
Perubahan cuaca tak bisa ditebak disetiap harinya, kadang hujan, katang panas dan terkadang hanya mendung saja.
Begitupun dengan suasana hati Panji, terkadang Panji melamun, berteriak dan menangis mengurung dirinya.
Hari-hari Panji lewati hanya dengan mengurung diri, dan marah-marah membanting semua barang yang ada dikamarnya.
Dengan sabar setiap hari bi Marni membereskannya dan terus seperti itu.
Entah sampai kapan keadaan Panji membaik, sudah satu Bulan kepergian sang Papah disaat itu pula Panji tak peduli dengan dirinya.
Badan tegap atlentis kian kurus, dengan bubu-bulu halus menghiasi wajahnya, rambutnya mulai gondrong dengan kantung hilam yang menghiasi matanya.
Tak ada semangat hidup dari tatapan matanya, hanya ada kesedihan yang begitu dalam.
Mau sampai kapan Panji terus terpuruk! tidakkah Panji sadar bahwa apa yang dia lakukan malah semakin menbuat musuhnya tertawa puas.
Rafli tidak bisa berbuat apa-apa lagi tentang Panji apalagi dirinya setiap hari disibukan oleh urusan kantor.
Terkadang rasa lelah selalu menghampiri tapi tak membuat sedikitpun Rafli menyerah untuk terus mempertahankan perusahan sahabatnya, walau banyak kerja sama kontrak diputuskan.
Tapi Rafli bersyukur masih ada beberapa perusahan besar yang mau bertahan salah satunya perusahan keluarga Qolayuby.
Tapi tak sedikit pula banyak yang menjatuhkan tapi ada orang misterius yang selalu membantunya, membuat Rafli terheran-heran siapa orang yang sudah membantu perusahan sahabatnya.
Rafli tidak terlalu memikirkan itu, karna pikiran Rafli sudah pusing dengan masalah kantor, belum lagi harus membagi waktunya dengan keluarga kecilnya.
Hari ini Rafli memutuskan untuk memaksa Panji keluar karna ada berkas yang benar-benar membutuhkan tanda tangan Panji langsung yang tak bisa Rafli lakukan.
Peresmian sebuah proyek besar yang sudah 100% selesai dan itu harus Panji sendiri, karna para perushan yang terlibat memaksa ingin Panji langsung.
Rafli keluar dari perusahan menuju kediaman Panji,Rafli melirik kaca spion dimana ada dua mobil hitam yang mengikutinya.
"Sebenarnya siapa mereka kenapa aku selalu diikuti terus, tapi mereka seolah menjaga keselamatanku! "
Menolog Rafli merasa heran, beberapa hari ini Rafli selalu dilindungi oleh dua mobil hitam yang selalu mengikuti kemanapun dia pergi.
Rafli masih ingat satu minggu lalu ketika dia di hadang oleh tiga mobil dan tiba-tiba dua mobil jeef hitam menyelamatkannya.
Dret...
Pansel Rafli berdering dengan cepat Rafli memasang earphone pada telinganya.
"Ada apa Sarah! "
"Pak sepertinya M.A Gruf butuh Pemimpin saya tidak sanggup jika harus mengurus sendiri terlalu banyak penjilat, saya butuh bantuan untuk tetap mempertahankan posisi Presdir ! "
Rafli menghembuskan nafas membuatnya benar-benar pusing, belum selesai masalah satu timbul masalah satu lagi.
"Baik Sarah, aku mohon bertahanlah sebentar saya akan memikirkannya, saya masih ada urusan ,besok saya janji akan membawa seseorang untuk membantumu.. "
"Baik Pak, saya akan menunggu. Maaf jika saya mengganggu waktu Bapak. "
Tut.. tut...
__ADS_1
Sambungan terputus membuat Rafli langsung melepas earphonenya, hingga Rafli sampai di depan Mesion kelaurga Al-fatih.
"Assalamualaikum.. "
"Waalaikumsalam.. "
"Bi ,bagaimana keadaan Panji sekarang? "
"Masih sama Den.Den Panji selalu mengamuk dan menangis di malam hari hiks.. hiks.. bibi tak tega jika terus melihat keadaan den Panji seperti itu terus.. hiks.. "
Rafli menahan nafasnya, harus bagaimana lagi supaya bisa membuat Panji kembali.
Rafli menatap iba bi Marni yang sudah tua harus mengurus keadaan Panji yang seperti itu, bi Marni harus ada teman yang kuat jika sewaktu-waktu Panji hilang kendali, Rafli tidak mau sampai membahayakan bi Marni.
"Sabar ya bi, Rafli yakin Panji akan segera kembali pada Panji yang hangat. "
"Sepertinya harus mempekerjakan lagi seorang pembantu! menurut bibi bagaimana? "
"Hah.. den Raf.. rafli mau mengusir bibi.. "
Rafli tersenyum melihat kepanikan bi Marni, bagaimana mungkin Rafli memecat bi Marni orang yang sudah Panji anggap neneknya sendiri.
"Tidak! Hanya saja Rafli kasihan melihat bibi bekerja sendiri, Rafli tidak mau terjadi apa-apa pada bibi seperti satu minggu yang lalu. "
"Ma.. maaf ,Den. Tapi bibi tidak apa-apa ko, bibi Sudah terbiasa. "
"Rafli faham tapi kesehatan bibi juga harus dijaga, Rafli akan mencari pembantu untuk membantu bibi supaya bibi tidak terlalu cape, bibi nanti tinggal suruh-suruh saja biar bibi tidak terlalu cape. "
"Terimakasih Den sudah mengkewatirkan bibi. "
"Yasudah Rafli keatas dulu semoga kali ini Panji tidak mengamuk.. "
"Semangat Den. "
"Terimakasih bi.. "
Ucap Raflo langsung pergi kelantai atas, Rafli berdiri didepan pintu kamar sahabatnya, sambil menarik nafas dalam dan membuangnya perlahan.
Cklek....
Rafli perlahan membuka kamar sahabatnya.
Gelap.
Itulah pertama kali yang dilihat Rafli,kamar itu bak gua yang menyeramkan. Setiap hari Panji memang melarang bi Marni membuka tirai Panji terhanyut dalam kegelapan karna dengan begitu Panji merasa hidupnya mati seperti kedua orang tuanya.
Ckrek...
Rafli menekan sakral menyalakan lampu, hingga kamar yang bercat putih itu langsung terang.
Panji yang sedang menenggelamkan kepalanya diantara kedua lututnya langsung mendongkak menyesuaikan cahaya yang masuk menyilaukan matanya apalagi Rafli membuka tirai dengan sempurna tak lupa membuka jendela juga hingga hembusan angin langsung menerobos masuk tampa permisi menyejukan kamar yang takdinya panas.
"Kau. "
__ADS_1
Deg...
Rafli tertegun melihat tatapan Panji yang menyala seakan menelan hidup-hidup dirinya.
Krk..
Uhuk...
Rafli berbatuk tetkala tiba-tiba Panji mencekiknya membuat Rafli sulit untuk bernafas.
Bruk...
"Apa yang kau lakukan hah.. kau mau membunuhku. Sadar Panji.. "
Bentak Rafli menendang berut Panji hingga Panji tersungkur. Bi Marni yang mendengar bentakan Rafli langsung bergidik ngeri selalu saja akan ada pertikaian membuat bi Marni hanya bisa diam dengan kesedihannya, sangat sakit melihat keadaan Panji yang tak tahu arah.
"Mau apa kau kesini.. "
Ucap Panji dingin dengan tatapan nyalang melihat sahabatnya.
"Aku butuh tanda tangan kamu, besok acara peresmian Proyek ku harap kamu masuk kekantor. "
"Cih...aku tak peduli.. "
"Cukup Panji, kamu jangan terus seperti ini ikhlaskan mereka.. "
Bug...
Bogeman melayang melukai sudut bibir Rafli ,Panji menatap Rafli tajam tak terima dengan apa yang Rafli katakan.
Orang tuanya masih hidup tidak ada yang boleh bicara kalau mereka sudah pergi.
"Mau sampai kapan kau seperti ini hah.. ikhlaskan mereka aku yakin mer... "
"Tutup mulutmu, tau apa kau dengan rasa sakit ini hah.. hidupku hancur.. tidak ada yang bisa aku harapkan dari hidup ini hiks.. mereka pergi... ini tidak adil bagiku.. kenapa Tuhan kejam padaku.. hah... katakan kenapa dia kejam padaku.. "
Bug...
"Tuhan tidak salah brengsek.. sadarlah.. "
Geram Rafli langsung melayangkan bogeman membuat Panji lagi-lagi tersungkur akibat badannya yang lemah jarang makan.
" Mau sampai kapan kau terus begini hah.. apa dengan kau begini bisa mengembalikan om Andre dan tante Mawar. Ingat! masih ada Laila diluar sana membutuhkanmu.. brengsek.. "
Prak...
Bentak Rafli menyala dengan nafas naik turun sambil meninju lemari disampingnya.
"Tandatangan berkas itu.. "
Brak...
Rafli langsung keluar meninggalkan Panji yang terdiam, bahkan Rafli menutup pintu dengan kencang karna kesal melihat keadaan Panji yang seperti itu.
__ADS_1
Mau sampai kapan!!
Bersambung....