
Disebuah restoran nampak dua orang sedang berbincang raut wajahnya terlihat nampak bahagia dari keduanya. Entah apa yang mereka bicarakan seakan hal yang begitu menyenangkan.
Terkadang raut wajahnya terlihat puas ,benci, marah, dan sedih seolah mereka berdua sedang merasakan kesedihan yang mendalam.
"Kerja bagus Ibu, sekarang mereka telah merasakan apa yang Mira rasakan! "
"Iya, Son mereka semuanya sudah hancur.. "
Balas orang yang disebut ibu sambil tersenyum puas begitupun dengan anaknya.
"Bagaimana kabar cucuku apa kamu sudah berhasil membujuknya supaya kembali? "
Huh...
Hanya helaan nafas yang bisa sang anak ekfresikan membuat sang Ibu langsung faham.
"Anak itu keras kepala seperti kau.. "
Seloroh sang ibu nampak kesal cucu satu-satunya selalu saja susah diatur.
"Ko aku yang disalahkan sih, itu juga salah ibu kenapa sifat keras kepala ibu juga turun ke aku. "
Ucap sang anak tidak terima jika harus disalahkan, walau bagaimanapun semuanya salah ibunya.
"Berani kamu menentang ibu, pokonya ibu tidak mau tahu cucu kesayanganku harus sudah ada dirumah ketika ibu akan pulang ! "
"Baiklah.. "
Pasrah sang anak membuat sang ibu tersenyum puas anaknya mengalah.
Ibu dan anak itu menikmati kembali makanan yang mereka pesan dengan khidmah tidak ada perdebatan lagi diantara mereka.
Drett....
Ponsel sang anak berdering membuat sang anak langsung mengambil ponsel yang ada di samping gelas jus.
Tidak butuh lama sang anak mengangkat telepon dari anak buahnya.
Seketika rahangnya mengeras dengan mata yang mulai memerah membuat sang ibu menghentikan makannya melihat ekfresi sang anak yang menegang.
"Bagaimana bisa.. ah.. sial... Pokonya saya tidak mau tau, kalian cepat cari,,,,"
Bentak anak itu membuat semua pengunjung yang sedang menikmati makannya ada yang tesedak ada juga yang melongo melihat tinggkah orang yang sedang marah-marah itu. Sang ibu melihat anaknya di perhatikan membuatnya malu dengan cepat langsung menarik lengan anaknya mengisyaratkan supaya menahan amarah.
"Ada apa ? "
Tanya sang ibu ketika putranya mematikan teleponnya dengan nafas naik turun menahan amarah yang siap meledak.
"Mi.. mira tidak ada di Rumah sakit, Buk ! "
Deg....
Sang ibu melotot terkejut mendengar penuturan putranya, bagaimana mungkin putrinya tidak ada, pikir sang ibu cemas.
__ADS_1
"Bagaimana Mira sampai tidak ada! apa pekerjaan mereka. Jika sampai terjadi apa-apa pada putriku aku akan menuntut Rumah sakit itu ! "
Geram sang ibu menahan amarah dan cemas takut terjadi sesuatu pada sang putri.
"Kita harus mencarinya.. "
Ucap sang ibu langsung berdiri begitupun sang anak mengikuti langkah kaki sang ibu meninggalkan restoran.
Orang-orang yang melihat tingkah ibu dan anak itu hanya menggeleng, ada juga mencibir karena mengganggu ketenangan orang lain, dan yang membuat geram para pengunjung lain anak dan ibu itu tidak meminta maaf sama sekali .
Mereka pergi tampa merasa bersalah sama sekali.Di sudut ruangan seseorang hanya tersenyum puas sambil meneguk minumannya melihat tingkah ibu dan anak itu.
"Cih... itu belum seberapa ! itu hanya permulaan he.. he.. "
Ucap orang itu terkekeh lalu meninggalkan restoran itu juga.
Ibu dan anak yang tadi keluar dengan tergesa-gesa langsung masuk kedalam mobil dan menyalakannya, sudah beberapa kali menyalakan mobil tapi mobil Fajero merah itu tidak mau jalan sama sekali dengan kesal sang anak keluar melihat keadaan mobil.
"Ah... sial.. "
Bentak anak itu kesal ternyata ban belakang mobilnya kempes.
Ting...
Sebuah pesan masuk membuat anak itu dengan kasar melihat siapa yang mengirimnya pesan.
Seketika matanya melotot melihat pesan dari nomor tidak dikenal.
Buk...
Teriak anak itu marah sambil menendang ban mobil yang kempes. Sang ibu yang melihat putranya marah langsung keluar.
"Ada apa lagi,kenapa kau marah.. "
"Lihatlah ibu.. "
Ucap sang putra menyerahkan ponselnya, sang ibu langsung mengambil ponsel putranya secara kasar dan membaca pesan yang masuk ke dalam ponsel putranya.
"Sittt... Ibu harus kesesuatu tempat, memastikan sesuatu! kamu urus mobilmu yang menyusahkan itu. "
Ucap sang ibu langsung menyerahkan ponsel pada putranya lalu bergegas menghentikan taxi yang lewat. Tampa mendengar ocehan sang putra ibu itu menyuruh sang supir langsung jalan.
"Mau kemana Buk? "
Tanya sang supir membuat ibu itu langsung memberikan selembar kertas pada sang supir.
"Pergi kealamat itu! "
"Baik buk.. "
Sang supir langsung melajukan mobilnya kealamat yang ibu itu berikan. Jalanan cukup ramai membuat sang supir harus hati-hati mengendarai mobilnya.
...----...
__ADS_1
Di sebuah Rumah....
Keadaan Farhan mulai membaik walau masih ada beberapa memar di wajah tampannya.Farhan sedang duduk melamun di kursi taman dengan tatapan menerawang kedepan entah apa yang Farhan pikirkan.
Berita kematian Sandi benar-benar membuat Farhan terdiam, entah harus sedih atau apa Farhan tidak tau.
Walau rasa kecewa dan marah masih ada pada Sandi karna sudah belasan Tahun Sandi mempermainkan hidupnya tapi jauh dilubuk hati Farhan kalau Farhan begitu menyayangi Sandi walau bagai manapun Sandi adalah orang yang mebesarkannya.
Farhan menengadah menatap langit yang begitu cerah dengan tatapan sayu nya, lalu Farhan melebarkan penglihatannya kesetiap arah dimana ada beberapa penjaga yang selalu bungkam ketika Farhan bertanya dimana dia berada dan siapa mereka? tapi tidak ada satupun orang yang menjawab setiap pertanyaan yang Farhan lontarkan.
Orang-orang yang ada dirumah itu seakan bisu, mereka hanya bersua ketika mengantarkan makanan dan minum saja atau mengingatkan Farhan untuk meminum obat.
"Kenapa dia belum datang? "
Monolog Farhan sambil melihat jam yang ada dilayar ponselnya sudah menunjukan pukul 11:58 pertanda jam makan siang.
Tapi belum ada tanda-tanda orang yang Farhan tunggu datang, rumah itu seakan hidup jika ada gadis yang Farhan tunggu karna Farhan merasa ada orang untuk di ajaknya ngobrol.
"Mungkin dia sibuk.. "
Monolog Farhan lagi sedikit kecewa, Farhan ingin segera pulih supaya bisa cepat keluar dari rumah pembisuan itu.
Farhan memang tidak diijinkan keluar rumah itu oleh Heri bahkan disetiap sudut ruamah itu di jaga ketat membuat Farhan hanya bisa pasrah karna kaburpunkaburpun tidak bisa tubuhnya masih lemah jika dibawa berlari.
"Kenapa melamun ! "
Deg...
Farhan terlonjat kaget mendengar suara gadis yang sendari tadi Farhan tunggu,entah sejak kapan sudah duduk di sampingnya sambil membawa sepiring makan.
"Kata para penjaga kamu belum makan siang, kenapa ? kamu harus makan dan minum obat supaya cepat pulih. Aaaa,,,, "
Cerocos gadis itu sambil sambil mengarahkan sendok yang sudah diisi nasi kedepan mulut Farhan.
"Ak.. aku bisa sendiri.. "
Gugup Farhan ingin mengambil sendok yang Sarah pegang tapi dengan cepat Sarah menariknya kebelakang sambil menggeleng.
"Tidak ! biar aku suapin, kalau kamu makan sendiri nanti tidak dihabiskan, cepat aaa,,,,, "
Ucap Sarah lagi membuat Farhan langsung makan, Sarah tersenyum tipis melihat Farhan mau makan bahkan sepertinya lahap sekali.
"Alhamdulillah sudah, sekarang nih minum obatnya! "
Tampa perotes Farhan mengambil obat yang Sarah berikan lalu meminumnya, entah kenapa Farhan seakan patuh apa yang Sarah ucapkan padahal tadi siang Farhan tidak mau makan walau sudah berapa kali penjaga menbujuknya hingga terpaksa Heri menelepon Sarah memberitahu kalau Farhan tidak mau makan.
Sarah mendengar penjelasan Heri dengan cepat langsung meninggalkan pekerjaannya karna kewatir takut terjadi apa-apa pada Farhan walau bagaimanapun Farhan mendapat luka karna dirinya.
"Aku dengar paman Sandi meninggal ! "
"Aku tidak peduli,,, "
Bersambung....
__ADS_1