AMARAH CINTA (Bukan Salah Tuhan)

AMARAH CINTA (Bukan Salah Tuhan)
Bab 102 Aku akan mengikatmu...


__ADS_3

"Ah, ... hiks ... perih ... hiks..., "


"Eb, ini perih ...,"


"Kamu sabar, Kay, cuma sebentar ko, perihnya, "


"Hiks... ta... Ah ... ,"


Laila meringis ketika sang dokter membersihkan darah di telapak tangannya yang mulai mengering, matanya terpejam dengan air mata yang terus keluar.


Menahan perih dan ngilu menjalar ketika sang dokter meneteskan obat merah, lalu menutupnya dengan kain kasa.


Belum sampai di situ, Laila menahan perih dan ngilunya, karena masih ada dua luka lagi yang harus di obati. Yaitu, luka pada dua lututnya, yang mengakibatkan celana yang Laila pakai menjadi robek.


"Maaf, Nona. Boleh saya menggunting celannanya? "


Laila hanya mengangguk saja, membiarkan dokter melakukan tugasnya, Laila hanya ingin segera selesai dan buru-buru pulang.


Laila ingat, dimana dirinya meninggalkan kakak ifarnya, membuat Laila cemas akan keadaan kakak ifarnya. Takut kakak ifarnya mencari dirinya, walau Laila sudah mengirim pesan pada Sky, tetap saja Laila takut pesannya belum di lihat, karena tadi Laila lihat pinsel kakak Sky tidak aktif.


Sialnya lagi, ponsel Laila lobet, tidak bisa menghubungi kakak ifarnya, bahkan nomornya juga Laila tidak hapal.


Meminta Akbar untuk menghubungi, sayangnya Akbar tidak mempunyai nomor Sky. Karena Sky tidak sembarang memberi nomornya pada orang lain, walau itu masih kerabatnya sendiri. Jika ada keperluan maka Sky akan menggunakan nomor kantor saja, bagi Sky, dirinya butuh privasi.


Apa lagi statusnya sudah berbeda, membuat Sky benar-benar harus menjaga Marwahnya. Kehormatan yang harus Sky jaga, siapa lagi yang menjaga kehormatan kita, kecuali diri kita sendiri. Menjauhi fitnah lebih baik dari pada membiarkan, karena kita tidak pernah tahu, motif apa orang lain menghubungi kita.


Jika urusan pekerjaan mungkin Sky akan menyerahkannya pada sang asisten, jika peribadi maka Sky akan selalu menolak.


Sikap waspada itu penting, kita tidak pernah tahu kejahatan di luar sana sedang berkeliaran, kapan saja bisa menyerang kita.


Apalgi di dunia bisnis, seperti Sky yang selalu di kelilingi oleh penjilat, tetapi Sky bukan orang yang mudah untuk di bodohi. Bahkan yang masuk keperusahaan Sky harus menghadapi beberapa tes dan itu tentunya hanya Sky sendiri yang tahu.


"Masih perih?"

__ADS_1


Tanya Akbar lembut sambil menghapus air mata Laila yang masih menetes. Laila hanya mengangguk saja, rasanya sangat lelah dari tadi menahan sakit dan menangis.


Grep...


Akbar menggendong Laila, keluar dari rumah sakit, Laila tidak protes karena rasanya Laila sangat lelah.


Ada kehangatan yang menjalar ke lerung hati Laila, tetapi Laila coba menepisnya. Akbar terlalu baik untuk dirinya yang kotor, Akbar berhak mendafatkan yang terbaik.


"Awwss ...,"


Desir Laila tertahan ketika Akbar mendudukannya di kursi mobil, perlahan Akbar menurunkan sedikit sandaran kuri mobil supaya Laila sedikit lebih nyaman.


"Eb, kenapa kamu baik padaku! "


"Jangan tanya, jika kamu tahu jawabannya! "


Ucap Akbar dingin tanpa menoleh sama sekali, tatapannya lurus kedepan, pokus mengemudi.


Laila diam mendengar jawaban dingin Akbar, membuat hati Laila berdenyut nyeri.


Tentu, hati Akbar terkoyak mendengar kenyataan yang ada, gadis yang selama ini dia jaga bak berlian takut tergores sedikitpun, nyatanya Akbar tidak mampuh menjaganya.


Walau sudah tahu semuanya, tetapi tidak mengubah perasaan Akbar pada Laila sedikitpun, yang ada rasa itu semakin menggebu, ingin selalu ada di samping Laila.


Tetapi Akbar benci, benci ketika Laila selalu memintanya pergi, tidak tahukah Laila kalau itu sangat menyakitkan.


Akbar menoleh, menatap Laila penuh kasih, begitupun Laila yang tanpa sengaja menoleh karena Akbar menghentikan mobilnya. Mata mereka bertemu saling kunci satu sma lain, terlihat jelas pancaran cinta yang menggebu yang Akbar berikan membuat hati Laila sakit dan perih.


"Apapun keadaanmu, aku tidak peduli. Jadi stop menyuruhku pergi, karena itu tidak akan pernah ku lakukan. Kamu tetap berlianku, maka akan tetap seperti itu. Tidak ada alasan kamu menyuruhku pergi, karena aku akan selalu ada."


"Tap... "


Cup ...

__ADS_1


Laila terdiam dengan mata yang membola, dan mengedip-ngedipkan bulu mata lucu, tubuhnya terasa kaku, merasakan danging lembut menempel di bibirnya, cuma menempel tetapi mambuh membuat Laila diam.


Laila terkejut dengan apa yang Akbar lakukan, setahu Laila, Akbar tidak pernah sekalipun melakukan hal tidak wajar itu. Tetapi kini Laila terdiam dengan apa yang Akbar lakukan, di luar pikirannya.


"Maafkan aku, aku hanya ingin kamu tahu. Kalau aku benar-benar tulus, maka izinkan aku menghapus jejak si brangsek itu."


Deg...


Jantung Laila berdetak sangat cepat, membuat dadanya naik turun dengan nafas memburu, Laila tidak menyangkan Akbar sudah tahu apa yang terjadi padanya.


Bayang menyakitkan itu kembali terlintas membuat dada Laila sesak, dengan mata yang memerah menahan amarah dan takut.


Akbar yang melihat perubahan wajah Laila dengan cepat langsung menangkup pipi Laila, membuat Laila suapaya menatap dirinya.


"Jangan takut, lihatlah, ada aku di sini. Ada aku ...,"


"Aku akan melindungimu ..., jangan takut,"


Ucap Akbar lembut menatap kedalam bola mata Laila yang kembali mengembun, dengan tubuh yang mulai bergetar.


Akbar menarik Laila kedalam pelukannya, memberi kehangatan dan kenyamanan, sesekali mengecup puncak kepala Laila.


Apa yang Akbar lakukan membuat ketakutan Laila sedikit-sedikit berkurang, tetapi tangis itu semakin pecah, merasa Laila tidak pantas mendapatkan semua itu.


Lama Laila menangis di pelukan Akbar, hingga sampai tertidur. Dengan pelan Akbar membaringkan Laila kembali. Di pandangnya lekat wajah Laila yang mulai terlihat damai dalam tidurnya walau sesekali alis Laila mengerut seakan menahan ketakutan tetapi berubah kembali di saat Akbar memegang tangannya lembut.


"Apa pun akan ku lakukan untuk menghilangkan rasa trauma di hatimu, Tidak akan ku biarkan setetes air mata keluar dari pelupuk mata kamu, kecuali air mata kebahagiaan. Kali ini aku tidak akan melepaskan kamu, mungkin dulu aku berusaha melerakan kamu bersama dengan orang yang kamu cintai, tetapi saat aku tahu, ternyata orang yang kamu suka adalah kak Panji sendiri aku benar-benar mundur karena aku pikir kalian memang tidak sedarah, tetapi ketika aku tahu kamu dan kak Panji adalah sedarah aku bahagia, di situ masih ada kesempatan untuk aku mendapatkan kamu. Jadi tolong jangan paksa aku pergi, karena itu sungguh menghancurkan hatiku. Izinkan aku untuk menjadi sandar ketika kamu rapuh, menjadi penenang ketika kamu gelisah, menjadi obat ketika kamu lara. Izinkan aku untuk tetap mencintaimu dengan segenap kemampuhanku, jangan paksa aku untuk menyerah karena itu tidak mungkin."


Monolog Akbar sambil terus menatap lekat wajah Laila yang mulai damai dalam tidurnya, seakan tidak ada ketakutan lagi.


Cup...


Aku akan mengikatmu...

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2