AMARAH CINTA (Bukan Salah Tuhan)

AMARAH CINTA (Bukan Salah Tuhan)
Bab 69 Ketegangan..


__ADS_3

"Harusnya kau berterimakasih padaku, hancurnya keluarga Al-fatih membuatmu bisa menguasai seluruh kekayaan Al-fatih. "


Ucap bik Marni mempropokasi Rafli kemudian bik Marni tersenyum kecut mendengar apa yang Rafli ucapkan.


"Sayang nya aku bukan kau,,,, "


" Begitu naif, cih.. Panji sudah gila apa lagi yang kau harapkan. "


"Kau menginginkan aku G. I. L. A "


Deg....


Dunia seakan berhenti berputar melihat sosok gagah yang baru keluar dalam mobil, walau tubuhnya terlihat kurus dengan lingkar hitam di matanya tetap saja tidak sedikitpun mengurangi ketampanan dan kegagahan nya bahkan aura kelam begitu menyerap keberanian orang-orang yang ada di sana, tatapannya begitu tajam menghunus wanita paru baya yang duduk dengan angkuhnya.


Mata mereka saling bertabrakan menusuk kedalam bola mata masing-masing, terlihat jelas kekecewaan, sedih ,benci dan marah menjadi satu hingga suasana menjadi tegang.


Penghianatan yang bik Marni lakukan sungguh meninggalkan rasa sakit yang teramat dalam. Orang yang sudah Panji anggap nenek sendiri, Panji tumbuh dalam asuhan bik Marni tapi nyatanya wanita tua itu mendekati keluarganya hanya ingin menghancurkan keluarganya secara perlahan.


Rasa sakit dan kecewa terlihat jelas dimata Panji. Penghianati yang begitu menyakitkan oleh orang yang begitu Panji sayangi, rasa sakit kehilangan harus menyesakan ketika Panji mengetahui penghianatan yang bik Marni lakukan.


Sungguh hidup Panji tidak henti-hentinya di jungkir balikan dalam jurang kesakitan, sakit !hingga rasa sakit itu membuat Panji enggan untuk meneteskan air mata lagi.


Sudah cukup air mata Panji keluarkan seolah air mata itu sudah kering, tatapan kasih sayang menghilang begitu saja berganti kecewa,marah dan sedih.


Haruskah Panji mengutuk takdirnya sendiri kenapa Tuhan tidak henti-hentinya mempermainkan hidupnya.


Jika bukan karna Sky yang memperlihatkan apa yang bik Marni lakukan sungguh mungkin Panji memang sudah Gila.Awalnya memang Panji tidak mempercayainya karna Panji pikir Santi hanyalah pembantu baru sangat lancang berkata seperti itu, Akan tetapi Panji di buat terkejut mendengar bentakan Santi, suara itu mengingatkan Panji pada suara gadis di balik hujan dan ternyata memang Sky orangnya.


Semuanya sudah usai, Mengetahui dalang dibalik semuanya membuat Panji benar-benar terpuruk dan menyetujui rencana yang sudah Sky atur.


Awalnya Panji menolak dan ingin membunuh bik Marni tapi Sky menghalanginya karna itu sama saja Panji sama jahatnya dengan mereka dan pasti Panji tidak akan bisa menemukan dimana keberadaan sang adik.


Hingga apa yang Sky ucapkan ternyata benar, ketika Panji berpura-pura pingsan dan dokter menyatakan kalau Panji mengalami depresi bik Marni masuk dan berbisik.


Sungguh malang nasibmu..


Kau harus membayar apa yang ayahmu lakukan ha.. ha.. dasar bodoh.


Kalau saja ayahmu tidak melakukan kesalahan aku tidak akan sejahat ini, membuatmu harus meminum obat supaya kau berasumsi kalau mamahmu masih ada ha.. ha... sebentar lagi kau akan gila seperti apa yang putriku rasakan.


Selamat tinggal...


Panji mengepalkan tangannya mengingat apa yang bik Marni bisikan padanya, hati Panji begitu sakit, ternyata bik Marni dalang dari semuanya.


Sungguh rasa sakit kehilangan harus bertambah berkali-kali lipat, rasanya Panji ingin mencekik wanita paru baya itu tapi Panji menahannya karna tidak mau membuat adiknya dalam bahaya.

__ADS_1


Tatapan tajam terus Panji berikan pada wanita paru baya itu, melihatnya membuat Panji jijik dengan apa yang bik Marni lakukan pada keluarganya sungguh manusia yang gelap hati.


"Katakan kau jual pada siapa Adikku. "


Bentak Panji menyala memekik gendang telinga orang-orang yang ada disana.


Prok... prok....


Bik Marni bertepuk tangan melihat ternyata Panji tidak gila,padahal jauh dilubuk hati bik Marni ada rasa gugup melihat keadaan Panji yang terlihat sehat, bukan kah aku setiap hari memberi obat supaya mentalnya terganggu, cih.. sungguh drama menarik, batin bik Marni tersenyum seringai.


Bik Marni baru ingat kalau kedatangan Santi adalah sebuah rencana, bik Marni mengetahui itu kemaren ketika akan buang sampah dan melihat ada sebuah kaca mata dan gigi palsu yang tergeletak.


"Ternyata kau begitu cerdik, mengelabuiku ha.. ha...tapi sayang kau tidak bisa menemukan adikmu, mungkin dia sudah mati. "


Ucap bik Marni tersenyum puas melihat Panji hanya diam, dengan tatapan sulit diartikan terus menghunus bik Marni yang dari tadi berusaha mengendalikan rasa gugupnya.


"Katakan sebelum habis kesabaranku,,, "


Ucap Panji dingin sambil berjalan pelan mendekati wanita paruh baya itu, Panji tersenyum tipis melihat ketakutan yang berusaha bik Marni sembunyikan.


Krek...


Panji mencekik leher Bimo yang berusaha menghalangi langkah Panji membuat Bimo berusaha melepaskan tangan besar Panji yang mencekik lehernya.


Anak buah Bimo langsung mengeluarkan senjata api, dan menodongkan pada Panji tapi Kamal tidak tinggal diam mengisyaratkan pada anak buahnya supaya melindungi Tuan besar mereka.


Pekik bik Marni terkejut anaknya di cekik bahkan kaki Bimo sampai menjinjit karna Panji mengangkatnya. Tidak ada Panji yang lemah semuanya seakan mimpi Panji berubah menjadi seorang predator dengan aura kelam yang keluar sudah cukup Panji hanya berdiam kini Panji menunjukan taringnya.


Uhuk...


Bimo berbatuk ketika Panji mengeratkan cekikannya membuat Bimo memucat seakan ajalnya sebentar lagi menghampirinya.Nafasnya seakan tertahan ketika Panji semakin menekannya.


"Lepaskan sialan.... "


"Katakan dimana adikku,,, "


Bentak Panji dengan mata yang sudah memerah menatap tajam bik Marni yang semakin gugup, tapi tidak lama bik Marni tersenyum tipis membuat Panji mengerutkan keningnya.


"Lepaskan atau aku akan meledakkan saudaramu.. "


Bruk...


Uhuk... uhuk....


Bimo berbatuk mengambil nafas sebanyak-banyaknya, wajahnya yang memucat perlahan kembali ketika Panji langsung melepaskan cekikannya dan membantingnya hingga tersungkur.

__ADS_1


Panji menatap wanita paru baya itu yang tersenyum puas, rasanya Panji ingin membunuh wanita tua itu tapi Panji tidak mau membahayakan sudaranya sendiri.


Sebuah remot kontrol yang di pegang bik Marni adalah tombol peledak bom yang sudah dirancang khusus, Kamal dengan kasar membuka jaket Farhan ternyata benar ada bom yang membelit badan Farhan.


"Dasar wanita licik,jangan kau berani-berani menyakiti sudaraku.Jika kau mau kau boleh membunuhku tapi jangan dia. "


Bentak Panji menyala membuat bik Marni tersenyum puas melihat ketakutan dimata Panji.


"Tapi sayangnya aku ingin kau menderita bukan mati.. "


"Kau,,, "


Geram Panji sampai menggesekan gigi-giginya menahan amarah yang siap meledak tapi sekuat tenaga Panji menahannya karna tidak mau membahayakan Farhan.


" Kau wanita licik, lepaskan sialan... "


Bentak Farhan mendorong dua anak buah Kamal dan berjalan mendekati wanita paruh baya itu dengan dada naik turun, amarahnya sudah tidak bisa di tahan lagi, dari tadi Farhan hanya diam menahan amarahnya yang sudah mengubun.


"Berhenti atau aku ledakan,,, "


"Aku tidak peduli, kau harus mati,,, "


Bug... bug...


Amuk Farhan memukul anak buah Bimo yang mencoba menghalangi jalannya ,Farhan seperti orang kesyetanan melupakan cidra di bagian punggungnya yang belum pulih.


Bruk...


Farhan tersungkur karna musuh menendang punggungnya membuat Farhan mengeram sakit.


Panji hanya diam melihat kebodohan yang dilakukan Farhan.


"Baiklah jika kau ingin segera menyusul ibu dan ayahmu.. "


"Aku bilang jangan menyakitinya jika kalian tidak ingin menyesal,,, "


Geram Panji melihat bik Marni yang akan menekan tombol ledakan bom itu.


"Tapi sayangnya anak bodoh itu menginginkannya. "


" Selamat bertemu dengan kedua orang tu... "


"Stopppp,,,,, "


Duarrr....

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2