
Tak henti-hentinya Panji menyiksa Kayla tampa belas kasih membuat bi Marni merasa kasihan pada nona Mudanya. Bi Marni tidak tau apa permasalahannya sehingga membuat Panji menjelma menjadi sosok yang mengerikan.
Kayla hanya bisa pasrah dengan siksaan itu,bahkan tubuh Kayla sudah kering tak berdaya.
Kenapa harus kamu dek, bukan orang lain! dulu kamu adalah orang yang begitu berarti bagi Kakak, tapi sekarang kenapa kau malah memupuk kebencian dihati kakak ! apa kasih sayang Mamah tidak cukup hingga kamu harus membunuhnya dan se.. sekarang kau menghianati kakak. Dan kenapa kamu juga tidak jujur tentang keberadaan Papah, mungkin kakak tidak sekejam ini! .
Ha.. ha.. apa aku masih pantas menganggap kamu adikku dengan apa yang sudah kamu perbuat! dan masih pantaskah kau ku anggap adik sedangkan kamu adalah adik dari orang yang menculik Papah!
Kenapa kau hancurkan hati ini Tuhan, belum cukupkah engkau ambil Mamah dan calon istriku! kenapa kau tolerkan lagi luka baru dengan penghianatan ini hiks.. hiks..
Panji terus saja mengutuk takdirnya yang sangat menyedihkan. Kadang tertawa, kadang menangis dan kadang terdiam dengan pikirannya sendiri. Keadaan Panji begitu memperihatinkan, baru saja Panji bisa mengikhlaskan kepergian sang Mamah, tapi rasa sakit itu kembali datang menghantam jiwanya.
Sakit, marah, sedih dan kecewa bercampur jadi satu menggerogoti hati Panji. Membuat Panji hilang kendali. Bahkan Raflipun tidak bisa mencegah apa yang Panji lakukan, karna Panji sudah dibutakan dengan rasa sakit.
Haruskah aku membunuh penghianat itu, tidak.. tidak... Gadis itu harus merasakan sakit seperti apa yang Mamah rasakan, batin Panji sakit.
Panji menatap sendu poto sang Mamah yang sedang tersenyum. Semenjak kepergian sang Mamah rasanya hidup Panji gelap kembali, tak ada ketenangan dan ketentraman lagi dihatinya semuanya sudah tertutup dengan rasa sakit dan benci.
"Lihatlah Mah, orang yang Mamah sayangi ternyata orang yang tega membunuh Mamah. Apa salah Mamah hingga Kayla sekejam itu! "
Lilir Panji gemetar mengingat kematian sang Mamah yang teragis.
Tidak ada lagi kelembutan dalam sosok Panji,yang ada hanyalah dendam.
Padahal jauh di dalam lubuk hati Panji, ada rasa kasihan pada Kayla apalagi ketika melihat matanya yang selalu menatapnya sendu sekan dejavu bagi Panji.
Tapi rasa itu melangahkan ego yang sudah membelenggu Panji hingga Panji menjadi orang yang sangat kejam.
Yang Panji harapkan saat ini hanya kabar dari sang Papah. Apa papahnya masih hidup atau tidak! Panji tidak tau.
Padahal Panji sudah mengerahkan kekuatannya untuk mencari sang Papah, tapi sampai sekarang sang Papah belum ditemukan.
Mengingat itu membuat Panji menggeram marah, siapa orang dibalik dalang semuanya. Panji yakin Kayla melakukan itu pasti ada alasannya! begitupun Smit.
__ADS_1
Berarti lawan Panji kali ini benar-benar sangat berbahaya.
Tapi bukan Panji namanya kalau dirinya tidak bisa menemukan Bos dalang dibalik semaunya.
"Cari dimana keberadaan Smit, bawa dia gudang! "
Sudah menyuruh anak buahnya Panji langsung mematikan kembali teleponnya. Banyak panggilan dan pesan masuk dari Rafli membuat Panji menghela nafas pelan guna menenangkan amarahnya.
Kemudian Panji menelepon balik sang sahabat.
"Apa yang kau lakukan Panji, sudah tiga hari kau tidak masuk kantor. Begitu banyak masalah dan kau, hanya sibuk dengan amarah tak jelasmu itu.. "
Gigi Panji menggeruk menahan kesal karna sang sahabat mengomelinya, bahkan Rafli bilang kalau Panji marah dengan alasan tidak jelas! sialan.
" Apa kau bilang, alasan tidak jelas hah, Kayla menghianatiku. "
Bentak Panji tidak terima, Rafli berusaha mengontrol emosinya supaya tidak terpancing.
Panji hanya diam mendengar apa yang diucapkan Rafli, ada rasa bersalah dihatinya sudah terlalu banyak membebankan Rafli.
Lagi-lagi Rafli menghela nafas pelan, merasa Panji hanya diam saja. Bukannya Rafli tidak bisa menghendel semuanya, hanya saja Rafli sudah berjanji pada sang istri dirinya tidak akan pulang larut malam lagi.
Jika keadaannya begitu Rafli hanya bisa pasrah mendapat amarah istri kecilnya.
"Ingat! jangan sampai masalah ini membuat kamu lemah, ada banyak bahaya besar yang akan terjadi jika kau sedikitpun lengah. Jangan biarkan orang itu tertawa diatas penderitaan kamu atau mungkin itu yang diinginkan mereka! "
Lagi-lagi Panji terdiam, ucapan Rafli bak panah tepat sasaran menancap di dadanya. Tampa Panji sadari Panji langsung memutuskan panggilannya secara sepihak membuat Rafli benar-benar mengdengus sebal.
"Punya sahabat selalu saja menyusahkan"
Grutu Rafli sambil melihat layar ponselnya, ingin sekali Rafli mencekik sahabatnya.
Rafli tau masalah yang dihadapi Panji bukan masalah sepele, hingga mampuh mengubah kehidupan Panji kembali. Rafli hanya tidak ingin Panji kembali seperti dulu lagi dimana mereka jauh dari Allah.
__ADS_1
Tapi itulah takdir menjungkir balikan sesuatu yang tidak dilandasi dengan Iman. Halnya apa yang terjadi pada Panji, kembali kepada Panji yang kejam dan dingin.
Semenjak bertemu dengan Amira Mahardika hidup Panji berubah, dan lihatlah kepergian Amira juga mampuh mengubah hidup Panji kembali.
Dimana Panji yang selalu lembut ,penurut dan penyayang yang selalu Panji tunjukan pada sang Mamah.
Sang Mamah hanya tau putranya adalah laki-laki yang sempurna tampa kecacatan tapi lihatlah peredator itu menunjukan taringnya ketika sang Mamah dan Amira pergi.
Panji seakan hilang kendali lagi, biasanya sang Mamah yang selalu menasehati dan mengingatkan Panji, hingga Panji menjadi sosok lembut.
Tapi sekarang ! Rafli hanya bisa menghela nafas. Berusaha bersabar menghadapi sikap sang sahabat.
"Dimana kamu Om, cepatlah kembali hanya om satu-satunya harapan yang bisa mencegah, apa yang akan Panji lakukan ! "
Gumam Rafli sambil memejamkan kedua matanya.
Sedangkan Panji hanya bisa menangis dan menangis meratapi nasibnya. Seolah dirinyalah yang paling hancur di dunia ini.
Dendan, kekecewaan dan amarah terus membelenggu hati Panji, seakan Panji sulit untuk mengendalikannya.
Ada sisi lain didiri Panji yang terus memberontak tapi Panji sulit untuk mengendalikannya sendiri.
Hatinya berkata Jangan, tapi bibirnya berkata Balas.
"Ah... ah... kenapa Tuhan.. ah... "
Buk..
Jerit Panji meninju dingding kamarnya, bi Marni yang mendengar jeritan den Panji hanya bisa mengelus dadanya sambil beristigfar.
Semenjak Panji menyiksa Kayla tidak memberinya makan Panji juga menyiksa dirinya sendiri, tak pernah sedikitpun Panji makan makanan yang bi Marni masak.
Bi Marni hanya bisa berdoa semoga permasalahan keluarga Al-fatih cepat selesai.
__ADS_1