AMARAH CINTA (Bukan Salah Tuhan)

AMARAH CINTA (Bukan Salah Tuhan)
Bab 20 Dasar bodoh.


__ADS_3

Mentari nampak tersenyum diupuk timur, memancarkan sinarnya kesetiap penjuru bumi. Udara begitu sejuk menerpa kulit seseorang yang masih tak bergeming.


Semua orang sibuk dengan aktifitasnya masing-masing,menyambut pagi yang cerah.


Hingga mentari mulai naik semakin menghangatkan bumi,tapi tak membuat orang-orang lelah dengan aktifitasnya nya sendiri walau peluh terus membanjiri pelipis dan tubuhnya.


"Huh.. bagaimana apa kau sudah menemukan nya? "


"Belum Bos, ada dua kemungkinan! satu jika kita tidak menemukannya di daerah sini orang itu pasti masih hidup dan kedua mungkin juga orang itu sudah mati mengingat dua peluruh mengenai tubuhnya! "


Ucap salah satu pereman pada sang Bos, sedangkan sang Bos hanya diam sambil menelisik daerah sekitar.


"Jikapun orang itu sudah mati tapi kita harus menemukan mayatnya, supaya jadi bukti kalau tidak yang ada kepala kita bisa dipenggal "


Ucap Bos pereman yang tak lain adalah Bimo. Seketika para pereman terdiam membenarkan ucapan sang Bos.


"Kita harus mencari lagi sampai ketemu, dan jangan lupa periksa CCTV di daerah sini "


"Siap Bos.. "


"Yasudah kita berpencar.. "


Ucap Bimo pada anak buahnya hingga menjadi dua kelompok.


Para orang-orang itu terus mencari tampa lelah karna takut jika tidak menemukan orang itu Bos besar mereka akan marah besar.


...---...


"Taun... tuan bangun... "


"Tuan.... "


"Emmz.. "


Gumam seseorang sambil menggeliat kaku, perlahan kedua matanya terbuka menyipit menyesuaikan cahaya matahari yang nampak terang membuat kedua matanya silau.


"Alhamdulilalh kalau Tuan sudah bangun.. "


Ucap bapak penjaga Makam sambil tersenyum melihat anak muda yang ada dihadapannya.


Kedua mata Panji terbuka sempurna, sesaat Panji terdiam sambil menatap kesekeliling hingga Panji teringat apa yang dia lakukan tadi Malam hingga membuat Panji ketiduran.


"Minumlah, Nak. "


Ucap bapak penjaga Makam itu, sambil menyodorkan air mineral. Dengan sedikit ragu Panji mengambilnya kemudian meneguk air mineral itu sampai sisa setengah.


"Terimakasoh Pak.. "


"Sama-sama.Ada apa anak muda, sampai kamu bisa tertidur disini? "


Tanya bapak penjaga Makam sambil duduk di sisi Panji. Seketika Panji terdiam sedikit ragu untuk bercerita .Bapak penjaga Makam tersenyum melihat keterdiaman Panji.


"Jika kamu tidak mau cerita tidak apa-apa, Nak. Cuma bapak sarankan, Jangan terlarut dalam kesedihan itu tidak baik. Belajarlah mengikhlaskan kepergiaan seseorang, jangan jadikan ketidak ikhlasan kamu menjadi beban berat buat mereka. Sedih boleh! ya sewajarnya saja, Ingat! segala mahluk yang hidup pasti akan kembali pada sang pencipta.Bapak yakin kamu pemuda pintar untuk memahami itu, jangan jadikan dirimu bodoh dengan terus meratapi kepergiaan mereka yang sudah kembali pada pemiliknya. Bersyukurlah kamu masih diberi kesempatan hidup, pergunakan itu untuk selalu mendoakan mereka jangan meratapinya. "


Ucap lembut bapak penjaga Makam, sedangkan Panji tertegun dengan apa yang bapak penjaga makam itu katakan. Ucapan itu bak tamparan keras buat Panji seakan kata-kata itu Panji pernah mendengarnya dari seseorang! .


"Yasudah kalau begitu Bapak pergi dulu, mau meneruskan pekerjaan Bapak. "

__ADS_1


Puk.. puk...


Ucap bapak penjaga Makam lagi sambil menepuk lembut pundak Panji.


"Tunggu.. "


Ucap Panji kemudian, membuat bapak penjaga Makam langsung menghentikan langkahnya. Panji beranjak dan langsung mendekati bapak penjaga Makam sambil tersenyum.


"Terimakasih Pak sudah mengingatkan "


"Sama-sama, Nak. Bapak paham apa yang kamu rasakan. "


Ucap tulus bapak penjaga Makam sambil tersenyum samar.


"Ini ada sedikit rezeki buat Bapak "


"Tidak usah, Nak. "


"Jangan menolak Pak, ini rezki Bapak yang Allah titipkan mungkin lewat saya. "


"Terimakasih banyak, Nak. Kamu jadi mengingatkan Bapak pada gadis cantik itu! "


Ucap bapak penjaga Makam menerima uang dari Panji walaupun sedikit ragu untuk menerimanya.


"Gadis cantik! "


"Gadis yang suka berjiarah kemakam sebelah makam Mamah kamu, Nak.Dan Makam sebelah situ.. "


Ucap bapak penjaga Makam sambil menunjuk kearah makam yang paling ujung, Panji hanya menyerngit bingung. Bukan makam yang ditunjuk oleh bapak penjaga Makam melainkan bingung siapa yang berjiarah kemakam Amira!.


"Apa gadis yang bapak maksud masih sekolah? "


Tanya Panji hati-hati membuat bapak penjaga Makam itu hanya menggeleng.


"Bukan, Nak. Mungkin usia dua puluh keatas "


"Apa bapak tau namanya ? "


"Gadis itu selalu menyebut nama dirinya Sky.. ya Sky kalau tidak salah. "


Deg...


Seketika Panji terkejut mendengar apa yang bapak penjaga Makam itu katakan. Sky.. apa gadis itu! tapi apa hubungannya dengan Amira! bahkan Amira tak pernah bercerita sama sekali tentang Gadis yang bernama Sky, apa mereka orang yang berbeda, batin Panji masih bingung dan juga terkejut.


"Kamu tidak apa-apa, Nak. "


"Eh.. ya tidak apa-apa Pak.Sky ya namanya! "


"Iya, jika ada jodoh Insyaallah Allah akan mempertemukan kalian. "


"Hah.. "


"Kalau begitu Bapak pamit dulu, Nak. Mau membantu yang lain ,tidak enak jika bapak banyak istirahat begini.. "


"Iy.. iya Pak.. "


"Sekali lagi terimakasih rezkinya, Nak. "

__ADS_1


Ucap bapak penjaga Makam lalu pergi dihadapan Panji. Sedangkan Panji tidak menyadari kalau bapak penjaga Makam itu sudah pergi dari hadapannya.


Panji masih terkejut dengan apa yang bapak penjaga Makam itu katakan.


jika ada jodoh Insyaallah Allah akan mempertemukan kalian


Jodoh! bapak itu ada-ada saja kenal juga tidak, pikir Panji bingung.


"Astagfirullah.. "


Pekik Panji terkejut mendengar suara ponselnya berdering, dan yang membuat Panji semakin terkejut lagi bapak penjaga Makam yang ada dihadapannya sudah tidak ada.


"Astagfirullah.... Panji kamu dimana Hah.. cepat kekantor setengah jam lagi Mitting.. "


Bentak Rafli diserbang telepon membuat Panji langsung menjauhkan ponsel dari telinganya. Kemudiaan menempelkan kembali.


"Raf, tolong kamu saja yang kensel, ak.. "


"Tidak bisa Panji, ini mitting penting.. "


Tut.. tut....


"Sitt... "


Umpat Panji kesal karna Rafli mematikan ponselnya langsung. Panji hanya menghela nafas.


Dengan berat hati Panji meninggalkan area pemakaman menuju Mobil yang terparkir didekat pohon besar.


Panji langsung menyalakan mobilnya menuju Kantor, sepanjang jalan pikiran Panji terus berkelana mengingat apa yang dikatakan bapak penjaga Makam tadi.


Jika kamu tidak mau cerita tidak apa-apa, Nak. Cuma bapak sarankan, Jangan terlarut dalam kesedihan itu tidak baik. Belajarlah mengikhlaskan kepergiaan seseorang, jangan jadikan ketidak ikhlasan kamu menjadi beban berat buat mereka. Sedih boleh! ya sewajarnya saja, Ingat! segala mahluk yang hidup pasti akan kembali pada sang pencipta.Bapak yakin kamu pemuda pintar untuk memahami itu, jangan jadikan dirimu bodoh dengan terus meratapi kepergiaan mereka yang sudah kembali pada pemiliknya. Bersyukurlah kamu masih diberi kesempatan hidup, pergunakan itu untuk selalu mendoakan mereka jangan meratapinya.


"Ikhlas! Syukur! kata itu seperti tidak asing ditelingaku,tapi siapa ! "


"Sky.. gadis itu lagi.. Sebenarnya siapa gadis itu! "


Monolog Panji terus berpikir keras membuat kepalanya jadi pusing.


Dasar bodoh


"Ah.... "


Teriak Panji perustasi ketika dua kata itu muncul kembali di ingatannya.


**Bersambung....


Jangan lupa tinggalkan jejak ya


Hadiah.... hadiahh...


Like... like...


Komen... komen...


Vote... vote....


Terimakasih**....

__ADS_1


__ADS_2