Panji sudah sampai di parkiran rumah sakit.
"Terimakasih.. "
Sky melongo melihat kepergian Panji yang sudah berlari masuk kedalam meninggalkannya. Di sepanjang jalan laki-laki itu terus diam, sekan jadi patung membiarkan aku bicara sendiri dan sekarang dia meninggalkanku, dengan ucapan Terimakasih!.
Monolog Sky kesal, tapi ada senyuman tipis yang menghiasi bibir seksi itu, melangkah masuk kedalam.
__ADS_1
Bersambung...