AMARAH CINTA (Bukan Salah Tuhan)

AMARAH CINTA (Bukan Salah Tuhan)
Bab 108 Lamaran


__ADS_3

Eksekusi pidana hukum mati Bimo sudah satu minggu berlalu, Semua seakan sudah berlalu di ingatan Panji dan nampaknya suasana nampak damai.


Sudah tidak ada lagi rasa sakit seiring kepergian kedua orang tuanya dan Amira, Panji sudah bisa menerima dan mengikhlaskannya. Apalagi Sky berperan besar menyembuhkan luka yang terasa meremas hati Panji.


Biarlah luka itu tersimpan rapat-rapat di memorinya, dan menjadi sebuah pelajaran yang begitu berharga. Bahwa, sesuatu yang terjadi tidak luput dari skenario Tuhan.


Jangan jadikan masalah membuat kita jauh dari sang pencipta, tetapi mendekatlah agar urusan kita di mudahkan.


Keadaan rumah tangga merekapun semakin banyak perubahan, dimana Panji selalu posesif pada Sky, bahkan Sky tidak boleh terlalu lama memeluk abang dan Baba nya sendiri. Rasa kehilangan sudah cukup bagi Panji membuatnya takut, takut akan kepergian yang kedua kalinya. Apa lagi Panji tahu kalau sang istri mempunyai trauma membuat Panji benar-benar mengantar Sky kemanapun dirinya pergi.


Sikap Panji yang posesif justru membuat Fatih jengkel karena tidak bisa bermanja-manja dengan sang adik, lain halnya Baba Aiman dan Ummah Ais yang nampak bahagia karena Panji mulai memperlihatkan rasa sukanya walau baba Aiman dan ummah Ais tahu kalau Panji tidak mengungkapkan apa-apa, tetapi tindakan Panji cukup membuat hati baba Aiman dan ummah Ais tenang jika meninggalkan sang putri hidup di negara kelahiran ummah Ais.


Sedangkan Sky yang memang mempunyai sikap cuek dan dingin merasa lucu melihat tingkah suaminya, menurut Sky sang suami begitu konyol jika melarang dirinya jangan terlalu dekat dengan abangnya sendiri.


Tetapi ada rasa bahagia di balik itu semua, mungkin Sky tidak terlalu bisa berkata lembut sebagai bentuk perhatian, tapi tingkah Sky cukup membuktikan bahwa dirinya benar-benar bahagia.


Kata manis memang sedikit membuat Sky geli, tetapi Sky menyukainya. Sky baru tahu satu persatu sikap sang suami, walau cuek di luar ternyata jika pada dirinya sang suami begitu perhatian, membuat Sky merasa benar-benar di cintai, walau Sky belum mendengar ungkapan itu dari mulut sang suami.


Jika hubungan Sky dan Panji mulai membaik tetapi tidak dengan Laila, Laila terus saja menolak Akbar yang ingin melamarnya, bahkan Laila mengancam Akbar jika dia berani maka Laila akan pergi jauh darinya.


Penolakan Laila berkali-laki sungguh membuat hati Akbar hancur, harapan yang dia bangun seakan terus di runtuhkan.


Akbar faham dengan penolakan Laila tetapi sudah Akbar katakan, dia akan menerima Laila seutuhnya.


Panji yang melihat sang adik menolak Akbar hanya menghela nafas berar, Panji sudah menyakinkan sang adik bahwa Akbar tidak sama seperti laki-laki lain. Begitupun Sky berusaha memberi pengertian tetapi adik ifarnya begitu sangat keras kepala tidak mau mendengar nasihatnya.


Om Andi dan tante Ani hanya bisa mengelus punggung putranya yang untuk ketiga kalinya di tolak, sedangkan Aini hanya diam karena memang tidak terlalu mengerti tentang urusan orang dewasa yang Aini tahu, dia belajar dan berlatih bela diri urusan hati Aini tidak tahu karena memang gadis imut itu sangat tomboy persis seperti tante Ani ketika muda.


Akbar menundukan kepala tidak sanggup jika harus memandang wajah Laila, hatinya sangat sakit untuk kesekian kalinya di tolak.


Tante Ani yang melihat putranya hancur sangat sakit, seorang ibu akan melakukan apapun demi putranya, walau tante Ani tahu, Laila tidak sempurna tetapi karena ketidak sempurnaan itu tante Ani menerima sepenuhnya Laila menjadi menantunya. Karena bagi tante Ani, sebuah pernikahan tidak di ukur oleh kesempurnaan tetapi pada niat hati kita, apa kita menikah karena nafsu atau karena Allah semata-mata ingin mendapat ridhonya.


"Sayang, bisa tante bicara?"


Dari sekian lama terdiam dengan pikiran masing-masing membuat suasana hening kini tante Ani bersua.

__ADS_1


Laila menatap wanita paruh baya di hadapannya yang tersenyum tidak memperlihatkan kekecewaan sama sekali pada dirinya. Membuat Laila justru merasa sangat bersalah.


"Boleh, tante? "


Laila mengikuti langkah kaki tante Ani yang menuju kearah taman belakang, dimana banyak sekali bermacam tumbuhan bungan yang Sky tanam.


Dengan ragu Laila duduk di di samping tante Ani yang menatapnya lembut penuh kasih seorang ibu pada putrinya.


Tante Ani memegang lembut tangan Laila dengan senyum yang sendari tadi tidak pernah luntur.


"Apa Laila merasa kotor dan hina?"


Laila hanya mengangguk saja, dengan bibir bergetar tidak sanggup jika harus di paksa mengingat.


"Bolehkah tante, membersihkan kotoran itu? "


"Tante! "


Ucap Laila bergetar, terkejut dengan apa yang tante Ani katakan sungguh di luar dugaannya.


"Katanya kotor, tante cuma bertanya bolehkah tante membersihkannya? "


"Ba.. Bagaimana cara tante membersihkannya hiks..., sedang jejak itu tak bisa hilang di tubuh dan pikiran Laila, "


Tante Ani menarik Laila dalam pelukannya, sambil mengusap-usap punggung Laila yang bergetar, sungguh Laila benar-benar tidak bisa, bayangan itu selalu menghantui di setiap tidurnya membuat Laila takut dan takut nanti malah menyakiti Akbar.


"Bisa! "


Ucap Tante Ani ketika mengendorkan pelukannya dan mengusap air mata yang keluar dari pelupuk netra sendu Laila.


"Jawab tante jujur, apa Laila juga mencintai putra tante?"


Deg...


Laila terhenyak mendengar pertanyaan yang sungguh di luar dugaannya, lidah Laila kelu, sulit untuk menjawab. Laila sendiri bingung dengan perasaannya, Laila hanya nyaman dan tenang jika berada di dekat Akbar kalau masalah cinta, Laila tidak tahu.

__ADS_1


"La.. Laila tidak tahu! "


Tante Ani tersenyum mendengar jawaban Laila yang begitu ragu, terlihat jelas dari nada bicaranya yang gugup.


"Jika Laila ingin menghilangkan jejak itu dari tubuh dan pikiran Laila, hanya ada satu cara? "


"Apa? "


"Izinkan putra tante masuk kedalam pikiran dan tubuh kamu, biarkan dia menghapus jejaknya, hingga jejak buruk itu tidak akan ada lagi di tubuh dan pikiran Laila, karena pikiran Laila sudah penuh dengan Akbar. Biarkan Akbar memenuhi hati dan pikiran Laila hingga tidak ada celah Laila memikirkan orang lain selain putra Tante."


Laila benar-benar bungkam mendengar ucapan tante Ani, Laila seakan terjebak dengan kata-kata nya sendiri, apa dengan cara itu bisa, pikir Laila bingbang


Tante Ani terus tersenyum melihat keterdiaman Laila sampai tante Ani mengajak Laila masuk kedalam dimana semua orang sendari tadi menunggu.


Laila duduk kembali di antara Panji dan Sky, Laila menatap sang kakak dan kakak ifarnya bergantian lalu matanya tertuju pada Akbar yang menundukan kepalanya, hingga mata Laila bersitatap kembali dengan mata teduh tante Ani yang tersenyum padanya.


Laila menatap om Andi begitu lekat, entah apa yang Laila cari dari tatapan itu hingga matanya berlarih pada gadis beranjak dewasa yang acuh dengan wajah datarnya.


"Aini? "


"Iya, kak? "


Panggil Laila pada gadis yang sendari tadi diam, dari awal masuk sampai sekarang. Laila tersenyum tipis mendengar jawaban cukup lembut tapi santai.


"Apa, Aini menerima kakak sebagai kakak Aini? "


"Hah.., ayah, ... kenapa jadi Aini yang di tanya!"


Rengek Aini bingung, wajah datar itu berubah jadi menggemaskan ketika meminta penjelasan pada sang ayah yang duduk di sampingnya. Begitupun semua orang bingung dengan pertanyaan Laila tetapi tidak dengan tante Ani dan Sky yang langsung faham kemana arah bicara Laila.


Awalnya aku takut Aini tidak menyukai keputusan Akbar melamarku, karena tampangnya yang datar seperti tidak menyukaiku. Tetapi melihat Aini merengek aku tidak takut lagi ketika aku masuk dalam hidup Akbar Aini tidak akan mengolokku. Karena yang paling menyakitkan hati ketika keluarga kita sendiri menjatuhkan bukan bukan orang lain.


"Laila menerima lamaran ini!"


Duarrr....

__ADS_1


Bersambung....


Kayanya beberapa bab lagi tamat nih he.. he...


__ADS_2