
Dalam semalam dua pasang manusia sudah sah menjadi suami istri.
Entah harus bahagia atau sedih, bukankah setiap orang mempunyai mimpi dalam acara sakral itu.
Tidak ada kemeriahan dan kebahagiaan bahkan pernikahan itu hanya di hadiri beberapa orang saja.
Farhanpun datang yang menjadi wali untuk Serra, Rafli dan Rara tentunya ada bagaimana mungkin mereka melewatkan pernikahan kakak sepupuh nya walau itu hanya dadakan.
Bahkan Raflipun terkejut ketika Panji memberi tahu kalau dirinya akan menikah dan yang membuat Rafli semakin terkejut kalau calaon istrinya adalah Sky, gadis dingin tidak tersentuh, ucapannya selalu ketus dan tepat sasaran tidak ada kelembutan sama sekali dalam ucapannya.
Harus nya pernikahan ini mewah mengingat siapa yang menikah, kedua putra putri keluarga Mahmued menikah dengan keturunan Al-fatih dan Nugraha siapa yang tidak kenal dua keluarga pembisnis itu.
Tapi sayang impian pernikahan yang selalu di impikan setiap wanita tidak Sky dan Serra dapatkan, tidak ada acara yang meriah semuanya serba mendadak.
Jika Sky dan Serra bergelut dengan pikirannya sendiri tidak dengan seluruh keluarga besar Mahmued dan Qolayuby mereka begitu bahagia dengan pernikahan Sky dan Fatih apalagi mereka tahu siapa istri dan suami kedua kakak beradik itu.
Keluarga Mahardikapun ikut hadir menyaksikan Panji mengucap janji suci. Pemuda yang harusnya menjadi menantunya tapi Allah berkata lain, sekarang Panji sudah sah menjadi suami dari keponakannya Emira Halime Sky Mahmued.
Hari semakin larut semua keluarga masuk kedalam kamar yang sudah di siapakan guna beristirahat begitupun kedua pengantin ini yang memang sudah duluan pamit untuk istirahat.
Fatih menghela nafas pelan melihat istri yang baru dua jam tadi Fatih nikahi dari tadi hanya bungkam tidak mau bicara sama sekali dengan dirinya.
"Apa kamu menyesal menikah denganku ! "
"Terus kenapa hemmz... dari tadi hanya diam.. "
Lanjut Fatih ketika melihat Serra menggeleng, Fatih menggeser duduknya lebih dekat dengan istrinya dan memegang pundak sang istri hingga Serra berbalik menatap Fatih.
"Maaf jika aku tidak memberi tahu kamu dulu, aku takut kamu akan menolak. "
"Siapa bilang akan menolak, Serra hanya ingin di undur.."
Lilir Serra menunduk tidak berani menatap netra teduh sang suami yang selalu membuat kerja jantungnya tidak terkontrol.
"Maaf.Aku memeng berencana datang hanya ingin melamar kamu dulu tapi siapa sangka Allah berkehendak lain. "
"Maaf, jika pernikahan ini tidak sesuai dengan apa yang kamu impikan, tidak ada lamaran romantis atau acara meria. Kamu tau dari dulu aku orang yang begitu dingin dan cuek tidak bisa romantis seperti laki-laki lain maka... "
Fatih menjeda ucapannya sambil duduk di hadapan sang istri, membuat Serra terkejut langsung menarik Fatih supaya duduk diatas kembali.
__ADS_1
Tapi dengan cepat Fatih menahan pinggang sang istri supaya diam membuat Serra tidak nyaman.
"Maka ijin kan suamimu bicara. Seni gerçekten seviyorum. Kalbimdeki buzu eritir misin, ısıt beni aşkınla. Bu zayıf imanın yarısını tamamlamak için bana eşlik eder misin aşkımsın aşkım melek olur musun çocuklarımın bu dünyada ve ahirette anası . (Aku menincintaimu, sungguh. Maukah kamu mencairakan es yang ada di hatiku, hangatkan aku dengan cintamu. Maukah kamu mendampingku menyempurnakan separuh iman yang lemah ini, kamu adalah cintaku, kekasihku maukah kamu menjadi bidadari ibu dari anak-anaku dunia dan akhirat ) "
Ucap Fatih lembut sambil memegang kotak kecil yang di dalam nya terdapat cincan berlian yang harganya sangat fantastis.
Serra membekam mulutnya tidak percaya dengan apa yang suaminya katakan, kata itu mengalun indah di telinga Serra. Inikah pangeran es nya seakan sedang melamar dirinya dan itu seakan hal romantis bagi Serra.
" Haruskah aku berjongkok seperti ini.. "
Ha.. ha...
Serra tertawa mendengar kekonyolan sang suami sambil menghapus bulir bening yang keluar dari netranya, suasana haru menjadi menggelikan ketika kata-kata konyol itu keluar.
" Tadi sedih sekarang tertawa, bagaimana jawabannya Sayang.. "
Deg...
Pipi Serra memanas mendengar kata sakral keluar dari bibir pangeran Es nya,pipi Serra sudah bak kepiting rebuh mendengar kata Sayang seakan ada kupu-kupu yang menggelitik perutnya.
"Evet, ben melek olmak istiyorum, bu dünyada ve ahirette çocuklarınızın anası, eşinizi kutsasın.
(Ya, Aku mau menjadi bidadari ibu dari anak-anak mu dunia dan akhirat, maka rihoilah istrimu ini) "
"Alhamdulillah.. "
Ucap Fatih sambil memeluk sang istri begitupun Serra membalas pelukan sang suami dengan mata berkaca-kaca, sungguh rasa sedih yang Serra rasakan menjadi kebahagian atas apa yang suami nya lakukan.
Serra menatap sendu cincin berlian yang sudah terpasang indah di jari manisnya, membuat Fatih menautkan kedua alisnya melihat perubahan wajah sang istri.
"Kenapa sayang apa kamu tidak suka sama cincin nya? "
Serra menggeleng membuat Fatih semakin bingung bahkan mata Serra sudah berkaca-kaca kembali.
"Hey ada apa? maaf jika aku menyakitimu.. "
"T.. tidak ! S.. serra teringat Sky, d.. dia pasti sedih.. "
Deg....
__ADS_1
Fatih terkesiap mendengar penuturan sang istri,Bodoh ! bagaimana mungkin Fatih melupakan keadaan sang adik yang pasti bersedih. Sungguh Fatih merutuki kebodohannya bagaimana mungkin bisa melupakan sang adik yang sekarang pasti membutuhkan dirinya.
"B.. boleh aku menemui S.. sky ? "
"Kenapa meminta izin, temuilah Sky pasti membutuhkan abang nya. "
" Bagaimana dengan kamu ! "
Deg...
"Aku hanya bercanda . "
Cup...
Serra memegang dadanya rasanya jantungnya mau copot dengan apa yang suaminya lakukan, tangan Serra meraba pipinya yang di kecup singkat sang suami membuat pipi Serra memanas,untung saja Fatih langsung pergi kalau tidak Serra di buat malu dengan tingkah suami Es nya.
"Ya Allah apa Serra mendadak punya penyakit jantung.. "
Lilir Serra sedikit takut kenapa setiap dekat dengan Fatih pasti kerja jantungnya semakin cepat, lama-lama seperti itu Serra yakin punya penyakit jantung.
Cklek....
Fatih membuka pintu kamar sang adik dengan pelan.
"Dek.. "
Panggil Fatih perlahan melangkah mendekati sang adik yang tertidur dengan mata sembab sendari sore menangis.
Fatih menarik selimut guna menutupi tubuh sang adik, lalu Fatih berjongkok hatinya terenyuh melihat mata bengkak sang adik dengan isak kecil masih terdengar di bibirnya.
"Maafkan abang dek, abang tidak bisa membantu kamu... "
"Jangan bersedih... melihatnya membuat abang merasa bersalah, abang yakin adek kuat menghadapai cobaan ini. Semuanya terjadi tampa rencana mungkin ini namanya takdir, jangan salahkan Tuhan atas semua yang terjadi, mungkin ini memang jalan takdir adek.. berjanjilah untuk kedepannya adek akan bahagia.. "
"Adek adalah gadis kuat yang abang kenal, abang yakin adek bisa menjalani semuanya.Ikhlaslah dengan ketetapan Allah Insyaallah adek akan menemukan kebahagiaan di baliknya.. "
Cup...
Fatih mengecup lembut puncak kepala sang adik.
__ADS_1
"Bersabarlah Panji pasti kembali... "
Bersambung....