AMARAH CINTA (Bukan Salah Tuhan)

AMARAH CINTA (Bukan Salah Tuhan)
Bab 42 Penyerangan berujung kesedihan


__ADS_3

Setelah mendapatkan pesan Rafli langsung pergi setelah mengantarkan sang istri dan anaknya kerumah.


Rafli menuju tempat yang Panji kirim, dengan kecepatan penuh akhirnya Rafli sampai. Tak banyak ucap Rafli langsung berganti pakain yang sudah disiapkan.


"Apa kamu yakin, Pan ? "


"Waktu kita tidak banyak, kita harus menyerang sebelum bedebah itu menyadarinya! "


Ucap Panji dingin dengan mata yang menatap sebuah bangunan didepannya. Jika Panji sudah berkata begitu maka Rafli hanya mengangguk saja sambil memakai topi hitam.


"Mari bersenang-senang "


Panji mengisyaratkan pada anak buahnya lewat telunjuknya yang bergerak dengan sorot mata tajam. Membuat para anak buah mengangguk mengerti akan isyarat Tuannya.


Panji dan Rafli menyerang dari arah depan, Heri dan anak buahnya bagian samping dan satu kelompok lagi bagian belakang.


Bangunan megah itu sudah dikepung oleh anak buah Panji membuat para pereman yang berjaga kecolongan.


"Hey siapa kau.. "


Bentak salah satu pereman membuat kelompok Panji yang ada dibagian belakang langsung waspada. Hingga terjadilah pergulataan sengit kelompok Panji dengan orang-orang berpakain serba hitam.


Mendengar anak buahnya sudah saling serang dengan leluasa Panji dan Rafli masuk dengan sorot mata waspada.


Panji menaiki anak tangga begitupun Rafli mengikuti dari belakang.


"Hey siapa kau.. "


"Sitt... "


Panji mengupat saat berpapasan dengan salah satu pereman berbadan tegap, membuat Panji langsung waspada.


"Nyatanya ada penyusup,habisi dia ! "


Panji dan Rafli memasang kuda-kudanya ketika lima orang maju kedepan, hingga terjadilah baku hantam. Panji dan Rafli paling mendomian nembuat para pereman itu mengeram kesal.


Bug.. bug.... bug...


Pukulan Panji layangkan tepat di rahang para pereman itu, giriran Rafli langsung menendang para pereman itu tepat diuluh hatinya membuat satu pereman terpental menubruk yang lain dengan cairan merah menyembur dari mulutnya.


Uhuk...


Satu pereman yang Rafli tendang berbatuk membuat keempat temannya terkejut sambil menatap nyalang Rafli dan Panji.


Tampa di duga salah satu pereman mengeluarkan pisau kembali menyerang.


Sret... sret....


Panji terus menghindar waspada karna lawannya mengeluarkan benda tajam.Mata tajam Panji melihat ada sebuah meja dengan gerakan cepat Panji melompat dan memutar tubuhnya hingga kaki kanannya mendarat cantik di pundak pereman itu.


Bruk...


"Awwss.. "


Teriak pereman itu menggeram sakit akibat tendangan Panji hingga badannya terhuyung membentur ding-ding. Darah segar keluar dari kepalanya, tidak sampai disitu Panji menotog pereman itu hingga pingsan.

__ADS_1


Sedangkan Rafli masih melawan dua pereman bertubuh tegap dengan kumis rimba Aq WasEssamembuat pereman itu terkesan sangar tapi tak sedikitpun membuat Panji getar.


Bug.. bug...


Dua pukulan melayang bertubi-tubi hingga membuat dua pereman itu mundur kebelakang, melihat itu Panji langsung berlari menendang dua pereman itu hingga tersungkur.


Bruk...


Tidak sampai disitu Panji kembali menotog kedua pereman itu hingga pingsan.


"Kita cari dimana Smit berada! "


Ucap Panji sambil mengatur nafasnya begitupun Rafli.


Panji dan Rafli memeriksa semua ruangan dan kamar tapi tak menemukan Smit sama sekali, tingga satu kamar lagi yang berada paling ujung. Panji dan Rafli mengendap sambil menempelkan telinganya di balik pintu.


"Bunuh Kayla. "


Deg...


Jantung Panji berdetak kencang mendengar adiknya target pembunuhan selanjutnya. Seketika tangan Panji mengepal erat dengan mata yang sudah memerah menahan amarah.


Dorr...


"Kau,,,, "


Bentak Sandi terkejut dengan apa yang Smit lakukan,begitupun para pereman ayang ada didalam kecuali Bimo yang hanya diam.


"Kenapa kau kaget Ayah !"


"Berani kau menembak ayahmu "


"Ha.. ha.... "


Smit tertawa mendengar Sandi menyebutkan dirinya ayah.


"Ayah, bukankah kau bukan AYAHKU !. "


Ucap Smit sambil menekan kata Ayah, membuat Sandi seketika melotot.


"Sudah cukup kau membodohiku selama ini, kau dari kecil sengaja menghasutku untuk membenci keluarga Al-fatih nyatanya kau sendiri yang menghabisi kedua orang tuaku dan membuang adikku. Dan Kau jadikan aku kambing hitam dikeluargaku sendiri !"


Bentak Smit sakit mengetahui kebenarannya dari Andre dan Panji tiga hari yang lalu saat Smit di sekap oleh Panji. Awalnya Smit tidak percaya dengan apa yang paman Andre ucapkan tapi sebuah bukti membuat Smit tak bisa berkata-kata.


Bahwa kedua orang tuanya di bunuh oleh Sandi, orang yang selama ini Smit anggap ayah nyatanya penghianat sesungguhnya.


"Ha... ha... ternyata kau sudah mengetahui semuanya, bagus.Dan sekarang giliran kau yang akan mati sama seperti kedua orang tuamu.Keluarga Al-fatih harus hancur seperti apa yang kalian lakukan pada keluargaku. "


Sandi tertawa sambil tersenyum kecut menatap nyalang pada Smit. Begitupun Smit matanya sudah memerah menahan amarah yang mengubun karna merasa dibodohi selama ini.


"Kau,,,, "


"Habisi anak sialan itu, dan Penghianat ! "


Brakk....

__ADS_1


Semua orang menghentikan gerakannya ketika akan saling serang mendengar pintu dibuka dengan kasar.


Panji dan Rafli masuk dengan angkuhnya membuat Sandi melotot melihat siapa yang datang, tak lama Sandi tersenyum tipis.


Prok... prok....


"Ternyata reuni keluarga ha.. ha.. "


Sandi tepuk tangan sambil mencibir melihat siapa yang datang.


"Bagus, kau juga harus mati seperti apa yang kau lakukan dulu pada anakku Bayu artana Pratama. "


Deg....


Panji terkejut mendengar nama itu, nama teman kecilnya yang dulu dibunuh tepat dihadapan dirinya.


Melihat Panji yang diam membuat Sandi menyunggingkan senyum seringai, Sandi sudah bersumpah didepan jenajah sang putra kalau dirinya akan membalas perbuatan yang keluarga Al-fatih lakukan.


"Ayahmu dulu membunuh istriku dan kau membunuh putraku. Anak dan ayah sama saja pembunuh ! dan kau.. "


Tunjuk Sandi kearah wajah Smit dengan tatapan entah apa, hanya Sandi sendiri yang tau.


"Aku tidak membunuh kedua orang tuamu, tapi aku akui akulah yang membuang adik tercintamu. Aku hanya memangfaatkan situasi ini saja, yang akan menguntungkan diriku menjadikanmu kambing hitam dikeluargamu sendiri tampa harus aku mengotori kedua tanganku ha.. ha.. "


Smit yang mendengar itu mengeram marah tak terima dirinya dipermainkan, walau Smit aku dirinya begitu menyayangi Sandi sebagai ayahnya dimana dulu dirinya terlunta-luna seorang diri sambil mencari sang adik yang entah kemana.


Grep...


Panji mencekal erat tangan Smit yang tak lain adalah Farhan yang akan menghajar Sandi dengan tatapan tajam.


" Tidak Paman ! aku dan ayahku tidak berbuat apa yang paman tuduhkan, bukan aku atau ayahku pelakunya tapi orang ber.... "


Dorr....


"Papah,,,,,"


Teriak Panji membulatkan kedua matanya melihat sang Papah tergeletak tersimpah darah.


Rafli,Smit dan yang lain juga terkejut tapi tidak dengan Sandi yang hanya diam dengan apa yang tiba-tiba terjadi Andre menyelamatkan nyawanya dari tembakan yang entah berasal dari mana.


"Pa.. papah.. bangun.. tolong jangan tinggalkan Sky.. Pah.. "


Teriak Panji langsung menarik kepala sang papah keatas pangkuannya. Dengan sisa tenaga Andre berusaha menggenggam tangan sahabatnya dengan tatapan sakit, rindu dan bersalah.


"Ap.. apa yang Sky ka.. katakan it.. itu benar. Ak.. aku tidak me.. membunuh istrimu uhuk.. "


"Papah,,, "


Teriak Panji prustasi genggeleng kuat.


"La.. laila diba... "


Dor.. dor...


"Papah,,,,,, "

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2