AMARAH CINTA (Bukan Salah Tuhan)

AMARAH CINTA (Bukan Salah Tuhan)
Bab 74 Korban kecelakaan


__ADS_3

"Kak ko bengong.. "


Ucap Serra sambil melambaikan tangannya di hadapan wajah sang kakak, membuat Farhan langsung mengerjapkan matanya seakan sadar kalau dirinya dari tadi hanya diam.


"Kakak mau istirahat dek! "


Ucap Farhan sambil membaringkan badannya membelakangi sang adik.Lagi-lagi Serra menghela nafas pelan melihat tingkah sang kakak, Serra faham apa yang dirasakan kakak nya, tapi apakah sang kakak harus menyiksa dirinya sendiri seperti itu !


"Apa kakak yakin tidak mau menjenguk kak Sarah ! "


Hening....


Hening....


Tidak ada jawaban sama sekali dari mulut Farhan yang ada Farhan malah memejamkan kedua matanya seolah tidak mendengar apa yang Serra katakan.


"Yasudah ! kakak istirahat Serra mau menjenguk kak Sarah sebagai tanda terimakasih karna sudah menyelamatkan nyawa Kakak. "


Deg....


Farhan tertegun mendengar ucapan sang adik, lagi-lagi seakan membogem dadanya.


Perlahan Farhan membuka kedua matanya dan bangun tapi sayang Serra sudah tidak ada.


"Apa aku sekejam itu.."


Lilir Farhan menatap nanar pintu ruang keluar.


"Apa bedanya aku dengan Bimo,sama-sama pembunuh walau bukan dengan tanganku sendiri. "


Monolog Farhan sambil menatap nanar kedua tangannya sendiri.


Panji yang sejak tadi tidak pergi hanya menyandarkan punggungnya di balik pintu buru-buru menghapus air matanya lalu bersembunyi di balik tembok.


Serra melangkah meninggalkan ruang VIP sang kakak, berbelok menuju ruang Sarah yang tidak jauh dari ruang sang Kakak.


Panji menyembulkan badannya dari balik tembok menatap sendu kearah Serra, Panji terus menatap punggung Serra dengan tatapan rumit. Tatapan itu memancarkan kesedihan dan rindu yang mendalam bahkan Panji sendiri tidak bisa mengungkapkannya.


"Kamu dimana Dek... apa kamu baik-baik saja ! Jika kamu masih ada tolong beri kakak petunjuk agar kakak menemukanmu. "


Lilir Panji melihat Serra mengingatkan Panji pada sang adik, Laila. Ada rasa cemburu ketika Serra memperhatikan Farhan, biasanya Laila akan melakukan hal yang sama padanya jika Panji sedang sakit.


Tetapi itu hanya kenangan, sang adik sulit sekali di temukan bahkan tidak ada jejak sama sekali. Bertanya pada Bimo pun percuma karna Bimo tidak tau, walau Bimo yang menyuruh Jojo menjual Laila tapi Bimo tidak bertanya kepada siapa semuanya Bimo serahkan pada Jojo asal tugasnya beres membuat rencana Bimo berhasil.


Membuat Panji prustasi karna orang yang menjual adiknya sendiri sudah Mati di tangan Panji, maka sulit bagi Panji menemukan sang adik. p


Bug....


Panji meninju tembok kolidor rumah sakit meluapkan rasa kesal, marah dan rindu menjadi satu.

__ADS_1


Begitu lemah nya Panji seakan tidak henti-hentinya dunia mempermainkannya, tidak ada lagi tujuan hidup Panji.


Semuanya sudah hilang... Apa lagi yang bisa Panji perjuangkan untuk menunjukan betapa hebatnya dirinya jika orang-orang yang Panji sayangi sudah pergi.


Sekarang tujuan hidup Panji hanya satu yaitu menemukan keberadaan sang Adik, dimanapun akan Panji cari walau harus keujung dunia sampai Panji sendiri yang berkata, Lelah.


Tampa Panji sadari dari tadi seseorang memerhatikan nya, tatapannya begitu tajam penuh arti.


Orang itu bisa melihat betapa rapuhnya Seorang Panji Sky Al-fatih, tidak ada kegagahan, dan kewibawaan jiwanya seakan entah kemana.


Hanya kesedihan dan kesedihan yang berusaha Panji tutupi, seolah-olah dirinya baik-baik saja. Tapi nyatanya Panji begitu rapuh.


Mata itu penuh kesakitan dan kerinduan yang begitu besar.


"Pantas saja dia rapuh,mungkin jika aku di posisi seperti itu pasti akan sama ,atau lebih lemah dari dirinya. Mungkin jika kedua orang tuanya pergi bukan karna pembunuhan dia tidak akan serapuh itu dan sekarang adiknya juga dalam bahaya,Oh... Paman sudah selesaikah Janji ku atau masih harus berlanjut.. "


Monolog Sky sambil melangkahkan kedua kakinya, Sky menghentikan langkahnya tepat di hadapan Panji.


"Hapuslah air matamu terlalu berharga. "


Deg...


Panji terlonjat kaget mendengar suara yang begitu Panji kenali, suara ketus penuh ketegasan selalu menohok hati Panji.


Dengan cepat Panji berdiri sambil mengambil kain yang Sky ulurkan dan menghapus sisa air mata di pipi nya.


Rasa malu tentu, karna Panji bukan orang yang selalu memperlihatkan kelemahannya di hadapan orang tapi kini lagi-lagi Sky melihat nya .


"Te.. terimakasih.. "


"Sama-sama.. "


Balas Sky singkat lalu pergi begitu saja membuat Panji melongo.


"Apa dia hantu ! datang secara tiba-tiba dan pergi tampa permisi.. "


Monolog Panji bingung sendiri dengan apa yang terjadi, Panji menatap dingin kain yang ada di tangannya.


"Tu.. "


Teriakan Panji tertahan ketika Sky sudah memasuki lif, dengan cepat Panji mengejarnya lewat tangga darurat, Panji hanya ingin mengucapkan terimakasih atas semua yang Sky lakukan, karna sudah membantu dirinya menemukan dalang dibalik pembunuhan kedua orang tuanya, dan Sky juga yang memberikan sebuah vidio dimana bik Marni setiap hari selalu memberikan obat yang berbeda dari resep dokter.


Walau Panji sebenarnya bertanya-tanya kenapa Sky membantunya dan apa alasannya Panji ingin tau.


Panji yakin ada sesuatu di balik bantuan yang Sky lakukan entah apa itu,karna tidak mungkin orang asing mau membantu dan melindungi seseorang yang sebelumnya tidak pernah kita kenali.


"Kemana dia kenapa cepat sekali menghilang.. "


Gumam Panji sudah ada di parkiran matanya menelisik kesegara arah hingga Panji melihat orang-oranng berkerumun di depan sana.

__ADS_1


Suara jeritan begitu nyaring memekik telinga semua orang yang di dilanda kepanikan,dengan dokter dan beberapa perawat berlari menerobos kerumunan.


Darah segar berceceran di atas aspal ,dengan seorang ibu memeluk putrinya yang bersimbah darah mengotori baju gamis dan kerudung yang ibu itu kenakan. Satu anak remaja laki-laki terpelanting di terotol jalan .


Dua perawat langsung mengangkat anak remaja laki-laki itu keatas brankar dengan dokter mengikutinya.


"Do..dokter... to.. tolong putriku... tolong... selamatkan nyawanya... "


"Dok.. suster.. "


Teriak seorang ibu histeris memeluk erat putrinya dengan darah terus keluar dari kepalanya.


Semua orang seakan tuli tidak peduli dengan keadaan seorang ibu yang terus berteriak meminta pertolongan dokter.


Beberapa dokter sedang sibuk membantu korban kecelakaan beruntun hingga tidak sadar dengan keberadaan seorang bocah kecil yang membutuhkan pertolongan.


"Dok.. tolong anak ibu itu keadaannya sangat parah.. "


"Bagaimana ini, saya sedang memeriksa orang ini, coba kamu cari dokter lain.. "


Ucap Dokter bingung karna dirinya juga sedang menangani korban kecelakaan yang lain.Pemuda itu terlihat kecewa dan mencari dokter tapi dokter yang ada dilapangan sedang sibuk menangani korban begitupun para perawat.


Pemuda itu menghampiri ibu yang dari tadi menangis histeris.


"Ibu para dokter dan perawat yang ada di lapangan sibuk menangani korban lain, kita gendong saja putri ibu ke rumah sakit depan sana."


"Awwss... "


"Ibu kenapa ? "


Panik pemuda itu yang sudah menggendong bocah perempuan yang sudah tidak sadarkan diri, langsung berhenti mendengar ringisan ibu itu yang ternyata kakinya sama terluka membuat pemuda itu bingung harus bagaimana .Hingga pemuda itu melihat seorang wanita yang berdiri dengan tubuh gemetar.


"Bak tolong bawa gadis ini kerumah sakit ,saya mau membantu ibu itu...bak... "


Ucap pemuda itu panik bercampur kesal karna wanita dihadapannya hanya diam.


"Bak kalau tidak berniat membantu pergi dari sini..."


Bentak pemuda itu sambil menghampiri ibu gadis yang dalam gendongannya.


"Ibu tunggu disini saya akan membawa anak ibu dia harus segera di tangani.. "


"Hey bak kenapa masih di sini.. diam nya Bak hanya membunuh korban secara perlahan.. "


Pembunuh...


Deg....


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2