
Tak henti-hentinya Rafli menggeram kesal karna Panji tidak bisa pokus dengan Mittingnya. Beberapa kali Rafli menyadarkan Panji dan Panji kembali akan bengong lagi. Jika bicarapun percuma yang ada Panji malah bicara melantur.
Orang-orang pun yang ada didalam ruang Mitting menyerngit heran dengan apa yang terjadi pada bos mereka. Tak biasa nya Bos mereka tidak propesional begitu.
Melihat keadaan semakin kacau Rafli langsung menyudahi Mittingnya dan mungkin Mittingnya akan dilanjut besok setelah keadaan Panji baik-baik saja.
"Apa sebenarnya yang kamu pikirkan Panji, tidak biasanya kamu tidak propesional ! "
Ucap Rafli menghela nafas pelan sambil mendekat kearah Panji yang sedang memijit pelipisnya.
"Aku tidak tau! "
Jawab Panji enteng karna Panji sendiri bingung harus menjelaskannya bagai mana. Jawaban Panji malah membuat Rafli kesal, tapi Rafli berusaha menahannya.
"Baik lah, tapi jadwal hari ini ada satu pertemuaan lagi, apa kamu baik-baik saja! "
Ucap Rafli membuat Panji seketika mendongkak menatap Rafli yang terlihat lelah.
"Sama siapa? "
" Perusahaan Smart Gruf "
"Smart Gruf! "
Ulang Panji seakan mengingat-ngingat perusahaan siapa itu!.
" Smit Artana Pratama pengusaha muda yang baru-baru menjadi sorotan di dunia bisnis, sudah enam bulan lalu melakukan kerja sama dengan perusahaan Om "
Jelas Rafli membuat Panji terdiam, Panji sedikit berpikir kenapa sang Papah bisa kerja sama dengan perusahaan itu, pikir Panji.
"Baiklah, aku ingin tau seperti apa orangnya! "
Ucap Panji membuat Rafli bernafas lega, Panji berusaha mempokuskan hati dan pikirannya mempelajari kerjasama perusahaan sang Papah dengan perusahaan Smart Gruf.
Panji terus membaca lembar demi lembar berkas perjanjiaan kontrak itu.
"Raf, kenapa Papah tidak pernah memberi tahu aku kalau perusahaan sedang merosot! "
"Aku tidak tau, aku saja cukup terkejut melihat semua laporan perusahaan Papah mu "
" Dalam kontrak kerja sama perusahaan Papah hanya satu perusahaan yang membuat ku cukup heran dan aku yakin ada niat tidak baik didalamnya mengingat perusahaan Papah sedang tidak baik-baik saja! "
Rafli menyerngit bingung mendengar apa yang Panji ucapkan, walau Rafli tau dirinya tidak seteliti Panji dalam melakukan sesuatu.
Rafli mengambil berkas yang Panji berikan dan membukanya,Rafli berusaha meneliti lembar demi lembar berkas itu. Cukup lama Rafli meneliti dengan membulak-balik kan lembar berkas itu hingga Rafli menemukan kejanggalan seperti apa yang Panji katakan.
"Iya,perjanjiaan kontrak ini kebanyakan menguntungkan mereka! "
"Kenapa Papah bisa ceroboh seperti ini! setahuku Papah bukan orang yang ceroboh dalam bertindak! "
Bingung Panji sambil menerka-nerka begitupun Rafli.
__ADS_1
Dua laki-laki tampan itu terus bergelut dalam pikirannya masing-masing. Seketika Panji tersenyum menyadari sesuatu langsung menatap Rafli begitupun Rafli menatap Panji.
"Mereka cukup cerdik, mereka sengaja menanamkan saham paling banyak dalam proyek itu dan aku yakin tujuaannya hanya satu jika Prushaan Papah dalam kehancuran maka mereka akan mengambil alih semuanya! "
"Wow.. kau memeng yang terbaik! "
"Raf,cari tau kelemahan prusahaan itu, aku yakin ada sesuatu yang tidak baik dibalik kerja sama kontrak itu, selain menginginkan prusahaan Papah! "
" Itu urusan kecil "
Bangga Rafli membuat Panji mendengus sebal, selalu saja bertingkah konyol dibalik ketegangan membuat suasana tidak terlalu tegang.
"Oh iya, bagai mana keadaan perusahaan pak Air sekarang! "
"Alhamdulillah tidak terlalu rumit, karna Istriku masih bisa menghendelnya.Apa lagi ada sekertaris baru juga yang membantu nya. "
"Gadis yang memarahimu waktu itu! "
"Bukan, dia gadis berbeda, namanya Serra. "
"Bukannya gadis yang memarahimu juga sekertaris pak Air, memangnya pak Air punya sekertaris banyak! "
Bingung Panji walau sebenarnya Panji sedikit terkejut bahwa yang Rafli maksud bukan Sky. Tapi sebisa mungkin Panji menyembunyikan keterkejutannya itu, supaya sang sahabat tidak curiga.
"Katanya Sky cuti dalam jangka waktu lama ada urusan mendadak, jadi Papah menggantikan Sky dengan Serra, tapi aku sedikit curiga! "
"Maksudnya! "
"Selingkuh maksudnya! "
Pletakkk....
"Sembarangan.. "
"Awws.. sialll... "
Kesal Rafli menjitak kening sang sahabat membuat Panji langsung melotot tak percaya karna Rafli menjitak keningnya membuat Panji meringis sambil mengelus-elus keningnya.
"Papah bukan orang yang seperti itu dia setia pada Mamah Mona.. "
"Terus.. "
"Aduh... maksudku, gini ya.Di Perusahaan Papah itu ternyata banyak sekali penjilat bahkan saking banyaknya semua orang tidak bisa dipercaya orang-orang disitu. Tapi semenjak kedatangan Sky keadaan prusahaan mulai kembali stabil, dan yang paling aku tercengang Tiga bulan Sky masuk kedalam perusahaan sudah ada lima puluh orang yang dipecat hampir semuanya yang dipecat di bagian Marketting, keuangan dan beberapa bagian HDR. "
"Hah... ko bisa! "
"Dan kedatangan Serra pun di perusahaan beberapa hari lalu semakin membuat perusahaan semakin setabil. Aku tau karna beberapa kali aku membantu Rara mengecek data-data perusahaan. "
Ucap Rafli panjang lebar membuat Panji langsung terdiam, semakin besar keyakinan Panji kalau Sky bukan gadis sembarangan. Buktinya Panji sendiri tidak bisa mencari informasi tentang Sky.
"Menarik! sepertinya kedua gadis itu bukan gadis sembarangan. Aku tau siapa yang mempunyai kuci nya! "
__ADS_1
"Siapa! "
"Ayah mertuamu dan Istrimu sendiri.. "
"Hah.. "
Pekik Rafli terkejut tidak terima kalau sang istri dan ayah mertua di salahkan menjadi kunci orang yang tau siapa Sky dan Serra itu.
"Tidak mungkin Pan, Rara dan Ayah memberikan informasi yang sama seperti aku dafatkan tempo hari "
Panji terdiam mencerna apa yang Rafli ucapkan, hingga waktu mereka habis buat berpikir yang tidak menemukan jawabannya sama sekali.
Hingga Panji dan Rafli keluar menuju restoran dimana mereka akan mengadakan pertemuaan dengan perusahaan Smart Gruf.
Rafli membelah jalan yang begitu padat oleh kendaraan, hingga Rafli mengurangi kecepatannya karna didepan lamu merah.
Rafli menunggu sambil mengetuk-ngetukan jarinya di setir mobil sedangkan Panji sibuk dengan ponselnya.
"Pan, bukankah itu Kayla ! "
Cletuk Rafli membuat Panji langsung mendongkak menatap kemana arah telunjuk Rafli. Panji memicingkan kedua matanya memastikan apa benar yang diucapkan Rafli atau itu hanya sekedar mirip saja.
Seketika tupil Panji melebar menyadari kalau itu memang adiknya Kayla, mata Panji memerah melihat kearah adiknya dengan tangan mengepal erat.
"Mau kemana? "
Ucap Rafli cepat sambil menahan Panji untuk keluar.
"Lepas, aku harus memberi pelajaran pada mereka beraninya menyakiti adikku "
Bentak Panji menghempaskan tangan Rafli dari pundaknya, tapi dengan cepat Rafli mencegah kembali karna lampu rambu sudah hijau.
"Sabar, lihat baik-baik siapa yang berani menampar Kayla "
Geram Rafli sambil menepikan mobilnya supaya tidak mengganggu pengendara lain.Seketika Panji terdiam dan langsung mengikuti saran sang sahabat.
Panji menggeram hingga suara gertakan giginya begitu nyaring dengan amarah yang sudah mengubun.
"Beraninya dia menyakiti adikku! "
Geram Panji, sangat sakit melihat keadaan sang adik. Walau Kayla bukan adik kandungnya tapi Panji sangat menyayanginya seperti adik kandungnya sendiri yang sudah meninggal.
.
Bersambung....
Gimana seru gak????
Jangan lupa Like, Hadiah, Komentar, dan Vote ya
Terimakasih....
__ADS_1