AMARAH CINTA (Bukan Salah Tuhan)

AMARAH CINTA (Bukan Salah Tuhan)
110 Ketegangan dan kekesalan


__ADS_3

Bagai di sambar petir di siang bolong, baba Aiman dan ummah Ais mematung melihat melihat apa yang dilakukan putrinya. Entah harus berkata apa, melihat sang putri seakan kembali pada jiwanya yang sempat hilang. Bahkan ummah Ais sampai menganga dengan apa yang di lakukan oleh sang putri, selihaian tangannya dan mata jelinya seakan tidak mempunyai rasa takut apa pun, padahal ummah Ais tahu kalau sang putri selama ini sangat sulit konsentrasi menangani korban kecelakaan ketika kejadian lima tahun lalu yang membuat Sky trauma dan kini ummah Ais seakan melihat keajaiban sang putri bisa memegang alat kedokteran lagi.


Sungguh, Fabiayiallairabikumatukaziban (Nikmat Tuhanmu yang mana yang engkau dustakan) ummah Ais sampai tidak sadar meneteskan air mata melihat sang putri kembali lagi seperti dulu.


Berbeda dengan baba Aiman yang memicingkan kedua matanya sampai keningnya mengerut melihat pergerakan sang putri.


Seketika baba Aiman menyadari sesuatu, dengan cepat baba Aiman melangkah lebar membuat ummah Ais terkejut.


Sedangkan Sky yang dari tadi menjadi tontonan kelihayan tangannya tidak menyadari sama sekali, pikiran dan hatinya hanya tertuju pada sang suami yang memejamkan kedua matanya dengan wajah pucat seakan tidak ada kehidupan.


Kepala Sky mulai berat dengan denyutan yang hebat, bahkan mata Sky mulai kunang-kunang tetapi Sky berusaha menyadarkan kesadarannya karena sebentar lagi selesai menjahit pelipis yang suami yang robek hingga jahitan terakhir Sky sudah tidak kuat lagi menahan denyutan di kepalanya yang semakin terasa nyeri dan


Bruk...


"Nona..., "


Teriak semua orang yang ada di sana, terkejut melihat nona muda mereka pingsan, untung baba Aiman faham akan situasi hingga dengan cepat berlari dan menangkap tubuh sang putri.


Begitupun ummah Ais matanya membola sempurna melihat kejadian yang begitu cepat terjadi, dengan cepat ummah Ais berlari menghampiri sang suami yang membaringkan sang putri di atas ranjang.


Baba Aiman segera memeriksa keadaan sang putri, sebelum itu baba Aiman mengisyaratkan pada bodyguard untuk menghubungi putra sulungnya.


"By, bagaimana ini, badan Sky mulai demam? "


Ucap ummah Ais panik sambil mengangkat kepala sang putri dan meletakannya di atas pangkuan ummah Ais.


Baba Aiman berusaha tetap tenang menghadapi situasi yang rumit ini, baba Aiman melihat kondisi Panji yang masih keritis sepertinya banyak kehilangan darah, lalu tatapan baba Aiman kembali pada sang putri yang mulai mengigau, seakan sedang bertarung di bawah alam sadarnya.


"Murat, panggil dokter Vina untuk segera kesini!"


Perintah baba Aiman sambil memasang infus pada sang putri, tidak lama Fatih datang dengan wajah cemasnya.


Hati Fatih sakit melihat keadaan sang adik, lalu Fatih melihat Panji yang begitu mengenaskan.


Sedangkan Serra sudah duduk di samping ummah Ais dengan tangis melihat sahabat sekaligus adik ifarnya yang tidak di katakan baik-baik saja.


"Baba sepertinya keadaan kak Panji semakin keritis, kita harus segera transfusi darah! "

__ADS_1


Ucap Fatih cemas, walau Fatih kakak ifar Panji tetapi usia Panji jauh diatas Fatih, membuat Fatih harus menghormatinya.


"Baba tahu, cuma kita beluma tahu golongan darah Panji apa, di sini alatnya tidak lengkap, tetapi baba sudah menyuruh dokter Vina segera kesini! "


"Cepat kasih tahu adiknya, mungkin golongan darahnya sama! "


Perintah baba Aiman ketika teringat akan adiknya Panji, tetapi Fatih bingung harus menghubunginya bagaimana, karena Fatih tidak mempunyai nomornya. Baba Aiman faham dengan keterdiaman sang putra membuat baba Aiman menghela nafas.


"Jemput adik suami nona muda kalian!!! "


Teriak baba Aiman ketika melihat keadaan Panji yang semakin keritis, para bodyguard di buat terkejut dengan bentakan Tuan besar karena jarang sekali tuan besar membentak dan ini satu kali bentakan sungguh membuat para bodyguard bergidik ngeri.


"Tidak perlu..., "


Teriak seseorang yang baru masuk membuat semua bodyguar langsung diam di tempat.


Bersamaan dengan Murat dan dokter Vina datang.


"Golongan darah saya dan Panji sama, silahkan ambil darah saya! "


Tanpa di suruh dua kali Fatih langsung mempersiapkan semuanya dengan dokter Vina memberikan alatnya, lalu dokter Vina beralih pada nona Muda yang semakin tidak terkendali.


Keadaan yang cukup mengenaskan, sepasang suami istri harus berjuang melewati keritis dan trauma yang begitu membuat suasana menegang.


Dokter Vina menyuntikan obat penenang cukup tinggi supaya Sky tidak memberontak, kali ini Sky seakan di tikam oleh ketakutan dan trauma membuat Sky di alam sadarnya seakan semakin terbelenggu sulit keluar dari rasa takutnya. Tetapi dokter Vina melihat sesuatu kekuatan yang membuat Sky tetap mengigau bukan memberontak dan sesuatu itu sedikit mempengaruhi Sky bangkit dari belenggu itu.


Ummah Ais dan Serra hanya bisa menangis melihat keadaan sang putri seperti ini, tidak bisa dibayangkan bagaimana sedihnya ummah Ais jika sampai terjadi apa-apa pada putrinya.


"Alhamdulillah... "


Ucap Fatih dan baba Aiman spontan melihat kondisi Panji yang mulai melewati masa keritisnya, sedangkan orang yang mendonorkan darahnya masih duduk lemas di kursi dengan wajah sedikit pucat.


"Kakak tidak apa-apa? "


Tanya Fatih pada orang tersebut, orang itu hanya tersenyum dan mengangguk saja, lalu tatapannya beralih pada Panji yang mulai setabil.


Hanya ini yang bisa ku lakukan, setelah apa yang aku hancurkan...

__ADS_1


...-----...


Sedangkan di tempat lain dari tadi Rafli terus mengupat karena Panji belum datang-datang membuat Rafli menggeram kesal.


Bagaimana tidak kesal sudah dua jam Rafli menunggu tetapi yang di tunggu tak kunjung datang, dan sialnya ponselnya tidak bisa di hubungi.


Rafli menatap nanar sebuah kotak yang dari tadi ada di atas meja, sudah susah payah Rafli mendapatkannya dan sekarang seenak jidatnya Panji tidak datang mengambilnya.


"Cih. tidak urusan kantor tidak percintaan dia selalu saja menyusahkan, sudah jauh-jauh aku ke negri orang dan sekarang aku harus menunggu dia, ya Allah..., harus berapa lama lagi menunggu sedang istri dan anakku terlantarkan, "


Huh...


Rafli membuang nafas kasar dan dalam memasukan kembali kotak kecil itu kedalam paper beg dan memilih untuk pulang. Apalagi badannya cukup pegal dan butuh istirahat, apalagi Rafli kangen pada anak istrinya, sudah tiga hari dia meninggalkannya dan tentunya istri kecilnya pasti akan merajuk lagi.


"Nasib... nasib... ,"


Gumam Rafli melihat istrinya sudah tidur lalu Rafli beranjak ke kamar sang putra, senyum Rafli mengembang melihat wajah damai sang putra yang tertidur.


Cup...


Rafli mengecup kening sang putra dengan hati-hati takut membangunkannya.


Deg...


Rafli terdiam ketika sebuah tangan memeluknya, seketika senyumannya mereka mengetahui siapa pelakunya.


"Sayang? "


"Hubby baru pulang? "


"Maaf! "


"Gendong! "


Senyum Rafli semakin mereka melihat tingkah manja istri kecilnya, rasanya rasa kesal dan lelah seketika hilang melihat wajah ceria istri kecilnya yang begitu menggemaskan. Rafli sangat sangat bersyukur mempunyai istri yang tidak menuntut banyak padanya, hanya saja istri kecilnya akan merajuk jika dirinya tidak ada waktu untuk sang istri.


"Anna uhibuki fillah, "

__ADS_1


"Too, "


Bersambung....


__ADS_2