
Panji yang dari tadi diam mendengarkan apa yang dokter Vina jelaskan pada Serra tidak berniat menyahut sama sekali.
Raut wajah Panji berubah-ubah mendengar perkataan dokter Vina, entah apa yang ada di pikiran Panji.
Sesekali Panji menyerngit melihat raut wajah panik, takut, dan cemas Serra ,entah apa yang sebenarnya terjadi membuat Panji penasaran.
Bagaimana bisa gadis dingin dan cuek mempunyai trauma ,dan sepertinya trauma itu bukan trauma biasa,pikir Panji.
Panji berjalan mendekati Serra ketika melihat dokter Vina pamit pulang.
"Trauma apa yang membuat Sky seperti itu ! "
Deg...
Serra terlonjat kaget mendengar suara Panji, Serra merutuki kebodohan nya kenapa tidak menyadari kalau masih ada Panji.
Bagaimana kalau kak Panji mendengarkan apa yang dokter Vina katakan,pikir Serra.
"Saya mendengar semua yang dokter Vina katakan, jadi bisa kamu jelaskan apa yang sebenarnya Terjadi pada Sky? "
Ucap Panji dingin sambil duduk di atas shopa,kini Panji dan Serra saling berhadapan. Serra terdiam karna bingung harus berkata apa, Panji bukan siapa-siapa mana berani Serra menceritakan apa yang terjadi pada Sky.
Tetapi melihat tatapan Panji yang tajam membuat Serra ciut, tapi Serra tetap memilih bungkam membuat Panji menghela nafas kasar.
"Katakan Serra, kamu tau siapa Saya.Jika kamu tidak katakan baiklah biar saya cari tau sendiri. "
Tekan Panji membuat Serra bertambah bingung karna tidak ada satupun orang yang tau apa yang terjadi pada Sky kecuali orang-orang terdekat yang memang melihat kejadian itu.
Dret...
Serra bernafas lega mendengar ponselnya berdering, karna bisa menghindar dari pertanyaan Panji.
"Ka.. kak Serra angkat telepon dulu.. "
"Hemmz.. "
Serra dengan cepat menjauh sambil mengatur nafasnya, mengangkat telepon dari kak Farhan.
"Assalamualaikum.. Kak.. "
"Waalaikumsalam.. maaf Nona saya suster, Kakak nona terjatuh dari tadi mencari nona. "
Deg...
Serra melotot mendengar apa yang suster ucapkan.
"Saya kesana sekarang Sus, tolong jaga kakak saya sebelum saya datang. "
"Ba. baik Nona.. "
Tut...
Pangilanpun terputus, sekarang Serra semakin di buat bingung dengan situasi yang ada dihadapannya.
Bagaimana mungkin Serra meninggalkan Sky dengan Panji Serra yakin kalau Sky bangun dia akan marah, tapi Serra juga harus kerumah sakit sang kakak membutuhkannya.
__ADS_1
Memikirkan itu membuat Serra dilema harus memutuskan apa, kalau memanggil para bodyguar pasti Fatih akan langsung terbang ke Indonesia dan Serra belum siap jika harus bertemu dengan Fatih yang pasti nantinya akan menagih jawaban karna sang kakak sudah ditemukan memikirkan itu membuat Serra semakin perustasi.
"Ayolah Serra cari solusinya... "
Monolog Serra pada dirinya sendiri, terus berpikir dan sialnya Serra tidak menemukan solusi sama sekali yang ada kepalanya semakin pusing.
"Lebih baik minta bantuan kak Panji, kak Panji pasti mau menjaga Sky.. "
Seloroh Serra seakan hanya itu solusi yang Serra punya sekarang dan tentunya Serra harus siap menanggung semuanya.
"K.. kak Panji boleh Serra meminta bantuan? "
Tanya Serra hati-hati ketika sudah duduk kembali di hadapan Panji.
"Hemmz.. "
"Serra mau kerumah sakit,bisa jaga Sky dulu sebentar. "
"Hey.. jangan gila mana mungkin saya berdua di rumah besar ini, saya tau bagaimana Sky.. "
" Tapi kak Serra harus segera kerumah sakit.."
Mohon Serra semakin bingung karna Panji menolaknya bahkan membentaknya.
"Baiklah tapi... jangan lama.. "
"Te.. terimakasih Kak.. "
Ucap Serra cepat seakan bisa bernafas lega langsung bergegas pergi meninggalkan Sky yang belum sadarkan diri.
Sesekali Panji tersenyum melihat photo keluarga Mahmued, tepatnya melihat photo kecil Sky dan Fatih dua kakak itu terlihat begitu saling menyayangi dan melindungi.
"Pantas saja orang pertama yang Sky panggil Fatih terlihat dari photo ini saja sudah terlihat begitu sayang nya Fatih pada Sky.. "
Monolog Panji ada sedikit rasa sedih dalam nada yang Panji ucapkan membuat Panji mengingat sang adik kembali.
Panji terus menelusuri sambil melihat photo dan kaligrafi yang menempel di dinding.
"Pantas saja Fatih dan Sky begitu memiliki aura kepemimpinan ternyata dari Papahnya.. "
Seloroh Panji ketika melihat photo baba Aiman yang sedang menerima beberapa penghargaan.
"Tunggu... sepertinya aku tidak asing dengan wajah ini.. "
Gumam Panji ketika matanya menangkap sebuah photo terakhir dimana gadis sekitar delapan atau sepuluh tahunan sedang tersenyum sambil memeluk sebuah buku berwarna pink dengan bocah laki-laki yang merangkul pundak gadis bocah itu mesra.
"Apa ini Sky dan Fatih yang sudah kanak-kanak,hemmz...ternyata iya jika di perhatikan seksama.. "
Monolog Panji membandingkan photo waktu balita dan kanak-kanak begitu mirip walau banyak sekali perubahannya.
Sudah bosan melihat-lihat satu ruangan hingga keruangan lain dan terakhir taman belakang yang begitu luas disana juga ada gazebo.
Panji memutuskan kembali ingin memeriksa apa Sky sudah sadar atau belum.
Perlahan Panji membuka pintu pelan karna takut mengganggu Sky, lalu berjalan tampa suara.
__ADS_1
Deg....
Panji tertegun melihat tidur Sky yang gelisah dengan keringat dingin membanjiri pelipis Sky.
Dengan cepat Panji mendekat dan menaruh punggung tangannya di atas kening Sky.
"Demam.. "
Gumam Panji pelan langsung berlari mencari air untuk mengompros Sky, dengan sangat hati-hati Panji menempelkan kain yang sudah di basahi keatas kening Sky berharap panas nya menurun.
"T.. tidak... ak.. aku bukan pem.. pembunuh... bu.. bukan... "
"Ab.. abang... bang... S.. sky bu.. bukan pem.. pembunuh... "
Lilir Sky terus bergumam sambil menggerakan kepalanya kekanan dan kekiri seakan meminta pertolongan.
Keringat dingin bercucuran dengan bibir Sky yang terus berlilir gemetar seakan bermimpi hal yang begitu menakutkan.
Panji yang melihat keadaan Sky menjadi bingung dan panik, karna tidak tau harus bagaimana bahkan Panji tidak berani memegang langsung wajah Sky untuk sekedar membangunkan supaya keluar dari mimpi buruknya.
"Bagaimana ini.. aku tidak tau harus berbuat apa.. "
Ucap Panji prustasi bingung harus melakukan apa, sudah di kompres tapi panasnya belum turun bahkan Sky terus mengigau seakan mimpi itu begitu buruk.
"Ma.. maaf jika aku lancang.. "
Gumam Panji langsung duduk di sisi Sky, Panji sudah tidak peduli jika Sky akan marah nantinya.
"Sky... hey bangun... Sky... bangun... "
Ucap Panji sambil menepuk-nepuk pelan pipi Sky, sekekali menguncang pundak Sky supaya bangun, karna itu yang bisa Panji lakukan supaya Sky bangun dari mimpi buruknya.
"Sky.. bangun... hey.. Sky... "
Ucap Panji semakin meninggi dan menepuk pipi Sky, yang seakan susah untuk bangun.
"Ah.... abangg,,,, "
Jerit Sky menarik tangan Panji dan memeluknya erat dengan nafas memburu, tubuhnya terguncang hebat bahkan tubuh Panji pun ikut tergunjang.
"Tenanglah.. jangan takut.. kamu bu.. bukan pem.. pembunuh... tenanglah.. "
"Hiks... bang.. ke.. kenapa Sky lemah.. hiks.. Sky takut.. mereka terus menyalahkan Sky.. "
Gumam Sky gemetar terus memeluk erat tubuh Panji, Sky belum sadar siapa yang dia peluk Sky hanya tau kalau abangnya tidak akan membiarkan dirinya ketakutan.
"Tenanglah... jangan takut.. "
Ucap Panji sambil mengelus punggung Sky mencoba memberi tenang.
"Sky,,,, "
Deg....
Bersambung...
__ADS_1