
Semua orang disibukan dengan aktifitas nya masing-masing begitupun dengan Panji dan Rafli setiap hari selalu disibukan dengan setumpuk berkas-berkas.
Tidak ada lelahnya bagi Panji mengerjakan semuanya,apalagi harus mengurus dua prusahaan besar sekaligus, tapi itu cara satu-satunya agar Panji bisa melupakan rasa sedihnya.
Tak ada sosok ramah di diri Panji yang ada sekarang sosok dingin tak tersentuh.
"Raf keruanganku.. "
Ucap Panji langsung mematikan sambungan teleponnya, Rafli langsung bergegas masuk keruangan Panji dan langsung duduk di depan Panji.
"Ada apa? "
Panji menghela nafas pelan,apa keputusannya benar atau tidak. Dari kemaren memang Panji sudah memikirkannya .
"Apa aku serahkan saja perusahaan Papah pada Kayla.. "
"Apa ! "
Pekik Rafli terkejut mendengar keputusan dadakan sang sahabat.
"Kayla juga bagiaan dari keluarga Al-fatih, dia berhak atas perusahaan Papah. Aku juga tidak mungkin menghandel dua perusahaan besar sekaligus.Apalagi aku juga harus membagi waktu mencari keberadaan Papah.. "
"Aku tidak setuju ! "
Potong Rafli benar-benar terkejut mendengar keputusan sahabatnya.
"Tap... "
"Pan, Kayla tidak mempunyai pengalaman apa-apa tentang perusahaan, bagaimana kalau dia tidak bisa tanggung jawab. Ingat! apa lagi Kayla masih suka poya-poya dan mempunyai sipat yang bertolak belakang dengan kamu.. "
"Tapikan kita bisa mengajarkan Kayla tentang hal itu Raf, aku juga tidak mungkin terus menerus menghandel semuanya.. "
"Saranku masukan saja dulu Kayla dibagiaan keuangan atau marketting jangan dulu kau jadikan Kayla CEO kita lihat kemampuan dia dulu kalau sudah begitu baru kamu bisa putuskan dia berhak tidak memingpin perusahaan. Perusahaan M. A Gruf bukan perusahaan kecil.. "
Panji terdiam mendengar apa yang diucapkan Rafli, ada benarnya juga pendafat Rafli. Mungkin Panji terlalu buru-buru jadi tidak berpikir dengan jernih.
"Terimakasih sarannya.. "
"Iya, ingat jangan buat keputusan secara tiba-tiba.."
"Kakak... "
Ucapan Rafli tertahan mendengar suara cempreng gadis yang masuk tiba-tiba.
"Ada apa Kayla? "
"Ini Kayla bawakan kakak makan siang sekalian buat kak Rafli juga.. "
Ucap lembut Kayla membuat Panji tersenyum, Panji masih beruntung mempunyai Kayla disaat hidupnya terpuruk,kalau tidak ada sungguh siapa yang akan menjadi sandaran Panji.
"Terimakasih sayang.."
"Bentar ya Kayla siapkan dulu.. "
Ucap Kayla langsung menyiapkan makanan yang dia bawa, Rafli hanya diam saja karna memang Rafli tidak terlalu suka pada adik sahabatnya itu. Apalagi pakaiannya yang selalu seksi membuat Rafli tidak nyaman.
Panji langsung menyantap makanan yang dibawakan sang adik karna memang dia sudah sangat lapar, begitupun Rafli ikut makan karna tidak enak pada sahabatnya jika menolak. Melihat Panji makan dengan lahap Kayla tersenyum karna masakannya dimakan oleh sang kakak .
"Kay, bisa bantu kakak diperusahaan Papah.. "
__ADS_1
"Uhuk.. uhuk... "
Ucap Panji tiba-tiba membuat Kayla tersedak minuman. Kayla melotot tak percaya dengan apa yang sang kakak ucapkan.
"Tapi kak, Kayla kan belum ada pengalaman. "
Cicit Kayla karna takut kakaknya kecewa jika dia langsung menolak.
"Tidak apa-apa kamu akan belajar dengan orang-orang kakak, mungkin kamu bisa belajar dulu dibagiaan keuangan, bagaimana? "
Ucap Panji sudah memutuskan sang adik ditempatkan pada bagiaan keuangan.
"Emmz.. jika itu mau Kakak, tapi jika Kayla melakukan kesalahan maafkan Kayla ya kakak. Kayla kan tidak terlalu tau urusan bisnis yang Kayla tau kan cuma urusan seni.. "
"Iya tidak apa-apa ko, nama juga belajar.. "
Ucap Panji lega karna adiknya mau menerima permintaannya, kalau begitu beban Panji sedikit berkurang apalagi Panji tau kesibukan Rafli bagai mana,Panji juga tidak mau terlalu membebani Rafli karna Panji juga tau Rafli sedang berusaha membantu perusahaan mertuanya jika ada waktu senggang.
"Yasudah besok kamu mulai bekerja, Galery kamu kamu titipkan saja dulu pada teman kamu.. "
"Siap kak, yasudah Kayla pamit dulu kalau begitu sekalian mau bahas sedikit masalah, oh iya kak mungkin Kayla malam ini tidur di apertemen.. "
"Iya, hati-hati.. "
Kayla langsung meninggalkan ruangan sang kakak dengan senyum yang mengembang di bibir seksinya.
Rafli hanya menghela nafas pelan mendengar keputusan sang sahabat, mereka berdua kembali mengerjakan pekerjaan nya masing-masing.
"Oh iya Pan, pak Air tadi telepon katanya minta Maaf atas pertemuaan kemaren dan sedikit masalah kemaren.."
Ucap Rafli sebelum keluar ruangan, Panji langsung mendongkak mendengar apa yang Rafli katakan.
"Itu sudah benar, aku juga tidak menemukan informasi apa-apa lagi tapi yang sulit dilacak tidak ada yang tau gadis itu tinggal dimana? "
Bingung Rafli kembali duduk di shofa membuat Panji semakin penasaran akan identitas Sky.
"Sudah kau cari tau pada pak Air! "
"Sudah, tapi Papah cuma kasih informasi yang sama aku berikan padamu,Eh..tunggu! kenapa kamu penasaran sama Gadis itu, apa kamu sudah Move on.. "
Canda Rafli membuat Panji langsung menatapnya tajam.
"Sembarangan.. "
Ha.. ha...
Rafli terus tertawa sambil meninggalkan ruangan Panji membuat Panji mendengus kesal dengan candaan sahabatnya itu.
"Move on Ah... ah... "
Teriak Panji perustasi memikirkannya, bukan Panji menyukai Gadis yang bernama Sky, Panji hanya penasaran saja siapa gadis itu kenapa suaranya hampir sama dengan Gadis dibalik hujan dan gadis dalam mimpinya itu.
"Aku yakin gadis itu bukan gadis sembarangan, tatapan itu seakan mengingatkanku pada seseorang, tapi siapa dia kenapa informasinya tidak bisa ditembus.. "
Gumam Panji sambil mengetuk-getukan jari telunjuknya diatas meja. Ah.... kenapa semenjak kejadiaan itu pikiran aku semakin kacau, dasar bodoh! siapa juga coba yang bodoh dan ah... kenapa suara gadis misterius itu selalu menghantui pikiranku, pikir Panji prustasi.
Disaat Panji sibuk dengan pikirannya sendiri berbeda dengan Sky yang sedang sibuk meminta izin pada Tantenya supaya diizinkan pergi kota Pelabuhan ratu.
"Tan, ayolah Sky janji tidak akan lama disitu. Sky hanya penasaran cerita tentang pantai selatan itu.. "
__ADS_1
"Tidak! "
"Aduh tante ko gitu sih... Bagaimana Ummah akan ngizinin jika tante gak ngizinin juga, ayolah tan.. "
Ucap Sky memelas sambil memegang tangan Tabte Mona. Sedangkan tante Mona hanya diam saja, jujur Tante Mona hanya takut terjadi apa-apa pada keponakan tersayangnya mengingat kota Pelabuhan ratu kota penuh Pantai disepanjang jalannya. Bagai mana kalau tiba-tiba ada tsunami, atau Sky tenggelam kan yang disalahkan tante Mona sendiri.
Memikirkan itu membuat tante Mona bergidik ngeri, apalagi sejarah tentang Roro kidul begitu mengerikan di masyarakat.
"Tante ,Sky janji tidak lama ko. Kan ada bodyguard juga yang jaga Sky.. "
"Tidak... ah.. Tante tidak akan izinkan pokonya.. "
"Aduh tante please deh... "
"Assalamualaikum.. aduh initeh kenapa ribut-ribut.. "
Ucap Om Air yang baru pulang dari kemaren karna ada urusan mendadak.
"Waalaikumsalam.. Om.. "
Teriak Sky berlari kearah om Air begitupun juga tante Mona menghampiri sang suami dan mencium punggung tangannya.
"Ada apa kenapa muka keponakan Om ditekuk begitu! "
"Sky mau minta Izin Om tapi tante gak ngizinin.. "
Lilir Sky memelas membuat om Air hanya tersenyum sambil duduk di atas shofa begitupum Sky dan tante Mona ikut duduk.
"Emangnya Sky mau kemana ? "
"Pantai Pelabuhan ratu Om yang ada di Sukabumi.. "
Deg...
Om Air langsung terdiam mendengar keinginan keponakannya itu, sambil melirik pada Sky yang terlihat memelas. Om Air membuang nafas kasar kemudiaan tersenyum.
"Boleh tap... "
"Horee.... terimakasih Om, Sky sayang Om. Sky kekamar dulu mau kasih tau Ummah kalau Om sudah Ngizinin.. "
"Mas ko ngizinin Sky sih.. "
Protes Mona pada suaminya om Air hanya bisa menghela nafas saja.
"Tidak apa-apa Dek, biarkan saja Sky melakukan apa yang dia sukai, Sky suka sejarah sama seperti Kak Ais. "
"Tapi kan Adek hanya takut disitu lautan Mas, aku takut terjadi sesuatu pada Sky. "
"Dia gadis kuat.. "
**Bersambung....
.
.
.
Jangan lupa Vote, Like, Komen, dan Hadiah ya
__ADS_1
Terimakasih**..