AMARAH CINTA (Bukan Salah Tuhan)

AMARAH CINTA (Bukan Salah Tuhan)
Bab 58 Keadaan Panji


__ADS_3

Bik Marni yang baru pulang dari pasar terkejut mendengar jeritan Panji, dengan cepat bik Marni naik kelantai atas menuju kamar den Panji.


"Santi ada apa? "


Deg...


Santi terkejut mendengar suara bik Marni, dengan cepat Santi merubah raut wajahnya menjadi panik.


"Bibi sukurlah bibi sudah datang.. hiks Tuan dari tadi mengamuk tidak tahu kenapa ! Santi tadi lagi mengepel langsung terkejut Santi berusaha menenangkan tapi Tuan seperti kerakutan.. "


Ucap Santi ketakutan membuat bik Marni langsung menarik Santi supaya menjauh dari Panji. Bik Marni mendekat kearah Panji dimana Panji bersembunyi di pojok lemari.


"Den ini Bibi... "


Bruk..


Belum sempat bik Marni melanjutkan ucapannya Panji pingsan membuat bik Marni melebarkan matanya terkejut.


"Santi,,, cepat panggil dokter.. "


Dengan cepat Santi turun kebawah menelepon dokter,sudah selesai Santi balik lagi keatas membantu bik Marni memintahkan Panji keatas ranjang.


"Bibi kenapa Tuan kakinya di ikat tangannya juga! "


Tanya polos Santi membuat bik Marni hanya menghela nafas kasar.


"Bibi cuma tidak mau kalau den Panji mengamuk seperti hari-hari sebelumnya yang akan membahayakan nyawa kamu.. "


Ucap bik Marni menjelaskan, dua hari yang lalu Panji memang sempat mengamuk hampir saja mencelakai Santi yang sedang mengantarkan makanan karna bik Marni tidak bisa mengantarnya.


Santi hanya mengangguk saja mengerti dengan apa yang bi Marni lakukan.


Tak lama seorang dokter datang bersama Rafli karna memang Santi menelepon Rafli supaya datang membawa dokter, Santi juga menjelaskan apa yang terjadi pada Panji.


"Bibi kenapa ini bisa terjadi ? "


"Bibi kurang tau Den, bibi baru pulang dari pasar dan mendengar den Panji berteriak, pas bibi lihat den Panji sudah pingsan. "


Jelas bik Marni membuat Rafli menghela nafas kasar, lama Rafli, bik Marni dan Santi menunggu akhirnya Dokter keluar dengan wajah sedikit muram.


"Bagaimana dok keadaan sahabat saya ? "


Tanya Rafli dengan wajah panik takut terjadi apa-apa pada sahabatnya.


"Sepertinya Tuan muda mengalami depresi akibat beban pikirannya, Tuan muda mengalami halusinasi seakan Nyonya dan Tuan besar masih ada, ini berbahaya jika dibiarkan Tuan Muda bisa melukai dirinya sendiri dan orang lain. "


Jelas dokter membuat Rafli terkejut, Rafli terdiam dengan pikiran entah kemana, bagaimana mungkin Panji seperti itu, pikir Rafli sendu.

__ADS_1


"Dan akibat obat penenang yang sering Tuan muda konsumsi membuat kinerja otaknya terganggu ."


Jelas dokter lagi membuat Rafli semakin dibuat terkejut, rasanya tidak mungkin itu terjadi pada Panji, kenapa semuanya jadi begini, batin Rafli.


"Emmz ma.. maaf Tuan, saya sa.. sarankan lebih baik Tuan Muda berada di Rehabilitas kar.. "


"Stop.. "


Potong Rafli tidak kuat mendengar apa yang Dokter katakan, bagaimana mungkin Rafli tega memasukan Panji ke RSJ (Rumah sakit Jiwa) itu tidak mungkin.


Bulir bening lolos begitu saja di pelupuk mata Rafli dengan langkah mundur menyandarkan punggung nya di dingding.


Rafli seakan tidak percaya dengan apa yang Dokter ucapkan tapi kenyataannya memang begitu akhir-akhir ini keadaan Panji memang menurun.


Pilahan yang sulit Rafli putuskan,begitupun bik Marni menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang dokter katakan seakan semuanya adalah mimpi tapi nyatanya itu nyata bukan sebuah mimpi.


Sedangkan Santi hanya diam dengan tatapan sulit diartikan, entah apa yang ada di dalam pikiran Santi hanya dia dan tuhan yang tau.


"Kalau begitu saya permisi, jika kalian sudah memutuskan tolong hubungi saya. Ini semua demi kebaikan Tuan Muda. "


Ucap Dokter langsung pergi meninggalkan kediaman Al-fatih, tampa mereka sadari seseorang sedang menguping pembicaraan mereka,bibirnya tertarik kesamping penuh seringai. Lalu orang itu langsung pergi karna tidak mau kehadirannya diketahui.


"Ra.. rafli harus bagaimana Bik,,, "


Lilir Rafli sambil mengusap air matanya dengan kasar berharap bik Marni bisa memberikan solusi tapi nyatanya bik Marni hanya diam membuat Rafli semakin bingung langkah apa yang harus dia ambil.


Rafli masuk kedalam kamar Panji hatinya tercubit melihat keadaan sahabatnya yang tak berdaya.


Begitupun bik Marni tak henti-hentinya menangis melihat keadaan Tuan muda nya yang sudah bik Marni anggap seperti cucunya sendiri.


"Apa yang harus aku lakukan Pan,,, apa kamu akan marah padaku. Tetapi aku juga tidak mungkin membiarkan keadaan kamu terus begini.. "


Lilir Rafli gemetar langsung keluar dari kamar Panji karna tidak kuat melihat semuanya.


Entah kemana perginya Santi yang jelas Santi sudah tidak ada di depan kamar Panji.


Rafli duduk di atas shofa dengan pikiran entah kemana, kedua matanya terpejam menahan sesuatu yang siap meledak.


Tidak lama bik Marni keluar dari kamar Panji entah apa yang bik Marni lakukan di dalam yang jelas terlihat raut wajah sedih dengan mata sembab.


Wajah keriput itu terlihat jelas memancarkan kesedihan yang mendalam, bik Marni menghampiri Rafli yang sedang duduk dengan kepala menengadah keatas menatap langit-langit ruang tengah.


"Den... "


Rafli langsung menoleh mendengar suara serak bik Marni memanggilnya.


"Iya bik . "

__ADS_1


"Bibik tidak sanggup melihat keadaan den Panji, keputusan bibik serahkan semuanya pada Anden bibik yakin den Rafli bisa memutuskan hal yang terbaik.. "


"Tolong selamatkan den Panji bibik tidak sanggup jika harus melihatnya seperti itu hiks.. "


Lilir bik Marni kembali terisak membuat Rafli mengepalkan tangannya kuat, bingung harus memutuskan apa !


"Rafli bingung bik,,, tapi Rafli juga tidak mau membahayakan keselamatan bibik dan Santi.. "


Ucap Rafli dingin membuat bik Marni menunduk karna bik Marni juga tidak punya kuasa untuk memutuaskan hal sebesar itu karna menyangkut keselamatan Panji.


"Ngomong-ngomong Santi dimana bik? "


Tanya Rafli merasa heran kemana perginya Santi, bik Marni juga baru sadar kalau Santi tidak ada.


"Bibik juga tid... "


"Kalian cari saya.. "


Ucap Santi tiba-tiba muncul dari arah kamarnya membuat bik Marni dan Rafli langsung menengok.


"Kamu dari mana Santi? "


Tanya bik Marni membuat Santi menunduk harus menjawab apa, pipinya sudah memerah menahan malu.


"An.. anu bik ta.. tadi Santi habis be.. berak, gak kuat. "


Ucap Santi malu membuat Rafli hanya mendengus sedangkan bik Marni menahan tawa melihat tingkah Santi yang menahan malu.


"Oh iya gimana keadaan Tuan, bik apa dia sudah sadar? "


Mendengar pertanyaan Santi membuat bik Marni menunduk sedih melihat itu Santi merasa tidak enak.


"Ma.. maaf bik.. "


Ucap Santi sambil menunduk, Santi merutuki kebodohannya bertanya seperti itu membuat bik Marni kembali sedih.


"Sudah Rafli putuskan bik ! "


Seloroh Rafli membuat bik Marni menatap Rafli harap-harap cemas takut keputusan Rafli membuat bik Marni sedih.


Hening...


Hening...


Suasana mendadak hening menunggu apa yang akan Rafli putuskan, Santi hanya diam saja karna tidak ada hak untuk ikut campur masalah keputusan itu berbeda dengan bik Marni meremas ujung bajunya karna takut akan apa yang Rafli putuskan.


"Panji akan di Rehabilitas ! "

__ADS_1


Deg...


Bersambung....


__ADS_2