AMARAH CINTA (Bukan Salah Tuhan)

AMARAH CINTA (Bukan Salah Tuhan)
89 Sebuah keputusan


__ADS_3

Kecanggungan menyelimuti dua manusia yang sejak tadi hanya diam, duduk di kursi pinggir danau.


Tatapan keduanya hanya lurus kedepan memandang danau, hembusan angin menyapa keduanya seolah memberi kesejukan di hati masing-masing.


Sungguh Panji tidak pernah sekalipun dalam posisi secanggung ini, mengingat tingkah bodoh Panji membuat Panji mengupat dirinya sendiri kenapa hilang kendali.


Begitupun Sky hanya diam tenang menunggu apa yang akan Panji bicarakan, walau sejujurnya Sky merasa berdebar.


Panji datang dan pergi bak hantu yang tampa permisi, dan sekarang tiba-tiba datang memeluknya dengan keadaan kacau. Bernarkah Panji tidak mau bercerai dengannya! alasan apa yang membuat Panji seperti itu! ketika hati ini mulai ragu kenapa dia datang secara tiba-tiba.


Begitu banyak pertanyaan di kepala Sky tapi Sky enggan untuk bertanya, Sky hanya tidak mau terlalu berharap kalau ujung-ujungnya Panji akan pergi lagi tampa pamit.


"Ma.. maaf.. "


Kata maaf awal memecah keheningan antara dua manusia itu.


Dengan segenap keberanian Panji berusaha bersua dengan tatapan yang masih lurus kedepan.


"Aku tidak bermaksud meninggalkan kamu tampa pamit, hanya saja aku ta... "


"Aku tau, kau pergi untuk menyelamatkan adikmu."


Deg...


Panji dia membisu, menerka-nerka bagaimana Sky bisa tahu kalau dirinya pergi untuk menyelamatkan Laila. Bukankah Panji tidak mengatakan apapun, bagaimana Sky bisa tau, pikir Panji.


"Maaf, bagaimana kamu bisa tau?"


Kini Panji menghadap Sky yang masih sama menatap lurus kedepan dengan wajah datarnya, bahkan Panji tidak bisa menebak apa yang sedang gadis itu pikirkan.


"Karena aku yang memberitahu anak buah bodohmu, tiga hari sebelum kejadian itu. Jika saja anak buahmu memberitahu mu dengan cepat tampa memastikan dulu mungkin pernikahan ini tidak akan terjadi, dan aku tidak akan mengecewakan kedua orang tuaku. "


Ucap Sky dengan ekpresi datar sambil beranjak dari duduknya berjalan lima langkah di depan Panji.


Panji melotot tidak percaya dengan apa yang Sky katakan, entah apa yang harus Panji katakan, gadis di depannya sungguh luar biasa. Bahkan Panji sendiri sampai kecolongan.


"Apa kamu menyesal?"


Tanya Panji hati-hati sambil melangkah menjadi sejajar dengan Sky yang memandang damainya air danau.


"Menyesal, mungkin! tapi sayang nya sudah terlambat! "


"Maaf."


"Buat apa minta maaf, siapa aku! "

__ADS_1


Ucap Sky bergetar sambil menunjuk dirinya sendiri menghadap Panji.


"Walau bagaimanapun kamu istriku."


"Istri! istri yang tidak di anggap! "


"Bukan begitu, waktu itu aku hanya panik dan ti.. tidak bisa berpikir de.. "


"Sesulit itukah mengucap kata pamit! "


Potong Sky kecewa memberanikan diri menatap wajah Panji, begitupun Panji menatap kedalam bola mata Sky, terlihat jelas kekecewaan dalam bola mata tajam itu membuat Panji merasa bersalah.


"Apa kau kecewa!"


"Tentu!"


Balas Sky cepat sambil berjalan satu langkah kedepan tampa melepaskan tatapannya.


"Kita bertemu tampa sengaja, bahkan pernikahan inipun tampa sengaja. Kamu menyetujui pernikahan ini karena terpaksa begitupun aku, bahkan aku merasa bersalah karena sudah mengecewakan mereka. Mereka pikir kita berbuat macam-macam, mungkin yang satu itu adalah kesalahanku, aku menangis karena sedih dengan apa yang terjadi, aku pikir adanya kamu di sisiku bisa mengurangi kesedihanku setidaknya aku tidak bersedih sendirian tapi nyatanya aku salah, kepergianmu sungguh menambah luka dan kekecewaan di hatiku, seakan aku istri yang tidak di inginkah he.. he.. bukankah begitu!"


Ucap Sky berusaha menahan tangis sambil terkekeh bercoba baik-baik saja.


"Aku tidak bermaksud tidak menganggapmu, waktu itu pikiranku kacau dan tidak bisa berpikir dengan jernih. Aku hanya berpikir ingin secepatnya menemukan adikku. Maaf jika apa yang aku lakukan malah melukai mu. "


"Kamu menyetujui pernikahan ini karena terpaksa begitupun aku. Jadi buat apa kita bersama!"


Deg...


Perlahan Panji membuka kedua matanya yang memerah menatap tajam Sky, sesaat Sky tertegun melihat sorot mata itu yang memancarkan amarah tetapi Sky berusaha tetap tenang.


"Sudah ku katakan Aku tidak akan menceraikanmu, sampai kapanpun!!!"


Tekan Panji menahan amarah sambil berjalan satu langkah kehadapan Sky, hingga jarak mereka hanya tinggal beberapa senti.


"Berikan aku alasan!"


"Aku tidak tau, aku sendiri bingung! aku... aku hanya takut dia membawamu."


Kening Sky mengerut mendengar apa yang Panji ucapkan 'dia' siapa yang Panji maksud, pikir Sky bingung.


"Aku tahu, aku salah. Aku minta maaf sudah meninggalkanmu. Kita menikah karena sama-sama terpaksa dan sebuah kesalahan, tapi.. tapi aku membenci kata cerai. Aku tahu diantara kita tidak ada cinta, tapi bisakah kita membiarkan semua berjalan dengan biasa, jika suatu hari nanti kita tidak berhasil maka akupun akan menyerah!"


"Bagaimana kalau aku tidak mau!"


"Maka aku akan memaksamu. "

__ADS_1


Tekan Panji, entah kenapa Panji tidak terima jika Sky menyerah begitu saja, padahal mereka belum mencobanya.


Kenapa dengan Panji! bukankah Panji tidak mencintai Sky, buat apa Panji ingin mempertahankan sebuah hubungan yang akan menyiksanya! sungguh sesuatu yang diluar dugaan. Bahkan Sky sedikit terkejut dengan apa yang Panji katakan dengan nada sedikit paksaan.


Ketika Sky semalaman memikirkan kemana arah pernikahannya berlanjut atau mundur, Sky memilih untuk mundur dan siap atas resiko yang akan Sky dapatkan.


Tetapi kenapa Allah seakan tidak menyukainya, dan sekarang laki-laki di hadapannya dengan teganya pergi dan datang secara tiba-tiba lalu memaksa dirinya bertahan, sungguh hebat bukan! Takdir Allah tidak ada yang tau.


"Ta.. tapi aku.. aku.. ragu.. "


Cicit Sky mulai melemah karena bingung harus berbuat apa, padahal Sky sudah menyerah tetapi kenapa Panji malah mempersulit jalannya.


"Apa yang membuat kamu ragu! bukankah kita bisa saling mengenal dulu.. "


"Mungkin aku gadis tangguh bagi kebanyakan orang, tetapi aku sama seperti wanita pada umumnya. Aku hanya takut kau pergi tampa pamit... lagi, "


Deg...


Panji terkejut dengan apa yang Sky katakan, apa kepergian Panji membuat Sky sekecewa itu, atau ada hal lain, pikir Panji menerka.


Apa sebuah kepergian yang membuat Sky Trauma..


Batin Panji menatap lekat wajah Sky yang hanya datar tampa ekpresi, tetapi Panji bisa melihat dibalik mata tajam itu menyimpan banyak luka dan kesedihan.


"Aku tidak bisa berjanji, tetapi aku akan berusaha!"


Ucap Panji sepontan membuat Sky tersenyum tipis dan hal itu sungguh membuat jantung Panji berdebar.


Grep...


"Bolehkah aku mencium punggung tangan ini?"


Tanya Sky sambil meraih tangan besar Panji, membuat Panji terkesiap dengan apa yang Sky lakukan. Panji mengangguk tampa sadar.


Cup...


Darah Panji mendesir merasakan daging lembut mengecup punggung tangannya, membuat Panji hanya mematung. Ada kehangatan tiba-tiba muncul di hati Panji tetkala Sky mencium punggung tangannya penuh takdzim.


"Harusnya aku melakukannya dimalam itu, tapi sayang kamu pergi."


Ada rasa sesal di hati Panji sudah meninggalkan Sky tanpa pamit, bahkan Panji tampa sadar sudah membuat Sky berbuat dosa tidak mencium punggung tangannya tanda bentuk bahwa Sky adalah miliknya, tetapi tingkah Panji seolah Panji melepas Sky begitu saja.


"Sekarang kamu Imamku, maka ridhoilah aku menjadi istrimu."


Deg...

__ADS_1


Semoga ini keputusan yang baik ya Robb, awal membangun istana keridhoan di sisi-Mu. Amin...


Bersambung....


__ADS_2