AMARAH CINTA (Bukan Salah Tuhan)

AMARAH CINTA (Bukan Salah Tuhan)
Bab 44 Kegelisahan Sky.


__ADS_3

Kabar yang begitu menyakitkan terdengar sampai kenegara yang berdiri dibagian benua Asia dan benua Eropa yang tak lain adalah Turki.


Negara yang terkenal empat musim itu yang selalu menjadi sorotan wisatawan dibelahan dunia termasuk Indonesia.


Kabar memilukan itu membuat seorang gadis terkejut mendengar berita dari sahabatnya.Entah reaksi apa lagi yang harus Sky perlihatkan mendengar kabar menyakitkan itu.


Sky terdiam dengan mata yang memandang lurus kedepan, entah apa yang ada dipikaran gadis berdarah Turki-Indonesia itu.


Sky seakan tak percaya mendengar kabar dari sahabatnya.Rasanya baru kemaren Sky merawat paman Andre dan kini laki-laki paruh baya itu pergi untuk selama-lamanya.


"Terimakasih, Nak. Lagi-lagi kamu menolong keluarga Paman "


Paman tidak tau apa yang sedang Allah rencanakan, takdirnya mempertemukan Sky dengan Paman dan menjadi penolong keluarga paman. Padahal paman tau jarak kita begitu terbelah oleh Benua . "


Jika suatu hari nanti terjadi sesuatu pada paman, maukah Sky menolong Panji dalam kesesatan! "


Paman tau ini berat buat Sky, tapi Paman tidak mau melihat putra paman melakukan hal bodoh untuk yang kedua kalinya, ada aura yang mengerikan didirinya jika putra paman hilang kendali seperti apa yang pernah Sky lihat. "


"Berjanjilah...paman yakin kamu bisa! ".


Sky Menghela nafas kasar mengingat kembali pertemuan terakhir dengan paman Andre.


Kata-kata itu seakan berputar ulang di kepala Sky , mendorong hatinya supaya ! entahlah Sky juga masih bingung.


"Apa Sky bisa Paman ! "


Lilir Sky menerawang kedepan mengingat dimana pertama kali Sky bertemu dengan Panji. Mata itu memancarkan kesedihan yang mendalam, seakan merambat keuluh hati Sky.


Dibawah guyuran Hujan Sky melihat ketidak rapuhan Panji, jiwanya melayang entah kemana. Hati Sky yang lembut tak bisa menampik bahwa dirinya ketakutan, takut sesuatu besar akan terjadi.


Bisakah aku membantunya dalam ketakutanku sendiri! apa aku akan menjadi pengecut untuk kedua kalinya hingga membuatnya pergi untuk selama-lamanya. Tidak! aku tidak akan menjadi pengecut, Sky pasti bisa. Sky bisa... Sky bisa...


Monolog Sky pada dirinya sendiri, Sky seakan sedang bergelut dengan sesuatu yang menyakitkan ,entah apa itu! hanya Sky yang tau .


Hening...


Hening...


Dret...


Hingga suara ponsel mengagetkan Sky dari lamunannya,Sky langsung mengambil ponsel yang dari tadi tergeletak di sisi leptopnya.


Seketika bibir Sky tersenyum melihat siapa yang menelepon.


"Waalaikumsalam , Bang. "


"Apa adek sudah tau kabar dari Indonesia ? "


"Sudah bang, barusan Serra menelepon! "


Ucap Sky sedikit berbeda membuat Fatih diserbang telepon menghela nafas pelan. Fatih tau apa yang sedang dirasakan sang adik, apalagi ada janji yang harus ditepati walau Fatih tau sang adik tidak menjawab sebuah janji itu, tapi Fantih sangatlah hapal bagaimana sifat keras kepala sang adik dibalut kelembutan hatinya sama halnya seperti sang Ummah.

__ADS_1


"Sekarang apa keputusan adek ? "


Sky terdiam mengerti kemana arah pembicaraan sang abang.


"Entahlah bang, adek bingung! Apalagi adek belum memberitahu Baba tentang permohonan itu! "


"Abang percaya Adek bisa mengatasinya, Abang akan mendukung apapun keputusan adek. Tapi satu yang harus adek ingat! jangan ada lecet sedikitpun di tubuh adek, maka Abang yang akan turun tangan langsung ! "


"Adek mengerti ! "


"Yasudah, jangan terlalu berat berpikir ingat kesehatan adek! "


"Adek tidak mau menjadi pengecut untuk yang kedua kalinya! "


Deg....


Fatih terkesiap mendengar nada lemah sang adik, Fatih tahu betul ketakutan yang membelenggu sang adik sampai sekarang. Bahkan Fatih juga tidak tau sampai kapan sang adik terus terbelenggu dengan ketakutan itu!


"Bicaralah nanti malam pada Baba ! "


"Baik Bang. "


"Abang tutup dulu teleponnya Assalamualaikum,,,,, "


"Waalaikumsalam,,,, "


Ucap Sky pelan lalu meletakan kembali ponselnya ditempat semula.


Dimana Sky tak bisa menolong pasiennya sendiri hingga bunuh diri.


"Dasar pembunuh.... pembunuh... "


"Kau tak pantas jadi dokter,,, dasar pembunuh,,,, "


"Pembunuh,,,, enyahkau,,,, "


Tes....


Bulir bening mengalir begitu saja membasahi pipi Sky dengan mata yang masih terpejam, cairan bening itu terus mengalir tak bisa dihentikan membuat dada Sky sakit dan perih.


"Apa aku akan menjadi pembunuh untuk yang kedua kalinya,,, "


Lilir Sky hatinya tercubit sambil membuka kedua matanya yang sudah memerah menahan gejolak yang bercampur aduk.


Sky teringat kembali akan tatapan mata penuh kesakitan itu, yang Panji tunjukan pada Sky kalau dirinya rapuh.


"Apa rasa sakit itu sama seperti dia! apa kamu juga akan melakukan hal sama seperti dia! Kenapa harus Aku. Kenapa aku harus berada disituasi yang rumit ! Apa aku mampuh menyelamatkan kamu dari keterpurukan itu! Atau aku akan gagal dan berujung menyakitkan seperti Dia. Kenapa harus kamu Panji Sky Al-fatih. "


Gumam Sky tersenyum kecut ,Sky tak membenci takdirnya sama sekali tapi Sky membenci dirinya sendiri yang tak bisa melawan ketakutannya.


Mampuhkah Sky membantu mengeluarkan Panji dari keterpurukannya didalam belenggu ketakutan Sky sendiri.

__ADS_1


Atau Sky sama ! Akan gagal seperti kejadian beberapa tahun lalu.


Sky terus bergelut dengan pikiran dan hatinya sendiri hingga Sky tak menyadari kalau hari sudah mulai gelap.


Ting...


Sebuah pesan masuk membuat Sky lagi-lagi tersentak dalam lamunanya.


Sky menarik sudut bibirnya tipis membaca pesan singkat yang masuk.


Dengan buru-buru Sky membereskan berkas yang masih berantakan diatas meja dan mematikan leptopnya.


Sudah rapih diatas meja kerjanya Sky langsung mengambil tas kerjanya lalu melangkah meninggalkan ruang kerjanya menuju lobi.


Bibir Sky melengkung membentuk senyuman melihat seoarang laki-laki yang sedang menyender kebagian body mobil dengan kaca mata hitam yang menghiasi hidung mancungnya.


Laki-laki itu belum menyadari kalau Sky sudah berjalan kearahnya, mata hanya pokus pada ponsel yang laki-laki itu pegang berdiri dengan kaki yang menyilang menambahkan kesan coll .


"Ayo... "


Ucap Sky santai menggeser laki-laki itu yang menghalangi pintu mobil.


Laki-laki itu hanya mendengus kesal melihat Sky sudah masuk kedalam mobil. Lalu laki-laki itupun memasukan ponselnya kedalam saku jasnya dan masuk kedalam mobil.


"Jangan terlalu banyak pikiran sampai telat pulang! "


Ketus laki-laki itu membuat Sky cengengesan memperlihatkan gigi putihnya.


Tak lama mobil Sport merah berhenti didepan Mesion keluarga Mahmued.


"Bang "


Fatih menghentikan pergerakan tangannya ketika akan membuka pintu mobil lalu berbalik menatap sang adik.


"Bantu bilang ke-Baba ya.. "


"Hemmmzz,,,"


Sky tersenyum melihat tingkah abangnya yang sok cuek tapi perhatian. Adik-kakak itu beriringan masuk kedalam rumah sambil mengucapkan salam.


Fatih dan Sky mencium punggung tangan kedua orang tuanya yang sedang bersantai melihat berita.


Sky duduk di sisi sang Baba sedangkan Fatih duduk di sisi sang Ummah.


"Ikut Baba ! "


Deg...


Sky terkejut mendengar perintah sang Baba, baru saja Sky akan bicara tapi sang Baba sudah terlebih dahulu.


Apa Baba sudah tau apa yang terjadi! jika begitu apa yang harus aku jelaskan,batin Sky gelisah.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2