AMARAH CINTA (Bukan Salah Tuhan)

AMARAH CINTA (Bukan Salah Tuhan)
Bab 101 Hanya aku!


__ADS_3

Tatapan mata sayu di balik kaca mata minus menghunus laki-laki muda yang ada di hadapannya. Sungguh wanita paru baya itu tidak habis pikir dengan jalan pikiran laki-laki muda di hadapannya.


Ini sudah dua tahun lebih, kenapa? pikir wanita paruh baya itu menatap penuh kekecewaan.


Wanita paruh baya itu pikir laki-laki muda di hadapannya sudah bisa mengikhlaskan kepergian putrinya, nyatanya dua tahun lebih belum cukup menyembuhkan luka di hati Panji.


"Tante kecewa, "


Deg...


Panji terdiam mendengar nada penuh kekecewaan wanita paruh baya di hadapannya, terlihat jelas dari sorot matanya yang mulai mengembun.


"Ke.. kenapa kamu setega itu, Nak. Kamu menyakitinya, buat apa! lupakanlah yang sudah pergi ..., jangan buat putriku terbebani di alam sanah dengan ketidak ikhlasan kamu. Ini sudah dua tahun lebih, jangan sakiti dirimu sendiri dengan menyakiti putriku yang lain."


"Oh ..., ya Allah ..., maafkanlah dosa Amira yang sudah membuat laki-laki ini menjadi pengecut."


Panji terkesiap mendengar nada kesakitan, penyesalan dan kekecewaan. Bukan maksud Panji seperti itu, tetapi nyatanya ungkapan Panji sungguh membuat tante Ani kecewa.


Bagaimana mungkin Panji terang-terangan bicara, sulit menerima Sky di hatinya karena masih ada nama Amira yang terukir indah di hatinya.


Sudah cukup bagi tante Ani mengerti kemana arah pembicaraan Panji, dan yang membuat tante Ani tidak habis pikir kenapa Panji meminta Sky untuk bertahan sedangkan dirinya masih terbelenggu.


"Kasihan sekali nasib kamu Sky, harusnya kamu tidak dalam situasi seperti ini."


Gumam tante Ani pusing, tetapi masih terdengar jelas di telinga Panji membuat Panji merasa bersalah.


Tante Ani memandang Panji menjadi dingin, tidak ada lagi tatapan lembut yang seperti biasa tante Ani berikan, layaknya tatapan seorang ibu pada anaknya.


"Baiklah, kalau kamu masih belum bisa melupakan Amira, maka tante minta lepaskan Sky, Putriku. "


Jderr...


Bagai di sambar petir di siang bolong, tupil Panji melebar, tidak menyangka akan keputusan yang tante Ani buat. Panji menggeleng memohon supaya tante Ani jangan lakukan itu.


"Kamu memang egois, mencoba mengikat Sky tetapi kamu menyakitinya, jadi lepaskan dia dan pergi susul A-M-I-R-A,"


Bentak tante Ani hilang kendali, tersenyum sinis pada Panji yang memohon halnya orang bodoh.


Kenapa Panji tidak bisa berpikir dewasa, padahal usianya sudah mau memasuki 29 tahun, tetapi masalah hati Panji sungguh sangat bodoh.


Tante Ani pergi meninggalkan Panji dengan amarah dan kecewa, apa yang harus tante Ani katakan pada ummah Ais, kalau Panji telah menyakiti putrinya.

__ADS_1


"Tante... tante tunggu ...,"


Teriak Panji mengejar tante Ani yang terus berjalan tampa menghiraukan teriakan Panji.


"Mamah ..., "


Teriak gadis yang masih memakai seragam Smp berlari menghampiri sang mamah dengan nafas memburu, tante Ani menghentikan langkahnya melihat putri bungsunya memanggil namanya.


"Ada apa Aini? "


Tanya tante Ani berusaha tenang, melihat putri bungsunya yang masih mengatur nafasnya, Panji terdiam melihat ibu dan anak itu.


"Bukankah bang Akbar pergi berjiarah ke makam mba Amira, Aini barusan lihat berita di jalan persimpangan arah ke pemakaman ada kecelakaan."


Duarr...


Panji melotot mendengar apa yang Aini katakan, pikiran Panji tertuju pada Sky. Tanpa pamit Panji berlari keluar bak orang ketakutan, takut akan sesuatu terjadi.


"Oh..., sittt... "


Umpat Panji ketika ponsel Sky tidak bisa di hubungi begitupun dengan ponsel Laila yang sendari tadi tidak di angkat-angkat membuat Panji di landa kecemasan.


Panji menambah kecepatan mobilnya, beruntung rumah tante Ani tidak terlalu jauh menuju arah persimpangan ke area pemakaman.


Panji menutup pintu mobil dengan kencang, menerobos masuk dalam kerumunan, matanya terus memandang kesana kemari mencari keberadaan Sky. Tetapi Panji tidak menemukannya, Panji terus menerobos mendekati lokasi hingga langkahnya berhenti ketika melihat sebuah mobil yang terparkir tepat di dekat dua mobil yang bertabrakan.Raca cemas kian menggerogoti, hingga orang-orang berangsur pergi ketika semua korba sudah di evakuasi, begitupun dua mobil yang sudah di amankan oleh polisi.


Panji menerobos masuk kearea terlarang membuat beberapa polisi mendekat.


"Maaf pak, anda tidak boleh masuk... "


"Mobil itu, mobil istri saya. Tolong saya ingin memastikan sesuatu."


Ucap Panji memohon dengan wajah penuh kecemasan membuat salah satu polisi mengangguk.


Panji berlari mendekati mobil sang istri dan memeriksanya. Di dalam mobil itu kosong, hanya ada tas Sky saja yang terjatuh membuat Panji langsung menduga-duga.


Kamu dimana?


Batin Panji kewatir, Panji takut kalau sampai kedua mertuanya tahu, kalau mobil Sky ada di lokasi kecelakaan, entah apa yang akan terjadi. Sedangkan kecelakaan sudah di beritakan, dan tentu Panji menjadi was-was sendiri.


Panji terus mencari Sky di dekat kejadian, karena Panji yakin Sky masih ada di sekitar sini, hingga mata Panji melihat sebuah taman. Tanpa pikir panjang Panji langsung berlari kearah sana, kemungkinan ada dua, jika Sky tidak ada dalam kerumunan berarti Sky bersembunyi.

__ADS_1


"Sky..., "


Teriak Panji memanggil nama sang istri tetapi tidak ada sahutan sama sekali.


Panji terus menyelusuri taman yang tidak terlalu luas, dadanya naik turun dengan nafas memburu, tetapi Panji belum menemukan keberadaan Sky. Panji mengitirahatkan kakinya di dekat pohon cemara yang lumayan cukup besar.


Sayup-sayup Panji mendengar rintihan kesakitan seseorang, hingga Panji melangkah mendekati pohon cemara, dengan jantung yang semakin berdetak kencang.


Dada Panji sakit melihat wanita yang sendari tadi dia cari sedang kesakitan, menggigit bibir bawahnya menahan isakan, hingga mengeluarkan darah.


Sky mencengkram erat kepalanya, seakan mengusir bayangan menyakitkan itu. Dadanya mulai sesak, sengan nafas yang semakin memburu.


Grep...


Panji menarik Sky kedalam pelukannya, memeluk Sky dengan erat.


"Ba.. bang sa ...,"


Lilir Sky tertahan mencengkram erat lengan Panji, yang Sky anggap sang abang.


Ada rasa nyeri ketika Sky menyebut nama abangnya, bukan dirinya. Panji seakan orang asing yang tidak Sky butuhkan.


Tetapi itu bukan salah Sky, karena memang Panji selama ini selalu bersikap acuh pada Sky, seolah Sky bukan siapa-siapa bagi dirinya.


Hatiku sakit, ketika Aku ada disini, tetapi tidak kamu anggap! apa sakit ini juga yang kamu rasakan!


Batin Panji menatap lekat wajah Sky yang tidak sadarkan diri. Dengan cepat Panji membawa Sky menuju mobilnya.


Panji sedikit menambah kecepatan mobilnya ketika Sky terlihat tidak nyaman, Panji meletakan punggung tangannya di kening Sky, dan benar saja tubuh mulai deman dengan keringat dingin yang terus keluar.


"Apa kamu selalu seperti ini, jika trauma itu kambuh"


Gumam Panji pelan sambil meletakan Sky di atas ranjang, Panji memang sengaja tidak membawa Sky kerumah sakit melaikan pulang kerumahnya sendiri.


Dari tadi bibir Sky terus bergumam, melilirkan sang abang, seakan meminta pertolongan.


"Ti.. tidak.. ak.. aku bukan pembunuh... "


Sky seakan sedang bertarung melawan ketakutan di bawah alam sadarnya. Melihat itu membuat Panji teriris sakit, entah apa yang merasuki Panji, perlahan Panji ikut membaringkan tubuhnya dan menarik Sky kedalam dekapannya, dengan satu tangan mengelus-elus punggungnya, menyalurkan ketenangan.


"Aku ingin suatu saat nanti, namaku yang kau sebut dan butuhkan bukan orang lain, walau itu abangmu sendiri. Hanya aku!"

__ADS_1


Gumam Panji terus mengelus punggung Sky dan mengecup beberapa kali kepala Sky yang masih di bungkus kerudung.


Bersambung....


__ADS_2