
Kenyataan yang begitu menyakitkan membuat Laila hanya diam, entah ekpresi apa yang harus Laila tunjukan.
Apakah Laila harus sedih atau bahagia mengetahui kebenaran yang ada ! .
Sedih karna merasa dibohongi mentah-mentahan oleh orang yang Laila anggap Ayah. Apalagi Sandi memupuk kebencian dihati Laila pada keluarga Al-fatih. Tapi siapa sangka datang nya cinta membuat Laila sulit untuk menghancurkan keluarga yang ternyata memang keluarganya sendiri.
Dan yang paling mengejutkan lagi ternyata Smit juga bukan kakak dan bukan anak dari keluarga Pratama. Melainkan sepupuhnya sendiri putra dari keluarga nugraha, kakak dari sang Mamah paman Kusuma.
Dan Bahagia karna mengetahui kebenarannya sebelum semuanya hancur ditangannya sendiri.
Tapi jauh dilubuk hati Laila dirinya merasa kecewa dan marah.
Jujur! Laila masih menyayangi orang yang dari kecil dirinya anggap Ayah, sampai apapun Laila lakukan.
Tapi siapa sangka Allah telah menunjukan kuasanya, mencegah pertumpahan darah antar saudara dan keluarga.
Semenjak mengetahui hal itu Laila atau Kayla hanya diam enggan untuk bicara. Semuanya bagai mimpi buruk bagi Laila.
Andre yang melihat putrinya murung tidak banyak yang Andre lakulan, Andre paham apa yang dirasakan sang putri. Pasti berat baginya menerima semuanya.
Rasa penyeselan, kecewa, dan marah menggerogoti hati Laila,yang entah harus bagaimana! .
Ruangan VIP itu nampak hening dengan pikirannya masing-masing.
Cklek...
Pintu ruangan terbuka nampaklah Rafli masuk sambil membawa beberapa berkas ditangannya.
Rafli memang selalu mengirim atau mengantarkan langsung berkas penting yang harus Panji tanda tangani.
Rafli menyerngit bingung melihat wajah-wajah manusia didalam ruangan itu. Panji yang menyadari Rafli datang langsung mengajak Rafli keluar.
"Ada apa! apa terjadi sesuatu? "
Tanya Rafli yang memang belum mengetahui tentang apa yang terjadi, Rafli terlalu sibuk dengan pekerjaannya yang menumpuk.
"Kayla ternyata adikku Laila. "
"Apa! Ko bisa! "
Pekik Rafli terkejut mendengar apa yang Panji ucapkan.
"Iya, jadi selama ini Laila selamat dari kecelakaan itu, dan dia mengalami amnesia.
Wajah Rafli berubah-ubah mendengarkan seksama cerita sang sahabat. KadangTegang, geram dan kesal membuat Rafli berkali-kali menghela nafas kasar sambil mengelus dadanya dengan bibir membaca istigfar.
"Dan aku hampir saja membunuhnya.. "
Lilir Panji menghentikan ceritanya dengan tatapan lurus, terpancar luka dan penyesalan didalamnya.
"Aku mengerti apa yang kamu lakukan, tapi Allah masih berbaik hati sampai itu tidak terjadi ! "
"Iya, dan semuanya karna Sky. Gadis itu tiba-tiba muncul dan menghilang sesuka hatinya. "
"Apa kamu tau Pan, siapa Sky sebenarnya! "
"Emang Siap dia ! bahkan dia juga setelah aku selamatkan langsung menghilang ! "
"Dia kakak sepupuhnya Rara putri dari keluarga Mahmued! "
__ADS_1
"Aku tau! "
"Hah.. "
Pekik Rafli terkejut kalau Panji sudah mengetahuinya. Panji hanya mendengus kesal mendengar pekikan Rafli yang memekik gendang telinganya.
"Kamu sudah tau, ko bisa. "
"Karna gadis itu yang menyelamatkan Papah, dia datang bersama abangnya ke rumah sakit. "
"Gadis baik hati.. "
Panji terdiam mendengar ucapan Rafli, memang Panji akui kalau Sky gadis baik hati. Dia menolong sang Papah tampa meminta imbalan bahkan dia pergi juga tampa berpamitan.
Siapa Panji yang menginginkan kalau Sky berpamitan pada dirinya! bukankah Sky bukan siapa-siapa.
"Pertama aku sempat kaget mengetahuinya, dan aku ingin cepat-cepat memberi kabar ini tapi taunya kamu sudah tau! "
"Iya, maaf aku membebani kamu lagi dengan pekerjaan! "
"Itu sudah biasa.. "
Ha.. ha...
Dua sahabat itu tertawa entah apa yang membuat dua sahabat itu tertawa hanya mereka sendiri yang tau.
Sahabat yang selalu ada disaat suka dan duka, saling membantu satu sama lain walau mereka tau punya masalah sendiri.
Itulah indahnya persahabatan yang takkan tergantikan oleh apapun, berharganya.
Bagi Panji Rafli adalah saudara laki-lakinya bukan sekedar sahabat.
"Ha.. ha... oh iya apa ada berkas yang harus aku tanda tangan! "
"Bukan ada dodol tapi banyak, Nih.. "
Pletak...
Ketus Rafli sambil memukulkan berkas yang dari tadi digenggaman tangannya. Panji langsung mengambilnya dan membuka lembar demi lembar berkas itu.
"Kapan kamu masuk kantor, pekerjaan sudah menumpuk! "
"Besok aku kembali kekantor, ada urusan yang harus kita selesaikan! "
"Bagus, itu baru Panji Sky Al-fatih ha.. ha.. "
"Eh.. tunggu aku baru enggeh kalau nama kamu sama dengan gadis itu sama-sama Sky... awas nanti jodoh loh... he.. he.. "
Pletak...
"Sembarangan.. "
Dengus Panji menjitak kening sahabatnya membuat Rafli sedikit meringis sambil mengelus-elus keningnya.
"Emang kalau jodoh kenapa? dia gadis cantik, baik pula. Dan dia juga sepupuhku! "
"Aku mencintai Amira. "
"Ingat Pan, Amira sudah tenang dialam sanah, aku yakin dia juga ingin melihat kamu bahagia! Ini sudah satu tahun lebih . "
__ADS_1
Panji terdiam dengan pikiran entah kemana,rasa cinta itu masih tersimpan rapih dihati Panji. Apa Panji sanggup untuk menggantikannya!
Membuat Panji mengenang masa-masa indah itu, bercanda tawa sambil menghabiskan Es krim setrobery .Membahas masa depan yang indah ,membangun rumah tangga dengan anak-anak didalamnya.
Mengingat itu membuat Panji kembali ingat siapa dalang dibalik kecelakaan yang merenggut dua orang yang begitu berarti bagi Panji.
"Maaf jika aku salah bicara! "
"Tidak apa-apa. "
Balas Panji singkat sambil tersenyum tipis membuat Rafli bernafas lega.
"Cari tahu kelemahan perusahan Pratama Gruf ! "
"Untuk apa! "
"Kamu akan tau! "
"Baiklah.. "
Ucap Rafli sambil membereskan berkas yang sudah Panji tandatangan.
"Astagfirullah aku lupa, hari ini aku mengantar istriku kebandara. "
"Emang Rara mau kemana? "
Tanya Panji sambil menautkan kedua alisnya penasaran. Tidak biasanya istri sahabatnya berpergian jauh tampa Rafli di sisinya.
"Rara tidak kemana-mana, tepatnya mau mengantar Sky dan Fatih kebandara. Mereka akan pulang hari ini. "
Deg...
Ada rasa tak rela dihati Panji mendengar kabar dari Rafli, tapi siapa Panji! mungkin Panji hanya ingin mengucapkan terimakasih karna sudah menyelamatkan sang Papah dan adiknya hingga Panji bisa mendapatkan maaf dari sang adik. Karna kemaren Panji belum sempat bicara.
"Yasudah aku pergi dulu, Assalamualaikum.. "
"Waalaikumsalam.. "
Jawab Panji pelan sambil menatap punggung Rafli yang terus menjauh. Panji menyandarkan kepalanya pada dingding sambil memejamkan kedua matanya menahan sesuatu yang tak enak dihatinya.
Dret... drett...
Panji membuka kedua matanya kembali mendengar suara panggilan masuk. Perlahan Panji mengambil ponsel yang ada didalam saku celananya.
"Apa! Kenapa bisa. "
Pekik Panji terkejut mendengar apa yang anak buahnya sampaikan, Panji langsung mematikan ponselnya.
"Sitt... sial. Aku harus memberi tahu Papah. "
Umpat Panji langsung berlari masuk kedalam ruangan sang adik .Nafas Panji naik turun menahan amarah yang memuncak.
"Papah.. "
"Ada apa! "
" Sandi berhasil menemukan Farhan Dan membawanya pergi! "
Deg...
__ADS_1
Bersambung...