AMARAH CINTA (Bukan Salah Tuhan)

AMARAH CINTA (Bukan Salah Tuhan)
Bab 87 Mari bercerai....


__ADS_3

Panji berjalan memasuki kediaman yang sudah satu minggu Panji tinggalkan, tepatnya seorang istri yang sudah Panji tinggalkan.


Semua orang menyambut kedatangan Panji dengan antusias, mata Panji menelisik satu persatu orang yang berada di ruang tamu tetapi Panji tidak menemukan seseorang yang sendari tadi Panji cari.


"Maaf om tente kenapa Sky tidak kelihatan?"


"Ko, masih panggil om sama tante, panggil Baba sama Ummah seperti Sky, kamu sudah bagian dari keluarga kami."


"Eh.. iya,maaf Baba Ummah Sky dimana?"


Tanya Panji lagi karena tidak melihat Sky, padahal Panji berharap Sky menyambut kedatangannya. Tetapi Panji hanya menelan kekecewaan.


"Kamu langsung aja kekamarnya, mungkin Sky ada di kamar. Kamarnya di lantai atas sebelah kanan cat warna pink."


"Te.. terimakasih Baba,Ummah. "


Jawab Panji langsung berlari menaiki anak tangga menuju kamar Sky, jantung Panji berdetak sangat kencang bingung antara langsung masuk atau tidak.


Tok.. tok...


Panji mengetuk pintu berharap Sky akan membukanya, lama Panji menunggu tidak kunjung di buka.


Tok..tok...


Sekali lagi Panji mengetuk pintu tetapi masih tidak ada sahutan.


"Masuk aja, toh aku suaminya.. "


Gumam Panji sambil membuka pintu, kosong. Itulah yang Panji lihat, kamar itu kosong.


Panji mencari Sky di kamar mandi dan balkon tetap saja tidak ada membuat Panji begitu ketakutan takut kalau Sky marah pada dirinya.


Panji berlari menuruni anak tangga dengan wajah cemasnya, membuat semua orang bingung dengan apa yang Panji lakukan.


"Baba, Ummah. Sky tidak ada dikamar nya! "


Tanya Panji dengan nada bingung membuat semua orang juga bingung, pasalnya Sky memang dari tadi tidak kelihatan.


"Kak Sky pergi kemakam kak Amira."


Deg...


Sontak Panji terkejut mendengar apa yang Rara katakan begitupun kedua orang tua Sky, pasalnya Sky bukan gadis keluar tampa meminta izin terlebih dahulu.


Tampa pikir panjang Panji langsung berlari keluar menuju mobilnya, entah kenapa Panji seakan cepat bisa sampai ke Tempat pemakaman umum (TPU) seakan jarak mendukungnya.


Panji keluar dari mobil dan berlari.


Deg...


Panji menghentikan kedua kakinya ketika Sky beranjak dari makam Amira dengan mata sembab menandakan kalau Sky habis menangis.


Begitupun Sky menghentikan langkahnya ketika melihat Panji tiba-tiba ada dihadapannya. Ingin sekali Sky marah dan meminta penjelasan kenapa Panji meninggalkannya, tetapi Sky mengurungkan niatnya karna tidak ada hak bagi Sky menghakimi Panji.


Grep...


"Ma.. mau kemana?"


Ucap Panji sambil mencengkal lengan Sky membuat Sky langsung terdiam sambil menatap Panji dengan tatapan sulit di artikan.


"Kenapa bertanya! bukankah kamu pergi tampa pamit, harunya aku juga pergi tidak perlu pamit bukan?"


"Aku suamimu, jadi aku berhak bertanya!"


"Ha.. ha.. kamu lucu, jika memang kamu seorang suami kenapa pergi tepat dimalam pernikahan kita!"


"Itu bukan urusanmu, ak... "


"Mari bercerai. "

__ADS_1


Deg....


Panji terkesiap mendengar dua kata sukses meremas jantungnya seakan sulit bagi Panji untuk bernafas, kenapa Panji sesesak itu bukankah dia tidak menginginkan pernikahan ini.


"Aku tidak mau."


"Harus!"


"Aku tidak mau, kau miliku akan tetap jadi milikku."


Bentak Panji menyala seakan tidak percaya dengan apa yang Sky ucapkan.


"Kau sudah melepasku sepuluh menit ketika mengucap kata janji, bahkan tampa pamit, jadi untuk apa aku mempertahankan pernikahan ini."


"I.. itu ak.. aku minta maaf dan bisa aku jelaskan, pokonya aku tidak mau menceraikanmu."


"Tapi aku mau kita bercerai.. "


"Tidak. Aku bilang tidak yah tidak!"


"Kenapa kau seegois itu!"


Ucap Sky mulai meninggi, kenapa Panji tidak mau bercerai dengannya padahal sudah satu minggu Panji meninggalkannya tampa kabar dan sekarang ketika Sky ingin menyerah kenapa Panji malah mengikatnya.


"Pokonya aku tidak akan menceraikanmu dan tidak mau bercerai. Ayo kita pulang.. "


"Tidak. Kau jangan egois, cereikan aku sekarang juga. "


"Aku bilang tidak ya tidak... "


"Panji... hiks... kenapa kau begitu jahat... "


"Ceraikan aku."


"Tidak."


"Cer... "


"Tidak! "


"Tidakkk.... "


"Kakak bangun, Kak!"


"Tidak... tidak... tidakkk..... ah... "


Jerit Panji terbangun dengan dada naik turun, keringat dingin membanjiri pelipis Panji dengan nafas tidak teratur.


Cuma mimpi.. mimpi...


Gumam Panji sambil mencari sesuatu seperti orang ketakutan, bahkan Panji tidak menyadari keberadaan Laila di sampingnya yang menatap dirinya bingung.


Sudah menemukan benda yang Panji cari, Panji langsung mencari kontak Kamal dengan nafas yang belum teratur, wajahnya begitu memancarkan ketakutan dan kecemasan.


Mimpi itu seakan nyata membuat Panji ketakutan, walau bagaimanapun Panji sangat benci dengan namanya perceraian.


"Kamal, siapkan pesawat kita kembali ke Indonesia malam ini."


"................"


"Pokonya aku tidak mau tahu, Malam ini kita pulang..."


"....?"


" Jangan membantah sialan...akan ku bunuh kau.. "


Tut...


Panji mematikan sambungan teleponnya dengan dengan amarah yang masih ada, bahkan nafasnya semakin memburu membayangkan kalau mimpi itu kenyataan.

__ADS_1


T.. tidak... aku tidak mau bercerai dan tidak akan.


Batin Panji prustasi kenapa mimpi itu begitu nyata dan sangat menakutkan apalagi sorot mata Sky yang menyimpan kekecewaan dan amarah terbayang jelas di ingatan Panji.


Sorot kesedihan itu seakan membuat hati Panji tercabik-cabik, entah kenapa Panji menjadi takut.


"Kak.. "


Pletak...


"Awsss... "


Deg...


Panji terkejut mendengar ringisan Laila yang tersungkur akibat tepisan tangannya kuat. Sungguh mimpi itu membuat Panji takut, sampai tidak sadar bahwa Panji sudah menyakiti sang adik.


"D.. dek.. ma.. maafkan kakak.. "


Ucap Panji lilir membantu sang adik duduk, Laila menghela nafas berat tidak habis pikir dengan kelakuan sang kakak.


"Apa yang sebenarnya terjadi! kenapa kakak ketakutan begitu, bahkan kakak membentak orang kepercayaan kakak dan mendorong adek. Apa kakak tidak lihat adek segede begini."


Ketus Laila membuat Panji terdiam, merasa bersalah dengan apa yang dia lakukan. Sungguh Panji tidak menyadari kehadiran sang adik di sampingnya. Panji pikir anak buahnya yang menepuk pundaknya ternyata sang adik.


Entah apa yang harus Panji katakan rasanya sulit untuk memberitahukan nya pada sang adik, apa lagi mimpi tadi seakan jelas di ingatan, entah kenapa membuat Panji ketakutan. Takut kehilangan, tidak. Panji tidak mau merasa kehilangan untuk yang kedua kalinya, sungguh rasa takut itu tiba-tiba muncul tampa Panji sadari.


Puk...


"Kakak, kenapa bengong!"


Ucap Laila sambil menepuk lengan sang kakak yang kembali bengong seakan orang yang sedang dilanda kebingungan dan kecemasan membuat Laila menautkan kedua alisnya.


Bahkan keringat dingin masih terus bercucuran seakan ada sesuatu yang di takutkan oleh sang kakak.


"Ka.Kak. "


Tekan Laila dimana sang kakak malah terdiam.


"Emm... iya.. "


"Sebenarnya apa yang terjadi, bahkan tidur kak juga teriak-teriak. Tidak! emang apa yang kakak mimpikan sampai ketakutan seperti ini. "


Ucap Laila melembut sambil mengusap keringat yang masih menetes.


Panji menatap sang adik dengan hati campur aduk, bingung! bagaimana menjelaskannya.


"Maaf kan kakak, tidur adek pasti terganggu. Ayo adek kembali ketempat tidur..."


"Bukankah kakak kita akan kembali, kenapa tidur, bukan bersiap! "


Glek...


Dengan susah payah Panji menelan ludahnya kasar, kenapa sampai bisa melupakannya.


Huh...


Panji membuang nafas dalam-dalam mencoba menetralkan keadaan, lalu menatap sang adik dengan tatapan serius.


"Kakak sudah menikah."


"Apa! "


"Di malam pernikahan, kakak juga meninggalkannya! "


"Hah... "


Laila di buat melongo dengan mulut menganga, begitu terkejut dan tidak percaya dengan apa yang sang kakak ucapkan.


Menikah! meninggalkannya juga.. ah... rasanya kakak ku sudah gila..

__ADS_1


Berasambung....


__ADS_2