
Jam terus berputar detik berganti menit hingga jam dan terus seperti itu hingga hari berganti minggu.
Pergantian siang dan malah yang selalu memunculkan keindahan alam disetiap harinya.
Begitupun para manusia disetiap harinya disibukan oleh pekerjaan mulai dari yang ringan sampai yang berat begitupun dengan beban pikiran setiap orang yang berbeda-beda.
Sampai cuaca pun sama tak menentu kadang hujan kadang panas atau cuma sekedar mendung saja. Begitupun dengan keadaan Panji yang setiap hari semakin tak terkendali.
Ada apa sebenarnya dengan Panji, setiap hari terkadang Panji melakukan hal-hal aneh. Kadang menangis, tertawa, menjerit dan terdiam. Sifat yang sulit ditebak seakan Panji halnya orang gila yang tidak sadar apa yang dirinya lakukan.
Dari malam Panji tidak bisa tidur bayang-bayang sang Mamah dan sang Papah terus menghantuinya.
Sudah berapa kali Panji mencari posisi tidur yang nyaman tapi tetap saja matanya tidak mau terpejam hingga menjelang pagi.
Bibir Panji sesekali tersenyum tak lama cemberut entap apa yang Panji lihat seakan Panji melihat sesuatu yang kadang membuatnya bahagia kadang juga membuatnya sedih.
Panji melihat makanan yang ada diatas meja yang bi Marni berikan.
Dengan gontai Panji menghampiri makanan tersebut dan memakannya, hanya beberapa suap saja Panji langsung menyudahinya rasanya makanan itu terasa pahit di lidah Panji.
Sesudah makan Panji langsung meminum obat dan meletakan kembali gelas nya. Panji berjalan kearah ranjang tiba-tiba kepalanya pusing, dengan tatapan kunang-kunang.
"Ah... sakit... "
"Ma.. mamah,,,,"
Jerit Panji terus memegang kepalanya yang terasa berdenyut.
"Mah.. mamahkah itu.. hiks... mah... "
Lilir Panji tangannya menggapai sesuatu seakan menggapai sang Mamah yang ada dihadapannya.
Panji terus saja memanggil-manggil sang Mamah dan sang Papah seakan kedua orang tuanya ada dihadapannya.
Semakin hari halusinasi Panji semakin menjadi ketika dirinya sedang melamun atau pikirannya sedang kacau ,membuat Santi merasa heran apa yang terjadi dengan Tuannya seakan Tuannya sudah gila.
"Mamahkah itu... Sky kangen mah.. kenapa Mamah baru datang.. "
Ucap Panji seakan kecewa pada sang Mamah yang sudah lama meninggalkannya. Panji memeluk erat guling yang Panji lihat adalah sang Mamah.
"Jangan tinggalkan Sky lagi mah.. "
Santi merasa tercubit mendengar teriakan Panji, hatinya memberontak seakan ada sesuatu yang menyesakan tapi sekuat tenaga Santi berusaha menahannya.
Tangan Santi bergetar menahan sesuatu yang menyakitkan membuat Santi langsung mengepalkan tangannya.
__ADS_1
Santi yang sedang mengepel dilantai atas langsung menghentikan aktifitasnya, Santi hendak memanggil bi Marni tapi niatnya di urungkan karna baru ingat kalau bi Marni sedang kepasar, setiap satu minggu sekali bi Marni pergi kepasar tepatnya pada hari minggu.
Jiwa Santi memberontak mendengar suara Panji yang menyesakan membuat rangannya mengepal erat.Tampa pikir panjang Santi menerobos masuk kedalam kamar Panji.
Deg....
Langkah Santi terhenti melihat pemandangan didepannya, Panji seakan orang gila mengelus-elus guling dengan bibir yang terus menyebut nama sang mamah.
Bulir bening lolos begitu saja di pelupuk mata Santi melihat apa yang Panji lakukan, bayang-bayang kejadian beberapa tahun lalu berputar di kepala Santi membuat dadanya sesak, tangannya mengepal erat dengan mata yang sudah memerah.
Dasar pembunuh...
Santi terus menggeleng-gelengkan kepala berusaha mengusir bayang-bayang menyakitkan itu, Santi mengatur nafasnya yang mulai tak terkendali.
Ya Allah jangan sekarang...
Jerit Santi berusaha mengendalikan dirinya dengan beberapa kali membuang nafas kasar.
Grep....
Dengan emosi yang memuncak Santi menarik kasar guling yang sedang Panji elus seakan yang Panji elus adalah sang Mamah.
Sontak apa yang Santi lakukan membuat Panji langsung melotot dengan tatapan tajam.
"Tidak! dia bukan Mamah kamu.. "
Bentak Santi hilang kendali menatap tajam Panji yang terhenyak oleh bentakan Santi.
"Lihat, ini. Bukan Mamah kamu... dia sudah pergi.. "
"Cukup! Mamah masih hidup.. "
Teriak Panji sambil merebut guling yang dari tadi Santi tunjuk-tunjuk tapi Santi mencengkarmnya kuat membuat Panji menatap tajam pembantu barunya .
Srett....
Santi menyobek guling itu hingga bulu-bulu yang ada di dalam guling itu berhamburan membuat Panji gemetar.
"Lihatlah.. apa dia Mamah kamu... itu hanya guling Sky... "
"Kau jangan begini sadarlah.... Laila membutuhkanmu... sadar bodoh,, "
"Apa yang sudah kamu lakukan selama ini, mengurung diri dikamar meratapi nasib yang menyakitkan tapi apa kamu tidak ingat kalau adikmu Laila sedang kesakitan meminta tolong agar kau membebaskannya... "
"Dasar bodoh... kau laki-laki bodoh... kenapa kau mengutuk takdirmu sendiri hah... Lihat ini. "
__ADS_1
Bentak Santi menggema membuat Panji terkejut akan bentakan Santi yang terus memakinya sambil menunjuk-nunjuk photo tante Mawar.
"Mamahmu sudah pergi, Papahmu juga begitu.. dan Amira juga.. kamu harus sadar dan ikhlaskan bodoh.. jangan hanya bisa menangis dan menangis.. dasar pengecut... pecundang... manusia bodoh... sadar brengsek.. "
"Ka.. kau,,, "
"Apa hah... memang benar bukan kau manusia bodoh.. cih... bukannya mendoakan mereka kau malah menangisinya. Tifak kasihankah kamu bahwa mereka akan sedih melihat keadaan kamu begitu.. dan kau membiarkan adikmu celaka ditangan musuh.. sungguh kau manusia bodoh.. "
Jderr....
Panji diam dengan apa yang pembantu barunya katakan, Panji diam bukan karna bentakan, dan makian yang Santi berikan melainkan suara teriakan itu mengingatkan Panji pada seseorang yang selalu mengusik tidurnya.
Panji menatap pelik pembantunya yang menatap dirinya tajam dengan bibir yang terus mengoceh, suara itu seperti tidak asing bagi Panji.
Jika bunuh diri membuat masalah selesai, kau salah! yang ada kau membuat Tuhan murka!
"Karna kau manusia yang jauh dari kata syukur, hingga Allah mengambil miliknya kembali, dasat bodoh!
Suara itu kembali terngiang dikepala Panji membuat Panji langsung menutup telinganya dengan Santi tidak henti-hentinya terus memarahi Panji.
Seakan seorang ibu yang memarahi anaknya yang berbuat salah.
Panji terus menggeleng ketika Santi menjauhkan tangannya dari telinga Panji membuat kepala Panji sakit.
Suara itu kenapa sama ah... kenapa Santi mempunyai suara itu...ah.. tidak mungkin dia orang yang sama,Tidak !
Jerit batin Panji mundur menjauh dari Santi sambil terus memegang kepalanya yang terus berdenyut.
Tidak mungkin gadis dalam mimpi itu adalah Santi.. jika benar berarti Santi adalah gadis dibalik hujan itu! ta.. tapi kenapa suaranya berbeda dengan Santi yang biasanya..
Jerit batin Panji berusaha menghindar dari Santi yang terus mendekatinya, setiap kali Santi berbicara suara itu begitu menohok Panji, dadanya sakit dan perih.
Dasar bodoh...
"Ah... aku ...aku tidak bodoh... "
Jerit Panji mencengkram rambutnya erat sesekali memukul-mukul dadanya sesak. Panji seakan tidak terkendali membuat Santi ketakutan.
"Ap.. apa kamu ga.. gadis it.. itu.."
"Santi ada apa? "
Deg...
Betsambung...
__ADS_1