AMARAH CINTA (Bukan Salah Tuhan)

AMARAH CINTA (Bukan Salah Tuhan)
Bab 97 Drama di pagi hari


__ADS_3

Suara adzan berkumandang begitu merdu membangunkan seorang gadis yang nampak terlelap dalam tidurnya, bahkan gadis itu meninggalkan sholat malam yang seperti biasa dia lakukan.


"Emm ...,"


Gumaman kecil keluar dari bibir seksi gadis itu, perlahan mata tajamnya terbuka sambil berusaha bangun. Seketika matanya melebar mendengar suara adzan yang semakin terdengan jelas dengan kesadaran yang sempurna.


"Astagfirullah ..., aku melewatkan sholat malam."


Gumam Sky sendu sambil mengusap wajahnya.


Deg ....


Sky tertegun ketika menyadari kalau dirinya semalam ketiduran di shopa tetapi kenapa sekarang ada di atas ranjang, pikir Sky bingung.


"Apa Panji yang memindahkan aku, "


Monolog Sky sakit ketika melihat Panji yang tertidur di atas shopa tempat semalam Sky tertidur.


Kenapa tidak tidur di ranjang, apa kamu tidak mau tidur satu ranjang denganku!


Jerit batin Sky sakit, padahal Sky dari semalam berusaha menjadi seorang istri yang sesungguhnya, walau Sky sendiri merutuki dirinya sendiri kenapa bisa ketiduran dan yang membuat Sky bertambah kesal kenapa tidurnya begitu nyenyak sekali sampai melewatkan sholat malamnya.


Sky menyibak selimut lalu beranjak dari atas ranjang berjalan menuju kamar mandi, langkah Sky berhenti melihat wajah Panji yang damai dalam tidurnya.


Bagaimana cara membangunkannya?


Bingung Sky karena tidak berani menyentuh Panji, ketika Panji sendiri tidak menyentuhnya kalau tidak dalam kesengajaan.


Mata Sky menelisik mencari sesuatu hingga matanya berhenti melihat jajaran buku yang tersusun rapi di dalam lemari kaca.


Brak ...


"Ah ...,"


Jerit Panji terbangun dari tidurnya mendengar suara keras memekik telinganya.


"Maaf, sudah subuh. "


Deg...

__ADS_1


Sungguh Panji di buat melongo dengan apa yang Sky lakukan, dengan tampang datarnya Sky membereskan kembali buku yang sengaja dia banting untuk membangunkan Panji, lalu berjalan kearah kamar mandi sambil mengikat rambutnya.


Sungguh sudah dua kali Sky melakukan hal yang sama, menbangunkan Panji dengan cara membanting buku supaya mengeluarkan bunyi nyaring hingga Panji terbangun.


Cara itu memang ampuh tetapi sungguh membuat Panji jantungan karena terkejut, sedangkan sang pelaku dengan datarnya pergi.


Huh...


Panji mengelus-elus dadanya sambil membuang nafas kasar menahan kesal dan marah, untung saja Panji tidak mempunyai penyakit jantung kalau tidak, mungkin nyawanya sudah melayang.


Cklek...


Panji menoleh kesamping dimana pintu kamar mandi terbuka, nampaklah Sky keluar dengan wajah segarnya. Sungguh, kecantikannya bertambah kali lipat dengan tetesan air wudhu masih menetes dari dagunya.


"Kenapa bengong! cepat ambil air wudhu, takut keburu habis waktunya, "


Ucap Sky masih memasang wajah datarnya, walau pada kenyataannya Sky begitu gugup tetapi Sky sudah ahli dalam mengendalikan kegugupan.


Tampa menjawab Panji berjalan kearah kamar mandi, guna mengambil air wudhu. Sekuat tenaga Panji menahan kekesalannya, apalagi Sky bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa dan tidak merasa malu berpakain seksi di hadapan Panji.


Panji mengerutkan kening ketika keluar dari kamar mandi melihat Sky masih berdiri di atas kerudung yang di jadikan sejadah, sedangkan di depannya terlentang sejadah berwarna pink yang begitu indah.


Sekarang Panji mengerti kalau Sky sedang menunggunya untuk sholat berjamaah, Panji berjalan menuju lemari dan mengambil sebuah sejadah.


Ucap Panji sambil memberikan sejadah dirinya oada Sky, tidak mungkin Panji menggantinya dengan sejadah yang sudah di siapkan, Panji hanya ingin menjaga perasaan Sky.


Sepasang suami istri itupun langsung melakukan kewajibannya, Sky begitu khusu mendengar suara merdu Panji yang membaca bagian surat-surat pendek.


Entah kenapa Sky sangat menyukai suara Panji ketika membaca al-quraan, rasanya ada kenyamanan dan kedamaiam yang masuk kelerung hati Sky.


Panji berbalik kebelakang menghadap Sky yang menunduk, di tatapnya wajah Sky yang begitu meneduhkan jika diam.


"Kenapa kamu selalu membanting buku jika ingin membangunkan ku, tidak bisakah membangunkanku secara langsung!"


Ucap Panji menahan kekesalan sendari tadi, Sky menghela nafas mendengar jawaban Panji.


"Aku tidak berani, "


Jawab Sky singkat membuat Panji menautkan kedua alisnya.

__ADS_1


"Kenapa? "


Tanya Panji menatap tajam Sky yang menatapnya juga dengan tatapan tajam, tetapi dalam tatapan tajam itu menyimpan banyak kesedihan membuat Panji seakan menerka-nerka apa yang sebenarnya Sky alami dan inginkan.


"Yakin mau tau! "


Sungguh, Panji dibuat bingung dengan ucapan ambigu Sky yang tidak Panji fahami.


Entah apa sebenarnya yang membuat Sky seperti itu, bahkan wajah Sky terlihat tenang dengan ucapan penuh kedataran.


"Katakanlah ...,"


Ucap Panji melemah, karena tidak bisa menebak apa yang ada di kepala Sky saat ini.


"Maaf sebelumnya, bagaimana aku bisa memegang bagian tubuh kamu, kalau aku sendiri enggan menyentuhku."


"Terus kenapa kamu memakai pakain seksi tadi malam! kamu seberani itu, tetapi memegang tubuhku tidak berani, "


Ketus Panji tidak mengerti kenapa Sky begitu berbelit, tinggal bangunkan, apa susahnya, pikir Panji kesal.


Sky hanya tersenyum mendengar nada ketus sang suami, yang tidak mengerti apa yang dia inginkan.


"Aku memperlihatkan tubuh ini, karena hak kamu untuk melihat bahkan melakukan hal lebih, bukankah kita sudah berjanji akan berusaha menerima satu sama lain. Kenapa harus aku yang memulai bukan kamu, aku begini hanya ingin berusaha menjadi istri yang baik dan berbakti untuk kamu, dan berusaha menggeser nama yang sudah terlukis indah di hatikamu supaya hubungan kita tidak secanggung ini, tetapi sayang kamu sendiri masih membentengi hatimu sendiri dan masih menjaga perasaan orang yang sudah pergi. Lalu bagaimana aku bisa berbuat seenaknya jika tadi malam kamu berusaha membenteng hatimu untuk tidak menyentuhku."


Deg...


Ucapan Sky bagai bogeman keras untuk Panji membuat dada Panji sesak, terlihat jelas dari sorot mata itu yang lagi-lagi memancarkan kesedihan dan kekecewaan. Walau wajah itu terlihat datar, tetapi tatapan mata itu tidak bisa menyembunyikan lagi kesedihannya di balik tatapan tajamnya.


Sedih! bolehkah Sky bersedih dengan apa yang terjadi, sungguh Sky tidak menyalahkan Panji, hanya saja Sky marah pada dirinya sendiri, kenapa bertingkah seperti wanita murahan. Padahal Sky tahu kalau di hati Panji masih ada nama wanita lain.


Sky pikir dengan berpenampilan seperti itu akan membuat Panji senang, nyatanya tidak sama sekali. Bahkan tidurpun Panji enggan satu ranjang dengannya dan memilih tidur di shopa dan anehnya Panji begitu nyenyak sekali dalam tidurnya.


Padahal Sky tahu, tidur di atas shopa tidak menyenangkan, pasti leher akan terasa sakit dan badan pasti akan pegal semua karena tidak bisa bergerak bebas. Tetapi Panji terlihat baik-baik saja, seolah tidur di atas shopa lebih nyenyak dari pada tidur di atas ranjang dengannya.


"Kamu salah faham, maafkan aku."


Dari sekian lama terdiam, Panji hanya berkata seperti itu. Lalu pergi begitu saja meninggalkan Sky yang terdiam dengan pikiran yang berkecamuk.


Dadanya terasa sesak dan perih dengan reaksi yang Panji berikan.

__ADS_1


Bukankah kamu yang menginginkan pernikahan ini, ketika aku ingin menyerah! kenapa sekarang kamu malah menghindar meninggalkan dugaan-dugaan yang berkecamuk. Tidak bisakah kamu berusaha bersikap manis supaya aku tidak merasa hina jika berbuat apa yang seharuanya menjadi tugasku.


Bersambung...


__ADS_2