AMARAH CINTA (Bukan Salah Tuhan)

AMARAH CINTA (Bukan Salah Tuhan)
Bab 75 Trauma Sky.


__ADS_3

Dunia seakan berputar membuat seorang gadis hanya diam dengan tubuh yang bergetar ,dadanya mulai sesak dengan kepala yang berputar menyaksikan sebuah teragedi yang menarik gadis itu pada masa lalu yang menyakitkan.


Seakan kejadian lima tahun lalu itu terjadi lagi tepat dihadapannya, bahkan gadis itu tidak peduli dengan suara bentakan seorang pemuda pada dirinya.


Matanya menatap gadis mungil yang bersimbah darah di pelukan seorang ibu yang meminta pertolongan, mata itu memancarkan permohonan membuat gadis itu terhanyut dalam masa lalunya.


Kedua kakinya seakan berat untuk melangkah ketika bayang-babayang masa lalu itu terus berputar di kepalanya.


Teriakan jeritan seakan menyesakan dada gadis itu, tapi kenapa gadis itu hanya diam seolah enggan untuk membantu. Bukankah gadis itu selalu membantu orang lain kenapa sekarang gadis itu malah berdiri dalam diam nya.


"Hey bak kenapa masih di sini.. diam nya Bak hanya membunuh korban secara perlahan.. "


Pembunuh...


*Kau tidak pantas jadi Dokter.. pembunuh...


Tidak... anakkku.. kau pembunuh.. pembunuh... Dasar dokter tidak berguna... pembunuh..


Kau tidak pantas jadi seorang dokter pergi...


Dasar pembunuh*....


Kejadian itu berputar kembali membuat gadis itu mulai sesak, sambil menggeleng-gelengkan kepala menatap nanar seorang ibu yang memancarkan kesedihan melihat putrinya pergi.


"Ti.. tidak.. ak.. aku bukan pembunuh.. "


Lilir gadis itu meremas dadanya dengan mata yang tidak lepas dari seorang ibu di hadapannya yang berusaha bangun.


Bulir bening mulai keluar membasahi pipi gadis itu yang seakan meminta maaf pada ibu di depannya.


Bruk...


"Bak kenapa masih disini.. pergi sana jika tidak berniat membantu. "


Bentak pemuda tadi kembali lagi setelah mengantarkan bocah gadis tadi yang pemuda itu tolong sambil mendorong gadis itu sampai terjatuh.


Tubuh gadis itu semakin terguncang melihat darah di baju gamis dan kerudung ibu itu, tubuhnya bergetar hebat dengan tangan yang terus meremas dadanya sesekali memukul-mukul nya karna sesak.


"Pe.. pembunuh.. ak.. aku bukan pem.. pembunuh.. "


"A.. abang... to.. tolong Sky... "


Lilir Sky semakin sesak trauma itu kembali menghantui Sky, ya gadis yang sendari tadi hanya diam dengan pikirannya sendiri adalah Sky.


Sky yang baru keluar dari lif terkejut melihat beberapa dokter dan perawat berlarian membuat Sky penasaran berlari kecil mengikuti dokter.


Mata Sky melebar melihat tabrakan beruntut dengan cepat Sky berlari keujung jalan depan sana 80 meter jarak dari rumah sakit.

__ADS_1


Hati Sky tercubit melihat seorang bocah perempuan yang tergeletak dengan darah yang terus keluar dari kepalanya, Sky berlari mendekat tapi kakinya seakan terkunci sekelebat kejadian berputar di kepala Sky ketika mendengar jeritan seorang ibu dan teriakan orang-orang.


Sky terus saja berusaha mengontrol emosi dengan beristigfar menjerit dalam hati berusaha bangun dengan bibir yang terus bergetar melilirkan


"Ak.. aku bu.. bukan pe.. pembunuh.. "


"Ab.. abang Sky kuat.. kata a.. bang S-sky bu.. bukan pembunuh.. "


Lilir Sky pelan sambil berusaha berdiri menguasa kesadarannya dengan satu tangan yang masih meremas dadanya.


Bruk...


Sky kembali jatuh seakan tidak kuat menopang beban di pundaknya,Sky berharap sang Abang datang membantunya pergi dari ketakutan yang membelenggu diri Sky.


Trauma itu begitu menyakitkan dan menyesakan membuat Sky terus beristigfar mengendalikan dirinya sendiri, tangan Sky sudah pucat karna terus mengepal menahan gemetar seluruh tubuhnya.


Sky seakan orang linglung terus menggelengkan kapala berusaha mengusir bayangan menyakitkan itu sambil berdiri tapi kakinya sekan tidak mampuh untuk menopang beban tubuh Sky dan lagi-lagi Sky terjatuh


Bruk...


Sepasang tangan menahan tubuh Sky supaya tidak terjatuh membuat Sky langsung mencengkram erat tangan kokoh itu.


"A.. abang.. S.. sky.. sk.. bu.. bukan pem.. pembunuh.. "


Lilir Sky pelan terus menggeleng semakin mencengkram erat tangan kokoh yang menahan tubuhnya supaya tidak terjatuh.


"Hey kamu kenapa ..sadar... Sky... "


Grep...


Tampa pikir panjang Panji menggendong Sky yang tubuhnya semakin terguncang entah apa yang membuat Kamu seperti ini, pikir Panji ada rasa kewatir menyelimuti hatinya.


Panji sekan tidak percaya melihat Gadis dingin dan cuek yang selalu berbicara ketus kepadanya dalam keadaan tidak baik-baik saja. Yang membuat Panji semakin cemas dari tadi Sky terus bergumam menyebut kara abang dan pembunuh membuat Panji menyerngitkan keningnya bingung, sebenarnya apa yang terjadi di masa lalu kamu sampai kamu ketakutan seperti ini, batin Panji terus berpikir.


Panji membawa Sky ketaman dekat rumah sakit karna Panji yakin yang membuat keadaan Sky seperti ini karna melihat kecelakaan itu. Dengan perlahan Panji mendudukan Sky tapi Sky seakan enggan Panji melepaskannya yang Sky kira adalah abangnya.


"Abang jangan tinggalkan S-sky.. sky bu.. bukan pembunuh bukan.. "


Lilir Sky memeluk erat Panji yang Sky kira itu abang Fatih.Membuat Panji seketika terdiam dengan apa yang Sky lakukan, Panji bukan orang bodoh yang tidak mengerti keadaan Sky.


"Trauma apa yang kamu alami sampai ketakutan seperti ini.."


Monolog Panji menggendong Sky yang sudah pingsan dalam pelukannya.


"Kak Panji... Sky... "


Panji menghentikan langkahnya mendengar teriakan yang memanggil namanya dan nama Sky.

__ADS_1


Panji menautkan kedua alisnya melihat Serra berlari dengan wajah cemas dan ketakutan dengan keringat membanjiri pelipis Serra.


Sudah dipastikan Serra pasti tau sesuatu tentang Sky, tidak mungkin Serra secemas itu melihat keadaan Sky jika memang Sky baik-baik saja,pikir Panji .


"Kak cepat ikut Serra, Sky harus di bawa pulang jangan sampai para bodyguar mengetahui keadaan Sky. "


Ucap Serra panik, Panji hanya mengikuti langkah kaki Serra sambil mengeratkan gendongannya, wajah Sky terlihat gelisah dengan keringat dingin mulai membanjirinya.


Serra menghentika taxi karena tidak mungkin mengambil mobilnya dulu, sedangkan keadaan Sky mulai gelisah.


"Pak antar kami ke jalan xxx.. "


"Baik Nona.. "


Sang supir langsung melajukan mobilnya menuju alamat yang di sebutkan Serra tidak butuh waktu lama mereka sampai di sebuah rumah yang begitu besar yang tidak lain adalah kediaman keluarga Mahmued, rumah dulu tempat tinggal Baba Aiman dan Ummah Ais.


Seorang dokter sudah menunggu dari tadi membuat Serra bernafas lega karna Dokter Vina sudah datang.


(Jika kalian sudah membaca novel Takdir Illahi 2 pasti tau ya siapa dokter Vina, jika belum baca dulu ya biar tidak bingung dan pusing he.. he..)


"Bagaimana keadaan Sky dok? "


Tanya Serra ketika dokter Vina sudah selesai memeriksa keadaan Sky.


" Tante tidak tau harus bilang apa! Intinya Sky baik-baik saja tapi.. "


Dokter Vina menjeda ucapannya sambil menghela nafas pelan membuat Serra semakin cemas takut terjadi apa-apa pada Sky.


"Apa Dok ? "


Desak Serra tidak sabaran, Panji hanya diam saja tidak.


" Trauma itu membelenggu Sky bahkan dengan obat juga tidak cukup itu hanya sekedar menenangkan nya saja yang bisa menyembuhkan trauma itu hanya Sky sendiri,Sky harus berusaha keluar dari rasa takut itu yakinkan Sky kalau kepergian Alev dan Ahmed bukan kesalahannya hatinya yang lembut membuat Sky lemah untuk keluar dari belenggu itu, kamu mengerti kan apa yang Tante maksud. "


Serra terdiam mendengar penjelasan dokter Vina entah harus sampai kapan Sky seperti itu rasanya Serra tidak sanggup.


"Apa kamu sudah memberi tau Fatih? "


Serra hanya menggeleng membuat dokter Vina menghela nafas kasar.


"Tidak selamanya Fatih bisa menenangkan Sky, Bagaimana jika kejadian ini ketika Sky tidak bersama Fatih lama kelamaan akan membahayakan Sky sendiri.Kamu taukan kalau Fatih sangat menyayangi Sky itu yang membuat Fatih sulit menarik Sky dari belenggu ketakutan itu,Tante sudah memberikan obat penenang jaga Sky. "


"Tante..aku mohon Om jangan dulu di kasih tau.. "


Ucap Serra cepat ketika dokter Vina akan pergi, dokter Vina hanya mengangguk saja karna yakin cepat atau lambat keluarga Mahmued pasti tau.


"Trauma apa yang membuat Sky seperti itu ! "

__ADS_1


Deg....


Berambung...


__ADS_2