AMARAH CINTA (Bukan Salah Tuhan)

AMARAH CINTA (Bukan Salah Tuhan)
Bab 72 Semuanya sudah Usai...


__ADS_3

Langit yang tadi begitu cerah tiba-tiba menjadi mendung seiringnya langkah kaki seseorang menuju Tempat Pemakaman Umum (TPU) .


Tubuhnya merosot duduk di pusaran sang Mamah dan sang Papah,bulir bening keluar begitu saja dari pelupuk mata tajamnya.


Tangannya telurur mengelus papan nisan yang mengukir indah nama kedua orang tuanya.


"Pah... Mah.. semuanya sudah usai.. "


Gumam Panji gemetar menahan sesuatu yang bergejolak di hatinya, rasanya Panji masih merasa sakit atas kepergian kedua orang tuanya, apalagi di saat bersamaan calon istrinya juga pergi.


"Semuanya selesai.. Sky tau siapa yang membuat Mamah dan Papah pergi dari Sky, di.. dia..orang ya.. yang merawat S.. sky.. Mah Pah. A.. apa yang harus Sky la.. lakukan sekarang, apa Sky harus menghukumnya ! S.. sky kecewa, marah dan sedih ke.. kenapa harus bik Marni Mah Pah.. kenapa bukan orang lain Hiks.. hiks.. "


Adu Panji pada dua gundukan tanah di hadapannya seakan dihadapannya adalah kedua orang tuanya. Panji begitu rapuh dengan kenyataan yang ada, sangat menyakitkan membuat Panji bingung .


Bingung ! Walau bagaimanapun bik Marni orang yang merawat Panji dari kecil, selalu ada ketika kedua orang tuanya sibuk. Bik Marni sudah seperti nenek bagi Panji tapi kenapa harus bik Marni dalang dari kepergian kedua orang tua Panji.


"Sky marah ingin membalas atas kepergian Mamah dan Papah tapi Sky harus berbuat apa jika orang itu adalah orang yang berjasa bagi Sky.. Sky bingung Mah Pah ..Sky harus bagaimana ! "


Monolog Panji begitu sakit dan perih, ingin rasanya Panji meluapkan amarahnya tapi kenapa tidak bisa, kenapa harus bik Marni bukan orang lain. Jauh di lubuk hati Panji ingin meluapkan semua amarah dan kekecewaannya tapi seakan ada benteng yang menghalang membuat Panji sulit untuk berbuat.


"Apa Sky harus menghukumnya katakan Mah Pah S.. sky harus bagaimana ! "


Monolog Panji sungguh sangat sulit memutuskan, rasa sayang ,kecewa,dan marah bercampur jadi satu. Tapi nyatanya rasa kecewa lebih mendominasi membuat Panji enggan bertemu dengan bik Marni, Panji takut tidak bisa mengendalikan dirinya jika bertemu dengan bik Marni.


Hingga semua urusan Panji serahkan pada Rafli, kesalahan bik Marni begitu besar hingga tidak bisa mengelak dari hukum yang menjeratnya di penjara seumur hidup sedangkan Bimo dia harus di hukum mati karna begitu banyak kesalahan, pembunuhan berencana bertahun-tahun dan penjualan organ manusia ,wanita dan narkoba kesalahan itu yang menjeratnya mendapat hukuman mati.


Bahkan bik Marni juga sok dengan apa yang putranya lakukan, bik Marni memang terlibat dalam pembunuhan keluarga Al-fatih, Nugraha dan Pratama tapi tidak dengan yang lainnya itu yang membuat bik Marni terbebas dari hukum Mati tapi di penjara seumur hidup.


Sungguh malang bukan! harus menghabiskan waktu tuanya di pejara,tapi itu sudah hukum yang harus bik Marni peloreh.


Lima hari dari kejadian itu membuat semuanya berubah, bahkan Panji menjadi pendiam dan menghabiskan waktu di pusaran kedua orang tuanya dan calon istrinya.


"Mah, Pah, Amira semoga kalian berada di tempat terbaik di sisi-Nya, Sky berusaha ikhlas atas kepergian kalian.. tolong bantu Sky menemukan dimana Laila berada..."


"Ha.. hanya La.. laila harapan S.. sky satu-satunya "

__ADS_1


Lilir Panji sambil mengusap air matanya berusaha kuat menghadapi semuanya.


"Sky pamit Mah, Pah, dan Amira.. kau akan selalu punya tempat tersendiri di hati aku.. terimakasih atas hari-hari yang kau berikan padaku hingga mengubahku menjadi diri lebih baik lagi.. "


"Aku pergi.. "


Ucap Panji lilir sambil mengecup ketiga papan nisan yang bersejajar itu, Panji melangkah meninggalkan ketiga makam itu dengan perasaan berat tapi juga ada rasa lain yang tidak bisa Panji jawabarkan.


Dret...


Ponsel Panji berdering membuat Panji merogoh kantong celananya ,Panji tersenyum melihat siapa yang menelepon dirinya.


"Assalamualaikum kamu dimana Pan ? "


"Waalaikumsalam.. aku di tempat biasa. "


"Ck. kau ini cepat kerumah sakit Bimo dan Sarah sudah sadar. "


"Baik aku langsung kesana... "


Sarah Koma akibat dua tembakan di punggungnya begitupun Bimo, sepertinya anak dan Ayah itu mempunyai ikatan kuat hingga sadar dalam waktu yang sama.


Sedangkan Farhan masih di rawat dirumah sakit yang sama akibat cidra di punggungnya, dengan senang hati Serra merawat sang kakak dengan penuh kasih sayang.


" Bagaimana keadaan Sarah ? "


Tanya Panji yang baru datang Rafli langsung mendongkak kearah sumber suara yang masih mengatur nafasnya.


"Alhamdulillah Sarah baik-baik saja dan sudah melewati masa keritisnya, dan ini.. "


Ucap Rafli sambil memberikan sebuah berkas dari pihak kepolisian.


"Bimo akan melaksanakan hukumannya jika sudah sembuh, dan itu surat persetujuan apakah kamu menyetujuinya atau tidak ! Masalah bik Marni sudah selesai dia akan mendekam di penjara seumur hidup apa kamu berubah pikiran? "


"Tidak ! biarkan saja hukum itu berjalan walau aku tau hukum itu tidak pantas mereka dapatkan harusnya aku menyiksa dulu mereka sampai puas baru ku serahkan kepada pihak hukum tapi aku menghargai Sarah dia sudah banyak membatu kita.. "

__ADS_1


"Baiklah kalau keputusanmu begitu, aku akan pergi ke kantor polisi untuk mengurus semuanya. "


"Terimakasih.. "


Rafli hanya tersenyum mendengar ucapan sahabatnya, lalu melangkah pergi dengan senyum misteriusnya.


Panji menghembuskan nafas kasar menahan amarah yang kapan saja siap meledak , harusnya Panji menghukum mereka lebih berat dari pada itu tapi kenapa? Panji seakan tidak mampuh.


Biarkan hukum dunia yang menghukum kesalahan mereka, kamu tidak adak hak untuk menghukum mereka seperti apa yang kamu mau.


Jangan jadikan dirimu menjadi pembunuh seperti mereka, ingat ! hukum Allah itu maha adil, jika kamu menghukum mereka Saya takut hatimu tidak akan adil, karna saya tau jauh dalam lubuk hatimu ada rasa yang tidak bisa kamu ungkapkan...


Serahkan semuanya pada Allah dia hakim yang paling adil Saya tau kamu pasti Faham apa yang Saya ucapkan, Saya rasa kamu bukan orang Bodoh untuk mengerti semuanya..


Panji berkali-kali menghela nafas kasar mengingat ucapan yang begitu menohok hati dan jiwanya, seakan bibir Panji kelu tak bisa membalas ucapan itu.


"Kenapa dia selalu saja berkata BODOH seolah-olah aku adalah orang bodoh di dunia ini huh.. "


Monolog Panji mengelus dadanya supaya tenang, merasa cukup tenang Panji masuk ke dalam ruang VIP dimana Sarah dirawat.


"Assalamualaikum.. "


Ucap Panji berjalan menghampiri Sarah yang tersenyum membalas ucapan salam Panji dengan pelan, bahkan Panji sendiri tidak bisa mendengarnya saking lemahnya suara Sarah.


"Bagaimana keadaan kamu? "


"Ba.. baik Tu.. tuan.. "


Lilir Sarah hampir tidak terdengar Panji terdiam melihat keadaan Sarah yang lemah dengan badan yang memiring tidak boleh dulu terlentang karna luka tembak di pundak Sarah yang belum sepenuhnya kering.


"Cepat sembuh kamu harus menyaksikan ayah kamu di hukum Mati. "


Deg....


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2