
Sore hari yang begitu cerah, semua keluarga sedang menikmati pemandangan indah di Puncak. Walau suasana sore, tetapi udaranya cukup dingin membuat semua orang memakai jaket.
Semua keluarga Mahmued dan Qolayuby memang mengadakan liburan keluarga ke Villa yang berada di puncak sebelum baba Aiman dan ummah Ais kembali ke Turki bersama Fatih dan Serra.
Hanya keluarga Mahardika yang tidak ikut, karena om Andi tidak bisa meninggalkan urusan kantor, apa lagi Aini yang masih sekolah membuat tante Ani tidak bisa meninggalkannya.
Ummah Ais menyandarkan kepalanya di pundak sang suami dengan bibir tersenyum. Hatinya begitu bahagia melihat putra putrinya sudah memiliki keluarga.
Tawa bebas sang putri karena kejahilan Fatih membuat ummah Ais tersenyum, rasanya baru kemaren ummah Ais menggendong Fatih dan Ais, sekarang kedua anaknya sudah mempunyai kehidupan baru yang baru di mulai.
Ummah Ais hanya berharap, semoga anak-anaknya bisa melewati kerikil-kerikil dan badai yang akan selalu silih berganti datang tanpa permisi.
"Apa kamu bahagia, sayang? "
"Sangat, by. Rasanya sekarang Ais tenang jika harus kembali pada sang pencipta! "
"Apa kamu akan meninggalkan, Hubby? "
Ummah Ais mendongkak menatap netra sang suami, walau sudah banyak kerutan tetapi wajah ini masih terlihat tampan. Ummah Ais tersenyum melihat wajah tampan sang suami, bagi ummah Ais, baba Aiman adalah laki-laki hebat yang Allah kirim menemani hidupnya.
"Ais tidak akan pernah meninggalkan, Hubby. Tetapi jika takdir Allah sudah berjalan, Ais ingin hubby mengikhlaskan dan meridhoinya? "
"Hubby akan selalu ikhlas dan ridho atas ketetapannya, Hubby akan menyusul, jika hubby tidak ada di tempat ridhonya Allah maka jemput hubby? "
"Begitupun Ais, jika Ais tidak ada di sisinya maka, selamatkan Ais dari siksaannya. Agar kita bisa bersama lagi menikmati kenikmatan ridhonya Allah yang tiada terkira,"
Baba Aiman tersenyum begitu pun ummah Ais, mereka saling tatap mesra seakan di sanah hanya ada mereka berdua.
Baba Aiman dan ummah Ais tidak peduli kalau dari tadi anak-anak dan menantunya tersenyum geli melihat kemesraan kedua orang tuanya.
Tanpa baba Aiman dan ummah Ais sadari, Sky dari tadi mengabadikan suasana romantis itu di ponselnya, Sky tersenyum melihat kedua orang tuanya tersenyum. Seakan senyuman itu paling indah yang pernah Sky lihat.
"Teh, ingat umur. Sini, jagung bakarnya sudah jadi ..., "
Celetuk om Air membuat ummah Ais langsung memberenggut menatap tajam sang adik yang mengganggu keromantisannya dengan sang suami.
Sedangkan anak-anak mereka menertawakan tingkah kedua orang tuanya.
__ADS_1
Cup...
"Jangan cemberut, nanti manisnya hilang! "
Ha.. ha...
Ucap baba Aiman lembut sambil mengecup kening sang istri membuat semuanya tertawa geli melihat begitu manjanya ummah Ais pada sang suami.
Jika semua orang bahagia melihat kehangatan itu, berbeda dengan Rafli dan Panji yang hanya tersenyum samar menyaksikan tingkah ummah Ais dan baba Aiman.
Rara yang melihat suaminya melamun, langsung menghentikan tawanya. Rara faham apa yang membuat sang suami hanya diam, dengan lembut Rara memegang tangan sang suami dengan senyum manisnya, membuat Rafli langsung berbalik menatap istri kecilnya yang tersenyum.
"Jangan sedih, kan masih ada Rara yang akan menggantikan kehangatan yang sempat hilang! "
"Apa kedua orang tua, hubby tidak menginginkan hubby, hingga mereka membuang hubby? "
Lilir Rafli sakit membuat Rara langsung memeluk sang suami dan mengecup pipinya berkali-kali.
"Jangan sedih, kan ada ayah sama mamah yang sudah menggantikannya, begitu juga baba Aiman dan ummah Ais mereka juga sekarang orang tua hubby, jadi jangan sedih lagi ya, nanti Rara ikut sedih, "
Rafli tersenyum mendengar ucapan tulus nan polos istri kecilnya, Rafli seakan mimpi bisa mendapatkan bidadari berhati malaikat ini sudah menjadi istri dan ibu untuk anaknya di usianya yang baru menginjak dua puluh satu tahun, dan yang membuat Rafli semakin bangga sang istri menolak untuk program KB.
"Terimakasih, sayang. Kamu sudah hadir menjadi warna di kegelapan hidup hubby, menarik hubby dari kesepian menuju keceriaan, dan terimakasih juga sudah memberikan pangeran tampan untuk hubby, "
"Sama-sama, gitu dong tersenyum. Jangan sedih lagi ya. Nanti Andrian kira punya bapak cengeng! "
Ha.. ha...
Tawa lepas Rafli membuat semua orang kini memerhatikannya, tawa yang membuat semua orang tercengang. Pasalnya Rafli tidak pernah tertawa selepas itu sampai memperlihatkan gusinya. Biasanya Rafli hanya tersenyum cuma tipis, apalagi Panji yang begitu irit mungkin jika Panji yang tertawa seperti itu, sesuatu yang luar biasa.
Hup...
Rafli menutup mulutnya ketika sadar semua orang memerhatikannya, membuat Rafli menjadi kikuk sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Mamah Mona tersenyum geli melihat menantunya bisa tertawa selepas itu dan tentunya pasti karena putri manja nan polosnya.
"Sayang malu! "
__ADS_1
Cicit Rafli berbisik pada sang istri membuat Rara tersenyum geli, jarang sekali melihat suami bertingkah konyol seperti ini.
Sedangkan Laila dan Akbar pengantin baru itu sibuk jalan-jalan menelusuri kebun teh, sesekali Akbar mengabadikannya.
"Kay, coba kamu duduk di sana? "
Ucap Akbar menunjuk pohon pinus yang cukup besar, Laila langsung berlari dan duduk di bawah pohon pinus dengan punggung menyandar.
Akbar langsung mengeluarkan buku gambarnya dan melukis sang istri di sana, Laila duduk manis dengan gayanya seakan sedang menyandarkan kepalanya di pundak seseorang, padahal Laila hanya memiringkan kepalanya sesuai dengan arahan sang suami.
"Sudah? "
"Nih..., "
Ucap Akbar sambil memberikan buku gambarnya pada sang istri, Laila langsung mengambilnya, seketika matanya berbinar dengan senyum yang mengembang indah melihat hasil karya suaminya yang tidak bisa di ragukan lagi.
Hasil gambarnya memperlihatkan Laila duduk dengan kepala menyandar di pundak Akbar manja, padahal aslinya Laila duduk sendiri.
"Boleh aku pinjam pensilnya? "
Laila tersenyum mengambil pensil yang suaminya berikan. Laila tersenyum dengan tangan yang begitu lihai menari di atas buku gambar Akbar.
Dimana Laila seakan membingkai hasil gambar sang suami dan menuliskan sebuah nama dirinya dan sang suami.
"So perfek,"
Gugam Akbar tersenyum melihat karya sang istri yang menyempurnakan hasil gambarnya.
"Iya dong,"
"Balik yuk, sudah mau magrib? "
"Ayo..., "
Akbar meraih tangan sang istri dan menggenggamnya, mereka berjalan beriringan kembali menuju Villa dimana kakak dan kelaurganya berada.
Sesekali Akbar menjahili sang istri membuat Laila kesal, karena sang suami terus menggelitik pinggangnya, hingga pengantin baru itu kejar-kejaran sampai menuju Villa membuat semua orang langsung melihat mengalihkan tatapannya pada pengantin muda itu yang nampak bahagia, dengan tawa yang begitu lepas.
__ADS_1
Doa kakak selalu menyertaimu...
Bersambung....