
Gelak tawa begitu nyaring menggema di dapur, dua gadis yang terus bercengkrama sambil memasak. Mulut dan kedua tangannya tidak bisa tinggal diam.
Jiwa Laila yang kepo membuat rasa sedih Sky terasa terobati, tidak ada lagi sikap dingin dan datar seperti yang selalu Sky perlihatkan. Di hadapan Laila yang polos padahal usia mereka tidak jauh berbeda membuat suasana nampak mencair.
Seakan Sky menemukan jati dirinya sendiri bersama Laila, itulah Sky akan berubah bersikap dingin dan datar tergantung siapa lawan bicaranya.
Laila yang super kepo dan bar-bar mampuh mengimbangi dan membangkitkan jiwa Sky yang sempat hilang. Biasanya Sky akan bersikap seperti itu jika bersama kedua orang tua dan abangnya. Bahkan bicara sama Serrapun Sky tidak seceria itu.
Dengan cekatan Sky memotong sayur yang sudah Laila cuci begitupun beberapa bahan masak lain.
Sedangkan Panji entah kemana menghilangnya, Sky tidak terlalu peduli. Mungkin cara diam yang terbaik untyk hubungan mereka. Sky bukan seseorang yang bisa memperjuangkan, jika orang yang akan di perjuangkan tidak merespon apa-apa. Sky hanya bisa pasrah bagaimana akhir dari ketetapan Allah.
Sky hanya takut ketika dia sibuk memenangkan hati Panji, Sky melupakan siapa sesungguhnya dirinya. Sky hanya insan biasa yang akan takut Allah cemburu jika Sky terlalu memaksakan sebuah hati.
Ketika usaha gagal maka cara terakhir hanya pasrah, bagaimana Allah menentukan skenarionya. Tetapi pasrah bukan berarti Sky berhenti melakukan kewajibannya sebagai seorang istri, hanya saja Sky berhenti untuk mendapatkan hati Panji.
Walau pada akhirnya Sky harus melawan gejolak batinnya, mungkin cocok bagi Sky dikatakan.
Hanya sekedar memiliki raganya tetapi tidak dengan hatinya.
Miris bukan! tetapi Sky orang yang tidak mudah berputus asa jika tidak bisa memiliki seutuhnya sesuatu yang seharusnya jadi miliknya, karena Sky yakin ini hanya perputaran waktu, Sky berharap di waktu selanjutnya Panji akan berubah.
Ha... ha...
Gelak tawa masih menggema di ruang dapur yang luas, dengan Laila yang duduk di samping kompor, sedangkan Sky berdiri dengan tangan memegang wadah bumbu yang Laila berikan.
"Wow ..., buk dokter pintar sekali. Tangannya tidak hanya skil dalam nyuntik menyuntik tetapi ahli juga dalam memasak,"
__ADS_1
Pekik Laila kagum melihat bagaimana cara Sky memasak, tangannya begitu lihay dari mulai memotong, memasak dengan gaya ala chef Propesional. Laila seakan melihat pertunjukan Master Chef, yang ada di televisi.
"Kamu juga bisa seperti ini, "
"No, Laila tidak mau. Nanti mata Laila perih di jahatin bawang, "
"Ha ... ha ..., kamu ada-ada saja, bawang tidak jahat, hanya saja kurang hati-hati dalam memotongnya hingga cairan yang ada di kulit bawang menyapa he .. he ...,"
"Buk dokter, bisa aja, "
Kekeh Laila sambil memberikan piring pada Sky untuk menuangkan hasil masakannya.
Kini meja makan sudah penuh dengan berbagai olahan yang Sky buat. Dari mulai sayur asam, pepes ikan, ampela, ayam goreng, dan tawas. Menu sarapan khas Bandung yang sangat Sky sukai, walau Sky tidak tahu apa Panji suka atau tidak, kalau Laila tentunya suka karena itu makanan paforitnya juga.
"Kakak kamu, ko, belum pulang? "
Tanya Sky berusaha bersikap baik-baik saja, Sky tidak mau Laila mengetahui hubungan dirinya dan kakaknya sedang tidak baik-baik saja.
"Yasudah, aku mandi dulu, kamu juga kan beoum mandi, kita mandi dulu baru sarapan, "
"Ok, buk dokter, "
Balas Laila, entah kenapa Laila senang sekali memanggil sebutan itu. Laila tidak menyanggka mempunyai kakak ifar yang begitu hebat dan sempurna.
Tampa mereka sadari sendari tadi Panji mendengarkan apa yang mereka bicarakan, canda tawa mereka membuat hati Panji seakan damai. Baru kali ini Panji melihat tawa Laila dan Sky, biasanya Laila akan bersikap acuh jika bertemu dengan Amira, tetapi dengan Sky, Laila seakan jadi dirinya sendiri.
Begitupun Sky, Panji baru menyadari ada sisi hangat, penyayang dan dewasa yang keluar dari diri Sky ketika bersama Laila, tawa itu begitu lepas tampa beban. Tidak ada kedinginan dan kedataran yang Sky tunjukan pada Laila, justru sikap Sky begitu hangat pada Laila seperti pertama kali Panji melihat Sky jika berbicara dengan Fatih.
__ADS_1
Memang benar kata pepatah, kita akan merasa jadi diri kita sendiri ketika kita merasa nyaman berbicara dengan lawan bicara kita sendiri, tampa takut apa yang kita ucapkan menyakitinya.
Terlalu dingin memang tidak menyenangkan, tetapi orang dingin akan enak di ajak bicara jika kita tidak membalasnya dengan kedinginan juga.
Tawa kalian begitu lepas seakan tampa beban, apa sesakit itu keadaan yang membuat kamu mengunci dirimu sendiri, hingga sulit kembali, menjadi dirimu sendiri. Tetapi kamu begitu lepas ketika berbicara dengan Laila, apa karena kalian sama-sama merasakan rasa sakit yang sama. Sealah kalian bisa menyesuaikan dan mengimbangi oerasaan kalian. Ternyata banyak kejutan yang ada di diri kamu, dan berapa kejutan lagi yang akan aku lihat di balik sikap dinginmu, maaf aku selalu menghindar ketika bicara sama kamu, aku hanya bingung bagaimana mengungkapkannya, berikan aku sedikit waktu untuk bisa menata hatiku kembali, ketika aku benar-benar siap semoga kamu tidak menyerah.
Batin Panji sambil menyandarkan punggungnya di balik lemari, Panji memang sengaja tadi meninggalkan Sky karena bingung harus bersikap seperti apa. Tentu, apa yang Panji lakukan malah semakin menyakiti Sky, tanpa sengaja tetapi cukup dengan tingkah itu membuat Sky mengerti kalau Panji belum bisa membuka hatinya.
Panji menyadari itu, tetapi Panji sendiri belum bisa memastikan hatinya, Panji tidak mau melakukan sesuatu karena kasihan, Panji hanya ingin benar-benar melakukannya dengan penuh perasaan dan cinta supaya tidak ada rasa sesal di kemudian hari.
"Mah, Pah apa putramu ini bisa. Kenapa sangat sulit, putramu sungguh begitu pengecut. Putramu yang meminta bertahan tetapi kenapa putramu juga yang memberi ruang menyerah, sekrang apa yang harus putramu lakukan, sedang rasa sakit sudah putramu tolerkan, "
Monolog Panji sambil mengusap wajahnya kasar. Berkali-kali Panji menormalkan detak jantung dan pikirannya, berusaha bersikap biasa.
"Mas, kemapa diam disini. Ayo kita sarapan, "
Deg...
Panji terkejut mendengar suara lembut mengalun indah menerobos masuk kedalam telinganya, bukan sekedar suara lembut itu yang membuat Panji terkejut, tetapi panggilan yang Sky berikan.
Wajah berseri, dengan bibir yang tersenyum manis memperlihatkan deretan gigi putih bersih Sky, di tambah lesung pipi yang menghiasi senyuman itu. Sungguh, membuat kerja jantung Panji semakin tidak terkendali.
"Mas, ko diam! kenapa? ayo sarapan, "
Ucap Sky lagi, yang menautkan kedua alisnya bingung, melihat Panji hanya bengong.
Bibir seksi itu terus bergerak membuat Panji hanya diam, sungguh Panji tidak mengerti dengan keadaan dirinya. Kenapa jantungnya tidak bisa berkompromi dengan keadaan, panggilan 'Mas' bak melodi mengalun indah di telinga Panji.
__ADS_1
Kenapa kamu begitu mudahnya berubah, apa ini kamu atau orang lain?
Bersambung....