AMARAH CINTA (Bukan Salah Tuhan)

AMARAH CINTA (Bukan Salah Tuhan)
Bab 18 Kerapuhan Panji


__ADS_3

Plak....


Satu tamparan mendarat di pipi mulus seorang gadis cantik, hingga membuat gadis itu tersungkur. Bahkan suara tamparan itu begitu menggema di sebuah ruangan.


"Apa saja yang kau lakukan hah. Kenapa sampai sekarang kau belum bisa mengambil hatinya.. "


"Hiks.. ma.. maafka. aku ayah, tapi dia sulit sekali di dekati.. "


"Alah alasan saja, ingat! ayah tidak mau tau kamu harus bisa menjebaknya supaya dia secepatnya menyerahkan semuanya padamu.. "


"Ayah aku mohon beri aku waktu lagi, kalau terlalu buru-buru aku takut dia curiga.. "


Ucap gadis itu memelas membuat orang yang dipanggil Ayah terdiam seakan dia membenarkan apa yang diucapkan putrinya.


"Baiklah tapi kamu harus ingat jangan sampai gagal kalau tidak semuanya bisa hancur. Ingat! keluarga Al-fatih yang sudah membuat kita menderita, mereka juga sudah membunuh kakak dan mamahmu. Mereka semua harus merasakan sakit seperti rasa sakit yang Ayah dan kamu rasakan.. "


"Iya Ayah, mereka harus hancur.. "


"Ha.. ha... Benar, mereka harus hancur. Sekarang kamu boleh pergi.. "


Gadis itu hanya mengangguk patuh sebelum pergi gadis itu memeluk sang Ayah terlebih dahulu karna sangat rindu sudah lama tidak bertemu.


"Dasar gadis bodoh! awas saja kalau kau tidak berhasil.. "


Gumam sang Ayah menatap kepergiaan gadis itu dengan senyum seringai.


...---...


Sedangkan Panji dan Rafli kembali kekantor untuk mengerjakan berkas-berkas yang tadi tertunda.


Kedua mata Panji terus pokus menatap layar besar yang ada dihadapannya, bahkan Panji melewatkan makan siangnya.Panji seakan tidak peduli dengan keadaan dirinya dan kesehatannya, pikiran Panji hanya untuk Perusahaan dan mencari keberadaan sang Papah, tidak ada yang Panji pikirkan selain itu.


Bagi Panji sang Papah satu-satunya harapan Panji bisa bangkit kembali, Panji bersumpah tidak akan pernah memaafkan siapa saja orang yang sudah berani menyakiti keluarganya.Cukup sang Mamah dan calon istrinya menjadi korban Panji tidak mau sang Papah juga sama seperti sang Mamah.


Cklek....


Suara pintu terbuka tapi tidak membuat Panji teralihkan kedua matanya tetap pokus pada layar dan berkas-berkas dihadapannya, karna Panji yakin Rafli yang masuk keruangannya.


"Kak... "


Deg...


Panji terkejut mendapati sang adik yang masuk keruangannya, Panji pikir itu Rafli ternyata adik kesayangannya.


"Ada apa,Dek ? "


Tanya Panji kembali pokus pada layar dihadapannya.


"Ini sudah malam,Kakak harus jaga kesehatan. Tunda dulu pekerjaannya! "


Ucap Kayla lembut sambil duduk di kursi yang ada dihadapan Panji. Panji hanya memejamkan kedua matanya sebentar kemudiaan dibuka kembali sambil tersenyum.


"Sebentar lagi selesai ko, terus kenapa Adek belum pulang, adek pulang duluan saja! "


Ucap Panji lembut menatap sang adik penuh sayang,Panji sedikit melihat ada yang berbeda pada sang adik .

__ADS_1


"Kayla nungguin kakak saja, atau mau Kayla buatkan kopi "


"Tidak usah, Dek. Lebih baik kamu pulang dulu.. "


"Yasudah, jangan malam-malam pulang nya kak.. "


Ucap Kayla sambil mencium punggung tangan sang Kakak.


Cup...


"Dadah kakak.. "


Setelah memberi kecupan di pipi Kayla langsung pergi.


"Tunggu! "


Seketika Kayla menghentikan langkahnya lalu berbalik menatap sang Kakak.


"Kenapa dengan pipi Adek? "


Deg...


Kayla terkejut mendengar pertanyaan sang Kakak membuat Kayla sedikit gugup.


"Ti.. tidak apa-apa kak, in.. ini cuma bekas Tinta. tadi Kayla melukis tapi agak sulit di basuh jadi Kayla agak kasar menggosoknya.. "


"Lain kali hati-hati,yasudah hati-hati dijalan.. "


Kayla hanya mengangguk dan melanjutkan langkahnya lagi meninggalkan ruangan sang kakak.


Hingga lamunan Panji buyar mendengar suara ponselnya berdering dengan cepat Panji langsung mengambil ponselnya.


"Iya ada apa! "


Ucap dingin Panji membuat seseorang diserbang sana sedikit gugup.


"Maaf Tuan, plat mobil yang mereka gunakan semuanya setingan. ".


"Apa! "


Pekik Panji sambil meremas ponselnya kencang hingga urat-urat tangannya menonjol. Bahkan mata Panji sudah memerah menahan amarah.


Sedangkan orang yang diserbang telepon langsung terkejut dengan bentakan sang Tuan bahkan ponselnya langsung orang itu jauhkan dari telinganya.


Prang....


Panji membanting ponsel mahalnya hingga hancur ,nafas Panji memburu seakan menelan kesunyian malam.


Bahkan ruangan itu semakin mencengkam oleh aura yang Panji keluarkan.


"Brengsekkk.... ah... siapa sebenarnya kalian, hingga ingin membuatku hancur... "


Brakk...


Jerit Panji tak terkendali sambil membanting kursi yang tadi dia duduki. Bulir bening keluar dari pelupuk mata Panji sambil menjatuhkan tubuhnya kelantai.

__ADS_1


"Mah.. ap.. apa yang sebenarnya terjadi ! Siapa sebenarnya mereka! kenapa mereka ingin menghancurkan keluarga kita.. Mamah kenapa meninggalkan Sky, Sky disini kesepiaan hiks... "


"Kamu juga kenapa ikut meninggalkan aku Am.. amiraa.. Semuanya hancur. Aku juga belum bisa menemukan Papah.. kenapa kalian meninggalkan aku sendiri disini.. hiks... bisakah kalian membawaku pergi.. "


Lilir Panji dengan isak terdengar pilu memecah kesunyiaan malam.


"Semuanya salah Kau, kenapa kau mengambil mereka dari ku... sakit hiks... "


Jerit Panji menahan sesak dan perih kenapa semuanya jadi begitu !


Lihatlah Panji begitu cengeng meratapi nasib dirinya ! tidakkah Panji ingat kalau semaunya hanya ujian.


Halnya dulu Panji naik kelas setiap tahunnya harus dihadapkan dengan sebuah Ujian. Tapi kenapa sekarang dia terlihat rapuh! apa sebegitu menyakitkan untuk Panji.


"Apa yang sebenarnya mereka mau, jika memang harta silahkan aku dengan senang hati memberikannya pada mereka tapi aku mohon kembalikan Papah padaku hanya dia harapanku "


Gumam Panji yang masih terdengar isakan di bibirnya.


Seketika Panji tersenyum dengan tatapan kosong, perlahan Panji berdiri dan berusaha berjalan dengan sempoyongan keluar.


Dengan susah paya Panji menyeret kakinya tidak ada satupun orang yang melihatnya karna memang suasana kantor sudah sepi.


Dengan susah paya Panji berhasil sampai di basemen, seperti orang kelimpungan Panji mencari mobilnya.


Sudah dapat Panji langsung meninggalkan area kantor dengan kecepatan tinggi.


Malam yang sunyi menjadi saksi ketidak berdayaan Panji. Sampai Panji memberhentikan mobilnya tepat diarea pemakaman.


Sesekali Panji terjatuh dan bangkit kembali berusaha menuju makam sang Mamah dan Amira. Di gelapnya malam Panji terus menyeret kedua kakinya sampai Panji tepat berdiri dihadapan makam sang Mamah dan Amira.


"Mah... "


Lilir Panji gemetar langsung memeluk makam sang Mamah.


"Tak bisakah Mamah membawa Sky pergi... "


"Dada ini sakit Mah.. sakit... "


"Sa.. sayang... kenapa kamu juga tega meninggalkan aku, apa aku jahat hingga kamu meninggalkan aku tampa pamit sedikitpun, Jawab sayang jawabb.. "


"Kenapa kalian meninggalkanku Hah... "


"Sayang bu.. bukankah kita sudah berjanji akan membangun sebuah istana Khodijah,kamu ingin belajar seperti dirinya.. kembalilah kita bangun sama-sama ya... dan aku janji akan membahagiakanmu.. hiks... kenapa kau tak menjawab ku... Am.. Amira..apa kamu mendengarkan aku sa.. sayang... Tolong jangan diam jawab aku.. "


Teriak Panji bak orang gila mengelus-elus papan nisan yang terukir indah nama Amira Mahardika disana.


Kadang tertawa, kadang menangis dan kadang diam, Panji terus menatap nama sang kekasih dengan tatapan kosong seolah jiwanya entah kemana


.


**Bersambung....


Gimana seru gak???


Jangan lupa Like, Hadiah, Komentar, dan Vote ya

__ADS_1


Terimakasih**....


__ADS_2