
"Sittt... "
Prang...
Umpat seseorang sambil membanting pas bunga yang ada diatas meja kerjanya.
Tangannya mengepal erat dengan mata yang sudah memerah menahan amarah yang sudah naik keubun-ubun.
"Sial kenapa Andre selamat, dan siapa gadis yang menyelamatkan bedebah itu. Gadis kecil kau sudah merusak rencanaku,tak akan kubiarkan kau lolos begitu saja.
Dan anak sialan itu dia kemana sudah satu minggu tidak kelihatan batang hidungnya! "
"Aku harus cepat menemukan Smit, jika tidak Andre akan membongkar semuanya dan rencanaku bertahun-tahun akan gagal oleh gadis sialan itu. Harusnya Andre mati, ku pikir siksaan yang ku berikan akan membuat dirinya mati ternyata aku salah besar ah.. ah... sialannn... "
Buk.. buk...
Jerit Seseorang itu menunju ding-ding hingga bergetar.
"Siapapun yang menghalangi rencanaku harus mati. Aku harus merubah semuanya,dan kau Andre harus merasakan sakit kehilangan.. "
Gumam seseorang itu tersenyum seringai, orang itu langsung menelepon anak buahnya.
"Cari tau siapa gadis yang menyelamatkan Andre dan bawa kehadapanku , dan Cari keberadaan Smit dimana! satu lagi bunuh Kayla di rumah sakit jangan sampai dia hidup. "
Sesudah memberi perintah seseorang itu langsung mematikan teleponnya kembali.
"Al-fatih harus hancur.."
Ucap dingin penuh penekanan seseorang itu.
...---...
Sedangkan dirumah sakit Panji tak pernah sedikitpun beranjak dari duduknya. Panji terus saja menatap wajah sang adik,yang masih memejamkan kedua matanya.
Panji menggenggam tangan sang adik yang tak berdaya, bulir bening dari tadi keluar dari pelupuk matanya.
"Be.. benarkah kamu adikku Laila.. sudah sepuluh tahun kamu bersama kami maafkan kakak yang tidak menyadarinya.. maafkan kakak. "
"Kakak sudah menyakitumu, ini pasti menyakitkan.. Bukalah mata kamu cepat hukum kakak seperti yang sering kamu lakukan dulu selalu menghukum kakak jika kakak salah. "
Ucap Panji gemetar sambil mengelus kepala Kayla yang diperban.
Andre yang melihat putranya terus menangis hanya bisa menghela nafas pelan. Andre tau apa yang sang putra rasakan.
Rasa penyesalan pasti menghantui Panji, karna sudah menyakiti adiknya sendiri. Harusnya Andre datang lebih awal mungkin kejadian itu tidak akan terjadi.
Puk...
Andre menepuk pundak sang putra membuat Panji langsung mendongkak dengan mata sembabnya.
"Papah tau apa yang kamu rasakan, ini sudah terjadi. Jangan terus menyalahkan dirimu sendiri, Papah yakin Laila tidak apa-apa. Dia hanya butuh waktu, yang terpenting kita pokus dulu pada kesembuhannya. "
Ucap Andre lembut karna dirinya juga tak bisa menyalahkan Panji, semuanya sudah terjadi tampa bisa dihindari.
"Lebih baik kamu pulang dulu dari kemaren kamu belum ganti baju. "
Ucap Andre lagi, Panji hanya diam tak bergeming dengan tangan yang masih memegang tangan sang adik.
__ADS_1
"Ayo, biar Papah dan beberapa anak buah kamu yang menjaga Laila.. "
"Yasudah.. "
Pasrah Panji langsung melepaskan tangannya,lalu berdiri.Dengan berat hati Panji meninggalkan ruangan sang adik.
Diluar Panji berpapasan dengan Akbar dan kedua orang tuanya, Panji tersenyum tipis berusaha bersikap biasa sambil mencium punggung tangan dua orang yang harusnya sudah menjadi mertua Panji.
"Bagaimana kabar kamu, Nak ? "
"Alhamdulilalh baik, tante. "
"Sabar, Insyaallah Allah sudah menyipkan kebahagian untuk kamu dibalik ini semua "
"Laki-laki harus kuat, jangan lemah. Masih ada orang-orang yang harus kamu lindungi, lupakan putri Om jangan kau terus terbelenggu. Om yakin Amira juga menginginkan kamu seperti itu. "
Timpal om Andi membuat Panji terdiam ada rasa tak terima mendengar ucapan ayah dari wanita yang Panji cintai. Melupakan! bisakah Panji melupakan orang yang sudah berhasil menjungkir balikan hidupnya.
"Panji mau pulang dulu sebentar, silahkan Om dan Tante masuk, ada Papah ko didalam. "
Ucap Panji mengalihkan pembicaraan membuat om Andi hanya tersenyum,sedangkan Akbar dari tadi hanya diam saja.
"Apa aku bisa Amira "
Lilir Panji sambil menatap punggung om Andi, tante Ani dan Akbar masuk kedalam ruangan Kayla.
Panji melanjutkan langkahnya kembali.
Cuacana hari ini nampak cerah apalagi dijalan begitu padat membuat Panji megurangi kecepatan mobilnya karna ada kemacetan didepan.
Entah apa yang membuat macet Panji tidak tau.
Gumam Panji langsung memutar kembali mobilnya, Panji terpaksa mengambil jalan pintas walau agak jauh menuju rumahnya,dari pada menunggu kemacetan yang entah sampai kapan lancar kembali.
Jalan yang Panji lewati cukup sepi karna jarang orang yang tau melewati jalan itu.Tapi udaranya begitu sejuk ,apalagi banyak pepohonan yang berjajar di sisi jalan.
Panji memicingkan matanya ketika didepan ada orang yang berkelahi. Panji memberhentikan mobilnya 50 meter dari lokasi karna takut ketahuan.
Seorang gadis cantik yang sedang bertarung melawan sepuluh orang yang berpakain seraba hitam.
Baju gamis yang gadis itu pakain membuat dirinya kesusahan untuk bergerak bebas. Hingga gadis itu terus mundur menangkis serangan sepuluh orang yang menyerangnya.
Membuat sepuluh orang itu menggeram kesal karna serangannya selalu di tangkis dan gadis itu berusaha menghindar.
Buk..
Satu tendangan mengenai perut gadis itu membuat gadis itu mundur kebelakang.
"Sitt... bagaimana aku melumpuhkan mereka jika baju ini membuatku sulit bergerak.Dan aku juga tidak mungkin menghindar terus dari serangan mereka "
Batin gadis itu bingung mencari celah, tampa gadis itu sadari diantara sepuluh orang itu mengeluarkan pisau.
Panji yang melihat itu langsung melotot dibawah pohon besar. Panji memang bersembunyi dibawah pohon besar demi ingin melihat lebih jelas lagi, apakah wanita itu mau dirampok atau tidak. Tapi sepertinya itu bukan perampokan melainakan seperti pembunuhan, entah sejak kapan Panji sudah berlari dari arah samping dengan tangan yang mengepal erat.
Bug..
Bruk...
__ADS_1
Panji langsung melayangkan mogeman dan tendangan membuat beberapa orang berpakain serba hitam itu terpental kebelakang.
"Apa yang kalian inginkan, tak tahu malu melawan seorang gadis. Cih menjijikan "
Ucap Panji dingin dengan aura mengerikan membuat sepuluh orang itu langsung terkejut dengan kedatangan Panji secara tiba-tiba.
"Hey.. siapa kau ikut campur urusan kami. "
Bentak salah satu orang itu ingin menyerang tapi ditahan oleh bosnya.
"Jangan gegabah bodoh,laki-laki itu si Panji "
"Itu bagus jadi kita melumpuhkan dua orang dalam satu peluruh.. "
Bisik orang berpakain serba hitam itu membuat Panji terus waspada tampa melihat gadis yang ada dibelakangnya yang terdiam.
"Seranggg... "
Teriak bos yang berpakain seraba hitam itu membuat Panji langsung memasang kuda-kudanya dengan senyum seringai.
Hingga pertarunganpun terjadi, gadis itu hanya mundur beberapa langkah membiarkan Panji menyerang sendiri.
Bug...
Bug...
Bug...
Bug...
Empat pukulan dengan gerakan cepat mampuh membuat orang-orang pakaian serba hitam itu mundur dengan kagetnya melihat gerakan cepat Panji.
Hingga sepuluh orang itu memutuskan meninggalkan tempat itu membuat Panji bernapas lega.
"Apa kamu tidak ap.. "
Ucapan Panji tertahan melihat siapa gadis itu yang diam dengan wajah datarnya.
"Terimakasih.. "
Ucap Gadis itu dengan raut wajah sulit ditebak.
"Sama-sama, kenapa nona Sky bisa berurusan dengan mereka! atau mereka musuh anda! "
"Tidak tau ! "
Panji mengerutkan kening mendengar ucapan santai Sky, tidak mungkin jika orang-orang itu menyerang Sky jika tak punya urusan, pikir Panji.
"Emang nona Sky mau kemana, kenapa memakai jalan ini! "
"Saya mau kerumah sakit memberikan sesuatu pada Papah anda! "
"Yasudah, bareng saya saja kebetulan saya juga akan kesana ! Ayo.. "
Deg...
Jantung Sky berdetak sangat kencang melihat pergelangan tangannya ditarik .
__ADS_1
Bersambung....